Pembuktian Diri

1062 Kata
“Apa ini? Apakah kau sedang bermain peran untuk menjadi sosok marquis idaman semua orang? Melindungi orang-orangmu … menggelikan.” “Bisakah kau tutup mulutmu itu? Aku benar-benar … mulai bosan mendengar semua omong kosongmu itu.” Idril tidak main-main dengan ucapannya. Ia benar-benar telah merasa muak pada pria cungkring di hadapannya itu. Irine yang melihat ekspresi sang nona berubah hanya dapat meneguk saliva.  “Kau memintaku tutup mulut? Belum menjabat sebagai marquis saja sudah bersikap semena-mena … kau itu benar-benar menyebal⸺” “Kau … akan kubuat menjadi jerapah panggang.” Kobaran api tiba-tiba menyala melingkupi pedang yang dipegang Idril. Irine yang berdiri di belakang sang nona hanya dapat terpukau melihat kehebatan gadis bersurai pirang itu.  Tapi karena Idril adalah seorang Veela, maka tentu saja ia memiliki kemampuan untuk melakukan sihir sama halnya seperti Gavril karena mereka bukan manusia. Tebasan demi tebasan dihindari lawan. Mau tidak mau akhirnya si pria cungkring mundur beberapa langkah, sehingga tercipta jarak diantara keduanya.  “Aku tidak menyangka kau cukup cerdik … pedang api, mari kita lihat selihai apa kau menggunakannya.” Si pria cungkring tiba-tiba bersiap dan memasang kuda-kuda, tidak lama ia menggumam dan munculah binar kebiruan. Idril terkekeh pelan, ia tidak menyangka akan melawan seorang mage. Sebenarnya ia sudah menduga bila pria itu bukan seseorang yang dapat diremehkan, meski masih muda Idril memiliki intuisi yang terbilang tajam.  Kini pria bernama Wesley itu tidak lagi menggenggam pedang. Binar kebiruan yang berpendar perlahan menghilang dan muncul bilah es yang panjang membentuk sebuah rapier.  “Nah … bukan kau saja yang bisa mengubah pedangmu, jika kau pikir yang kau lakukan adalah hal spesial dan hebat … kau salah besar, kami para mage dapat melakukan hal yang sama,” kata Wesley yang telah mengarahkan pedang esnya tepat di hadapan Idril.  “Baiklah … haruskah kita mulai?” imbuhnya lagi sebelum menerjang sosok gadis bersurai pirang yang langsung menghindar dengan sisi pedangnya.  Suara denting baja dan es saling beradu satu sama lain. Perlawanan mereka cukup sengit karena Wesley menggunakan sihir untuk membekukan kaki Idril. Beruntung ia dapat meloloskan diri, karena kobaran api yang dikeluarkan dari tubuhnya.  Irine tidak dapat berkata-kata. Ia tidak akan pernah menyangka gadis bertubuh kurus dan ramping itu sangat handal dalam menggunakan pedang. Selain itu sebagai seorang Veela ia juga menguasai sihir alam seperti air, api, angin dan tanah.  Melihat satupun tebasan nya tidak ada yang dapat mengenai tubuh lawan, sehingga ia tiba-tiba mengubah apinya menjadi seperti sebuah cambuk. Berulang kali api Idril berhasil melelehkan es Wesley akibatnya tubuh si cungkring tersayat bersamaan  dengan luka bakar yang muncul akibat lidah api si gadis bersurai pirang.  “Dasar pengecut … setelah terpojokan akhirnya kau ingin melarikan diri? Kau memang bermulut besar,” ujar Idril ketika tiba-tiba saja pria di hadapannya menghindari tebasan pedangnya. Wesley melompat mundur beberapa kali dan kini mereka berada jarak yang terbilang jauh.  “Maaf saja … aku hanya sedang tidak persiapan saja, aku pasti dapat membunuhmu di pertemuan kita selanjutnya.” “Sayangnya aku khawatir ini adalah pertemuan yang pertama dan terakhir …” Idril merogoh saku sabuk pinggangnya dan meraih sebuah pistol berlaras pendek. Ia membidik si pria bertubuh cungkring yang saat ini tengah membelakanginya. Tidak berapa lama terdengar suara tembakan yang cukup keras. Dan itu tidak berlangsung hanya satu kali saja, tembakan terjadi sekitar empat kali baru selepasnya tubuh Wesley tumbang.  “Sudah kubilang ini adalah pertemuan terakhir kita,” ucap Idril yang telah menurunkan pistolnya. Manik rubynya memperhatikan tubuh lawan yang telah bersimbah cairan anyir. Irine seperti kehilangan rahangnya saja, ia terlalu terkejut saat melihat adegan sang nona dengan tenang membidik tubuh si pria cungkring yang tertatih-tatih hendak kabur.  “Nona! Anda akan pergi kemana?” panggil Irine begitu menyadari gadis bersurai pirang di sana telah berjalan menjauh. Idril hanya memberikan isyarat melalui iris kemerahannya. Irine mengernyit tidak mengerti sampai akhirnya ia mengerti tujuan sang nona.  “Apa yang akan Anda lakukan? Mengapa Anda mendekatinya!” Irine berbisik keras. Ia mencoba menghentikan sang nona agar tidak mendekat jasad musuh. Tapi suara teriakan sang pelayan justru membuat Idril kesal, sehingga ia segera berbalik dan menatap wajah bundar Idril.  “Menurutmu untuk apa lagi? Kita harus memastikan agar dia benar-benar sudah menemui dewa kematian atau belum … biasanya mereka akan bangkit disaat kita lengah,” kata Idril gemas. Jika bisa ia sangat ingin mengguncangkan bahu sang pelayan yang sangat cerewet.  “Memangnya dia zombie? Bagaimana mungkin dia bisa bangkit lagi? “ tanya Irine polos. Ia benar-benar mengkhawatirkan sang nona. Sayangnya gadis itu justru menghela nafasnya kasar dan tetap berjalan mendekati tubuh musuh. Ia mengacuhkan suara melengking Irine dan mencoba memeriksa, apakah tembakannya meleset atau tidak.  Tapi setelah melihat tidak ada tanda-tanda pergerakan apapun ia baru bisa bernafas lega. Tapi tubuhnya yang sempat merileks kembali menegang, Idril memandang ke arah pedang yang tersarung di pinggangnya. Ia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya ia menarik pedangnya dan langsung menghunuskan bilahnya pada tubuh musuh yang sebenarnya tidak lagi bergerak, bahkan sudah terbujur kaku. “Nona … me-mengapa Anda melakukan hal itu? Bukankah itu agak terlalu … kejam?” Irine bertanya takut-takut. Ia memandang ke arah lain ketika menerima tatapan dari manik ruby sang nona.  “Tidak ada yang istimewa … aku hanya memastikan dia tidak akan mengejutkan kita, bukankah aku tadi sudah mengatakannya dengan jelas? Kenapa kau harus membuatku mengulanginya.” Irine meneguk salivanya. Ia tidak menyangka sang nona merupakan sosok yang sangat berbeda, tidak hanya dari senyum manis dan lugunya ternyata Idril bukan seseorang yang cukup akrab dengan tawa dan senyum dari mereka.  “Ayo, pergi … kita harus segera membawamu ke dokter. Aku juga harus memastikan apakah masih ada yang selamat,” kata Idril yang telah kembali menyarungkan bilah pedangnya. Kali ini ia lebih memilih menggunakan pistol karena merasa pedang memang bukan sesuatu yang cocok dengannya. Tapi menurutnya menggunakan pistol akan lebih mudah dan menguntungkan karena ia tidak perlu mendekati lawan, sebab mereka akan muncul melalui lensa, kemudian setelah terlibat dalam pertengkaran kecil akhirnya mereka melangkah keluar. Karena pertengkaran kecil di antara kami ia mencoba  bersikap tenang dan menjalankan tugasnya.  “Apakah sakit? Kau masih bisa berdiri dan berjalan bukan? Atau haruskah aku menggendongmu?” Idril telah memberikan punggungnya. Tapi sikapnya barusan justru membuat Irine merasa tersipu malu.  “Tidak perlu Anda tidak harus melakukannya, kedua tangan kanan saya yang patah. Bukan berarti saya tidak bisa berjalan dan bergerak kesana-kemari.” “Itulah mengapa kita harus bergegas …!” “Baik, Nona muda.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN