Mansion Tiuvel tampak seperti sebuah bangunan yang ditinggalkan, padahal sebenarnya masih ada para penghuninya. Idril kembali mengendap-endap melangkah dalam diam ketika menyusuri lorong sepi kediamannya. Ia sibuk memperhatikan keadaan sekitar barangkali dirinya dan Irine berhasil ditemukan oleh musuh. Atau sebaliknya mereka yang akan ditemukan.
Beberapa kali Irine akan terpekik tertahan ketika melihat tubuh-tubuh manusia yang mereka temukan terkapar di ruangan-ruangan mansion. Idril yang berdiri di depan Irine juga terhenyak sesaat setelah menemukan sisa-sisa pembantaian. Pemandangan semacam ini ternyata muncul kembali dan untuk kedua kalinya terjadi di kediaman miliknya bukan orang lain.
“Maafkan aku karena … tidak bisa menyelamatkan kalian, melindungi kalian dengan benar,” ucap Idril sembari menggenggam erat gagang pistol. Ia memalingkan wajah untuk menghindari bertatapan langsung dengan jasad para pelayan dan pengawal kediamannya.
“Nona … apa yang terjadi hari ini bukanlah kesalahan Anda. Bahkan Anda telah melindungi saya, jika saja Anda tahu mereka datang kemari Anda pasti langsung memasang badan untuk mereka,” kata Irine yang mencoba menenangkan hati sang nona yang dipenuhi rasa sesal. Ia merasa simpatik pada gadis bersurai pirang di hadapan nya, padahal melindungi para pelayan dan pengawal bukanlah kewajiban untuknya, tapi bagi Idril hal semacam itu adalah tanggung jawabnya sebab itulah yang diajarkan mendiang ayahnya.
“Inilah yang mereka sebut dengan takdir, kita pun nantinya akan menerima takdir kita … entah mati karena sakit atau gugur dalam medan pertempuran … bahkan apa yang terjadi hari ini bisa terjadi pada kita,” imbuh Irine.
“Kau benar … terima kasih. Baiklah, sepertinya kita harus segera keluar dari sini melihat tidak ada yang selam⸺”
Braakkk
“Nona Idril!” Irine berteriak keras saat tiba-tiba saja mereka menerima serangan mendadak. Sebuah kapak datang entah dari mana dan menerjang keduanya. Untung saja Idril menyadarinya, sehingga ia segera membawa tubuh Irine untuk menghindari arah kapak yang hampir saja menebas mereka.
“Cukup hebat untuk seorang gadis kecil sepertimu,” kata seseorang yang muncul dari dalam kegelapan lorong. Itu adalah rekan si pria cungkring, ia berjalan dengan tenang sembari mengulum seringai yang cukup membuat bulu kuduk Irine berdiri.
“Kau pasti … gadis yang akan menjadi marquis bukan?”
Sebenarnya Idril tidak pernah merasa takut ketika menghadapi si pria cungkring sebab ia tahu bahwa ia bisa mengalahkan musuhnya dengan mudah. Idril telah dilatih sebelumnya untuk mengetahui dimana batasnya, alasan mengapa mendiang ayahnya mengajarkan hal semacam itu adalah untuk mengukur apakah ia harus tetap bertahan atau mundur karena kekuatannya yang tidak sepadan.
Dan kali ini hal yang ditakutkan terjadi, sebuah pertemuan terjadi dengan sosok pria pembawa kapak. Alasannya yaitu ia tahu bahwa pria itu bukanlah tandingannya, selain karena perbedaan fisik mereka yang sangat jauh, kekuatannya dalam menghadapi kapak di tangan musuh pun bisa dibilang bukan apa-apa.
“Hei, Nona kecil … seharusnya kau tidak boleh bermain-main dengan pistol, bahaya tahu.”
“Lalu …? Haruskah aku mengikuti saranmu? Aku tidak pernah meminta pendapatmu tentang apa yang harus kulakukan, memangnya kau ayahku?” Idril berusaha tetap terlihat tenang dengan menjawab ucapan musuh secara sarkas dan sinis.
Si pria pembawa kapak menghela nafasnya kasar, ia memutar matanya jengah ketika memandang Idril, “Anak muda zaman sekarang … padahal orang dewasa sepertiku memberi saran karena peduli, tapi aku justru menerima kalimat ketus.”
Tidak ada balasan yang ingin diberikan Idril, ia menggenggam erat pistol di tangannya. Ia seakan tidak dapat mendengar ucapan musuh akibat debaran jantungnya yang terlalu keras. Tidak hanya itu Idril juga telah bersiap dengan kedua kuda-kudanya, sebelah tangan gadis bersurai pirang itu juga bersiap untuk mencabut pedangnya kapanpun.
“Melihat dirimu yang bisa berdiri disini bersama wanita pelayan itu … artinya apakah Wesley sudah mati?” tanya si pria pembawa kapak yang sibuk mengedarkan pandangannya. Ia memperhatikan setiap sudut ruangan, mungkin ia sedang mencari siapa lagi rekannya yang telah tewas di tangan gadis bermanik ruby di hadapannya.
Kedua alis bertautan. Ia merasa asing dengan sebuah nama yang baru saja disebutkan oleh si pria pembawa kapak. Tapi tidak lama ia teringat pada sosok pria cungkring yang telah dibuatnya terkapar bersimbah cairan anyir di lorong.
“Baiklah … sebaiknya kita sudahi saja … aku sudah memakan banyak waktu hanya untuk mencarimu, karena mansion ini terlalu luas. Apakah kau tidak merasa pegal karena berjalan hanya untuk menuju satu ruangan?”
Lagi-lagi Idril tidak menjawab, ia lebih memilih diam dan bersiaga. Pria di hadapannya itu selalu membicarakan hal-hal santai, padahal ia sedang bertemu dengan musuh, tapi ia justru mengajaknya berbincang seolah mereka adalah seorang teman yang lama tidak berjumpa. Tapi karena itulah Idril merasa was-was.
“Hei … mengapa kau terlalu kaku? Santai saja, aku tidak akan membunuhmu dengan brutal … karena saat kapak ku mengenai lehermu itu, semua akan selesai dalam hitungan detik. Bahkan kau tidak akan sempat merasakan sakit. Aku sangat baik karena tidak akan menyiksamu, seperti apa yang Wesley lakukan.”
“Justru karena itulah aku tidak bisa berbincang santai … karena kau pasti akan membuatku lengah dan langsung menyerangku hanya untuk menebas tubuhku,” jawab Idril sembari mengulum senyum tipis.
Setelah mengajukan pertanyaan aneh padanya, sekarang si pria pembawa kapak justru bertepuk tangan. Ia juga terbahak sambil mengangguk-angguk, “Kau … sangat cerdas, itulah mengapa raja menunjukmu untuk menjadi kepala keluarga. Sayangnya, orang sepertimu akan sangat merepotkan, nak.”
Dalam hitungan detik. Tiba-tiba saja Idril dihempas oleh sebuah ayunan cepat dan tepat musuh, bilah kapak pria bertubuh besar itu berhasil ditahannya dengan bilah pedang miliknya yang telah dilapisi sihir api.
“Nona!” Irian berteriak keras saat melihat sang nona terlempar ke belakang dalam beberapa meter. Idril yang menghantam tembok hanya dapat meringis karena rasa sakit yang menyerang punggungnya.
“Hebat sekali, kau bisa menahan seranganku! Mungkin tidak cuma otakmu saja yang cedas, kau juga cerdas dalam menggunakan senjata dan sihir. Menggunakan keduanya saat waktu yang tepat … tidak semua orang dapat melakukannya.”
“Aku sebenarnya sangat senang karena bisa berhadapan dengan seseorang sepertimu … tapi aku harus cepat menghabisimu, setidaknya sebelum matahari terbit kau sudah tertidur pulas untuk selamanya.”
Idril terpaku beberapa saat ketika lagi-lagi musuh memberikan kejutan yang berhasil membuatnya hanya bisa membeku. Si pria pembawa kapak menjentikkan jarinya dan tidak lama munculah orang-orang berjubah yang juga bersiap untuk menebas leher target mereka malam ini.
“Bukankah ini tidak begitu adil? Aku hanya sendiri dan kau bahkan memiliki pasukan … ini sebuah pengeroyokan tahu,” ucap Idril yang telah berdiri susah payah.
“Aku tidak begitu peduli karena aku bukan seseorang yang terlalu peduli dengan sesuatu yang kau sebut dengan keadilan itu … nah, haruskah kita mulai? Kita akan menari sampai salah satu dari kita kehilangan tangan dan kaki!”
Denting bilah pedang kembali berbunyi. Idril sibuk menghindar, menyerang dan melindungi Irine. Ia harus melakukan semua itu sendirian, dan itu cukup sulit mengingat dirinya yang masih cedera. Tapi orang-orang ini pasti tidak akan pernah bersimpati padanya.
“Kau berusaha keras sekali … hebat, hebat! Mengagumkan,” ujar si pria pembawa kapak ketika melihat sosok gadis bersurai pirang yang berhasil menumbangkan rekan-rekannya satu-persatu. Ia tidak main-main dengan ucapannya ketika berkata bahwa Idril adalah sosok cerdas dalam menggunakan senjata dan sihir.
Deru nafas Idril mulai terengah. Staminanya berkurang jauh lebih cepat, padahal ia baru saja selesai menghabisi orang-orang berjubah yang tiba-tiba saja menyerbunya. Tapi saat ia sedang ingin beristirahat sejenak untuk mengambil jeda, bilah kapak kembali datang dan mengayun keras ke arahnya.
“Kita masih berada di tengah medan pertempuran, jadi jangan sampai lengah … untung saja kau memiliki refleks yang cukup bagus, jika tidak … mungkin kau sudah hancur berkeping-keping.”
“Sial … uh⸺” Idril merintih pelan ketika rasa nyeri kembali menyerangnya. Serangan tiba-tiba yang baru saja diterimanya lebih mengejutkan daripada sebelumnya, meski kali ini ia tidak sampai terhempas dan berakhir dengan mencium tembok.
“Ternyata rekan-rekanku sangat lemah untukmu ya …? Ini cukup memalukan karena mereka kalah dari seorang gadis kecil. Sepertinya aku harus sedikit serius untuk membunuhmu ya …?”
Lagi, musuh datang dan mengayunkan kapaknya dari bawah sepertinya pria itu berusaha untuk memisahkan tubuh Idril. Untungnya ia dapat menghindar dengan melompat. Karena tubuhnya yang ramping Idril dimudahkan untuk bergerak kesana-kemari, termasuk untuk melompat di atas bilah pedang milik lawan.
Selama beberapa kali ia melakukan hal tersebut, lagi dan lagi sampai Idril mengganti pijakannya untuk melompat dengan patung-patung di sana. Ia hanya bisa menghindari agar tidak terkena bilah kapak yang tampak menyeramkan karena besar bilahnya yang mungkin biasanya digunakan untuk menyembelih sapi.
“Ayo … kau harus terus menari untukku agar kau bisa selamat! Tunjukan aku seperti apa dewa kematian, lakukan hal yang sama padaku seperti apa yang kau telah lakukan pada Wesley!”
“Nona muda Tinuvel … ayo, bunuh aku! Atau nantinya justru aku yang membunuh dan membuatmu bertemu dengan dewa kematian!”