Lantai Marmer yang Ternodai

1080 Kata
“Kemana kau akan pergi? Apakah kau akan terus menerus menghindariku?” “Dasar gila … Irine! Menjauh dari sini, sejauh yang kau bisa!” Idril yang berdiri di salah satu pilar berteriak keras⸺berharap wanita bersetelan pelayan itu mendengar suaranya yang cukup serak untuk melakukan ucapannya. Irine menggigit bibir, ia tidak ingin meninggalkan sang nona yang sedang melawan sosok pria gila yang terus mengayunkan kapaknya. Tidak mungkin juga ia bisa membantu dengan keadaannya yang tidak berdaya saat ini, sehingga ia masih terdiam di tempatnya sembari menatap ke arah si gadis bersurai pirang berada. “Tidak apa-apa … pergi sekarang! Jika kau tetap di sini, kau hanya menjadi bebanku! Aku tidak bisa bertarung melawannya sambil melindungimu … karena itu cepat pergi!” Idril kembali berteriak seolah ia dapat membaca pikiran sang pelayan yang memandangnya dari bawah. “T-tapi … Nona!” Irine bergerak maju ragu-ragu. Ia masih terpaku pada sosok sang nona yang bergerak kesana-kemari demi menghindari tebasan kapak yang kapan saja bisa memisahkan salah satu bagian tubuhnya. “Seharusnya kau mendengar ucapan Nona muda mu itu … dasar bodoh,” lirih sebuah suara tepat di telinga Irine. Irine yang terkejut, telat menyadari keberadaan pria bertubuh besar itu membuatnya terpojok, ‘Kapaknya! Dia pasti akan menebasku … aku tidak bisa menghindar.’ “Bukankah aku sudah bilang … untuk segera pergi dari sini, kau me-nam-bah bebanku, dasar!” Idril datang tepat waktu, ia berhasil membelokkan serangan si pria pembawa kapak dengan bantuan bilah pedangnya dan tembakan pistolnya. Meski akhirnya ia tidak bisa menghindari luka sayat di tangan juga lengannya, bahkan kini bagian bawah gaunnya telah robek akibat terkoyak bilah kapak. “Nona! No-na Anda … Anda terluka! Maafkan saya … maaf,” ucap Irine yang menangis sesenggukan karena melihat keadaan gadis bersurai pirang di hadapannya yang tampak berantakan. “Hebat sekali … membelokan arah serangan dengan bantuan pistol. Meski luka yang diterima cukup dalam dan banyak, tapi itu lebih baik daripada tubuhmu dan pelayanmu tercabik-cabik.” “Sudah kubilang … sebaiknya kau menuruti ucapan Nonamu itu, wahai wanita pelayan yang bodoh,” imbuh lawan. Sebenarnya Irine tidak ingin mengakui ucapan musuh, tapi melihat keadaan saat ini pilihan terbaiknya untuk membantu sang nona adalah menyingkir dari medan pertempuran. Setidaknya Idril tidak perlu melindunginya, sehingga Irine akhirnya berbalik dan mulai berlari. Sayangnya si pembawa kapak terlihat mencurigakan, ia tiba-tiba saja tersenyum lebar dan benar saja, ternyata pria itu bergerak cepat untuk mencapai salah satu mangsanya yang hendak kabur. “Dasar tidak sopan! Bagaimana mungkin kau meninggalkan seorang gadis sendirian, padahal dia ada di hadapanmu,” kata Idril. Lagi-lagi ia berhasil tiba tepat waktu untuk menangkis serangan musuh. Meski sekali lagi artinya ia harus mengorbankan tubuhnya dihiasi luka sayat lebih banyak. “Ah … gadis yang sangat mengesankan. Kau masih bisa bergerak secepat itu meski telah menerima luka cukup banyak. Sepertinya aku salah menilaimu. Kukira semua gadis hanya bisa menangis dan memohon ampun.” “Maaf, karena sudah menghancurkan penilaianmu itu … sayangnya aku bukan bagian dari gadis-gadis itu. Tidak, ibuku tidak pernah mengajarkan putri-putrinya menjadi seorang gadis yang tidak berguna.” Dengan nafas terengah Idril mendorong mundur pria yang memiliki ukuran tubuh dua kali lipat darinya. Kini tercipta jarak di antara keduanya. Idril melirik ke arah Irine yang berhasil menghilang di ujung lorong. Seulas senyum miring tercipta di kedua sudut bibir tipisnya, ia bahkan menghela nafas kasar sebelum akhirnya menciptakan dinding angin yang mencegah musuh mengejar Irine. “Menggelikan sekali … kau mati-matian untuk melindungi pelayan rendahan. Apakah kau tidak tahu dimana posisimu berada? Kau adalah seorang bangsawan, seharusnya mereka yang berdiri di bawahmu yang berkorban untukmu.” Stigma kuno yang telah melekat di otak para bangsawan. Padahal kedudukan yang mereka miliki semata-mata ada dan diberikan untuk melindungi mereka yang membutuhkan perlindungan. Idril selalu muak ketika para bangsawan mengoceh tentang hal-hal semacam itu, karena selama ini memang Tinuvel tidak pernah menggunakan stigma kuno dan kaku seperti ucapan pria di hadapannya. “Kau salah … kau saja yang masih tidak tahu apa arti sejati dari seorang bangsawan. Kau hanya tahu dari apa yang diturunkan bukan? Sayang sekali … aku rasa kau mungkin bisa menjadi bangsawan baik hati,” kata Idril yang telah mengambil beberapa buah belati. “Sialan! Diam! Apa yang kau ketahui tentang hidup sebagai bangsawan!” “Setidaknya jauh lebih banyak dari orang tua yang dungu sepertimu …” Belati-belati dilemparkan ke arah musuh berada. Idril berlari memutar sembari menembakkan peluru-peluru dari pistolnya. Ia bergerak secepat mungkin dan membuat luka di tubuhnya semakin lebar. Sebisa mungkin Idril berusaha untuk menciptakan jarak dengan musuh, karena musuh menggunakan senjata besar maka pilihan yang baik untuk saat ini adalah menjaga jarak di antara mereka. Senjata itu memiliki jarak jangkau yang besar, jadi Idril berusaha agar tidak masuk ke dalam jarak tersebut. Selain itu ia juga mencoba mencari-cari celah agar dapat lolos, bagaimanapun ia harus selamat. “Kau bergerak kesana-kesini seperti seekor monyet … apakah kau sudah kehabisan akal? Atau kau sudah kebingungan mencari cara untuk memenggalku?” Entah sebutan apa yang pantas diberikan untuk si pria pembawa kapak, ia tertawa terbahak sembari terus mengayunkan bilah kapaknya dan membuat berbagai macam perabotan di ruangan hancur berkeping-keping. Dor dor dor Tiga peluru kembali dilepaskan dan berhasil bersarang di lengan musuh membuatnya berhenti bergerak untuk sesaat. Melihat celah yang tercipta Idril tidak ingin membuang waktunya dan semakin mempercepat larinya sembari menyiapkan pedang. Idril melompat hendak menghunuskan bilah pedangnya. Tapi ia segera berbalik dan melewati lengan musuh dari bawah mengambil jarak sejauh mungkin. “Sayang sekali … padahal aku sudah berusaha sebaik mungkin agar terlihat seperti peluru-peluru kecilmu itu berhasil melukaiku,” ucap si pria pembawa kapak yang baru saja melempar tebasan yang lain ke arah Idril. Untung saja gadis itu menyadari ekspresi aneh musuh, sehingga sebelum sempat terkena bilah kapak ia telah bergerak menghindar ke bawah dan melewati tubuh besar musuh. “Kau benar-benar licik …,” seru Idril dengan nafas terengah-engah. Ia meringis kesakitan karena rasa perih dan nyeri yang tiba-tiba kembali. “Itu salahmu lagi karena terus bergerak kesana-kemari seperti seekor monyet … kau pikir aku tidak bosan menebas udara? Karena itu aku sedikit mengecoh saja, ini bukan licik, tapi trik kau tahu?” Belum juga lima menit berlalu, tapi si pria bertubuh raksasa itu kembali bergerak dan kali ini Idril dikejutkan karena tiba-tiba saja ia telah berdiri di hadapannya dengan sebuah seringai mengerikan yang telah tersungging di sudut bibirnya. “Matilah! Dasar gadis sialan!” “Uhuk! Uh⸺” Lantai marmer yang telah dipenuhi retakan di sana-sini telah dinodai cairan kemerahan kental yang berceceran di atasnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN