“Uhuk! Uh⸺”
“K-kau … berani sekali … bisa-bisanya melakukan hal semacam ini padaku! Dasar gadis kecil yang licik …” Si pria pembawa kapak meringis kesakitan karena luka yang baru saja diterima tubuhnya. Idril baru saja berhasil menghunuskan bilah pedangnya pada lengan musuh.
Kejadiannya begitu cepat, ketika musuh telah berdiri tepat di hadapannya dan hendak mengayunkan kapak, Idril terlebih dahulu menunduk cepat untuk menembakan peluru, kali ini ia menjadikan jari-jari pria itu sebagai sasarannya. Setelahnya ia mengganti senjata dengan bilah pedang untuk menahan bilah kapak. Sementara tangan kanannya yang sedari tadi menyembunyikan pedang lain menusuk tepat di lengan musuh. Karena ia tidak memiliki tenaga yang cukup untuk menebas lebih dalam Idril memilih mencabutnya paksa dan melompat mundur.
“Aku menyebutnya trik … bukan licik. Bagaimana trikku? Apakah kau menyukainya?” tanya Idril yang telah terengah. Ia menggenggam kedua pedangnya dengan tubuh setengah berdiri, ia terlalu kelelahan hanya untuk memberikan satu serangan.
“Kau tidak bisa melakukan hal ini padaku! Aku pasti akan membalasmu! Dasar gadis kecil, sialan! Padahal kau hanya memiliki satu buah pedang saja … dimana kau menyembunyikannya?”
“Aku tidak menyembunyikannya … aku hanya memanfaatkan saja apa yang ada di sekitarku, seperti pedang ini misalnya,” jawab Idril yang telah mengangkat tinggi pedang di tangan kirinya.
Si pria bertubuh raksasa itu memandang kesekitarnya dan ia terbelalak ketika menemukan sebuah pajangan baju zirah berdiri di salah satu sudut ruangan. Ia langsung memandang ke arah Idril yang telah tersenyum miring.
Pedang di tangan kiri Idril bukan pedang miliknya. Ia mengambil pedang itu dari pajangan zirah yang berada di balik tubuh musuh. Idril melakukannya ketika musuh mengecohnya dengan berpura-pura terkena tembakan dari pistolnya. Sebenarnya ia memang berencana untuk langsung menyerang musuh, tapi Idril melakukan sebuah improvisasi saat mengetahui itu semua hanya akal bulus lawan saja. Dan saat menghindari bilah kapak manik rubynya menangkap sebuah benda yang dapat digunakan⸺pedang milik pajangan baju zirah adalah benda yang ia temukan.
“Kau terlalu sibuk mengoceh, sampai tidak sadar musuhmu berhasil mengambil celah bukan? Padahal aku sudah mengingatkanmu untuk berkonsentrasi …”
“Berisik! Kau pikir luka seperti ini bisa menghentikanku?”
Tentu saja, tidak. Idril tidak pernah berpikir sayatan dan tusukan kecil karena pedangnya dapat melukai, bahkan sampai membuat lawannya itu tumbang dalam sekali serang. Ia tahu kemungkinan hanya ini yang dapat ia lakukan mengingat tubuhnya sendiri dalam keadaan yang jauh lebih buruk.
“Ugh⸺” Idril menahan serangan bilah kapak lawan dengan menyilangkan kedua pedangnya, ia menumpukan keduanya agar dapat menopang berat dari kapak, meski ia harus bersusah payah karena tenaganya yang terkuras banyak.
“Mari kita lihat sampai mana kau akan bertahan … sekarang kau pasti akan kesulitan karena kedua tanganmu penuh dan pistol mainan mu itu tidak lagi bisa kau gunakan … kau harus menyerah dan membiarkanku untuk mencabut nyawamu.”
“Tidak akan! Aku tidak akan mati disini! Tidak, sebelum aku berhasil mencabut nyawa mereka yang membuat hidupku sengsara, dan merebut kebahagiaanku … aku tidak akan menyerah.”
Bruakkk
Idril terhempas begitu saja, tubuhnya terlempar dan menghantam pajangan zirah membuatnya hancur berantakan. Si pria pembawa kapak baru saja memberikan sebuah tendangan tepat di perutnya.
“Uhuk⸺” Idril terbatuk mengeluarkan cairan kental merah. Ia dapat merasakan tulang rusuknya kemungkinan patah. Tidak mungkin, jika ia bisa menghindari serangan tadi karena kedua tangannya yang sibuk menahan bilah kapak.
“Padahal apa susahnya menyerahkan diri dan mati? Bukankah hidupmu lebih sulit karena sendirian? Aku berusaha membantu … anggap saja begitu sebagai sesama bangsawan, kau tahu pasti maksudku.”
Deru nafas Idril mulai terputus-putus. Ia merasa begitu kesakitan hanya untuk mengisi paru-parunya dengan pasokan oksigen. Meski begitu Idril masih berusaha untuk tetap bangkit, ia menggunakan kedua pedangnya sebagai tumpuan agar tubuhnya berdiri.
“Lalu … kenapa? Aku memiliki tugas … sebagai satu-satunya Tinuvel … yang hidup. Aku … membawa harapan dan … impian mereka yang sudah tiada.”
“Harapan? Persetan dengan kata harapan. Apakah yang kau maksud adalah keinginan orang lain sengaja diberikan pada kita? Itu beban … mereka hanya melemparkan apa yang mereka tidak bisa gapai! Kau bukan alat … kita bukan alat yang bisa digunakan seenaknya saja.”
“Itu … tidak sepenuhnya salah. Tapi apa salahnya? Selama kita bisa tetap hidup dengan bebas sambil tetap melakukan harapan itu … bukankah itu sudah cukup?”
Pria di hadapannya menggeram tertahan. Wajahnya merah padam, ia segera menggenggam bilah kapaknya jauh lebih erat, “Itu tidak cukup! Aku tidak ingin hidup seperti itu … harapan? Jangan membuatku tertawa!”
Lagi-lagi musuh menerjangnya dengan sekali tebasan. Idril mencoba menghindar dengan melompat ke belakang, sayangnya pria itu bergerak lebih cepat, karena jarak mereka yang terlalu dekat membuat Idril berada dalam jangkauan kapaknya. Ia mencoba menangkis serangan dadakan tersebut, tapi ia justru kembali terpental dan berguling di atas lantai setelah mendarat cukup keras.
“Uhuk! Ah … mengapa kau ma-rah? Apakah seseorang merebut kebebasanmu?” Idril bertanya di sela-sela rasa sakit yang menyerang tubuhnya. Ia bahkan mencengkram erat kerah gaunnya karena sesak.
“Kau tidak perlu tahu … kau hanya perlu mati saja, sudah cukup. Aku akan tunjukan padamu bahwa harapan itu tidak ada! Bahkan saat ini tidak ada yang dapat menjadi harapanmu untuk selamat dari sini.”
Braaak
Menghindar dengan berguling, Idril yang masih belum bisa bangkit akhirnya hanya dapat berguling mencoba menghindar dari bilah kapak yang masih mencoba menciptakan sayatan lebih lebar di tubuhnya. Idril masih tidak ingin mati, ia harus hidup demi mereka yang telah mengorbankan nyawa untuknya.
“Kau bergerak kesana-kemari terus … dasar gadis menyebalkan! Memuakan!”
“Ugh!” Idril terbatuk ketika tiba-tiba saja pria itu meraih lehernya dan mengangkat tubuhnya tinggi. Ia meronta sekuat tenaga karena lama kelamaan ia mulai merasa sesak. Idril yang masih memegang dua bilah pedang akhirnya dengan sekuat tenaga menghunuskannya pada lengan musuh dan membuat pria itu langsung melepaskan cekikannya.
Idril berjalan tertatih-tatih sambil berusaha menghirup udara sebanyak mungkin, ia mencoba menghindari kematian sebisa mungkin. Idril harus menjauh sebelum musuh kembali menyerang, sayangnya ia terlalu lambat sampai sekali lagi tubuhnya diangkat ke atas dan terlempar entah untuk keberapa kalinya.
“Sialan … kau benar-benar gadis yang tidak tahu diri … aku akan membunuhmu, aku akan membunuhmu … kau dan harapan bodohmu itu pasti akan mati!”
“Uhuk⸺ja-jangan pernah … kau pi-kir bisa membunuhku … aku pa-pasti bisa selamat, aku masih bisa … bertahan, aku harus … tetap hidup …” Idril bersusah payah meraih bilah pedang yang terlempar cukup jauh darinya. Tubuhnya benar-benar terasa remuk, ia bahkan tidak dapat merasakan kedua kakinya. Entah karena tenaganya yang telah hilang atau keduanya patah akibat benturan yang terlalu keras.
Idril yang masih merangkak untuk mengambil bilah pedangnya tiba-tiba berteriak keras dan kesakitan. Ia merasakan sesuatu yang dingin menyentuh kulitnya.
“Kau sudah ditakdirkan untuk mati … jadi, matilah!” desis si pria bertubuh raksasa, ternyata ia baru saja mengambil pedang milik Idril dan menghunuskannya pada tubuh gadis bersurai pirang yang telah terkapar tidak berdaya. Ia bahkan perlahan merasakan tubuhnya dilingkupi cairan hangat.
‘A-aku … tidak boleh mati …’
Idril masih saja berusaha menggerakan tubuhnya, meski usahanya tidak menghasilkan apapun. Ia tetap diam di tempat, terbaring dengan pandangan yang mulai mengabur. Samar-samar ia dapat mendengar tawa lawannya yang kegirangan. Tapi ia juga mendengar sebuah suara yang membawa kelegaan dalam hatinya.
“Tutup mulutmu yang bau itu …”
Seiringan dengan sebuah suara yang berhasil mengalihkan perhatian, gemerincing besi yang saling bersahutan juga terdengar di sela-sela suara dari seorang pria bersurai legam yang baru saja tiba.
“Ka-kau … ka-kau …”
“Gav-ril … kau da-tang?” Idril masih dapat melihat penampakan paras rupawan sang duke yang tampak begitu dekat. Gavril yang baru saja tiba mendecih kesal, ia melihat pemandangan menyedihkan, baik itu keadaan mansion yang kacau juga kondisi gadis bermanik ruby yang telah bersimbah cairan anyir.
“D-duke Vladmire … ke-kenapa a-a-ada di-sini?”
"Kau bertanya padaku? Untuk apa? Tentu saja, aku datang kemari untuk mencabik-cabik tubuhmu itu ..."