Kau Tetap Hidup

1355 Kata
Suasana tiba–tiba terasa begitu berat, kedatangan sosok yang ditakuti di kerajaan Zoresham menjadi penyebabnya. Sang duke baru saja tiba, pria itu melangkah tenang meski ekspresi yang terukir di paras tampannya menunjukan sebaliknya, bahkan pria bertubuh raksasa yang semula tengah menggenggam pedang Idril gemetar.  “Ugh⸺” Pria pembawa kapak itu melenguh kesakitan ketika gemerisik rantai tiba-tiba muncul dan melilit tubuhnya. Tangan dan kakinya telah ditahan, bahkan ia tidak dapat menggerakan ujung ibu jarinya. Ia hanya bisa terkekeh pelan karena menyadari kekuatan apa yang sedang dihadapinya.  Manik keemasan Gavril memandang tubuh seorang gadis bersurai pirang yang telah terbaring di atas dinginnya lantai marmer. Tangannya mengepal menahan emosi karena melihat gadis di hadapannya dalam keadaan tidak baik.  Gavril berlutut dan membawa tubuh lemah Idril dalam dekapannya, ia menyeka noda yang mengotori sudut bibirnya dengan lengan mantel yang ia kenakan. Samar-samar Gavril dapat mendengar Idril memanggil namanya⸺terdengar begitu pilu dan semakin menyalakan api dalam diri sang duke.  “Maafkan aku karena datang terlambat,” ucap Gavril sembari meletakan helaian surai pirang Idril yang menghalangi paras ayu si bungsu Tinuvel. Idril menggeleng pelan, deru nafasnya terdengar pelan dan terputus-putus.  “Te-rima ka-sih … karena sudah datang kema-ri …” Mendengar suara serak dan penuh kesakitan Idril membuat gigi-gigi Gavril saling bergemeletuk karena amarah. Ia mengusap pipi pucat gadis di dalam dekapannya, begitu pelan seakan ia takut tangannya dapat menyakiti luka-luka Idril.  “Sayang sekali … kau datang terlambat. Dia sudah di ujung tanduk, sebentar lagi gadis itu akan mati karena kehabisan darah,” seru si pembawa kapak kegirangan. Ia tampak tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya karena telah berhasil melaksanakan yang diberikan padanya.  Namun setelahnya ia berteriak keras kesakitan. Jeratan rantai-rantai milik Gavril semakin membelit tubuh, tangan, dan kakinya semakin erat sampai-sampai ia dapat mendengar bunyi gemeretak dari tubuhnya.  “Apakah kau tidak bisa menutup mulutmu itu …? Senang sekali sepertinya kau menerima rasa sakit? Apakah kau seorang masokis atau semacamnya?” ujar Gavril tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok Idril.  Setelah menerima serangan dari Gavril ternyata pria yang sedang bergelantungan seperti mangsa seekor laba-laba justru terbahak, “Saya hanya mengucapkan sebuah kenyataan … lukanya sudah terlalu fatal, selain luka luar, dia juga mengalami luka pada organ dalamnya yang sangat par⸺argh!” “Siapa yang memperbolehkan bicara? Sudah kubilang tutup mulutmu …” Gavril kembali memperhatikan satu persatu luka yang ada di tubuh Idril, kemudian tangannya menggenggam tangan gadis bersurai pirang tersebut.  “Bertahanlah … kau akan segera merasa lebih baik.” Idril hanya memandang sosok rupawan di hadapannya dengan sorot mata lesu, tidak bertenaga. Setelahnya ia menahan nafas ketika tiba-tiba saja bibir tipis Gavril menyentuh bibir pucatnya. Idril memejamkan mata begitu merasakan sang duke yang semakin memperdalam pagutan mereka. Perlahan Idril merasa rasa sakit yang dirasakan tubuhnya berangsur berkurang. Wajahnya memerah saat merasakan sesuatu membelit lidahnya. Tangan Idril mencengkram erat tangan Gavril. Pagutan mereka terlepas setelah sang duke menjauhkan diri dan meninggalkan jejak saliva di antara keduanya. Gavril memperhatikan rona wajah Idril yang memerah. Setidaknya gadis itu sudah cukup berwarna dibanding beberapa saat lalu. Ibu jarinya menghapus jejak saliva yang tertinggal di sudut bibir Idril. Ia masih merasakan rasa besi yang tercetak jelas di lidahnya.  “Setidaknya dengan begini kau tidak berdarah sebanyak tadi … beberapa lukamu juga mulai menutup,” ucap Gavril sembari kembali memperhatikan kembali luka-luka di tubuh Idril yang berangsur menutup.  “K-kau … haruskah melakukannya … di sini?” tanya Idril lemah. Ia dapat merasakan wajahnya memanas karena perbuatan pria berambut legam di hadapannya. Meski ia tahu alasan di baliknya untuk menyembuhkan luka-luka di tubuhnya, tapi ia tidak menyangka Gavril akan melakukannya di depan musuh mereka.  “Lalu …? Aku tidak membiarkanmu mati bukan? Aku hanya bisa menyembuhkan lukamu, Idril … bukan menghidupkanmu lagi, aku seorang Asmodia bukannya dewa kematian,” sahut Gavril yang telah melepaskan mantel hitam miliknya. Ia membalut tubuh Idril yang hanya mengenakan gaun tidur dan jubah tidur tipisnya. Gavril mencoba menghangatkan tubuh gadis bersurai pirang tersebut yang sempat terasa dingin.  “Aku tahu … terima kasih,” ucap Idril lirih akhirnya. Entah mengapa ia merasa sangat lelah, sehingga tanpa sadar ia telah menyandarkan kepalanya pada tubuh Gavril sembari merasakan kehangatan dari sang duke yang mulai melingkupi tubuhnya. “Kau mengantuk bukan? Kau bisa beristirahat sekarang, Idril,” kata Gavril yang sekali lagi mengusap surai pirang Idril.  “Aku tidak menyangka akan menyaksikan dua kekuatan legendaris seorang Vladmire yang terkenal … pemimpin kaum yang tersisa … Asmodia.” “Apa yang kau lakukan tadi pada nona muda Tinuvel itu … salah satu kekuatan penyembuhan yang hanya bisa dilakukan oleh para Vladmire bukan?” tanya si pembawa kapak yang sempat terpaku dengan adegan romantis di hadapannya. Meski sebenarnya ia pernah mendengar tentang kekuatan para Vladmire yang tidak dimiliki oleh siapapun selain rantai-rantai yang membelitnya ini. Tidak ada yang pernah melihat kekuatan sebenarnya dari sang duke, karena memang pria pemilik manik keemasan itu selama ini hanya menggunakan kemampuan berpedangnya yang selalu berhasil menyudutkan siapa saja. Karena itulah banyak yang menganggap kekuatan dan berkat seorang Vladmire hanya sebuah rumor belaka.  “Ternyata itu semua bukan sebuah rumor … rantai dan kekuatan menggelikan untuk melakukan penyembuhan. Apakah duke selama ini hanya menyembuhkan para wanita saja? Karena kau tahu … untuk menyembuhkan harus … itu?” Gavril sebenarnya malas menanggapi pertanyaan sosok yang telah melukai Idril. Tapi karena merasa kekesalannya yang cukup memuncak membuat sang duke berbalik masih dengan tangan yang mendekap Idril.  “Memangnya aku terlihat seperti pria murahan? Kau pikir aku akan mencium gadis secara asal? Yang benar saja …” “Sayang sekali … gadis itu padahal sudah hampir mati, bagaimana bisa kau datang kemari dan mengacaukan segalanya?” keluh si pria pembawa kapak. Ia menjatuhkan pada sosok gadis bersurai pirang yang telah memejamkan mata. Luka-luka di beberapa bagian mungkin memang masih ada, tapi ia tidak lagi berlumuran cairan anyir. Dan itu membuatnya kesal dan marah. “Aku tahu ini ulah siapa …! Dasar tua bangka sialan! Padahal dia sudah mati, tapi masih saja membuat masalah untuk kami. Lepaskan rantai-rantai ini cepat …! Duke, kau pasti akan menyesal.” “Kau tahu bukan? Kau pasti juga mendengar rumornya? Rantai-rantai itu tidak akan lepas … sebelum mangsanya terseret dan bertemu dengan sang kematian. Semua yang dikabarkan memang benar.” “Sial … sial … k-kau! Beraninya kau melakukan ini semua! Gagak itu … dia pasti mengirimkannya padamu, benar bukan!”  Gavril mengangkat sebelah alisnya naik dan memandang remeh sosok yang tidak lagi dapat berbuat apa-apa, selain berteriak dan memaki sumpah serapah padanya. Tapi Gavril bukanlah seseorang yang mudah terpatik api amarah, lagipula sejak awal pria itu berhasil menyalakan api tersebut.  “Kau benar-benar berisik. Kau bisa menanyakan pertanyaanmu itu pada orang yang kau maksud karena kalian akan bertemu … di neraka.” Selepasnya Gavril melangkah menjauh dan meninggalkan ruangan yang tidak lama terdengar pekikan panjang baru setelahnya keheningan kembali menyelimuti mansion, sampai tidak lama kemudian ia melihat beberapa orang berkumpul di pelataran yang telah dipenuhi tubuh-tubuh kaku serta pria berzirah.   “Nona Idril! A-astaga … Nona! Sa-saya mohon maaf … maaf.” Irine berlari dengan tubuh yang ditopang oleh salah satu ksatria Vladmire. Wajahnya kembali dibasahi cairan bening yang tumpah untuk kesekian kalinya.  “Tidak apa … lukanya mungkin sangat parah sebelumnya, tapi dia sekarang tidak apa-apa,” jelas Gavril yang melirik ke arah Idril yang masih terlelap. Ia memandang ke arah sosok pelayan gadis bersurai pirang itu. Irine pun tidak dalam keadaan yang baik melihat kedua tangannya patah dan beberapa luka memar lainnya.  “Isaac, hubungi dokter Schulze dan minta dia untuk datang ke mansion secepat mungkin. Yang lainnya segera melakukan penyisiran di seluruh kediaman Tinuvel, pastikan tidak ada sampah yang tertinggal.” “Baik, Duke.”  Tidak ingin menunggu lebih lama lagi, Gavril segera menaiki kudanya dan menarik tali kekangnya untuk membawa mereka kembali secepat mungkin. Sementara pasukan miliknya sengaja menetap di kediaman Tinuvel untuk melaksanakan perintah sang tuan, hanya sang butler dan lima orang ksatria yang mengikuti mereka dari belakang. Iris keemasannya beberapa kali melirik ke arah sosok gadis yang masih terlelap, sebelah tangannya masih tetap mendekap tubuh Idril.  “Tidak apa-apa … semuanya sudah baik-baik saja, kau tetap hidup … Idril,” gumam Gavril yang masih dapat didengarkan oleh gemerisik angin. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN