Sikap Mencurigakan Duke

1066 Kata
Seorang pria berkumis dan jenggot berwarna putih tampak sibuk melilitkan perban-perban pada tubuh seorang gadis bersurai pirang yang saat ini tengah memejamkan mata. Schulze adalah seorang mage yang berdarah Asmodia, ia merupakan dokter pribadi milik keluarga Vladmire sejak lama. Duke sebelumnya telah mempercayakan tugas merawat anggota keluarganya, dan kini ia pun menerima kepercayaan yang sama dari duke muda saat ini. Salah satu tugas yang diterimanya adalah merawat gadis berparas jelita yang terlelap, tidak sadarkan diri persis seperti hari pertama ia bertemu dengan nona muda keluarga Tinuvel.  “Kalian bisa membawa air ini … aku meninggalkan obat-obat ini untuk mempercepat penyembuhan nona muda. Jangan lupa untuk memastikan dia meminumnya setiap selesai makan,” ucap Schulze yang telah menyerahkan sebuah kantong kertas coklat berisikan botol-botol obat kepada para pelayan wanita yang telah membantunya membalut luka gadis bersurai pirang itu.  “Apakah sudah selesai, Dokter?” Sebuah suara menginterupsi kegiatan sang dokter yang semula tengah sibuk memasukan peralatan miliknya. Pria paruh baya itu mengangguk dan kembali memperhatikan sosok gadis yang berhasil membuat sang duke kelimpungan karena rasa cemas.  “Sudah … tidak apa-apa aku sudah menjahit luka-luka yang masih terbuka. Tidak begitu banyak dan membahayakan nyawanya, dia hanya perlu beristirahat,” jelas Schulze tanpa mengalihkan pandangannya.  “Syukurlah, jika begitu … saya hampir mengira beliau akan tewas karena gaun yang dikenakannya dipenuhi darah,” kata Isaac sembari menghela nafasnya lega.  “Butler, sebenarnya siapa gadis ini? Mengapa duke sampai memperhatikannya … saya tidak pernah menerima panggilan untuk merawat seseorang selain beliau dan keluarga Vladmire. Bagaimanapun saya adalah dokter keluarga ini … tapi gadis ini berbeda.” “Dia bukanlah bagian dari Vladmire. Duke bukan tipikal yang senang membantu sampai membawa dan merawat orang tersebut … maksud saya seperti sekarang, beliau benar-benar memantau sendiri keadaan gadis ini, karena itulah … dia siapa?” Isaac tidak segera menjawab pertanyaan Schulze. Ia memilih untuk terdiam beberapa saat sembari memperhatikan raut pria yang usianya jauh lebih senja darinya, “Sebaiknya … Anda bertanya langsung kepada duke, karena saya tidak berhak untuk menjawabnya. Atau lebih tepatnya saya sendiri bingung jawaban apa yang harus saya berikan.” Schulze mengernyit, “Apa maksud Anda? Menanyakan hal ini pada duke?” “Alasan kedatangan saya kemari adalah untuk membawa Dokter bertemu dengan beliau. Duke ingin Anda datang menemuinya.”   Hal kedua yang dirasa aneh tentang sikap sang duke selanjutnya adalah memanggil Schulze. Dan mereka menduga ini ada hubungannya dengan keadaan gadis bersurai pirang yang baru saja selesai menerima perawatan. Meski benaknya dipenuhi pertanyaan Schulze tetap menenteng tas kulitnya dan melangkah keluar dari ruangan sang butler yang  masih berdiri di seberang ranjang Idril.  “Anda tidak ingin mengantarkan saya? Bukankah Anda yang berkata sendiri …? Duke ingin bertemu dengan saya?” tanya Schulze dari balik pintu yang masih belum tertutup. Tidak lama Isaac pun menyusul dan barulah kemudian pintu kamar benar-benar tertutup. *** Tok tok tok “Duke, Dokter Schulze telah tiba …” Isaac mengetuk pintu kayu beberapa kali untuk mendengar jawaban dari sang tuan yang telah memberikan izin mempersilahkan pria paruh baya di sampingnya masuk.  “Minta dia masuk … Isaac, kau tunggu saja di luar,” jawab sebuah suara dari balik pintu. Setelah mendengar perintah sang duke Schulze pun memasuki ruangan. Hal pertama yang ia temui adalah sebuah meja yang mengarah langsung ke pintu, sehingga pandangannya langsung terjatuh pada sosok berambut legam yang sedang bersandar di pinggir meja.  “Anda tampak baik, Dokter Schulze … sepertinya menghabiskan waktu pensiun di kediaman kami membuat Anda bahagia,” sapa sang duke yang telah menyunggingkan seulas senyum tipis. Meski ucapannya masih tidak terlalu pantas untuk disebut sebagai sapaan mengingat betapa sarkasnya kalimat yang diberikan kepada sang dokter.  “Terima kasih, ini semua berkat Duke yang memberikan saya tempat dan merawat pria tua ini di akhir hayatnya …    jadi, apakah ada yang Anda tanyakan pada saya? Butler mengatakan Anda ingin bertemu dengan saya.” “Benar, saya hanya ingin menanyakan bagaimana keadaan nona muda Tinuvel? Apakah lukanya terlalu fatal atau semacamnya?” Persis seperti dugaannya, alasan sang duke ingin bertemu dengannya adalah pasien spesial yang baru saja menerima perawatan darinya. Schulze mengulum senyum tipis sebelum menjawab pertanyaan pria bermanik emas di hadapannya. “Nona muda dalam keadaan yang terbilang baik. Meski beliau menerima tikaman di bagian perut cukup dalam, tapi tidak sampai membahayakan nyawa beliau. Selain itu luka-luka di sekujur tubuhnya hanya sayatan bekas pertarungan.” “Jika saja Anda tidak menggunakan kemampuan Anda kepada beliau, mungkin saja keadaan beliau akan jauh lebih buruk dari sekarang.” Tentu saja sang dokter mengetahui rahasia sang duke. Schulze telah mengabdikan dirinya kepada Vladmire, ia telah melihat kekuatan yang dapat menyembuhkan segala luka dengan melakukan hal konyol. Itu semua karena ia juga menyaksikan mendiang duke sebelumnya ketika menyelamatkan duchess yang terluka. Dan kali ini ia mengetahuinya karena keadaan gadis bersurai pirang yang tidak bisa disebut beruntung karena masih ditemukan jejak-jeka penyembuhan di tubuhnya. Dan satu-satunya orang yang dapat melakukannya hanya kepala keluarga Vladmire.  “Mengapa Anda melakukannya? Selama ini bukankah Anda tidak pernah menggunakan kekuatan itu …? Bahkan hanya sekali saja untuk menyelamatkan orang lain, Anda memilih untuk melihat mereka tewas, sekalipun Anda memiliki kekuatan itu.” Gavril menghela nafasnya kasar. Ia memandang ke arah sosok pria paruh baya yang masih menatapnya lurus. Orang kedua setelah Idril yang berani membalas tatapannya⸺sang dokter keluarga Vladmire sekaligus paman nya⸺Schulze Gillian D’Vladmire.  “Dokter, apakah Anda berpikir saya seorang casanova? Bagaimana mungkin saya bisa sembarang menyelamatkan orang lain? Anda tentu sangat mengetahui syarat agar bisa menyembuhkan mereka yang terluka …,” kata Gavril panjang lebar karena menerima pernyataan yang konyol.  “Casanova …? Saya tidak pernah berpikir demikian. Ya, saya memang mengetahui syarat untuk mengaktifkan kekuatan Anda, tapi sampai Anda menggunakannya pada gadis Tinuvel … bukankah terjadi sesuatu yang membuat Anda sangat ingin menyelamatkannya?” Schulze kini yang menghela nafasnya kasar. Satu-satunya keponakan yang ia miliki tiba-tiba mengaktifkan kekuatan setelah sengaja diacuhkan selama bertahun-tahun lamanya. Tapi justru karena ia melakukannya demi si gadis bersurai pirang bukankah artinya terjadi sesuatu di antara mereka?  Gavril sampai menyembuhkannya, meski ia seorang Tinuvel tapi para Vladmire tidak memiliki kewajiban untuk melakukan hal semacam itu. Sehingga Schulze mencoba menanyakannya secara langsung kepada sang duke. Alasan apa yang ia gunakan sampai menyentuh bibir seorang gadis, bahkan Schulze bertaruh keponakannya sendiri tidak pernah memberikan ciuman pertamanya pada siapapun sepengetahuannya.  “Gavril, apakah ini sama seperti apa yang terjadi di antara ayah dan ibumu? Apakah kau memiliki perasaan kepada gadis Tinuvel itu?” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN