Antara Nasihat dan Peringatan

1448 Kata
Suasana ruangan yang sempat ricuh meski hanya diisi dua orang saja tiba-tiba menjadi senyap. Gavril hanya mengerjapkan matanya saja begitu mendengar pertanyaan pria paruh baya di hadapannya. Ia bahkan sampai menegakkan tubuhnya yang semula bersandar untuk merenggangkan otot-ototnya.  “Apakah Paman sedang bergurau? Hubungan apa yang Paman maksud dengan kalimat terjadi di antara ayah dan ibu?” Kini baik sang duke atau dokter telah meninggalkan formalitas mereka. Keduanya berbicara sebagai keponakan dan paman yang mencoba mencari penjelasan satu sama lain.  “Apalagi yang terjadi di antara mereka? Tentu saja cinta … apakah kau jatuh cinta pada gadis Tinuvel itu? Mengapa kau sampai menggunakan kekuatan itu? Dan lagi bukankah a-artinya kau … kau … sudah menciumnya/” Suara Schulze mengecil ketika mengucapkan kata ‘menciumnya’. Pria itu merasa seperti seorang ibu yang mengkhawatirkan putranya yang mulai mengalami masa pubertas.  Tapi bagaimana lagi? Memang pada akhirnya saat ini hanya ia saja yang menempati kursi ayah dan ibu bagi sang duke, mengingat kedua orang tuanya yang telah tiada. Sehingga Schulze menganggap apa yang dilakukannya hanya bagian dari tugasnya sebagai seorang orang tua.  “Apakah Paman sedang gila? Jatuh cinta …?! Yang benar saja, mengapa mendadak membahas hal-hal berbau romansa,” seru Gavril sensitif. Ia tidak menyangka pria paruh baya itu membawa perihal romansa ke dalam perbincangan mereka kali ini. Karena Gavril sendiri mengira pamannya pasti sudah memahami alasan dibalik tindakan anehnya. Tapi ternyata ia salah, Schulze justru mengira ia menyembuhkan Idril karena ia memiliki perasaan spesial untuk si bungsu Tinuvel.  “Lalu apa …? Kau sendiri berkata jika kau bukanlah seorang casanova … kalau begitu alasan tertinggal yang membuatmu mau me-menciumnya adalah perasaan khusus itu! Sama seperti yang mendiang duke lakukan kepada duchess dahulu.” “Itu benar … aku bukan seorang casanova yang mencari cinta dan hal romansa semacamnya. Tapi bukan berarti aku melakukannya karena aku menyukai gadis itu … memang Paman tidak terpikirkan kemungkinan yang lain?” Sang duke mengacak rambutnya asal. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan dugaan Schulze tentang kebenaran di balik hubungannya dan Idril.  “Tidak! Kau bukan tipikal pria yang gemar bermain-main dengan para wanita. Kau juga bukan pria yang senang menebar pesona, karena meski tidak melakukannya gadis-gadis bangsawan telah bertekuk lutut padamu. Kalau begitu jika bukan karena itu semua … alasan mengapa kau melakukannya adalah cinta, seharusnya begitu bukan?” Entah sejak kapan pamannya menjadi seseorang yang menggandrungi kisah romansa, atau mungkin karena ia terlalu lama menyendiri ia mengharapkan keponakannya tidak berakhir menua sendirian sepertinya.  “Atau jangan-jangan … Gavril, kau tidak sedang bertanggung jawab ka-karena melakukan hal tidak senonoh padanya bukan?” Schulze menutup mulutnya. Ia memasang raut terkejut, bahkan ia sampai menjatuhkan tas kulit miliknya. Gavril yang semula mengernyit tidak mengerti dengan pertanyaan Schulze tiba-tiba memerah dan langsung memekik kesal karena pikiran liar sang paman.  “Paman! Apa yang sedang kau pikirkan! Tentu saja tidak! Mana mungkin aku meniduri gadis bangsawan … dan lagi seorang Tinuvel! Dia adalah keluarga yang harus kita lindungi, selain itu bukankah jika sampai aku melakukannya akan berdampak buruk?” “Kau benar … kalau kau melakukan hal tidak senonoh itu Vladmire pasti akan menerima kutukan karena melanggar ikatan dan perjanjian antara kedua keluarga.” Schulze menghela nafas lega. Ternyata dugaannya salah, ia sudah ketakutan setengah mati kalau sampai keponakannya melakukan hal tidak senonoh pada gadis muda itu.  “Lalu … kenapa kau melakukannya? Kau menyembuhkannya dan mau repot-repot memenuhi syarat untuk mengaktifkannya …” Kedua kalinya Schulze mengajukan pertanyaan yang sama dan itu masih tentang tindakannya. Gavril menghela nafasnya kasar, ia melirik ke arah pria paruh baya yang memiliki warna mata senada dengan miliknya.  “Itu … karena dia melakukan perjanjian dan ikatan denganku.” Satu kalimat yang berhasil membuat Schulze ternganga. Rahangnya seakan terjatuh entah dimana begitu mendengar kalimat singkat yang meluncur dari mulut keponakannya membuat jantung sang dokter berhenti berdetak beberapa saat.  “Kalian apa …? Setelah berapa ratus tahun akhirnya ada yang membentuk ulang perjanjian terkutuk itu lagi … terlebih dia adalah keponakanku sendiri,” ujar Schulze yang masih tidak mempercayai apa yang baru saja didengarnya.  “Itu benar, Paman. Idril melakukan perjanjian itu setelah aku berhasil menyelamatkannya dari pelalangan dan hendak dibawa oleh baron Ryvon. Dia meminta penjelasan tentang keanehan yang terjadi diantara Tinuvel dan Vladmire …” “Dan karena itu kau menjelaskan kepada gadis itu tentang apa yang sebenarnya terjadi di antara kedua keluarga. Karena dia mengetahui keputusan yang dilakukan leluhurnya dia pun memilih melakukan hal yang sama, bukankah begitu?” Terkadang Gavril merasa kesal sendiri saat berbincang dengan Schulze, sang paman selalu mudah mengerti sesuatu. Entah karena ia adalah seorang Vladmire yang dianugerahi kecerdasan, sehingga meski belum menjelaskan secara jelas Schulze berhasil menarik kesimpulan terlebih dahulu. Mungkin alasan mengapa ia menjadi dokter pun karena telah memiliki dua bakat sejak lahir itu.  “Sebenarnya Idril melakukannya untuk balas dendam kepada mereka yang telah membantai keluarga Tinuvel, meski masih ada sanak kerabatnya, tapi pada dasarnya Tinuvel hancur karena keluarga utama yang tewas.” Schulze termenung. Ia mengingat salah satu Tinuvel beserta keluarga harmonisnya. Ia mungkin lupa dengan si bungsu Tinuvel mengingat usianya yang tidak lagi muda dan ingatannya yang ikut menua. Tapi ia kabar duka yang didengarnya kala itu masih saja membekas dibenaknya.  “Tidak ada yang ingin hal mengerikan seperti itu … dan lagi melihat seluruh anggota keluarganya tewas di depan mata pasti membuatnya mengalami trauma yang cukup parah. Bermimpi buruk lagi dan lagi … kemarahan, penyesalan … dia pasti telah mengabaikan dirinya sendiri sampai bisa menawarkan perjanjian padamu.” Gavril hanya mengangguk. Ia merasa ucapan Schulze tidak salah. Ketika ia memberitahu bahwa hanya gadis itu sajalah yang tersisa dari para Tinuvel, Idril benar-benar tampak terpukul. Bahkan ia sempat berpikir selama beberapa bulan ini alasan gadis itu hidup dan bersemangat adalah dendamnya pada orang-orang yang membawa penderitaan untuknya.  “Tapi Gavril … Paman hanya ingin mengingatkan, jangan sampai membawa perasaan pribadimu ke dalam perjanjian dan ikatan kalian, karena pada awalnya memang kalian hanya terikat untuk saling memanfaatkan.” Gavril yang hendak meneguk teh dari cangkirnya tersedak begitu mendengar ucapan sang paman. Lagi-lagi, pria itu melantur dan mengucapkan kata-kata tidak masuk akal. Jatuh cinta pada Idril⸺Gadis yang menawarkan diri untuk menjalin ikatan terkutuk padanya. Bahkan Gavril mulai berpikir sang paman mungkin benar-benar frustasi karena melajang sampai tua.  “Jangan mengada-ada … bagaimana bisa aku jatuh cinta pada Idril? Hubungan kami tidak lebih dari sebuah simbiosis, Paman. Bukankah itu terdengar tidak mungkin,” sahut Gavril setelah berhasil mengendalikan  tenggorokannya.  “Ini juga sebuah kemungkinan … siapa tahu kau jatuh pada pesonanya, gadis itu cantik dan sangat berbakat melihat kedua tangannya memiliki bekas memegang pedang. Dan lagi kau memanggil beberapa instruktur untuk membantunya … melakukan penyelamatan heroik dan jangan lupa kau juga menciumnya …” Memutar matanya jengah, “Paman … aku menciumnya agar aku bisa menyembuhkan luka-lukanya. Aku tidak bisa membiarkannya mati bukan? Itu akan melanggar perjanjian kepadanya.” “Lalu … aku memanggil para instruktur untuk membantunya mempelajari banyak hal sebelum menjadi seorang marquis.” “Kenapa …? Kau bukan walinya … lalu mengapa kau harus membantunya?” Schulze mulai terdengar seperti seorang ibu yang merajuk karena putranya memiliki kekasih. Dan itu membuat Gavril kesal sendiri. “Tentu saja karena itu bagian dari perjanjian kami … lagipula jika dia tidak menjalankan tugasnya dengan benar, siapa yang akan kesusahan? Aku … Duke Vladmire yang harus bertanggung jawab,” kata Gavril masih mencoba menanggapi sang paman sesabar mungkin.  “Oh, ayolah … aku juga sudah dewasa, bukankah seharusnya aku memilih pasanganku siapa? Kalau saja aku mau mencium dan tidur dengan siapa saja bukan masalah,” imbuh sang duke yang mulai terdengar sarkas. “Baiklah … baiklah … maaf, Paman hanya mengingatkan saja, mungkin Tuhan menyiapkan skenario tidak terduga. Bukankah akan sangat merepotkan jika kau sampai jatuh cinta padanya? Kau jadi memiliki kekurangan dan itu artinya musuh menemukan celah baru …” Sebenarnya tidak ada yang salah. Schulze hanya mengkhawatirkannya saja, pria itu tidak berniat memberikan batasan padanya. Karena itu akhirnya Gavril hanya bisa mengangguk⸺mengiyakan semua nasihat yang diberikan kepadanya.  “Tapi … Paman juga tidak keberatan, jika kau menaruh hati padanya. Apa salahnya menikah dengan Tinuvel? Bukankah justru akan menguntungkan Vladmire?” Schulze terkekeh pelan dan tersenyum miring penuh arti.  “Paman … jangan membuatku kembali terbakar emosi.” “Apa? Paman, tidak melakukan apa-apa …” Belum sempat membalas ucapan Schulze tiba-tiba saja pintu ruangan kembali diketuk. Tidak lama muncullah sosok Isaac yang telah membungkuk. “Duke, nona muda sudah sadar,” kata Isaac. Manik keemasan Schulze melirik menggoda keponakannya yang telah mendelik terlebih dahulu dan telah berdiri untuk menyusul sang butler yang melangkah keluar mendahuluinya. “Sudah, sebaiknya kau segera pergi menemui Juliet, wahai Romeo!” “Berisik … sebaiknya Paman segera mencari Juliet Paman agar bisa menggoda orang selain diriku.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN