Nyala lilin yang tampak remang-remang menerangi sebuah kamar bernuansa mewah adalah pemandangan pertama yang dilihat oleh Idril sesaat setelah dirinya membuka mata. Kamar yang hampir selama satu bulan ini ditempatinya masih terasa asing. Idril dapat merasakan tubuhnya lemas dan dipenuhi rasa sakit.
“Aku … masih hidup?” tanyanya dengan suara pelan. Ia bahkan memandangi kedua tangannya yang ternyata telah dipenuhi balutan perban.
“Apakah kau berharap dirimu mati?” Sebuah suara berhasil mengejutkannya. Idril bahkan sampai terlonjak kecil. Dan barulah ia menyadari ternyata ia tidak sendirian di dalam ruangan tersebut, seorang pria bersurai legam tengah duduk di samping ranjang tempatnya berbaring mengulum senyum tidak bersalah.
“Kau ingin membunuhku? Mengapa kau mengagetkanku seperti itu …,” ujar Idril yang sebenarnya tampak ingin menaikan nada bicaranya, tapi karena ia baru saja siuman dari tidurnya ia tidak memiliki tenaga untuk memaki sang duke.
“Aku hanya menjawab pertanyaanmu … apa salahku?” Gavril memasang wajah tidak bersalah dengan senyum yang menyebalkan. Ia kemudian beranjak dari kursi dan duduk di tepi ranjang.
“Bagaimana perasaanmu? Apakah sudah merasa lebih baik?” tanya sang duke sembari memperhatikan setiap ujung tubuh Idril.
“Sangat jauh lebih baik … aku terkejut karena tidak tewas setelah ditikam seperti itu … ternyata rasanya sangat menyakitkan.” Idril meraba bagian perutnya yang masih terasa nyeri dan ia juga dapat merasakan perban yang menempel di sana.
“Itu karena aku sudah melakukan pertolongan pertama. Tapi kekuatanku tidak dapat langsung menutup seluruh luka di tubuhmu, sebenarnya mungkin bisa … tapi dengan cara yang berbeda saja.”
Kedua alis Idril saling bertautan, wajahnya yang semula dipenuhi kebingungan tiba-tiba merah padam. Ia teringat bagaimana pria itu berusaha menyelamatkannya. Sebuah adegan ciuman panas kembali berputar di benaknya. Rasa besi yang tercetak di lidah dan pagutan memabukan. Jangan lupa tangan Gavril yang mendekapnya lembut dan mencoba menenangkan dirinya.
“Melihat wajahmu yang merah padam, aku rasa kau tidak melupakannya … tentu saja, kau tidak bisa melupakan ciuman panas kita, meski itu hanya untuk menyembuhkan lukamu,” kata Gavril yang berhasil membuat Idril mendelik tajam. Jika saja ia tidak terbaring lemah seperti ini pasti ia telah melemparkan lilin beserta penyangganya ke arah sang duke berada. Sehingga ia hanya bisa mendengus.
“Bagaimana lagi … itu adalah ciuman pertamaku tahu!” cicit Idril yang masih dapat didengar oleh Gavril cukup jelas. Entah mengapa ia merasa telinganya panas. Beruntung keadaan kamar remang-remang, jadi gadis di hadapannya tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Sesuatu dalam dirinya tiba-tiba mendambakan manisnya bibir plum Idril yang membuatnya tersenyum ketika tanpa sadar memperhatikan wajah ayu gadis itu.
“Mengapa? Apakah kau menginginkannya lagi …? Haruskah kita melakukannya lagi? Mungkin seluruh tubuhmu akan terasa lebih baik.” Gavril membungkuk untuk mendekatkan wajahnya dan membuat Idril menahan nafas. Ia dapat melihat iris keemasan sang duke yang tampak seperti bulan yang bersinar. Ia mengerjap beberapa kali ketika ibu jari Gavril mengusap bibir pucat Idril.
“Ja-jangan mengada-ada … aku sudah bilang sudah baik-baik saja, Gavril.” Idril memalingkan wajah untuk menghindari tatapan sang duke yang membuatnya tersipu. Tapi Gavril menyentuh pipinya lembut.
“Kau bisa menikmati kali ini … aku kemarin melakukannya dengan terburu-buru karena itu mungkin kita bisa … mengulanginya.” Idril yang dalam keadaan terbaring tidak dapat melarikan diri akhirnya memilih memejamkan mata. Debaran jantungnya terdengar begitu kencang, ia berharap sang duke tidak dapat mendengarnya. Kemungkinan alasan ia menyerahkan dirinya begitu saja pun karena ia teringat pada ucapannya dalam perjanjian. Idril menjadikan bukan hanya harta Tinuvel, tapi jiwa dan raganya kepada sang duke sebagai harga. Sehingga ia tidak melakukan banyak hal saat perlahan deru nafas hangat Gavril mendekat.
“Idril … mengapa kau memiliki bibir yang begitu manis? Apakah kau mengoleskan madu atau semacamnya?” bisik Gavril tepat di telinga Idril. Gadis bersurai pirang itu hanya menggeleng sembari menunduk karena merasa geli, ketika pria itu berbisik.
“Tapi Gavril … Paman hanya ingin mengingatkan, jangan sampai membawa perasaan pribadimu ke dalam perjanjian dan ikatan kalian, karena pada awalnya memang kalian hanya terikat untuk saling memanfaatkan.”
Ucapan Schulze terngiang di benak Gavril. Jarinya berhenti menyusuri garis wajah Idril, ia justru memandangi paras ayu gadis bersurai pirang yang berhasil membuatnya mabuk. Padahal ia tidak minum setetes wine, tapi ia merasa kabut melingkupi benaknya. Kata-kata Schulze berputar dan mengingatkannya kembali pada dunia nyata, sayangnya sebelum sempat menginjakkan kaki suara lembut Idril semakin menariknya jatuh ke dalam kabut gairah yang semakin tebal.
“Gavril … apa kau baik-baik saja?” Iris kemerahan yang berkilauan tampak seperti batu permata siam. Meski kulit porselen putihnya sedikit pucat tidak mengurangi kecantikan Idril, sebaliknya ia justru begitu menawan di bawah sinar rembulan dan nyala lilin.
Sang duke mengerjap beberapa kali. Ia mendesah kasar mencoba menentukan keputusan haruskah ia bertahan atau membiarkan dirinya terjatuh lebih jauh. Detik selanjutnya Gavril akhirnya benar-benar menjatuhkan diri.
“Idril …” Sesaat setelah memanggil nama gadis pemilik iris krimson kemerahan itu sang duke menyatukan bibir mereka. Ia mengecup bibir plum Idril yang terasa manis, dengan benak bertanya-tanya mengapa ia begitu terobsesi pada benda kenyal tersebut. Idril sendiri memejamkan wajahnya dan mencengkram erat selimut yang melingkupi tubuhnya.
“Berikan aku izin untuk melanjutkan lebih …” Entah siapa yang sedang gila. Tapi kedua insan itu saling berpandangan dengan mata yang dipenuhi kabut gairah. Idril merasa panas melingkupi tubuhnya. Ia tidak mengerti dengan ucapan Gavril, tapi otaknya tetap memerintahkan kepalanya mengangguk.
Dan dalam hitungan detik pagutan mereka kembali menyatu. Sebelah tangan sang duke mendekap tubuh rapuh gadis yang terbaring di bawahnya, sementara tangan yang lain menahan agar beban tubuhnya tidak menimpa si gadis.
“Ungh⸺” Idril melenguh pelan ketika merasakan lidah Gavril mencoba membuka mulutnya. Kebingungan untuk memberikan izin atau tidak akhirnya ia terdiam sampai merasakan pinggangnya dicubit pelan. Karena terkejut dengan tindakan sang duke membuat Idril tanpa sadar memekik kecil dan membuat Gavril langsung melesakan lidahnya.
Lidah keduanya saling membelit dan bermain-main. Idril merasakan bunga-bunga mekar di perutnya. Pria itu tidak berdusta ketika berkata ingin mengulanginya dan membuatnya ingin menunjukan bahwa ia akan melakukannya dengan lembut.
“Gavril … Ga-vril,” panggil Idril di sela-sela ciuman panas mereka. Wajah sang duke tampak memerah. Idril tidak meneruskan ucapannya, ia justru sibuk meraup oksigen sebanyak mungkin.
“Aku tidak berbohong saat berkata kau akan menikmatinya … aku melakukannya dengan lembut bukan?”Gavril meletakan helaian surai pirang Idril yang menghalangi pandangannya. Sadar akan perbuatannya barusan setelah melihat sudut bibir Idril terdapat jejak saliva mereka membuat Gavril memilih untuk menyudahi perbuatannya.
“Sepertinya kita harus melihat lukamu saja,” kata sang duke mencoba mengalihkan pembicaraan mereka. Sehingga ia memilih untuk membuka perban di bahu Idril yang kini hanya tinggal bekas goresan saja. Tapi melihat bahu putih Idril membuat Gavril bergejolak.
“Sebaiknya aku akan meminta pelayan saja yang melakukannya. Mungkin Schulze juga harus memeriksamu …”
“A-ah … aku rasa lebih baik biarkan tetap terbalut, a-akan terlihat aneh jika mereka tahu beberapa lukaku hilang dalam waktu semalam,” sahut Idril yang masih memalingkan wajahnya.
Tidak lama suasana terasa begitu hening. Gavril telah duduk dengan pandangan yang terjatuh pada langit malam dari jendela. Keduanya memilih untuk menenangkan diri mereka sampai akhirnya Gavril beranjak dari ranjang Idril.
“Aku akan memanggil Schulze untuk mendengar diagnosanya … kau bisa kembali beristirahat kembali,” ujar Gavril yang hanya dijawab anggukan oleh Idri. Dan tidak lama kemudian derit pintu tertutup. Tapi sebelum benar-benar meninggalkan ruangan Gavril menyeka sudut bibir Idril dan mengulum senyum yang langsung membuat Idril kembali merah padam.
“Ah … aku benar-benar termakan kata-kata ku sendiri, sial,” keluh Gavril setelah menutup pintu kamar Idril.