Gadis Bersurai Platina

1115 Kata
Sebuah mansion berukuran hampir seluas tanah perkebunan dengan patung-patung yang menghiasi halaman serta sudutnya, para pelayan bersetelan hitam dan putih telah berjajar rapi. Mereka tengah menanti sang tuan rumah yang seharusnya tiba pagi ini, menyambut sosok kepala keluarga Vladmire adalah rutinitas wajib mereka ketika pria itu tengah melaksanakan beberapa tugas. Isaac Laswell, pria paruh baya menjabat sebagai butler keluarga Vladmire selama puluhan tahun dikejutkan kala sosok yang telah dinantikan melangkah dari kereta kuda mewah dengan kedua tangan yang penuh. Isaac bertanya-tanya, berbeda dengan buah tangan sang tuan besar yang biasanya akan dibawa oleh para pengawal di kereta secara terpisah. Kali ini pria berambut kelam itu justru tengah membopong seorang gadis bersurai platina dalam rengkuhannya. Pemandangan yang sangat jarang dilihat oleh siapapun, tetapi tidak ada yang berani menyuarakan suara mereka termasuk Isaac. Mereka lebih memilih menyimpannya rapat karena itu adalah pilihan yang paling tepat, jika masih menginginkan jiwa mereka tak meninggalkan raganya. “Isaac, hubungi dokter Schulze dan bawa dia ke kamarku … lalu Irine siapkan sepasang pakaian untuk gadis ini.” Issac dan Irine, salah satu pelayan wanita yang juga menjadi kepercayaan sang tuan besar segera mengangguk melangkah pergi guna melaksanakan perintah pertama dari majikannya itu. Kepulangan sang tuan membawa beribu pertanyaan dalam benak para pelayan karena keberadaan seorang gadis berparas cantik jelita yang tak sadarkan diri dengan tubuh penuh jejak darah. Yang lebih mengejutkan adalah bagaimana sang tuan memperlakukan gadis itu, selain menggendongnya sendiri pria itu juga menjadikan mantelnya sebagai selimut untuk menutupi tubuh molek si gadis. Hanya saja mereka memilih membungkam bibir mereka, mengabaikan pertanyaan-pertanyaan itu dan kembali melanjutkan setiap tugas serta perintah yang telah diberikan oleh sang tuan. **** Terusik, gadis bersurai platina itu mengerjap beberapa kali kala merasakan sesuatu tengah bermain-main di dalam mulutnya. Mulai mendapatkan kembali kesadarannya gadis itu membuka mata, ia terkejut setengah mati saat menemukan wajah seorang pria tampan dengan iris keemasan tengah melahap bibirnya dan ternyata benda yang dirasakannya di dalam mulut adalah lidah sang pria tampan. “Ugh-“ lenguhan si gadis berhasil melepaskan pagutan mereka, di sudut bibir keduanya terdapat jejak saliva mereka. Jangan lupakan raut memerah si gadis bak kepiting rebus. Bagaimana bisa dirinya tidak tersipu malu? Seorang pria ternyata tengah mencumbu bibirnya dengan brutal disaat dirinya tak sadarkan diri. Dan apa-apaan tatapan dingin tanpa ekspresi yang tergurat di paras tampannya, padahal ia saja harus menahan rasa malu. Tangan pria bersurai hitam itu menyeka jejak salivanya yang masih tertinggal di sudut bibir tipis gadis di hadapannya, seulas senyum miring terukir menghiasi wajah tampannya semakin mencetak rona merah di pipi si gadis. “Nah, sepertinya itu sudah cukup untuk membuatmu bisa berbicara … jadi, jelaskan bagaimana Anda berakhir di pelelangan itu, my Lady.” “Ha … ? Tunggu, tenggorokanku sudah sembuh ... ah, apakah ini adalah salah satu kemampuan Anda Duke Gavril Aderito D'Vladmire?” Pria berambut sekelam langit malam dengan sepasang manik berwarna keemasan, sosok berhati dingin dan kejam ini adalah keturunan murni terakhir kaum Asmodia sekaligus duke keluarga Vladmire, Gavril Aderito D’Vladmire. Tidak ada yang tidak mengenal sosoknya, kesatria terkuat di kerajaan Zoresham sekaligus pria yang sempat hampir menjadi calon tunangannya. Jika ditanya apakah keduanya saling mengenal? Jawabannya adalah antara ya dan tidak, mereka sekedar bertukar sapa di pesta ulang tahun ratu beberapa bulan yang lalu. Kemudian selebihnya ia hanya mendengar melalui cerita dari ayahnya bahwa salah satu kandidat calon suaminya adalah sang duke. “Sudah kuduga, Anda memang pantas menyandang gelar the genius Lady karena dapat mengetahuinya. Ini akan memudahkanku untuk menjelaskan pada anda.” “Apa yang sebenarnya sudah terjadi Lady Parthenia Idril Tinuvel?” Idril, si gadis bersurai platina itu tersadar dari lamunan singkatnya. Ia tak membalas tatapan iris keemasan Gavril, tangannya justru saling bertautan dan menggenggam erat satu sama lain. Kilas balik itu kembali, saat dimana dirinya melihat satu persatu kematian keluarga Tinuvel. *** Hari itu wilayah kerajaan Zoresham tengah dilanda hujan sejak sore menyebabkan berbagai aktivitas yang seharusnya dilakukan Idril harus dibatalkan termasuk acara mengunjungi alun-alun kota bersama kedua kakaknya. Sehingga gadis bermanik rubi itu memilih berdiam diri di ruang tengah dengan salah satu buku yang diambilnya dari perpustakaan, “Jangan murung, kita masih bisa mengunjungi alun-alun esok.” Margaret memeluk tubuh sang adik dari belakang, tangannya mengusap surai platina Idril penuh sayang. Mengangguk tak bersemangat hanya itu yang diberikan si bungsu Tinuvel sebagai jawaban. Melihat reaksi yang biasa-biasa saja membuat gadis bersurai platina itu terkekeh, kemudian ia memilih menempati ruang kosong di sofa dan mulai memperhatikan Idril yang masih saja sibuk sendiri. Margaret meniup lembar halaman buku yang tengah dibaca Idril, sehingga mengganggu pandangan si bungsu. Masih merasa tak digubris akhirnya gadis itu mulai menyandarkan tubuhnya pada tubuh sang adik, mengusapkan puncak kepalanya dan membuat ujung helaian rambut pirangnya menggelitik wajah Idril. “Maggie …” Kali ini putri kedua Tinuvel itu yang tak menggubris panggilan Adiknya, ia tetap meneruskan acara mengganggu Idril. Hingga pada akhirnya ia dihujani tatapan tajam dari iris rubi di sampingnya. Tak habis pikir bagaimana bisa kakaknya yang kekanakan itu akan segera melangsungkan pernikahan bulan depan, mungkin viscount Mikhael buta sampai bisa mengirimkan lamaran kepada Margaret. “Maggie! Ya Tuhan, bisakah kau diam atau kau akan kubakar?!” ancam Idril saat Margaret mencolek-colek pipi porselennya, bukannya takut Kakak perempuannya itu justru tertawa terbahak sembari menirukan mimik muka Idril, menyebalkan. Kesenangan mereka terhenti saat pintu terbuka dengan keras mengejutkan dua bersaudari itu, di sana Aldric berdiri ditemani kapten pasukan Tinuvel, Zack Braun. Wajahnya dipenuhi peluh, tangannya tengah memegang sebilah pedang yang tampak telah dinodai jejak cairan anyir yang Idril ketahui sebagai darah. “Kalian berdua … segera pergi dari sini, Tinuvel diserang!” ujar si sulung terengah, membimbing kedua adik perempuannya menuju salah satu pintu yang terletak di belakang salah satu rak buku. Iris zamrud pria itu sibuk memperhatikan kondisi sekitar, sekilas ia sempat mengangguk pada Zack yang baru saja memberikan dua buah senjata yang lain. Dan ketiga bersaudara itu pu memulai pelarian mereka melalui terowongan bawah tanah yang memang dibangun untuk mengantisipasi situasi seperti ini. Pikiran Idris kalut, bayangan wajah kedua orang tuanya melintas berulang kali. Ia memperhatikan bergantian sosok Margaret yang berlari sambil menggenggam erat tangannya, sementara sebelah tangan kanannya memegang sebuah pistol. Di belakang sana Aldric melakukan hal yang sama, berlari dengan tetap mengedarkan pandangan untuk menjaga kedua adiknya. Sebenarnya manik zamrud si sulung tengah menahan cairan bening di pelupuk matanya agar tidak mengalir, ia masih tidak bisa melepaskan bayangan tumpukan mayat bergelimpangan dari pelayan kediaman mereka. Ketakutan telah menyelimuti hatinya saat mencari keberadaan kedua saudarinya. Kemudian ia bertemu Zack yang terluka cukup parah, bukankah pria itu tengah dalam perjalanan bersama kedua orang tuanya yang pergi untuk melakukan bisnis. Jika Zack kembali sendirian itu artinya … tanpa basa-basi Aldric berlari menuju tempat dimana Margaret dan Idril kira-kira berada. DOR DOR!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN