Kenyataan yang Tertinggal

1725 Kata
Suara tembakan dari pistol yang dipegang Margaret mengejutkan si sulung, pandangannya menajam saat menemukan sekumpulan pria bertudung hitam telah menanti mereka di ujung terowongan. Ketiga saudara Tinuvel bersiap dengan senjata ditangan mereka masing-masing, termasuk Idril yang telah melemparkan sihir peledak pada salah satu pria bertudung. Mereka saling menyayat, menembak dan membakar satu sama lain. Idril bahkan beberapa kali harus terlempar keluar dan jatuh terjerembab di atas rumput. “Idril!” seru Margaret dan Aldric bersamaan, keduanya segera berdiri melindungi si bungsu yang masih berusaha untuk bangkit. Peluru Margaret sibuk melubangi komplotan bertudung, sementara ujung pedang Aldric berulang kali menusuk serta menebas kepala musuh mereka. Ketiga saudara Tinuvel cukup unggul dalam pertarungan yang kalah jumlah itu, hingga salah satu pria bertopeng gagak muncul dan membalikkan serangan mereka. “Cih!” Margaret mendecih kesal karena peluru-pelurunya justru terbuang sia-sia saat ia berusaha melubangi pria bertopeng yang bergerak kesana kemari. Hingga akhirnya si pria bertopeng berhasil menendang pistolnya, dan mengharuskan mereka beradu tinju. “Anak-anak Marquess Henley memang sangat mengesankan, kalian berhasil menumbangkan separuh dari kami.” “Kami tidak butuh pujian darimu, b*****h!”  tandas Margaret penuh amarah, nafas gadis itu terengah karena baru saja melawan pria di hadapannya itu dengan tangan kosong. Tawa si pria bertopeng meledak karena melihat keangkuhan seorang bocah, pandangannya jatun pada tiga bersaudara itu. Ia menjentikkan jari dan dua buah hadiah yang disiapkan telah berada di tangannya. Hadiah yang berhasil membuat ketiga bersaudara itu meneteskan air mata⸺bukan air mata haru maupun bahagia, melainkan air mata kesedihan, Margaret dan Idril bahkan bersimpuh dan menjerit pilu semakin mencetak senyum lebar si pria bertopeng. “Bagaimana bukankah hadiah pertemuan kita sangat mengharukan?” tanyanya sembari menunjukan dua buah benda yang masih mengalirkan cairan kental berbau anyir. Keduanya bukanlah sebuah benda, lebih tepatnya apa yang baru saja dilemparkan pria itu ke atas rumput adalah tubuh manusia yang telah kaku. Yang tak lain adalah milik marquess dan marchioness Tinuvel. Makhluk tak berhati, bagaimana bisa ia melakukan hal keji ini pada kedua orang tua mereka. Tak ada yang mengetahuinya, namun yang jelas ketiga bersaudara itu bersumpah akan mencabut kepala si pria dan memberikan kematian yang sama. “Aldric … jagalah Idril.” Setelah mengucapkan hal itu Margaret mengeluarkan sihir dimana akar-akar tanah telah melilit kedua saudaranya tinggi jauh dari atas tanah, “MAGGIE!” Margaret hanya mengulas senyum manis, tak ada sirat jahil maupun jenaka di kedua iris zamrudnya. Idril meronta sekuat tenaga mencoba melepaskan diri dari cengkraman akar-akar sang Kakak, berulang kali gadis itu menangis memanggil nama putri kedua Tinuvel. “Maggie, jangan gegabah! Kau harus hidup!” seru Aldric dengan raut yang memerah, lehernya memunculkan urat-urat karena pria itu berusaha berteriak sekencang mungkin berharap adik bodohnya itu akan bertukar tempat dengannya. “Bodoh, kau itu Pewaris Tinuvel jangan gegabah. Kau harus melindungi Idril demi Ayah dan Ibu ...,” sergah Margaret sendu. Mereka bertukar pandang sesaat dan tak lama keduanya dilempar jauh oleh akar-akar yang melilit tubuh si sulung dan si bungsu. Keduanya terlempar entah kemana meninggalkan Margaret yang telah bersiap dengan dua buah pistol di tangannya, iris zamrudnya menatap lurus tepat dimana sosok bertopeng itu masih berdiri mengulas senyum miring. ‘Kalian berdua harus hidup!’ *** Suara gemerisik dari gesekan dedaunan dan decak air akibat derap langkah menjadi satu-satunya suara yang mengisi rimbunnya hutan. Tak lain berasal dari sepasang kakak-beradik yang berlari guna menyelamatkan nyawa mereka. Aldric menggenggam tangan adik bungsunya, manik emerald pria itu memerah akibat menahan tangis karena bagaimana pun Idril membutuhkannya, kini hanya tersisa dirinya saja yang dimiliki gadis itu. Mereka berhenti sesaat karena Idril yang kehabisan nafas, ia tak dapat memaksakan kondisi tubuh si bungsu karena luka yang diterimanya adalah akibat menahan tubuh mereka menggunakan sihir. Mustahil jika jatuh dari ketinggian setinggi itu tak ada satu pun luka pada tubuh, sekalipun telah menggunakan sihir. “Kemana … kita … akan pergi?” “Kediaman Duke Vladmire, satu-satunya tempat yang aman untuk saat ini.” Alis Idril mencuram, ia tak mengerti mengapa Aldric memilih kediaman pria pemilik surai kelam itu yang pasti kakak sulungnya itu telah memperkirakan dan mempertimbangkan langkah mereka selanjutnya. Seolah mengetahui apa yang tengah mengusik benak sang adik, Aldric mengulas senyum guna menenangkan putri bungsu Tinuvel itu, “Itu adalah pesan Ayah, alasan mengapa Duke menjadi kandidat calon suamimu pun karena alasan yang sama.” “Memangnya hubungan apa yang ada di antara Tinuvela dan Vladmire?” “… itu adalah sebuah ikatan yang tak akan bisa dipatahkan.” Membingungkan, perkataan kakak sulungnya menciptakan benang-benang rumit dalam otaknya. Mengapa ia seolah-olah tak mengetahui apapun, sebenarnya hubungan seperti apa yang tidak bisa dipatahkan oleh siapapun? Idril sedikit terlonjak kala merasakan kehangatan menjalar di sekitar pipinya, Aldric tengah mengusap lembut paras rupawan adik bungsunya. Kali ini bukan senyum menenangkan yang diulas si sulung, melainkan senyum masam yang terasa begitu memilukan, menciptakan rasa nyeri mendera d**a. Cup!                                                   Terkesiap bahkan gadis bersurai platina itu membeku saat Aldrich mendaratkan kecupan di dahinya. Sangat amat lama dan terasa dingin juga menyakitkan, barulah Idril menyadari paras tampan Aldrich telah basah karena butiran air mata yang telah terjatuh dari sepasang zamrud si sulung. Menyebabkan gadis itu pun ikut terisak,entah mengapa namun momen ini terasa bagaikan ia akan dipisahkan jauh dari pria bermanik emerald ini. Seolah mereka tengah mengucapkan salam perpisahan yang akan begitu panjang dan menyakitkan, tangan Aldrich menjulur menyapu deraian air mata si bungsu. Iris rubi sang adik menatapnya lama dipenuhi penderitaan dan rasa sakit, sayangnya itulah yang akan dihadapi Idril ke depan. Merasa bersalah karena tak mampu melakukan apapun, namun ini adalah jalan yang terbaik. “Idril, tetaplah hidup … apapun yang terjadi, kami mohon tetaplah bernafas.” ‘Apa maksud ucapan Aldrich barusan?’ ‘Apakah akhirnya hanya dirinya saja yang tertinggal?’ Belum sempat menanyakan pertanyaan pada kakak sulungnya itu, tiba-tiba saja sebuah pedang hampir saja menghunus tubuh mereka jika Aldrich tidak segera menepisnya dengan sihir angin. Suara tepukan tangan perlahan terdengar, pria bertopeng yang sama berjalan keluar dari semak belukar. “Maafkan aku karena sudah mengganggu waktu mengharukan kalian, tapi aku harus segera membunuh kalian berdua.” “Kurasa acara mengucapkan salam perpisahan sudah selesai bukan?” Dalam hitungan detik selanjutnya, si pria bertopeng melangkah cepat menghunuskan pedang ke arah mereka. Dan tak lama denting pedang terdengar, Aldrich berulang kali terlempar bahkan terhempas saat pria itu tiba-tiba saja menghentikan sendi-sendi tubuhnya. Namun, Idril dengan cekatan menyerang balik dan melemparkan tusukan-tusukan cepat, berharap satu atau dua tebasan berhasil melukai lawan. Sayangnya ia lengah dan menerima tendangan keras hingga tubuhnya menghantam batang pohon, “Idril!” Tak terima Adiknya menerima perlakuan kasar Aldrich memaksakan tubuhnya yang penuh luka bangkit dan kembali bergerak, namun lagi-lagi dirinya dijatuhkan. Pria itu tertawa keras, tawanya menggema di sekeliling hutan semakin menandakan bahwa ini adalah akhir dari segalanya. Jerit kesakitan si sulung Tinuvel menyadarkan Idril yang masih berusaha bangkit, di depan matanya ia melihat sebelah tangan sang kakak dipotong menciptakan aliran anyir mengalir deras. Tidak hentikan! Suara tawa dan raungan kesakitan bercampur menjadi satu memekakan telinga gadis bersurai, platina itu. Muak, ia tak pernah menginginkan semua ini. Melangkah maju secepat kilat selepas Idril meraih pedangnya yang tertancap ia segera menghujani kembali pria bertopeng itu dengan tebasan demi tebasan. Iris saganya berkilat tampak menyala di tengah kegelapan, penuh amarah dan dendam. Hanya ada satu hal yang kini diperintahkan otaknya, bunuh pria itu! “Apa jadi kau marah karena aku memotong tangan Kakakmu? Astaga kau manis sekali,” ujar si pria bertopeng sembari menghindari tiap tebasan gadis manis di hadapannya masih dengan menyunggingkan senyum miring yang meremehkan. Diam. Diam diam diam diam diam! “SHUT f**k UP!” ZRASSHHH Terkejut, pria bertopeng itu baru menyadari bahwa gadis bermanik rubi ini menggunakan dua bilah pedang bersamaan. Kali ini bukan Idril maupun Aldrich yang mengeluarkan cairan anyir, melainkan lawan mereka. Gadis itu berhasil menghunuskan bilah pedangnya yang lain di perut si pria bertopeng. Masih tidak cukup Idril menyalurkan sihir api yang menjulur melingkupi tubuh lawannya. Aldrich terpaku, tidak ia sangka bahwa gadis yang selama ini selalu dilarangnya menggunakan pedang, justru jauh lebih ahli dibandingkannya. Bahkan sampai menggunakan dua bilah pedang, perasaan bangga melingkupi hatinya , namun hanya untuk sesaat hingga tiba-tiba saja api dari Idril dihempaskan begitu saja. Pria itu mencekik leher Idril keras, rautnya terukir kekesalan karena berhasil di sudutkan oleh seorang gadis kecil. Ia dapat merasakan tubuhnya melayang, dan di hembus dinginnya angin malam. Dari sudut matanya Idril dapat melihat raut Aldrich yang tengah merangkak ke arahnya. “Ja-jangan … mende-kat!” Dengan sisa kekuatannya yang tersisa gadis bersurai platina itu melingkupi tubuh sang kakak lelaki menggunakan lidah-lidah api dan menghempaskannya entah kemana menggunakan sihir angin yang dibentuknya sekuat mungkin. “TIDAK! IDRIL!!” Tepat sebelum dihempaskan kedua kalinya, Idril menarik pedang di tangannya dan berhasil menebas sebelah tangan si pria bertopeng yang menatapnya nyalang. Kini giliran gadis itu yang mengulas senyum miring, dan selepasnya ia terjatuh ke jurang lalu hanyut dengan keadaan sekarat. Saat itulah Gerald menemukannya dalam keadaan tenggorokan yang hancur, kedua tangan dan kaki patah. Ia benar-benar di ambang kematian, entah sebuah keberuntungan atau tidak namun berkat niat Gerald menjadikannya b***k mengharuskan pria gempal itu menyembuhkan luka di tubuhnya. Sekalipun itu hanya tangan dan kakinya saja, sehingga ia dapat berjalan kembali. Hingga akhirnya Idril berakhir di atas panggung pelelangan dan bertemu sang duke. ***             Gavril masih diam tak menanggapi kisah yang baru saja diceritakan gadis bersurai platina di hadapannya. Idril pun sama, ia tak berniat menambahkan ucapan apapun selepas mengakhiri kisah yang telah dialaminya selama berbulan-bulan lamanya. Benar! Ia harus menanyakan bagaimana keadaan Margaret dan Aldrich, apakah kedua kakaknya baik-baik saja? Bagaimana keadaan kediaman Tinuvel? Seharusnya pria bermanik zamrud itu telah mengemban nama marquess, dan bukankah ia telah melewatkan pernikahan Margaret. Sebuah tangan menyadarkan gadis itu dari lamunannya. Duke Vladmire menatapnya dengan tatapan yang tak dapat diartikan, tangannya menggenggam bahu Idril erat. Tidak jangan beritahukan apapun! “A-apakah Kakak-kakakku baik-baik saja?” tanya Idril mengabaikan jeritan hatinya yang memintanya untuk membuka mata. Gavril terdiam, iris keemasannya hanya menatap lurus tepat dimana manik saga itu dipenuhi butiran bening air mata. Ia tak ingin melakukan ini, tapi inilah yang harus diterima gadis bersurai platina itu sekarang. Kenyataan yang kejam dan menyakitkan, karena pada akhirnya ia hidup di dunia nyata bukan di dalam mimpi. “Mengapa … mereka tidak mencariku?” “Apakah Aldrich tidak terpikirkan bahwa aku akan menjadi seorang b***k?” “Apa-“ “Lady Tinuvel!” …       “… Anda satu-satunya orang dari keluarga Marquess Tinuvel  yang selamat.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN