Dunia bukanlah sebuah tempat menyediakan kebahagiaan tanpa ujung. Nyatanya tempat dimana setiap makhluk berpijak adalah padang pasir dengan sejuta ilusi, segala sesuatu yang berada di hadapan tak menentu keberadaannya. Dan bagi gadis berambut platina naïf sepertinya dunia dimana ia mengulas senyum serta tawa baru saja menamparnya begitu keras untuk segera bangun dari mimpi, hidup tidak mudah dan semanis itu.
Hari dimana ia hancur menjadi berkeping-keping, kehilangan rumah serta kasih merupakan tamparan bagi Idril. Ia terlalu mempercayai apa yang berada di sekelilingnya tak akan pergi, mungkin benar bukan mereka yang pergi. Melainkan dirampas secara paksa, bukan hanya itu dirinya merasakan penderitaan serta kesakitan akibat terlena dalam fatamorgana mimpi dunia.
Ia merasa malu di usianya yang cukup dewasa memahami hidup, ternyata dirinya tak memahami atau mengetahui apapun. Cara roda dunia berputar dan diputar tak hanya dengan menanam kebaikan terkadang ada pula mereka yang mencabut paksa itu semua, menginjak serta menghancurkannya.
Gavril hanya memperhatikan Idril yang memandang kosong. Hal yang wajar karena ia baru saja diguncang hebat, bahkan gadis itu baru saja selamat dari neraka. Tetapi, perkiraan sang duke salah Idril justru tertawa keras. Entah karena otaknya yang tak lagi waras, atau dari awal kewarasan itu telah meninggalkannya dirinya sendiri tak tau.
Tangannya mencengkram erat selimut beludru burgundy yang menutupi tubuhnya. Jika dunia mulai menariknya ke dalam permainan, maka ia akan turut serta. Tidak itu bukanlah sebuah penawaran, lebih tepatnya mungkin pemaksaan. Mata dibalas dengan mata, ia akan merampas kembali apa yang telah dirampas darinya. Karena memang seperti itulah dunia berputar dan memutar rodanya.
“My Lord … bukankah ada sesuatu diantara Tinuvel dengan Vladmire? Mengapa Aldrich berkata hanya Duke yang dapat menyelamatkan saya?”
Manik rubi itu menatap lurus, tak tersirat emosi setitik pun. Bahkan tanpa rasa takut ia membalas tepat dimana iris keemasan pria bersurai kelam membalas tatapan hampanya. Terkekeh pelan duke Vladmire tak dapat menahan tawanya meledak. Manusia memanglah sangat menarik, mereka dapat berubah hanya dalam hitungan menit. Benar-benar, pemilik hati tanpa pilar. Jika seperti itu bukankah lebih baik menjadi sosok tanpa hati dan perasaan?
Kali ini pria itu menaruh perhatian pada gadis bermanik merah ini. Ia yang baru saja menemukan arti sesungguhnya dari sebuah dunia, seolah dirinya baru saja terbangun dari mimpi yang panjang.
Gavril menyanggah tubuhnya dengan kedua tangan, “Itu semua karena ikatan dari leluhur kita yang pernah membuat sebuah kontrak.”
“Kontrak?” tanya Idril lagi, sang duke mengangguk benaknya membuka kembali kisah legenda yang kerap diceritakan secara turun temurun. Tetapi, baginya sama artinya dengan sebuah dongeng sebelum tidur.
“Leluhur anda meminta kami para Asmodia, atau lebih tepatnya pemimpin Asmodia untuk membantunya meraih keinginan serta mimpinya.”
“Kekuatan yang melebihi dari seorang manusia, dan sekutu yang tak akan pernah mengkhianati tidak hanya dirinya saja. Tetapi, juga anak keturunannya.”
Idril terbahak, siapa sangka Leluhurnya sosok yang begitu berambisi dengan dunia, meminta kekuatan melebihi manusia?
Jadi karena itu keturunan Tinuvela adalah para Veela. Dan karena perjanjian itu menjadi akar yang melandasi alasan hubungan erat antara mereka dan Vladmire, sekarang semua jadi masuk akal.
Gadis itu tiba-tiba saja tertawa keras, sekilas ide gila terlintas di benaknya. Gavril hanya mengulas senyum tipis dan masih memperhatikan anak manusia yang tampak begitu menarik, karena ia sama sekali tak dapat menebak pikiran si gadis sama sekali. Senyumnya semakin melebar kala mendengar ucapan gila Idril selanjutnya.
“Kalau begitu juga akan mengikuti jalan leluhurku … Duke, buatlah kontrak bersama saya,” tukas Idril yang kembali menatap iris keemasan Gavril tanpa rasa takut maupun keraguan. Bahkan rasa malu serta rona memerah di parasnya sirna entah kemana, ia berani mendekatkan wajah mereka sangat dekat membuat pria di hadapannya itu terkekeh pelan.
Tangan sang duke terjulur menyentuh dagu sang gadis berambut platina, Idril dapat merasakan hembusan nafas hangat menerpa wajahnya, “Apa yang kau tawarkan sebagai bayaran?”
“Apapun … jiwa, tubuh bahkan harta kekayaan Tinuvela! Akan kuberikan segalanya pada Anda, termasuk jika Anda berniat meraih tahta Zoresham.”
“Dengan syarat lindungi apapun yang terjadi pada saya, jadilah pedang perisai apapun sampai bisa membalas mereka … lalu jangan pernah mengkhianati saya.”
Idril memalingkan wajahnya, sehingga pegangan sang Duke pada dagunya terlepas. Gavril terbahak kesekian kalinya, manusia memang benar-benar sangat menarik dan lagi ia sama sekali tidak ragu akan pilihannya, lalu harga yang ditawarkan untuknya benar-benar menggoda.
Sepertinya memang benar, dendam yang telah mengambil alih jiwa seseorang akan membuatnya mengorbankan apapun untuk menorehkan luka dan derita yang sama. Pria itu menyukai penawaran yang diberikan padanya, “Baiklah aku menerima tawaran itu.”
Terkejut? Tentu saja, Idril tidak akan mengira sang Duke akan menerima tawarannya. Ia tak peduli lagi dengan harta maupun jiwa juga tubuhnya, tak memiliki apapun bukan masalah besar asalkan ia dapat merobek-robek tubuh mereka yang berani-beraninya mengusik kehidupannya.
Terlebih lagi kesempatan sebesar ini tidak akan datang dua kali, memiliki pewaris murni kaum Asmodia sekaligus pria yang paling kuat di sisinya. Duke Vladmire dan keluarganya adalah salah satu fraksi yang terkuat di kekaisaran, terikat dengan mereka merupakan kesempatan yang tidak bisa di dapat setiap orang.
“Kalau begitu mari kita tanda tangan kontrak kita,” imbuh Gavril lagi. Kali ini pria itu tersenyum miring yang entah mengapa menyalakan alarm di otak Idril. Dan ternyata benar akan dugaannya, tanpa ia duga sang duke kembali memagut bibirnya. Ia merasakan panas menjalar di sekujur tubuh, kemudian berubah menjadi rasa sakit yang teramat sangat.
Idril melenguh saat lidah pria berambut hitam itu bermain-main di dalam mulutnya. Lenguhannya semakin keras saat ia merasakan lidahnya disedot kuat, bahkan ia dapat merasakan rasa besi tercetak jelas. Begitu pula dengan rasa sakit yang dirasakannya, belum lagi tubuhnya yang terasa seperti hancur berkeping-keping.
Nafas mereka terengah-engah saat ciuman liar dan ganas itu berhenti, tubuh gadis berambut platina itu meluruh kehilangan tenaga. Sementara sang duke masih mengulum senyum sembari menatap iris rubi si gadis yang tampak sayu.
“Tanda sudah dibuat … saya baru saja memberikan sihir kontrak di antara kita,” jelas Gavril yang membaringkan tubuh lemas Idril perlahan. Merasa masih dituntut sebuah penjelasan pria itu duduk di samping si gadis dan meraih helaian rambut platinanya.
“Saya membuatnya di lidah Anda … semakin terlihat tanda kontrak itu, semakin kuat pula ikatan yang terjalin.”
“Lagi pula Anda sendiri yang bilang, bukan? Tubuh, jiwa dan harta anda adalah milik saya … jadi saya yang memilih di mana kontrak itu akan dibuat,” bisik Gavril dengan suara huskynya yang rendah.
Sial, memang benar jika para Vladmire adalah penerus darah murni para Iblis. Tidak begitu mengejutkan sebenarnya untuknya karena sifat lancang sang duke, bagaimanapun pria itu seorang Asmodia.
Lagi pula pria itu tidak sepenuhnya salah, dirinya lah yang memberikan penawaran tadi sehingga ia harus mulai terbiasa dengan apapun yang akan diterimanya nanti.
Idril merasakan matanya memberat, gadis itu perlahan-lahan hanyut pada aroma musk dan citrus sosok pria bermanik emas. Setidaknya dengan begini ia tidak lagi sendiri, bukan? Karena orang itu disini, dan akan selalu berada di sampingnya.
Gavril mengusap surai platina gadis yang saat ini tanpa sadar meneteskan air mata sembari menggenggam tangannya. Tak disangka-sangka ia akan mengambil jalur yang sama dengan leluhurnya, dan lagi terikat dengan gadis lemah yang rapuh. Mungkinkah karena tertarik pada manusia akhirnya leluhurnya juga memutuskan melakukan hal ini?
“Jangan …pergi.”
Gadis itu mengigau dalam tidur, Gavril menghela nafasnya pelan. Merasa tak ingin lagi meneruskan lamunannya lebih jauh. Pria bermanik keemasan itu mengusap jari si gadis, menatapnya sembari ikut merebahkan tubuhnya masih dengan pandangan yang tak lepas dari gadis berparas menawan itu.
“Anda tidak lagi sendiri … my Lady.”