Tamu yang Tidak Diundang

1327 Kata
Langit Zoresham tampak diliputi gumpalan-gumpalan hitam awan Cumulonimbus menjadi tanda bahwa hari itu akan dilalui dengan rintikan air hujan. Dan benar saja tak lama rerumputan diguyur hujan yang cukup lebat memadamkan suasana musim panas. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi count Bernard Wilford. Pria berkumis tipis itu tampak kelimpungan kala menerima sosok tamu yang sangat tidak terduga. Bayangkan saja ketika didatangi sosok orang yang seharusnya sudah mati, dan pemakamannya saja telah digelar. Itulah yang tengah terjadi pada diri sang count. Keponakannya yang seharusnya telah mati tiba-tiba saja berkunjung, Putri bungsu adiknya itu datang bersama duke Vladmire. Tak ingin memikirkan berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi karena Bernard dan beberapa Pelayan sibuk membereskan berkas-berkasnya. Atau lebih tepatnya menyembunyikan berkas yang tidak seharusnya jatuh di tangan sang keponakan. Merasa telah cukup aman disimpan, si pria berkumis itu segera beranjak dari ruang kerjanya, ia segera melangkah keluar menemui kedua tamu yang hampir saja membuatnya terkena serangan jantung. Iris crimson sang count beradu dengan butler, mereka saling bertukar pandang untuk mengirimkan kode. Menarik nafas dalam dan mulai melangkah setengah berlari Bernard memasuki ruang utamanya seolah ia berlari secepat kilat. Benar saja, si bungsu Tinuvel masih bernafas dan kini gadis itu tengah berdiri dengan tangan yang  mencengkram lengan pria berambut kelam. “Keponakanku, Idril! Astaga, syukurlah kau-kau … masih hidup.” Sang count memeluk tubuh gadis yang jauh lebih mungil darinya. Ini nyata apa yang berada di dalam rengkuhannya adalah Parthenia Idril Tinuvel. Tubuh Bernard bergetar, bukan karena ia terharu akan suasana pertemuan ini melainkan karena ketakutan yang menyelimutinya. Iris krimson sang count jatuh pada sosok pria yang sedari tadi hanya diam memperhatikan. Sampai-sampai datang dengan ditemani duke, sepertinya Tinuvel masih menjaga baik hubungan mereka karena perjanjian di masa lalu. “Mohon maaf karena telat menyapa anda, Tuan Duke Gavril Aderito D’Vladmire senang dapat bertemu dengan anda,” sapa Bernard sembari membungkukkan setengah tangannya. Ia adalah bagian dari Tinuvel, namun tak seperti dengan kakaknya ia tidak menjalin hubungan sedekat Tinuvel dengan Vladmire. Sehingga terjadi kecanggungan diantara sang count dan duke. “Senang dapat bertemu dengan anda Count, terima kasih karena menyambut kedatangan kami tiba-tiba ini,” pungkas Gavril sopan sekalipun tak ada senyum yang disunggingkannya. Benar-benar sosok dingin. “Tentu saja bagaimana bisa saya menolak kedatangan Keponakan saya?” “Paman, maaf karena mengejutkanmu.” Kini ketiga orang itu duduk berhadapan, teh dengan aroma menenangkan bunga chamomile diseduh pelayan, kue-kue manis dihidangkan guna menjadi teman menjamu tamu dadakan sang count. Tidak layaknya seseorang yang merindukan bertemu Keluarganya count Wildford justru tampak gusar, Gavril tersenyum tipis. Seulas senyum yang hanya dapat dilihat oleh Idril saja “Ada apa dengan tangan dan kakimu? Mengapa mereka dibalut seperti itu?” tanya count dengan raut khawatir karena baru saja menyadari bahwa kedua tangan dan kaki Idril yang terbalut perban. Idril tersenyum masam memperhatikan balutan perban yang baru saja diganti oleh dokter, luka saat dirinya berhasil lolos dari maut dan berakhir di pelelangan. “Ini karena luka dari pelelangan budak.” “Apa?! Pelelangan b***k?” “Benar, sebelumnya saya tengah melakukan penyelidikan tentang tragedi kematian keluarga Tinuvel. Dan ternyata di tengah penyelidikan saya menemukan Lady Tinuvel disana,” jawab Gavril memberikan penjelasan kepada Bernard. Raut wajah sang count tak dapat terbaca,begitu pula dengan mimik dari kedua orang lainnya. Hingga Idril bangkit dari duduknya begitu pula dengan sang duke, Bernard bernafas lega karena sang keponakan memilih untuk pamit undur diri. Nyawanya seolah kembali pada raganya dan senyum kaku miliknya telah menjadi cukup ringan. “Terima kasih, Paman. Saya dengar anda yang mengurus Tinuvel selama saya tidak berada di tempat,” ujar Idril yang memegang kedua tangan pria berkumis itu. Senyum manis serta menawan si bungsu Tinuvel terukir di paras jelitanya. “Jangan khawatir Paman, sekarang saya kembali dan mengurus Tinuvel. Paman pasti sudah kerepotan karena mengurus Wilford.” “A-apa? Kau akan mengambil alih Tinuvel?” Senyuman manis Idril berubah menjadi seringai angkuh yang sebenarnya tak pernah sedetik pun diberikannya, tidak hingga ia mengetahui betapa kejamnya dunia. Dan semenyakitkan apa sebuah pengkhianatan. Terlebih pengkhianatan yang dilakukan oleh keluarganya sendiri. Gavril telah melakukan penyelidikan dan menemukan bahwa adik dari marquess Tinuvel, Bernard Wilford akan mengambil alih keluarga karena ia menjadi satu-satunya pemilik darah keturunan Tinuvel, sekalipun ia hanyalah setengah Veela. Idril bukanlah gadis bodoh, hal yang pertama kali ia lakukan adalah memastikan keadaan Tinuvel. Bagaimanapun itu adalah nama yang ditinggalkan ayah untuknya, ia mungkin bukan seseorang yang sekompeten Aldrich, namun ia yakin dengan bantuan pria di sampingnya ini segalanya dapat bisa diatasi. Pasca kembalinya Idril, dan perintah yang pertama ia berikan pada Gavril untuk membongkar kegiatan Tinuvel selama ketidakhadirannya selama hampir dua bulan lebih, ia menemukan bahwa hal janggal yang dilakukan oleh pamannya itu. Penghentian dilakukannya penyelidikan adalah atas permintaan count Bernard Wilford yang menjadi satu-satunya wali dari Tinuvel. Tak hanya itu saja, ditemukan pula jejak bahwa dilakukan pemindahan harta kepemilikan Tinuvel pada keluarga Wilford. Properti seperti perkebunan, pabrik, butik mulai dibalik nama menjadi atas nama sang count. Dalam waktu dua bulan itu semua dikerjakan dengan rapi seolah telah direncanakan sejak awal, karena itu Idril tau bahwa pamannya itu mengkhianati Tinuvel. “Tentu saja, saya akan menjadi Marquez selanjutnya dari keluarga Tinuvel karena itu memang hak saya,” tandas Idril dengan nada sinis yang mencetak raut kesal dari pamannya. Menjijikan, hanya demi harta pria itu tega ikut andil dalam pembunuhan kakaknya sendiri. Bernard membeku saat gadis berambut platina itu mendekat dan mulai membisikkan kata-kata yang berhasil membuat kepala keluarga Wilford itu bersimpuh tak berkutik. “Jangan berusaha mengusikku lagi, dan jangan coba-coba merebut atau menghancurkan Tinuvel. Jika Paman tidak mengharapkan kematian yang jauh lebih menyakitkan dari ayah,” bisik Idril sepelan mungkin, memastikan telinga pria berkumis itu dapat mendengar setiap katanya dengan jelas. Gadis bermanik rubi itu sedikit berjongkok sembari mengulas senyum mengerikan, bahkan dari tangannya Bernard dapat melihat percikan api. Gila, sejak kapan gadis lemah dan rapuh seperti Idril menjadi sosok ular yang begitu menakutkan. “Aku bersungguh-sungguh, Count. Jika kau melaporkan hal ini pada rekan-rekanmu akan kupastikan ujung pedangku akan merobek isi perutmu.” “ Berhati-hatilah, kau pasti tau kan ini apa?” tanya Idril sembari menjulurkan lidahnya,Bernard terjungkal sang count gemetar. Wajahnya pucat bagaikan seorang mayat, ia mengetahui lambang itu.  Tanda dari sebuah kontrak dengan para Asmodia, ia tak pernah menyangka gadis itu akan berani melakukan perjanjian yang bahkan selama ratusan tahun tidak diikuti siapapun. Pandangan iris krimson sang count jatuh pada pria bermanik keemasan yang tampak mengkilat di belakang sana, duke Vladmire tersenyum menunjukkan lehernya dimana terdapat ukiran tato hitam menjulur di sana. Mereka telah membentuk sebuah ikatan. “Pikirkanlah apa ucapan Idril, kau pasti sangat memahaminya karena bagaimana pun juga … anda pernah menjadi seorang Tinuvel,” ujar Gavril yang kembali menarik kerah mantelnya sehingga tato itu tak begitu mencolok dan menarik perhatian. Idril bangkit dan mulai menepuk pelan gaun peraknya, gadis itu kembali menggenggam lengan Gavril yang telah bersiap menantinya untuk segera melangkah pergi karena urusan mereka selesai. “Kunjungi lagi kediaman Duke Vladmire, aku menunggu pengakuan dosamu … Pamanku tersayang.” ***          Kini Gavril dan Idril telah sampai di dalam kereta kuda yang akan membawa mereka kembali pulang. Tak ada percakapan diantara keduanya sampai akhirnya sang duke memilih memperhatikan gadis di hadapannya yang tampak tenang. Padahal ia baru saja memberikan ancaman tegas pada salah satu keluarganya, namun ia bersikap seolah tak ada yang terjadi. Merasa sadar diperhatikan oleh pria di hadapannya membuat pandangan Idril yang semula tertuju pada pemandangan jalanan Zoresham beralih pada sang duke. “Apa tidak apa menunjukkan lambang kontrak kita?” tanya Gavril. “Tidak apa, Count tidak akan berani mengingat kepribadiannya yang pengecut dan lagi jika ia membeberkannya dirinya juga yang akan dibuat kerepotan, bukan?” Gavril tertawa mendengar jawaban Idril yang tak sepenuhnya salah, siapa yang berani membeberkan rahasia keluarga, terlebih keluarga duke Vladmire pasti akan dilenyapkan tanpa jejak akan keberadaannya. Terlebih karena count juga pernah menjadi bagian Tinuvel, ia tau resiko apa yang akan menunggunya jika berurusan dengan kaum Asmodia. Tidak ada yang lebih mengerti Asmodia dan Vladmire kecuali Tinuvel. Dan selalu akan seperti itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN