Persetujuan yang Panas

1141 Kata
"Haruskah kita mewujudkan rumor itu menjadi nyata?" "Apa?" Idril memandang wajah sang duke yang telah dihiasi senyuman rupawan. Ini berbahaya untuk jantungnya. Debaran yang menggila membuat Idril melepaskan tangannya dari wajah tampan Gavril, sayangnya pria itu justru menahan tangan sang marchioness. Membuatnya mau tidak mau tetap menatap wajah pria bersurai platina tersebut. “J-jangan mengada-ada, mengapa kita harus menjadikan rumor itu kenyataan?” Idril baru saja berdusta. Ia tidak tahu dengan dirinya, tapi ia bukan tipikal orang yang senang membuat segalanya menjadi rumit. Ia lebih senang berterus terang daripada berputar-putar. Tapi duke membuatnya bersikap lain, ia merasa aneh dan tidak menjadi dirinya sendiri. Gavril berdeham beberapa saat. Ia melirik ke arah gadis bersurai platina yang memandangnya dengan wajah merah padam. Siapapun yang melihatnya pasti akan merasa gemas. Tinuvel memang sangat memgagumkan dalam perangainya, Gavril mengakuinya. “Kau tahu sendiri, kita sekarang dijadikan target oleh mereka. Tidak ada jalan kembali bukan? Daripada dibuat musuh goyah, lebih baik kita yang nembuat mereka goyah dan ketakutan,” jawab Gavril santai. “Aku membutuhkan Tinuvel untuk menyokong posisi Vladmire. Bila mereka mencemaskan Vladmire akan menyokong siapa dan berusaha melenyapkan Vladmire, sayangnya aku bukan seseorang yang mudah patuh begitu saja,” imbuh sang duke yang diiringi dengan kekehan. Idril yang memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan Gavril hanya bisa terdiam dan mencoba mempertimbangkan ucapan pria bermanik keemasan tersebut. Jika mereka mengikat diri mereka satu sama lain, otomatis Idril akan menerima perlindungan secara resmi dan Gavril tidak perlu sembunyi-sembunyi untuk melindunginya. Melihat sang marchioness yang tampak menimang-nimang dengan serius membuat Gavril mengulum senyum manis. Pandangannya terjatuh pada benda kenyal berwarna plum yang terakhir kali hampir membuatnya gila. Gavril terdiam cukup lama. Tanpa sadar tangannya terulur, jarinya menyentuh bibir tipis nan sensual milik Idril. Rasa manis juga memabukannya, ia hampir dibuat gila setelah pesta. Beruntung, Gavril bukan seseorang yang mudah menahan hasratnya. “Kalau kau ragu, aku tetap akan melakukannya karena Vladmire membutuhkannya. Bukankah kau sendiri yang mengatakan akan memberikan jiwa, raga, serta hartamu menjadi harga yang ditempuh.” Gadis bermanik krimson itu menggigit bibir. Skakmat! Lagi-lagi, pria itu berhasil membekukan pergerakannya. Ia tidak dapat mengelak untuk mencari alasan, selain itu bila memang duke menginginkannya Idril memiliki kewajiban untuk mengikutinya, karena kontrak mereka. “Jangan menggigit salah satu bagian yang kusukai darimu, Idril. Bibirmu terlalu indah untuk menjadi pelampiasan rasa frustasimu.” Gavril tersenyum miring dan setengah berdiri. Ia mendekatkan tubuhnya ke arah Idril yang masih membeku, “Idril, kau naif. Apakah kau tidak menginginkanku?” Bohong, jika sampai ia menggeleng. Setelah sesi ciuman panas juga menggairahkan ketika pesta terjadi Idril selalu dibuat terbayang-bayang akan sosok sang duke membuatnya setengah tidak waras. Tangan Gavril merayap pada pinggang ramping Idril dan menciptakan aliran listrik rendah yang membuat gadis beriris ruby tersebut merasakan kupu-kupu di perutnya. Idril mengabaikan tanda seru di benaknya dan justru menerima pesona sang duke dengan tangan terbuka. “Aku merindukanmu … Idril,” lirih Gavril sebelum mulai bermain-main di ceruk leher gadis di hadapannya. Ia mendorong Idril sampai ia terbaring di atas ranjangnya. Bibir tipis Gavril mengecup leher sang marchioness, membuatnya bergidik dan hanya bisa mencengkram kerah Blouse Gavril. Mereka saling beradu pandang, cukup lama sampai membuat Idril akhirnya memajukan wajahnya dan menyatukan kedua bibir mereka. Gavril tersenyum sebelum mulai melahap bibir plum sang marchioness. Disodorkan sebuah kenikmatan tiada duanya, mana mungkin Gavril akan melewatkannya. “Maaf, karena sudah … menghindarimu,” ucap Gavril tepat di telinga Idril. Gadis itu tidak dapat menjawabnya, karena sang duke tidak memberikan kesempatan untuknya, meski hanya sekedar mengangguk. Suhu ruangan terasa panas. Berulang kali kedua insan itu saling mencecap satu sama lain. Idril kalah dengan pesona sang duke. Ia sudah merasa frustasi karena sikap Gavril yang mengacuhkannya. Tangan Idril terkalungkan di leher sang duke. Manik rubynya tampak diselimuti kabut gairah, sama halnya dengan Gavril yang tidak memberikan jeda untuk memutuskan ikatan saliva mereka. Namun saat Gavril mendekat dan mencoba menikmati salah satu aset milik Idril tiba-tiba saja tangannya telah mendekap tubuh ramping sang marchioness. Pagutan mereka terputus. Idril menggeram kecewa, sementara Gavril berdecak kesal. “Apakah kau buta atau semacamnya? Mengapa kau mengganggu kegiatanku? Aku sedang sangat menikmati hidangan di hadapanku,” ujarnya pada sosok yang baru saja keluar dari dalam dinding. “Maafkan saya, Duke. Saya tahu Anda berdua sedang bersenang-senang, tapi saya tidak dapat membiarkan rencana kalian begitu saja,” sahut sosok asing tersebut. Gavril memandang ke arah Idril dan mengulum senyum, ia menyeka jejak saliva di bawah dagu Idril yang kini tengah memerah. “Sayang sekali, aku sendiri tidak pernah berniat untuk mengiyakan kemauan kalian.” Gavril yang mulai melihat sebuah bola api muncul di kedua tangan sosok bertudung lain membuatnya tanpa basa-basi langsung melemparkan rantainya. “100 tahun lagi, jika kau ingin membunuhku. Entah dari mana kau mendapatkan kepercayaan dirimu, tapi itu hal yang buruk … karena kau baru saja membangunkan amarah seekor singa.” Dalam hitungan detik sosok itu telah berubah menjadi hujan beraroma anyir. Idril yang menyaksikan Gavril dengan mudah menghancurkan musuh seperti sedang meremas sebuah biskuit hanya bisa mengerjap saja. “Kalau begitu kita setuju … rumor itu akan menjadi nyata. Mulai detik ini kau adalah milikku, tunanganku … benar begitu Marchioness Tinuvel.” Sekali lagi Gavril menjatuhkan diri di ceruk leher Idril dan memberikan kecupan liar disana. “Baiklah, sebaiknya kau beristirahat sekarang. Kau pasti lelah ….” Sang duke memilih menyudahi kegiatannya dan meletakan Idril kembali di atas ranjang. Ia mengusap surai platina sang marchionesss, lalu mendaratkan kecupan singkat di dahinya. “Beristirahatlah,” lirihnya dan tidak lama kemudian Idril dapat merasakan matanya terasa berat. Ia memejamkan matanya setelah mendaratkan kecupan singkat di pipi sang duke. Gavril yang terkejut dengan tindakan Idril hanya bisa tersenyum. Ia memandangi wajah jelita gadis bersurai platina tersebut, sebelum akhirnya ia beranjak dari kamar untuk mengurus semua skenario yang telah mereka susun. “Ah … aku harus membereskan sampah,” kata Gavril begitu menyadari kamarnya yang telah dinodai genangan anyir. Tidak ingin membuat Idril merasa tidak nyaman membuat sang duke memilih untuk kembali memindahkan gadis bersurai keemasan di ruangan lain, tepatnya ruangan milik Schulze yang saat ini telah didupaknya. “Terima kasih karena sudah membereskan Ophelia,” bisik Gavril rendah tepat di telinga Idril sebelum akhirnya beranjak dari kamar Schulze untuk melanjutkan urusannya yang sempat tertunda. Ia mengulum senyum sebelum menutup kenop pintu, tanpa menyadari seseorang masih terbangun. Idril menutupi wajahnya yang sudah terasa panas dengan kedua tangannya, ia memegangi ujung bibirnya yang terasa kebas, “Idril kau benar-benar sudah tidak waras, astaga … menyetujui Gavril untuk menjadikan rumor itu kenyataan? Yang benar saja ….” Manik krimson Idril menerawang langit-langit kamar yang terasa asing. Benaknya berkelana entah kemana, tapi kemungkinan ia tengah sibuk memutar ulang kejadian beberapa menit lalu seperti sebuah film lama. Kemudian ia kembali berteriak histeris di dalam bantal. “Tunggu, tapi dari mana dia tahu kalau aku wanita penghibur yang dimaksud Zeref adalah Ophelia? Bukankah dia bilang tidak tahu menahu tentang rumor?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN