“Apa yang kau lakukan disini?” Sebuah suara husky berhasil mengejutkan Idril. Ia sampai berjengit kaget karena kehadiran pria bermanik keemasan yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana. Gavril melangkah tenang dengan tangan yang sedang menggenggam bilah pedang berlumuran cairan kental merah. Pria itu mungkin meninggalkan salah satu tikus di sudut mansion begitu saja.
“Marchioness, saya bertanya pada Anda … apa yang sedang Anda lakukan?” Pertanyaan yang jauh lebih panjang diberikan kepada Idril. Gavril memandang gadis di hadapannya yang masih termenung dengan manik krimson yang terbelalak.
“Kau … baik-baik saja?” Idril bertanya dengan suara lirih. Ia tidak melepaskan pandangannya dari sosok pria bersurai legam yang berdiri di hadapannya, sepasang iris keemasan itu tampak dingin dan tidak terlalu ramah.
Sebelah alis Gavril terangkat, ia merasa cukup aneh mendengar pertanyaan yang dilontarkan gadis bersurai platina tersebut, “Seperti yang Anda lihat saya masih segar bugar dan bernafas. Atau Anda kecewa melihat keadaan saya yang baik-baik saja.”
Seakan sebuah beban terangkat dan meringankan rasa sesak di dadanya, ketakutan dan rasa cemas itu menghilang begitu saja. Tubuhnya meluruh, menggantikan gemetar yang menyelimuti dari ujung kepala hingga kaki, “Hei … hei … sepertinya Anda yang sedang tidak baik-baik saja. Ada apa ini sebenarnya?”
Melihat tubuh Idril yang tiba-tiba melemas membuat sang duke bergerak cepat dan menangkapnya. Ia dapat mendengar deru nafas terengah kepala keluarga Tinuvel itu. Mereka saling beradu pandangan, iris krimson Idril yang menatapnya lekat-lekat menimbulkan getaran menggelikan di dadanya.
“Kau … tidak ada yang terluka sungguh?” Idril kembali bertanya untuk yang kedua kalinya, hanya saja ia memandang sosok sang duke dengan mata yang berkaca-kaca. Gavril menghembuskan nafasnya kasar dan beralih ke arah pria bersetelan hitam putih di belakang.
“A-ah … itu … sebenarnya Marchioness memaksakan diri untuk berkunjung kemari, meskipun hari sudah larut beliau tetap memaksa ingin bertemu dengan Anda. Bahkan … setelah melihat halaman depan yang berantakan,” jelas Zeref singkat dan sepadat mungkin.
“Jadi, kalian melihat beberapa mayat di depan? Karena itu dia … Isaac, apakah masih ada yang tersisa?” tanya Gavril kepada pria paruh baya yang masih berdiri di dekatnya.
“Sepertinya tidak ada, Tuan.” Gavril memperhatikan raut gadis jelita di hadapannya yang tampak sayu. Terukir dengan jelas kekhawatiran, rasa cemas, juga ketakutan di setiap sudut wajah manis Idril.
Sang duke menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal, ia kembali menghela nafasnya kasar, “Isaac, instingmu mulai tidak setajam dahulu sepertinya? Atau kalian yang terlalu fokus dengan posisi Marchioness di tanganku?”
Gemerisik rantai menyadarkan kedua butler yang semula hanya memperhatikan sosok duke dan marchioness, sampai mereka tidak menyadari keberadaan seseorang yang hendak menghabisi mereka. Zeref menelan salivanya dengan susah payah begitu melihat pemandangan yang ada di belakangnya.
Seorang pria dalam keadaan terlilit rantai-rantai tidak berujung tengah tercekik. Dari tangannya muncul sebuah cahaya seperti sebuah laser, jika saja bukan karena rantai-rantai itu mengubah arah serangan, kemungkinan salah satu dari mereka telah berubah menjadi ayam panggang atau semacamnya.
“Maafkan saya, karena telah lengah. Saya masih cukup kesulitan untuk mendeteksi para penyihir kelas atas, mungkin Anda benar, ini karena usia saya yang sudah cukup renta.”
Pandangan Gavril kembali pada sosok Idril yang masih memandangnya dengan tatapan sama, “Marchioness, sama seperti yang sudah saya katakan sa⸺aku baik-baik saja … astaga, mengapa semuanya jadi rumit begini.”Idril bernafas tercekat ketika tiba-tiba saja Gavril merebut senjata di tangan dan sabuk miliknya. Ia terpekik kecil setelah tubuhnya diangkat begitu saja seolah ia selembar kertas.
“Zeref, bersihkan sisa-sisa tikus bersama Isaac. Kau pasti bisa menggunakan salah satu dari senjata ini,” kata Gavril yang telah melempar pedang Idril bersama teman-temannya. Zeref sampai dibuat terkejut dengan sikap sang duke, tapi ia memilih untuk tidak berkomentar apapun, kecuali mengangguk dan patuh. Lagipula pria bermanik keemasan itulah yang membawanya ke Tinuvel.
***
Gema lorong yang lenggang juga sepi menjadikan suasana terasa kosong. Padahal suara langkah Gavril terdengar cukup keras selama perjalanan mereka entah kemana tidak ada percakapan yang terjadi. Idril sendiri memilih diam mengeratkan pegangannya di leher sang duke. Ia mencoba menahan perasaan yang terlalu campur aduk itu.
“Ini … dimana?” tanyanya ketika mereka tiba di sebuah ruangan, tepatnya kamar. Ranjang berukuran king dengan pilar-pilar tinggi dan perabotan yang kebanyakan terbuat dari emas, bahkan ada sebuah lukisan peta kerajaan mereka yang masih terbuat dari emas.
“Karena kedatangan tikus-tikus itu mungkin mereka sudah membuat beberapa ruangan menjadi berantakan, dan aku tidak ingin membawamu ke dalam jebakan mereka,” jawab Gavril sembari meletakan tubuh ramping Idril di atas ranjang.
Sang duke tidak segera pergi ia tetap berdiri disana dan memandang sosok gadis bermanik krimson yang juga sedang membalas tatapannya. Tidak ada yang berbicara sampai akhirnya Idril memecah keheningan itu dengan mengajukan beberapa pertanyaan, “Sebenarnya apa yang baru saja terjadi? Vladmire diserang oleh siapa?”
“Mungkin orang yang sama dengan sekumpulan orang yang dimaksud count Wilford. Mereka merasa cukup percaya diri akan membunuhku hanya dengan mengirimkan para penyihir kelas atas saja,” jelas Gavril yang telah terkekeh meremehkan kebodohan musuh.
“Aku tidak akan mengira Vladmire akan dijadikan target secepat ini, mungkinkah karena mereka kita yang dekat?” Idril mencoba menerka-nerka motif dibalik langkah orang-orang yang menjadikan mereka target. Mungkin cukup masuk akal bila mereka menjadikannya sebagai target, tetapi tidak bagi Gavril yang bisa jadi menjadi ancaman untuk mereka. Mengingat kekuatan dan kekuasaan sang duke yang dua kali lipat, bahkan lebih darinya.
“Bisa jadi seperti itu,” jawab Gavril sekenanya. Suasana kembali hening karena mereka tidak lagi berbicara dan Idril memilih diam. Ia hanya memperhatikan sosok pria bermanik keemasan itu sebelum akhirnya mengingat alasan ia berada disana. Dan ada beberapa hal yang membuatnya merasa penasaran tentang sikap sang duke.
“Ah … benar, sejak tadi mengapa kau menggunakan bahasa formal? “ Gavril melirik ke arah gadis bersurai platina yang masih memandangnya dengan sirat keingintahuan. Ia bertanya-tanya, apakah Idril memang pura-pura tidak tahu atau memang tidak sadar?
“Bukankah kau yang menginginkannya? Kau bersikeras agar kita tidak terlalu dekat, jadi aku memutuskan untuk menuruti keinginanmu. Aku menjaga jarak di antara kita.”
Sederet penjelasan singkat yang diberikan Idril membuat d**a gadis itu terasa sesak. Ia tidak dapat menjelaskan dengan pasti, tapi ia dapat mengetahui bila ada penyesalan yang hinggap di dalam hatinya setelah mengetahui alasan dibalik sikap duke karena dirinya sendiri.
“Ngomong-ngomong … aku sudah membereskan rumor yang membuatmu menjaga diri. Seorang wanita penghibur yang ada di kasino melakukan permintaan seseorang. Ia dibayar beberapa ratu keping emas untuk menyebarkan hal-hal tidak benar itu,” kata Idril sembari memalingkan wajahnya. Ia merasa kurang nyaman dengan tatapan intens sang duke.
“Rumor? Rumor apa memang?” Kedua alis tebal Gavril menukik. Ia masih tidak memahami ucapan Idril mengenai rumor yang dirinya sendiri tidak pernah dengar.
“Jangan bergurau, aku tahu salah satu alasan mengapa kau menjaga jarak juga karena rumor ini bukan?” Idril masih mencoba menebak-nebak alasan lain yang dapat menjadi alasan sebenarnya yang digunakan pria bermanik keemasan tersebut.
“Rumor apa? Aku bahkan tidak pernah tahu dan mendengar rumor dari wanita penghibur. Apakah aku terlihat seperti seseorang yang selalu datang ke kasino dan menghabiskan waktuku bersama wanita penghibur?” Iidril tidak menjawab, ia memilih untuk menunduk dan menghindari tatapan wajah Gavril yang sedang berkata, yang benar saja. Mungkin karena gadis itu tidak dapat menyembunyikan ekspresi ketidak percayaannya pada ucapan sang duke.
Namun melihat tingkah Gavril yang sibuk menggaruk tengkuknya frustasi membuat Idril merasa iba dan memilih untuk menjelaskan rumor yang tidak diketahui pria bersurai legam tersebut, “Sebuah rumor berkata kita menjalin hubungan dekat … dan beberapa mengatakan kalau hubungan khusus itu berawal dariku yang merayumu. Tidak sampai disana, mereka juga bilang aku memanfaatkanmu.”
Gavril mengangguk, “Sekarang semuanya jelas, alasan mengapa mereka menjadikanku target, mungkin karena mereka risau rumor itu benar … maksudku bukan dibagian kau yang merayuku.”
“Tentu saja! Aku tidak sedang merayumu … bukankah terbalik aku yang sedang dirayu,” gumam Idril tidak jelas.
Mendengar ucapan tidak jelas Idril tidak membuat Gavril ambil pusing, ia segera melanjutkan penjelasannya, “Mungkin saja mereka risau karena jika memang kita memiliki hubungan khusus, maka artinya … Tinuvel dan Vladmire akan menjadi kuat. Kita akan semakin tidak dapat digoyahkan.”
“Vladmire yang sudah memiliki posisi kuat akan disongsong oleh Tinuvel … benar, siapa yang tidak gusar dan ketakutan bila hal ini benar-benar terjadi,” sahut Idril.
Keadaan kembali menjadi tenang sampai akhirnya Idril memberikan isyarat kepada Gavril mendekat. Ia memperhatikan sosok sang duke dari ujung rambut sampai kaki⸺memastikan keadaan pria itu benar-benar baik-baik saja. Sadar dengan apa yang sedang dilakukan Idril membuat Gavril memilih berlutut di hadapan sang marchioness. Mereka bertukar pandang cukup lama sampai tiba-tiba saja tangan Gavril meraih tangan Idril dan meletakkannya di pipi.
“Idril, aku baik-baik saja … apakah kau begitu khawatir?” Idril tidak menjawab. Entah apa yang merasuki gadis itu, tetapi ia memilih untuk menangkup wajah sang duke dan memperhatikan wajah tampan Gavril semakin dekat.
“Aku lega, kau baik-baik saja,” ucapnya dengan helaan nafas pelan. Seulas senyum muncul di kedua sudut bibir tipis sang duke. Ia juga menangkup wajah Idril, mendekatkan wajah mereka dan menatap manik krimsonnya jauh lebih dekat juga intens.
"Haruskah kita mewujudkan rumor itu menjadi nyata?"
"Apa?"