Zeref tidak akan mengira menerima tugas untuk menjabat sebagai kepala pelayan sekaligus butler keluarga Tinuvel akan membawanya dalam sebuah tekanan pada hidup. Ia hanya mendengar rumor bahwa marchioness⸺kepala keluarga Tinuvel yang baru adalah sosok gadis muda cerdas dan terampil. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan rumor tersebut, karena memang sang nona persis seperti yang diceritakan, hanya saja tidak ada rumor yang menyebutkan bahwa marchioness adalah sosok keras kepala dan tidak jauh berbeda dengan duke Vladmire yang keji dan dingin. Ternyata selain menjalin hubungan baik, sebagai seorang sahabat⸺Vladmire dan Tinuvel memiliki kemiripan dalam banyak hal, salah satunya kekerasan kepala.
Setelah memaksa sang butler membawanya ke dalam kasino dan mengurus salah satu wanita pembawa rumor di sana, Idril memberikan perintah mengejutkan untuk mengantarkannya ke kediaman Vladmire, padahal hari sudah cukup larut.
“Nona, apakah tidak sebaiknya kita mengunjungi duke saat esok hari saja? Sekarang sudah cukup larut,” kata Zeref yang mencoba kembali memastikan keinginan sang nona, barangkali gadis itu berubah pikiran dan mereka akan memutar arah kereta ke mansion Tinuvel.
“Zeref, apakah kau tidak mendengarkan perintahku barusan? Aku ingin mengunjungi Vladmire … bukan esok atau lusa, tapi sekarang. Jika matahari sudah terbenam lalu apalagi yang harus dicemaskan?” Idril menjawab kelewat santai. Gadis itu tengah bersandar dengan tangan yang menumpu dagu lancipnya. Sementara iris krimson sang marchioness mengarah pada pemandangan di luar kereta, alih-alih memperhatikan ucapan butlernya.
“Saya mencemaskan keadaan Anda, Nona. Sesuatu bisa saja terjadi pada kita di malam hari, meski saya cukup mahir menggunakan pedang, tapi tetap saya mencemaskan keselamatan Anda,”sahut Zeref cepat. Ia masih berusaha untuk membujuk sang marchioness, padahal saat ini kereta kuda mereka telah meluncur dan sedang menyusuri jalanan menuju kediaman sang duke.
“Apakah kau masih tidak memahami ucapanku?” Idril bertanya dengan tegas. Kali ini, Zeref memilih bungkam. Melihat manik krimson gadis bersurai platina yang telah menatapnya dengan kilap kemarahan, “Baik, Marchioness. Maafkan saya yang sudah lancang.”
Sebenarnya Idril tidak berniat memarahi sang butler hanya saja akhir-akhir ini, tepatnya sejak duke Vladmire mengambil jarak dan menghindarinya, sehingga menyebabkan perasaan Idril kacau. Ia kebingungan dan selalu bertanya-tanya akhir-akhir ini. Alasan di balik sikap pria bermanik keemasan yang biasanya akan selalu menyapanya tidak terlalu sering terlihat batang hidungnya, dan itu membuat Idril gelisah tanpa tahu alasan pastinya.
“Tapi … Nona sebenarnya, mengapa Anda melakukan semua hal ini?” tanya Zeref setelah suasana kembali hening dan hanya suara sepatu kuda yang terdengar. Sang butler seakan tidak memiliki rasa takut, padahal beberapa waktu lalu pria itu baru saja dibalas dengan kalimat sarkas yang membuatnya segera mengunci mulutnya rapat.
Idril mengerjap beberapa kali. Ia terlihat seperti orang tidak berotak, karena ekspresinya yang tampak bingung ketika hendak menanggapi ucapan Zeref, “Tentu saja, karena aku ingin membersihkan nama dua keluarga. Tinuvel dan Vladmire akan terkena imbasnya, jika saja rumor tidak dibereskan. Kemungkinan pula akan diperbesar … aku tidak ingin mencegahnya sebelum terlambat.”
Penjelasan panjang dan lebar Idril membuat Zeref tersenyum simpul. Sang butler mengangguk, padahal Zeref tidak berkata apa-apa, tapi Idril merasa panas di wajahnya, “Ada apa Nona? Apakah kereta terasa gerah? Atau jangan-jangan … Anda dem⸺aaw!”
Zeref yang malang. Belum sempat menyelesaikan ucapannya tiba-tiba saja sebuah buku melayang dan mencium dahinya. Idril menggigit bibir, tangannya terhenti di udara ia tidak bermaksud melempar butlernya itu, hanya saja tatapan Zeref membuatnya gugup dan tanpa sadar buku di sampingnya sudah terbang.
“Nona! Anda tega sekali … saya hanya bertanya apakah Anda demam? Wajah Anda berwarna merah, tapi mengapa saya justru dilempar buku?” tanya Zeref dengan suara setengah berteriak dan mengejutkan Idril.
“Kau tidak boleh menaikkan suaramu pada Nonamu tahu! Habisnya tatapanmu terlalu menyebalkan … aku tidak suka, makanya jangan melihatku dengan tatapan menyebalkan seperti itu,” elak Idril yang memilih untuk tetap acuh dan melipat kedua tangannya.
Di tengah perkelahian kecil antara nona dan butler itu tiba-tiba mereka terjatuh dari tempat duduk. Penyebabnya adalah kusir yang yang menarik tali kekang kudanya secara mendadak. Zeref yang sadar sesuatu aneh terjadi segera beranjak membuka pintu, pria itu terhenti di ambang pintu dan membuat Idril mengernyit dengan reaksi yang dilihatnya.
“Ada apa? Zeref, mengapa kau diam saja? Apakah terjadi sesuatu?” Idril yang telah berdiri berjalan mendekat dan mencoba mengintip dari balik bahu sang butler. Alangkah terkejutnya ketika ia melihat pemandangan di depan sana.
“Apa-apaan ini ….?” Zeref memperhatikan sekeliling pekarangan mansion Vladmire yang terlihat kacau balau, seperti sebuah tornado baru saja datang kesana dan memporak-porandakan kebun yang selama ini selalu menerima perhatian khusus dari Isaac.
“Marchioness, saya rasa telah terjadi penyerangan pada Vladmire. Tidak ada penjaga dan melihat keadaan pekarangan seperti ini mungkin sebuah pertarungan baru saja terjadi,” kata Zeref yang telah menarik sebuah hipotesa untuk gadis bersurai platina di belakang sana.
“Kita tidak boleh diam disini, sebaiknya kita segera pergi dari sini sebelum musuh menyadari keberadaan kita, Marchioness, apakah Anda mendengar saya?” Zeref mengernyit saat menyadari ekspresi wajah sang nona telah memucat.
“Zeref, ambil kotak senjataku … sekarang.” Satu perintah tegas dan tidak terbantahkan diterima sang butler. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Zeref kembali ke dalam kereta dan berjongkok untuk mengambil sebuah koper kulit dengan ukuran cukup besar yang terletak di bawah kursi penumpang. Ia menyerahkan barang yang diminta Idril.
“Apa yang akan Anda lakukan? Anda tidak akan pergi kesana bukan, Nona? Bagaimana jika Anda terluka?” Idri mengacuhkan ucapan sang butler dan mulai membuka isi koper kulitnya. Sebuah rapier, kotak belati, dan pistol berlaras pendek telah tertata rapi di dalamnya. Idril segera mengambil satu persatu senjata.
“Tentu saja aku akan kesana. Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi pada duke?”
“Nona, tidak akan terjadi sesuatu pada duke. Beliau adalah pria yang paling kuat dan pemilik darah Asmodia. Beliau tidak akan kalah dengan mudah.” Tidak ada yang salah dengan ucapan Zeref. Semuanya masuk akal, tidak mungkin pria yang memiliki kekuatan mengagumkan bisa kalah hanya karena penyusup saja. Meski demikian Idril masih tetap ingin masuk dan melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri keadaan pria bermanik keemasan tersebut.
“Hanya karena duke kuat, bukan berarti semua akan baik-baik saja. Bagaimana jika ternyata dia kerepotan? Dia sedang berjuang menyelamatkan nyawanya? Tidak ada yang tahu dengan pasti apa yang sedang mereka lakukan, Zeref.”
Zeref menghela nafasnya kasar begitu gadis bersurai platina melompat turun dari kereta, “Astaga, mengapa Anda menyulitkan diri sendiri … Nona, tunggu saya!”
Langkah cepat Idril telah membawa gadis itu menyusuri jalan-jalan di mansion. Ia dapat melihat beberapa penjaga dan ksatria milik Vladmire tergeletak begitu saja. Seragam mereka kotor dengan cairan anyir yang menggenang.
“Mereka bahkan secara terang-terangan melakukan ini kepada Vladmire. Orang mana yang tidak merasa takut pada kepala keluarga yang memiliki darah seorang Asmodia,” kata Idril yang mulai memasuki mansion.
Keduanya tidak segera melangkah masuk, pertama mereka mencoba memperhatikan keadaan sekitar. Mencoba tetap waspada karena mungkin saja saat ini musuh tengah bersembunyi dan bisa menyerangnya secara tiba-tiba.
“Nona, kemana Anda akan pergi?” Zeref berbisik dan berjalan lebih cepat untuk menyusul Idril yang telah melangkah cepat, meninggalkan sang butler di belakang sana. Gadis bersurai platina itu gusar melihat keadaan mansion yang cukup sepi, meski memang bangunan megah dan mewah ini selalu diselimuti suasana hening.
Idril tiba-tiba berjalan semakin cepat ketika indra pendengarannya mendengar suara dentingan barang beradu yang tampaknya berasal dari bilah pedang. Dan benar saja sesuatu yang buruk terjadi di kediaman sang duke. Idril dapat melihat Isaac baru saja menebas sebuah kepala sosok bertudung.
“Marchioness, apa yang Anda lakukan kemari? Disini berbahaya,” ucap Isaac yang ternyata telah menyadari kehadiran gadis bersurai platina tersebut.
“Dimana duke? Gavril … dimana dia?” tanya Idril cepat. Ia mengabaikan pertanyaan butler keluarga Vladmire tersebut dan langsung memberondongnya dengan beberapa pertanyaan lain.
“Apa yang kau lakukan disini?”