Mengambil Alih

1152 Kata
Tidak ada lagi keributan dan ramainya perdebatan. Kabar yang baru saja diberikan oleh sang duke berhasil membuat tiga orang di dalam ruangan terdiam begitu saja. Terutama sosok gadis bersurai pirang yang hanya termenung dengan pandangan terjatuh pada kedua tangannya.  Melihat tanggapan reaksi yang diberikan Idril membuat Gavril hanya bisa menghela nafasnya kecil. Gadis itu pasti cukup terpukul, meski count sempat melakukan hal yang salah karena hendak mengambil alih harta Tinuvel dan mengalihkan kepemilikannya pada Wilford, tetap saja ia adalah bagian dari keluarga Idril.  Namun Gavril tidak ingin menyembunyikan semua hal ini. Ia bukanlah seseorang yang lebih senang menyembunyikan kenyataan dan memberikan kebohongan sebagai pelipur lara. Terdengar kejam dan tidak berperasaan, tapi menurut Gavrill itu semua lebih baik daripada menunjukan sebuah mimpi indah saja.  “Count kutemukan dalam keadaan tidak bernyawa. Tidak hanya count saja, bahkan anak dan istrinya pun tewas di mansion. Kemungkinan mereka menghabisi mereka bersama count agar mencegah kejadian  seperti dirimu tidak terjadi lagi,” ucap Gavril yang masih melanjutkan penjelasannya.  “Sebenarnya apa yang mereka ingin lakukan? Mereka menjadikanku target … berusaha membunuhku, kemudian menghabisi seluruh nyawa para Wilford. Mengapa mereka sangat ingin menyingkirkan kami …?” Suara Idril terdengar cukup parau. Schulze yang mendengarnya merasa simpati dengan takdir putri dari keluarga yang selalu dikenal paling bahagia. Sayangnya keharmonisan dan kedamaian itu bisa saja hancur dalam hitungan detik, semudah itu memang Tuhan membalikan segalanya.  “Aku sudah membaca pesan terakhir count. Pesan terakhirnya berisi laporan seperti biasa, berdasarkan huruf-huruf yang tercantumkan di sana menunjukan bahwa mungkin penyerangan dilakukan secara tiba-tiba,” kata Gavril sembari menunjukkan sebuah kertas kumal yang ternyata sengaja dibawanya.  “Bagian ini …. tulisan count yang menjelaskan bahwa dirinya menemukan fakta baru bahwa Idril akan segera dijadikan target incaran mereka. Disini terlihat count menulis dengan cukup rapi dan tertata …. bahkan dia menulisnya secara lurus. Tapi semuanya berubah ketika kita memasuki paragraf selanjutnya.”  Jari telunjuk Gavril menunjuk pada deretan huruf yang tampak ditulis dengan buru-buru. Tinta yang tercecer dan garis huruf yang lebih panjang, terlihat seperti tulisan tersebut dilakukan si penulis mungkin dengan memaksa tangannya bergerak.  “Lalu … apa yang harus dilakukan nona Tinuvel?’ tanya Schulze. Seharusnya ia tidak ingin ikut campur kepada masalah para anak muda. Tapi melihat lebih banyak orang yang kehilangan nyawanya membuat sang dokter gusar. Meski keponakannya berulang kali bersinggungan dengan kematian, tapi kali ini cukup berbeda. Melihat Wilford dan Tinuvel yang dihancurkan juga diburu membuatnya cemas bila saja Vladmire pun memiliki takdir tidak jauh berbeda.  “Dokter, apakah saya benar-benar tidak bisa melanjutkan persiapan? Seperti yang Anda dengar dari duke … saya memiliki tanggung jawab yang besar. Dan lagi ini semua saya lakukan bukan demi kepentingan saya …” Idril menunduk dan mengulum senyum masam. Ia mencengkram erat kedua tangannya satu sama lain. Memberikan kekuatan agar cairan bening di pelupuk matanya tidak mengalir begitu saja.  Mendengar pertanyaan yang sama diajukan padanya membuat Schulze bimbang. Ia meneguk saliva, ia masih seorang manusia. Sekalipun Vladmire selalu dikenal sebagai sosok berdarah dingin yang tidak memandang bulu ketika menjatuhkan musuh bukan berarti mereka tidak memiliki rasa empati.  “Itu … saya sendiri ingin memperbolehkan Anda, Nona. Tapi saya harus melmpertimbangkan bagaimana kondisi tubuh Anda. Saya tahu mungkin duke telah menyembuhkan sebagian luka Anda … bahkan saya bertaruh luka yang masih terlilit perban itu hanya tinggal bekas goresan  samar saja.” Mendengar ucapan sang dokter membuat Idril memalingkan wajahnya. Ia teringat pada adegan yang sempat membuatnya hampir tidak bisa tidur. Entah siapa yang sedang gila, tapi yang jelas ucapan Schulze adalah sebuah kebenaran dan fakta.  “Tapi Anda memiliki satu luka yang membuat saya cemas … luka tikaman itu mungkin tidak mengancam nyawa dan mengenai organ vital Anda, namun bukan berarti tidak dapat membahayakan kondisi Anda.” “Bayangkan saja … jika Anda memaksakan diri dan jahitan yang sudah saya lakukan ternyata terbuka? Kemungkinan darah akan keluar …. parahnya adalah terjadi pendarahan dan infeksi. Bahkan luka yang tidak dalam bisa menjadi berbahaya kalau saja kembali terbuka.”  Penjelasan Schulze membuat Idril terdiam. Ia berpikir keras karena merasa seperti sedang diberikan pilihan yang cukup sulit. Apakah ia harus mempertahankan Tinuvel atau nyawanya, dua buah pilihan  disodorkan padanya. Padahal keduanya adalah hal yang sama sekali tidak bisa ia lepaskan begitu saja untuk mewujudkan dendamnya ia harus mewarisi Tinuvel, tapi segalanya akan menjadi sia-sia, jika nyawanya meninggalkan raganya, benar-benar seperti sebuah dilema.  “Duke, apakah Anda tidak dapat melakukan sesuatu? Saya tahu Anda pasti memiliki solusi untuk menyelesaikan ini semua,” imbuh Schulze yang memandang kepada sosok keponakannya yang berdiri di hadapannya.  Gavril yang menerima tatapan menuntut dari sang paman hanya bisa menghela nafas. Manik keemasannya memandang ke arah gadis bersurai pirang yang terdiam. Idril tampaknya benar-benar bingung. Tentu saja, tidak ada satupun orang yang tidak kebingungan ketika berhadapan dengan dilema.  “Idril, kau lakukan saja apa yang dokter katakan … jika kau tidak diperbolehkan turun dari ranjang dan beristirahat total, maka lakukan,” kata Gavril yang berhasil membuat gadis di sampingnya terkejut. “Jangan bergurau … kau tahu jika aku melakukan perintah dokter, artinya aku harus mengabaikan seluruh persiapan. Apakah kau menyuruhku untuk menyerahkan posisi marquis terbuang begitu saja?” Idril benar-benar telah di ujung batasnya. Gadis itu meninggalkan formalitas dan menaikan nada bicaranya saat berbicara dengan sosok yang bisa saja menebas dirinya kapanpun yang ia mau.  “Tenanglah, aku memintamu beristirahat sesuai keinginan dokter bukan karena aku menyuruhmu menyerah untuk posisi marquis. Justru karena aku ingin kau bisa tetap menjadi kepala keluarga … makanya, aku memintamu memulihkan diri.” tutur Gavril tenang yang tidak terganggu sama sekali dengan nada dan cara bicara Idril.  “Seluruh persiapan Tinuvel akan kuambil alih … berapa persen persiapan yang masih harus dilakukan untuk saat ini?” “Se-sekitar 30% … tapi mansion Tinuvel harus direnovasi lagi karena bekas pertempuran dengan musuh kemarin menghancurkan beberapa bagian mansion.” Idril menggigit bibir ketika mengingat pilar-pilar penyanggah yang dihancurkan pria pembawa kapak.  “Isaac, langsung lakukan perbaikan mulai hari ini … dua hari hanya dalam dua hari, aku ingin kau meminta para pekerja menyelesaikan semua ini. Aku tidak peduli cara apa dan sebanyak apa uang yang kau perlukan … tapi itu semua harus  berhasil dilakukan.” Isaac mengangguk dengan otak yang cukup sesak. Ia sudah mengira firasat buruknya benar-benar terjadi. Tanpa ingin menunggu lebih lama lagi sang butler telah meninggalkan ruangan.  “Aku akan menangani sisa persiapan. Karena itu kau harus cepat pulih agar dapat berdiri dan melakukan pengangkatan. Semuanya akan percuma ketika kau tidak bisa pulih, setidaknya buat lukamu mengering dan Schulze bisa melepas jahitannya.” "Apakah kau setuju dengan saranku?" tanya Gavril sembari menyodorkan sebuah sapu tangan pada Idril. Gadis bersurai pirang itu hanya bisa mengangguk patuh dan menerima benda yang baru saja diberikan sang duke padanya. Ia masih terkejut untuk kedua kalinya dengan tindakan pria pemilik manik keemasan itu. "Dan untuk Anda ... Dokter, rawat pasienmu dengan baik dan benar. Dalam sisa waktu yang ada kita harus membuat ini semua berhasil. Anda mengerti Dokter Schulze?" "Saya ... mengerti, Duke."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN