Ringkikan kuda penarik kereta terdengar saat sang kusir menarik tali kekangnya, memberikan perintah agar roda kereta berhenti karena kini mereka telah tiba di tujuan penumpang mereka. Seorang pria bersetelan tuxedo melangkah keluar terlebih dahulu sebelum mempersilahkan sosok menawan yang turut mengikutinya.
“Apakah dia sudah selesai bersiap?” tanya pria bermanik keemasan yang tengah membenahi jubah kebesaran miliknya. Isaac mengangguk dan mundur beberapa langkah untuk memberikan jalan kepada sosok lain yang baru saja tiba.
Seulas senyum rupawan terpatri di wajah sang duke ketika melihat gadis bersurai pirang yang tidak lain adalah bintang acara di hari ini nanti. Idril telah mempersiapkan dirinya sejak fajar tiba agar penampilannya hari ini tidak akan membuat raja tertawa saat acara pelantikan.
“Apakah kau gugup? Tenang saja … ini salah satu cara untuk membiasakan dirimu pada tatapan para bangsawan,” ujar Gavril yang telah melangkah maju dan mengulurkan tangannya.
“Akan terdengar cukup gila, jika aku yang tidak pernah terlihat di muka umum bersikap seperti biasa,” jawab Idril yang mencoba membenahi setelan seragam berwarna burgundy, persis layaknya apa yang sedang dikenakan Gavril⸺sebuah seragam kebesaran yang hanya bisa dikenakan oleh para bangsawan. Bukan sembarang bangsawan hanya mereka yang menempati kursi kepala keluarga saja yang dapat mengenakannya.
“Haruskah kita masuk ke dalam kereta sekarang? Oh, astaga … entah mengapa jantungku berdebar begitu cepat, bagaimana jika dokter salah mengkhawatirkan bukan lukaku yang terbuka … mungkin jantungku yang akan melompat keluar.” Idril merasakan sekujur tubuhnya dilingkupi keringat dingin.
“Tentu saja … bukankah kau sangat khawatir karena kau takut tidak dapat menghadiri pelantikan dirimu sendiri? Jika memang jantungmu melompat keluar aku akan mengambil dan menempatkannya kembali.”
“Jangan khawatir …,” imbuh Gavril yang mencoba menuntun gadis bersurai pirang itu untuk segera memasuki kereta. Setelah berulang kali menghembuskan nafas Idril baru mulai melangkah masuk dan menduduki sofa kereta.
Kini roda kereta mulai berputar dan perlahan keduanya meninggalkan mansion kediaman Tinuvel. Idril memandangi penampakan bangunan mansion yang menjauh dan tampak kecil karena kereta yang berjalan semakin jauh.
“Apakah aku akan mengenakan jubah itu juga?” tanya Idril saat memperhatikan pria tampan di sampingnya yang terlihat jauh lebih besar, karena jubah hitam yang tersampir di bahu kirinya.
“Setelah raja mengangkatmu … tapi jubah ini hanya bisa kau kenakan tidak di setiap waktu, hanya … di waktu-waktu tertentu saja.” Idril mengangguk-angguk mendengar penjelasan sang duke.
“Aku juga tidak ingin mengenakan jubah berat dan panas seperti itu …,” sahut Idril setelah melihat betapa tebalnya kain jubah, itulah mengapa tubuh Gavril yang gagah tampak semakin besar dan tegap.
Sebelah alis Gavril terangkat dan tidak lama tawanya meledak begitu saja, “Ya … apalagi ketika kau harus mengenakannya saat perang tiba. Kau tahu, mengenakan armor dan jubah ini bisa membuatmu seperti sedang menggendong seorang pegulat.”
“Astaga … mengapa aku harus memakai armor dan jubah di satu waktu yang bersamaan? Aku takut jika nanti saat memakainya aku akan terlihat seperti layang-layang …”
“Sepertinya tidak kare⸺”
Braaakkk brakkk braak
Tiba-tiba Idril merasakan tubuhnya didekap erat dan dalam hitungan detik dirinya telah berada di luar kereta, tepatnya di pinggir jalan. Ia kebingungan, tidak tahu apa yang sedang terjadi ketika mereka hendak memasuki daerah kota. Karena mansion Tinuvel terletak di atas bukit mengharuskan mereka melewati jalanan desa yang dekat dengan jurang curam.
“Astaga … apa yang baru saja terjadi?” Idril yang mencengkram erat lengan Gavril akhirnya mendapatkan kembali kesadarannya dan memperhatikan serpihan kereta kuda dan kuda-kuda penarik yang kini hanya tersisa satu ekor saja, itupun tidak bernyawa.
“Apa mereka gila? Semakin terang-terangan … mereka pikir bisa membunuhku hanya dengan seperti itu? Dasar otak udang …” Gavril terbahak keras dengans seringai mengerikan. Melihat ekspresi menyeramkan sang duke membuat Idril hanya dapat diam dan berdiri di samping pria bersurai legam yang sedang mengamati sisa-sisa kereta, termasuk jasad si kusir yang telah mati mengenaskan.
“Apa yang baru saja terjadi memang? Jangan bilang … ini juga salah satu ulah mereka?” Idril menarik lengan Gavril dan membuat pria itu menghadap ke arahnya.
Sang duke mengangguk dan membawa tubuh Idril untuk berjalan di belakangnya⸺berjaga-jaga, jika saja mereka menyiapkan serangan kejutan yang tetap menjadikan gadis bersurai pirang itu target.
“Sepertinya mereka masih saja belum menyerah … sekeras itu mereka berusaha agar kau tidak dapat menghadiri pelantikan.”
“k*****t … mereka benar-benar ingin aku mati dan mengambil alih posisi marquis dari Tinuvel,” desis Idril yang tidak kalah kesal dengan sang duke. Pria itu saja merasa sebal, bagaimana dengan dirinya yang dijadikan bulan-bulanan target pembunuhan mereka.
“Lalu … apa yang harus kita lakukan? Upacara akan diadakan sebentar lagi … jika kita menunggu Isaac dan pasukan Vladmire pasti memakan waktu,” kata Idril yang mulai memutar otak. Untung saja Gavril terlebih dahulu berpikir cepat. Ia memandang ke arah gadis di sampingnya dengan tatapan sulit diartikan.
“Apakah kau ingin tiba disana tepat waktu? Apapun caranya … kau akan bersedia melakukannya?” Pertanyaan yang baru saja diajukan sang duke mulai terdengar aneh. Tentu saja, Idril akan melakukan apapun untuk sampai di istana. Ia harus menghadiri acara itu untuk mendapat gelar marquis secara resmi.
“Kalau begitu … mari kita tiba disana dan mengejutkan orang-orang dengan kedatangan yang tidak terduga,” kata Gavril yang telah mengerlingkan sebelah matanya dan membuat Idril mengernyit kebingungan. Tapi selanjutnya gadis bersurai pirang itu memerah dan memekik ketika sang duke mengangkat tubuhnya.
Baiklah, ia merasa seperti seorang putri yang diselamatkan seorang pangeran berkuda karena pose ini.
“Tunggu! Apa yang akan kau lakukan? Apakah kau berencana membawa ku seperti ini untuk menuju istana?” tanya Idril yang telah panik. Gavril mengangguk sebelum akhirnya mulai berlari.
“Kau bilang akan bersedia melakukan apapun agar bisa sampai di istana bukan? Kalau begitu satu-satunya yang bisa kita lakukan saat ini adalah berlari … sambil mencari kuda di pemukiman selanjutnya,” ujar Gavril cukup keras karena deru angin yang kencang. Idril tanpa sadar mengalungkan tangannya pada tangan sang duke.
“Memangnya kita bisa mendapat kuda? Meski kau adalah kepala keluarga Asmodia dan yang paling kuat berlari seperti ini sembari membawa ku … tetap mustahil, tahu!” teriak Idril mencoba agar pria itu bisa mendengarnya.
“Kekuatan fisik ku berbeda dari para Veela dan manusia lainnya … lagipula bukankah aku sudah menjelaskannya bahwa kita akan berhenti di pemukiman terakhir untuk mendapatkan kuda?”
“Apakah bisa tepat waktu?” tanya Idril dengan sirat khawatir. Ia merasa cemas bila tidak memiliki waktu yang cukup untuk menjalankan rencana sang duke.
"Pasti bisa ... sebentar lagi, kau hanya harus memacu kudamu begitu kita sampai di sana. Kau tidak bisa kan membiarkan siapapun menghalangi jalanmu? Apalagi kerikil-kerikil seperti bukan apa-apa untuk mencegahmu."
"Kau sangat percaya diri sekali ...," pungkas Idril setengah terkekeh.
"Karena memang seperti itu faktanya ... tidak ada yang bisa mencegahmu. Tidak selama aku berada di sampingmu." Gavril mengulum kembali senyum menawan yang menunjukan bahwa ia tidak sedang bergurau. Dan entah mengapa melihat ekspresi sang duke membuat Idril memerah dan berdegup.