Bangunan gagah yang ditopang dengan pilar-pilar besar nan kokoh. Pagar yang berdiri menjulang tinggi berwarna keemasan layaknya tombak-tombak emas. Istana permata milik Zoresham selalu menjadi pemandangan yang membuat siapa saja mengagumi keindahan rumah pemerintahan.
Hari ini istana tampak ramai. Berulang kali kereta kuda mewah yang mampir untuk mengantarkan penumpang-penumpang mereka. Istana kenegaraan Zoresham dikunjungi orang-orang bersetelan burgundy.
Para bangsawan dari Zoresham tengah menghadiri salah satu acara penting di dalam kalender kerajaan. Acara pengangkatan untuk kursi marquis Tinuvel. Sang raja sendiri yang memerintahkan secara langsung agar keturunannya yang tersisa untuk mengambil kursi kepala keluarga.
Sayangnya kedatangan seorang gadis muda tidak diterima baik oleh salah satu dari mereka. Sehingga rencana-rencana untuk menggagalkan pengangkatan dilakukan. Tidak lain tidak bukan adalah agar posisi kepala keluarga tidak jatuh kepadanya.
“Apakah duke dan gadis itu belum tiba? Bukankah seharusnya mereka sudah tiba?”
“Mungkinkah sesuatu terjadi pada mereka?”
“Jangan bergurau, duke Vladmire tidak mungkin mengalami hal semacam itu. Beliau adalah pahlawan yang berhasil merebut kemenangan, bagaimana mungkin sesuatu terjadi padanya,” seru sebuah suara ketika orang-orang ramai mempertanyakan kehadiran kepala keluarga Vladmire yang masih juga belum tiba. Duke Vladmire dan gadis yang akan diangkat⸺keduanya tidak juga nampak batang hidungnya, sementara waktu pengangkatan semakin dekat.
“Mengapa duke juga ikut mengalami sesuatu …? Hanya karena Vladmire dan Tinuvel bersahabat mereka akan tiba bersama.” Para tamu undangan yang masih berdiri di luar hallway masih mendebatkan bintang hari ini yang tidak juga terlihat. Mereka bahkan tidak menyadari, jika salah satu di antara mereka mengulum senyum senang dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka bisikan. Sampai seluruh mata tiba-tiba saja menjatuhkan pandangan pada suara derap langkah seseorang yang baru saja mereka ributkan ternyata telah berdiri di sana. Ia tidak sendiri pria bersurai legam menjadi sosok yang menemaninya.
“Acara pengangkatan akan segera dimulai … diharapkan untuk para bangsawan memasuki ruangan karena yang mulia raja akan segera tiba.” Suara penasihat raja mengejutkan para tamu undangan karena kedatangan dua orang yang muncul secara tiba-tiba.
“Aku senang kita bisa tiba tepat waktu,” lirih Idril yang masih berdiri menunggu gilirannya untuk memasuki ruangan.
“Sudah kubilang kita akan sampai sebelum pengangkatan dimulai. Untung saja kau bisa mengikuti laju kudaku,” jawab sang duke yang membenahi letak jubah hitamnya. Ia sendiri menjawab dengan suara tidak kalah rendah.
Idril hanya menanggapi dengan tatapan tidak suka mengingat beberapa saat lalu mereka harus berkuda dan itu hampir membuatnya sedang mempertaruhkan nyawa. Pasalnya sang duke yang berkuda mendahuluinya melaju seperti angin. Padahal Idril sudah berkata bahwa dirinya tidak dapat menaiki kuda secepat para pria. Bagaimanapun gadis bersurai pirang itu dididik bukan sebagai seorang kepala keluarga maupun ksatria di keluarganya.
“Ayo, kita juga harus masuk,” ujar Gavril yang berhasil membangunkan Idril dari lamunan singkatnya. Ia menghembuskan nafas sebelum mengangguk dan berjalan beriringan dengan sang duke.
Akhirnya Idril melangkah melewati pintu yang menjulang tinggi. Ia dapat merasakan seluruh pandangan jatuh pada mereka. Entah itu karena penampilan Gavril yang terlalu menawan, atau karena kehadirannya pertama kali di hadapan para bangsawan.
Gadis bersurai pirang nyari platina tersebut mengenakan setelan seragam kepala keluarga bangsawan berwarna burgundy. Meski ia masih belum memakai jubahnya seperti para tamu undangan yang lain, penampilan satu-satunya Tinuvel yang berhasil selamat berhasil mengalihkan mata.
Tentu saja, pemilik manik krimson yang memiliki paras jelita dan juga dingin menghipnotis para pria bangsawan muda yang terpana pada kecantikan serta pesona seorang Idril Parthenia Tinuvel.
“Yang mulia raja Killian Evans La Gustave memasuki ruangan.” Lagi, kedua kalinya penasihat sang raja berhasil memecahkan suasana yang sempat membeku karena pesona si gadis Tinuvel.
Idril menahan nafas ketika melihat seorang pria paruh baya tiba. Ia tidak sendirian, seorang pria yang tidak lain adalah penasihat sekaligus tangan kanan sang raja berjalan mengekor di belakangnya.
Melihat sosok pemimpin Zoresham memberikan debaran tersendiri karena waktunya untuk melangkah maju menerima gelar yang menjadi haknya telah tiba. Dan benar saja tidak lama Idril harus mendekat ke arah sang raja berada.
“Semoga berhasil … jangan sampai mempermalukan nama Tinuvel,” pesan Gavril sebelum Idril melangkah meninggalkan tempat duduk mereka. Idril berusaha untuk tidak melemparkan tatapan tajam karena ucapan sang duke yang terdengar meremehkannya.
Setelah banyak hal terjadi akhirnya Idril berhasil menapaki permadani merah yang melapisi keramik porselen. Ia hampir meregang nyawa dan menjadi target percobaan pembunuhan hanya untuk mendapatkan gelar marquis. Perjuangannya untuk pulih dengan bantuan Schulze akhirnya membawa hasil, kini Idril benar-benar dapat menghadiri acara pengangkatannya.
Langkah Idril terhenti tepat di hadapan undakan pertama, di sana berdiri seorang pria bersurai legam dengan iris obsidian. Ia mengenakan mantel bulu yang mewah dan sebuah mahkota yang terbuat dari emas. Untuk beberapa saat Idril dapat melihat seulas senyum terukir di kedua sudut bibir sang raja ketika mata mereka beradu pandang.
“Sebuah tragedi terjadi pada saudara kita. Zoresham dilanda duka karena kepergian sahabat, senior, saudara dan ayah dari keluarga kita. Marquis Tinuvel beserta istri serta kedua putranya pergi mendahulu kita.”
“Kematian menjadi hal yang tidak pernah bisa diperkirakan oleh siapapun. Bagaimana nantinya malaikat pencabut nyawa mendatangi kita, tidak ada yang tahu … kapan, dan dimana mereka akan menyerahkan jiwa yang Tuhan berikan pada kita.”
Idril mencengkram sisi seragamnya. Ia mendengarkan pidato yang tidak lain adalah sambutan serta kata belasungkawa yang diberikan sang raja dengan rasa haru. Kilas balik ingatan pahit terbesit kembali dan membuatnya hampir meneteskan air mata.
“Namun cahaya Zoresham masih belum padam karena satu-satunya Tinuvel berhasil selamat dari sang kematian. Idril Parthenia Tinuvel, berdirinya kau disini menjadi bukti bahwa Tinuvel masih memiliki cahaya untuk menerangi jalannya.”
Mendengar namanya disebutkan membuat Idril tanpa sadar menunduk. dan berlutut di hadapan sang raja. Ia tahu ini adalah saat dimana ia harus menyerahkan sumpah dan pengabdiannya kepada kerajaan, persis seperti yang ayahnya pernah lakukan beberapa tahun lalu.
“Idril Parthenia Tinuvel dengan ini saya selaku perwakilan Zoresham menganugerahkan kepadamu gelar Marquis Tinuvel di atas pundakmu. Semoga kelak jalanmu akan selalu dipenuhi cahaya yang akan membawa kemakmuran dan suka cita. Kami senang dapat menyambutmu kembali, Marquis Tinuvel.”
Sebuah jubah berwarna hitam telah diletakan di bahunya. Raja Killian Evans La Gustave menyambut kehadirannya untuk bergabung dengan para bangsawan. Idril mengangguk sebelum akhirnya berdiri dan berbalik memberikan salam kepada seluruh tamu undangan.
Iris krimsonnya menelisik setiap sudut penjuru ruangan, memperhatikan dan merekam salah satu momen yang berharga dan tidak akan pernah ia lupakan dalam hidupnya. Pandangannya jatuh pada sosok pria yang menjadi satu-satunya pemilik manik keemasan yang sedang mengulum senyum. Sehingga tanpa sadar Idril pun membalasnya dengan senyuman manis yang menawan.
Dan inilah babak pertama dari kehidupannya untuk menunjukan taringnya pun segera dimulai. Dengan berdirinya Idril berdampingan dengan penguasa tertinggi Zoresham menjadi sebuah bukti bahwa Tinuvel tidak sepenuhnya mati. Setelah tragedi mengerikan itu keluarga utama para Veela masih hidup dan bangkit kembali untuk membawa mimpi buruk pada mereka yang berusaha menyeret mereka ke dalam liang kubur.