“Jadi … bagaimana menurutmu?”
“Apa …? Bisakah kau bertanya dengan kalimat yang lengkap dan jelas?” Idril menjawab pertanyaan pria di sampingnya dengan tatapan yang masih mengarah lurus ke depan.
“Jubah dan perasaanmu setelah menerima gelar marquis … bukankah ini keinginan pertamamu? Atau ini hal yang berbeda sebuah pertanggungjawaban sebagai satu-satunya yang selamat.” Ucapan Gavril berhasil membuat langkah Idril terhenti begitu saja. Ia langsung memandang ke arah sang duke yang hanya mengerjap seperti seorang anak kecil yang lugu.
“Kau … bisakah sehari saja tidak membuatku kesal? Hari ini adalah hari yang sangat penting karena ini adalah pertama kalinya debutku bergabung bersama kalian semua, para bangsawan yang terhormat.”
“Oleh karena itu … Duke Gavril Aderito D’Vladmire dapatkah Anda tidak menaik-turunkan tekanan darah saya?” Idril mencoba mengulum sopan sebisa mungkin. Saat ini mereka tidak sedang berada di mansion miliknya maupun Gavril, sehingga ia tidak bisa mendelik atau melempar balasan ucapan sarkas kepada sang duke.
“Oh! Saya kira Anda berdua sudah kembali … sudah kuduga Vladmire dan Tinuvel selalu bersahabat baik, bahkan duke dan marquis sebelumnya memiliki hubungan yang kelewat baik.” Sebuah suara yang terdengar dari belakang tempat mereka berdiri berhasil mengejutkan keduanya. Seorang pria berwajah eksotis mengulum senyum manis dan mengulurkan tangan kanannya kepada Idril.
“Selamat atas pengangkatan Anda, Marquis Tinuvel. Semoga cahaya selalu menerangi jalanmu,” ucapnya lagi.
Idril yang tidak mengenal pria tersebut hanya mengangguk dan menerima sambutannya dengan ramah. Ia bahkan menerima jabatan tangan pria di hadapannya, meski secara terpaksa.
“Earl Horald, bagaimana kabar Anda? Saya tidak menyangka Anda masih dapat kembali dari medan pertempuran hidup-hidup.” Alih-alih mendapat balasan dari gadis bersurai pirang itu sang duke lah justru menimpali ucapan pria berkulit eksotis. Idril termenung untuk membuka kembali ingatannya, ia telah membaca dan menghafalkan setiap nama keluarga dari dua fraksi yang ada di Zoresham.
Medan pertempuran, ketika Gavril menyebutkan kata tersebut telinganya terasa asing mengingat kerajaan mereka sekarang terbilang makmur dan damai. Tidak ada konflik yang terjadi sampai mengharuskan mereka menodongkan senjata.
“Duke, seperti yang Anda lihat saya baik-baik saja … hanya karena saya mengurus setiap masalah di daerah sengketa lalu semuanya berakhir dengan perang. Tidak begitu …,” jawab sang earl karena ucapan sarkas pria bermanik keemasan yang mengulum senyum lebar sampai kedua matanya membentuk bulan sabit.
“Daerah sengketa ya … mungkin ingatan saya cukup samar karena itu saya minta maaf tidak segera mengenali Anda, Earl.” Idril mendahului sang duke yang hendak menjawab pertanyaan Horald. Sehingga Gavril hanya memutar matanya jengah dan mengangguk saja.
“Tidak apa-apa, Nona. Zoresham memiliki banyak kepala keluarga bangsawan, karena luas daerah kita, jadi, saya cukup memaklumi sulit pasti untuk Anda mengingat setiap nama kami.” Idril mengulum senyum simpul mencoba memberikan sikap ramah ala kadarnya. Dan itu membuatnya memiliki kesan acuh dan angkuh.
“Oh, ya … ada yang ingin saya tanyakan saya mendengar Anda mengalami cedera yang cukup parah dan mengancam nyawa. Lalu bagaimana dengan pesta penyambutan Anda, apakah acara masih dibatalkan?”
Idril tidak akan menyangka menerima pertanyaan langsung dari kepala keluarga bangsawan yang baru saja ia temui. Dan lagi ia ditanya tentang pesta, tapi mengingat sang duke lah yang membereskan juga menyiapkan setiap hal yang dibutuhkan sebuah pesta membuatnya sedikit merasa sedih,
“Benar … jangan khawatir saya tetap mengadakan pesta perayaan di mansion seperti biasa. Hanya saja saya mungkin tidak akan ikut menari bersama orang-orang,” sahut Idril yang masih mempertahankan ekspresinya yang sangat ingin membordir sang earl dengan pertanyaan, karena sebenarnya ada banyak hal yang ia ingin ketahui, tapi pria bermanik keemasan di hadapannya tidak dapat berhenti memberikan tatapan tajam padanya.
“Syukurlah … bukankah akan sangat menyayangkan bila Anda tidak mengadakan pesta tersebut? Karena itu akan berpengaruh dengan debut Anda di hadapan kami, para kepala keluarga bangsawan yang lain.”
“Jangan khawatir, Anda dapat bermain-main bersama para gadis di sana. Jadi, Anda cukup menjaga tubuh Anda dalam keadaan prima … karena mungkin saja pesta yang diadakan marquis terlalu meriah,” timpal Gavril tiba-tiba.
Horald mengangguk dan terbahak beberapa kali, kemudian ia menepuk bahu Gavril pelan sembari mengulum senyum mengerikan, “Anda … sebaiknya menjaga mulut Anda agar tidak mati terlalu cepat. Dengan mulut tajam seperti itu bisa mengantarkan Anda ke pintu yang menuju langsung pada kematian.”
“Terima kasih atas perhatiannya … memang benar sekali, jika para gadis dan wanita bangsawan jatuh pada pesona Anda. Earl, saja sangat perhatian … sesuatu yang sangat digandrungi para gadis.”
Dan mendengar ucapan Gavril yang semakin tidak terkendali akhirnya membuat sang earl beranjak pergi setelah bertukar salam kembali dengan Idril. Melihat percakapan sekilas yang berlangsung antara dua orang pria membuat Idril bertanya-tanya pada maksud ucapan Gavril.
“Earl Morpheus De Horald, penakluk para wanita dan gadis bangsawan. Dia seorang casanova yang berhasil menaklukan banyak hati dan meninggalkannya begitu saja … dan sepertinya ia ingin menjadikan pesta Anda sebagai lahan tempatnya berburu.
“Jadi, apakah itu sebabnya mengapa kau menjawab earl ketus? Bagaimana jika ia berbicara buruk tentangku … Gavril, kau membuatku memiliki citra yang buruk, karena memberikan sapaan seperti tadi,” keluh Idril setelah menyadari apa yang baru saja diperbuat sang duke. Lama-lama ia mulai menyesali mengadakan perjanjian dengannya.
“Tidak … jangan khawatir, Horald tidak akan berani mengatakan hal aneh tentangmu. Kau saja hanya memberikan senyuman ramah. Yang mengusirnya secara halus adalah aku … jadi, kau tidak akan menerima kesan apapun,” sahut Gavril kelewat santai. Ia bahkan kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
“Aku hanya berniat baik untuk melindungimu dari buaya berkaki dua itu … akan sangat untung sekali dia, bila berhasil menaklukanmu.”
“Padahal dia sendiri adalah buaya penebar pesona yang selalu bermain dengan para wanita … apakah semua pria bangsawan bersikap seenaknya begitu?” Lirih Idril kesal.
“Aku masih dapat mendengarnya, Idril … kau membicarakan seseorang di hadapannya secara langsung, hebat sekali.”
“Itu lebih baik, daripada membicarakannya di belakang orang tersebut …? Itu akan membuatnya semakin kesakitan.”
“Kau benar … sudahlah, kita harus bergerak cepat. Bersiap untuk pesta akan sangat lama untukmu, dan kau harus pergi menyambut para tamu, jadi … agar tidak terlambat kita akan bergerak cepat,” kata Gavril yang masih saja terus mendahului gadis bersurai pirang yang masih tetap mengekor dengan mengeluarkan seluruh keluh kesahnya serta sumpah serapahnya. Meski demikian Gavril justru mengulum senyum tipis dan menikmati ucapan sarkas juga kasar yang ditujukan kepadanya.
"Cepatlah bergerak, kita harus bertemu dengan Isaac dam yang lain untuk kembali ke mansion ... banyak sekali tamu kita yang akan menantikan pesta nanti malam," imbuh sang duke lagi. Seulas senyum penuh makna membuat siapa saja pasti merasa ragu datang setelah melihat ekspresi pria berambut legam yang cukup menyeramkan.