Debut Pertama Sang Marquis

1351 Kata
“Selamat datang, semoga malam Anda menyenangkan.” Berulang kali Isaac mengulum senyum dan membungkukkan badan saat menyambut gerombolan tamu yang memasuki mansion. Tugas yang biasa ia laksanakan, tapi kali ini ada yang berbeda. Isaac menjalankan peran yang berbeda, ia bukanlah butler kediaman Vladmier. Ia hanya seorang pelayan yang ditunjuk langsung oleh sang duke untuk membantu seseorang yang tidak lain adalah nona muda Tinuvel.  Seharusnya gadis itu telah memiliki butler sekaligus pelayan pribadinya⸺Irine⸺wanita berwajah bundar yang menjalankan peran penting untuk mengurus kediaman gadis bersurai pirang tersebut. Sayangnya Irine masih belum juga sembuh dari cedera yang didapatnya ketika penyusup menyergap mansion.  Alhasil, mau tidak mau Idril dan Gavril harus memutar otak. Dan sampailah pemikiran mereka pada sosok pria paruh baya yang telah memiliki segudang pengalaman yang jauh lebih jauh daripada Irine. Dan orang tersebut adalah Isaac. “Bagaimana dengan persiapan nona dan tuan? Apakah mereka telah selesai bersiap?”  Isaac bertanya kepada salah satu pelayan yang turut berada di sampingnya untuk menyambut para tamu yang datang seperti para semut.  “Mereka sepertinya … sudah hampir selesai. Duke sudah selesai bersiap, sementara nona Tinuvel masih sedang menerima tatanan untuk rambutnya,” jelas pelayan wanita yang berdiri di samping sang butler menjawab pertanyaan dengan ragu-ragu karena dirinya sendiri tidak memperhatikan dua orang yang baru saja disebutkan Isaac.  “Kau bisa menyambut para tamu. Saya akan memeriksa duke dan marquis karena acara akan segera dimulai.” Dan berakhirlah sang butler melangkah secepat kilat untuk menuju tempat ruangan Idril terlebih dahulu. Setelah mengetuk pintu beberapa kali Isaac melangkah masuk. Sebenarnya ia sempat cemas, bila saja tuan dan gadis pirang itu masih belum selesai bersiap-siap, tapi sang butler bisa menghembuskan nafas lega ketika melihat sosok pria berambut legam tengah duduk di sofa. Ia tampak santai menanti Idril yang baru saja menyelesaikan tatanan rambutnya untuk pesta malam itu.  “Ada apa denganmu, Isaac? Apakah kau baru saja dikejar hantu atau semacamnya/” tanya Gavril santai. Sebenarnya sang butler merasa cukup kesal ketika mendengar pertanyaan sarkas tuannya. Tapi karena ia sudah melayani pria bermanik keemasan itu dalam waktu yang sangat lama, jadi Isaac hanya mengulum senyum simpul saja.  “Saya pikir Anda berdua masih belum selesai bersiap. Para tamu sudah berdatangan, kemungkinan hampir seluruhnya,” ujar Isaac mencoba menjelaskan kepada dua orang yang saat ini sedang menatap ke arahnya.  “Apakah tamunya banyak yang datang?” tanya Idril setelah pelayan selesai memasangkan kalung berbatu permata siam. Isaac mengulum senyum ke arah gadis di hadapannya dan mengangguk.  “Tentu saja … mereka pasti ingin melihat seperti apa marquis Tinuvel yang sekarang. Apakah dia seseorang yang bisa dimanfaatkan? Atau apakah mereka dapat menggigit lalu membuangnya ke liang kubur.” “Duke … saya rasa Anda dapat membuat Marquis cemas dengan ucapan Anda yang cukup lugas.” Isaac mencoba memperingatkan tuannya agar tidak menambah beban di pundak gadis muda di hadapannya . Gavril beranjak dari tempat duduknya. Ia mulai berjalan dan merapikan setelan jas hitamnya. Sembari mengancingkan kancing emas di lengan sang duke melangkah mendekat menuju sosok gadis berwajah ayu yang masih berdiri.  “Isaac, aku hanya memberitahukan hal apa saja yang akan menantinya … dia adalah sosok yang akan memimpin salah satu wilayah di Zoresham. Dia juga akan berkecimpung ke dalam air bah yang sama dengan para bangsawan.” “Kau pikir hanya karena dia masih berusia muda dan memiliki takdir ironis mengharuskan kita memberikan mimpi-mimpi indah yang tidak lebih dari sekedar bualan semata?” Gavril menatap lurus ke arah sosok sang butler berada. Isaac mengetahui niat dari tuannya adalah tidak membuat Idril hanyut dalam ekspektasi indah yang kerap dilebih-lebihkan oleh rakyat dan bangsawan. Tapi ia merasa gadis itu pantas menerima penjelasan yang lebih baik dan halus. “Aku memahaminya … aku tidak bergantung pada ekspektasi yang orang lain selalu bualkan. Aku cukup sudah dewasa meski baru saja menjalankan debutku di dunia sosial. Tapi aku sama sekali tidak berpikir mendapatkan gelar seorang marquis adalah puncak dunia.” Idril kini yang menimpali ucapan sang duke. Gadis itu telah memerintahkan para pelayan menyudahi kegiatan untuk menambah aksesoris di tubuhnya.  Sehingga gadis bersurai pirang yang separuh terurai itu berdiri di antara para pria.  “Aku … tahu sejak lama, bila kehidupan politik para bangsawan tidak semanis apple rhuharb. Jika tidak begitu tidak mungkin Aldrich ditempa sampai sebegitunya oleh ayah. Jangan khawatir … aku bukan seseorang yang menganggap posisi marquis adalah mainan,” imbuh Idril yang telah mengulum seringai menawan.  “Kau … memang berbeda dari gadis bangsawan lainnya. Baguslah, jika kau tahu tidak ada kehidupan seperti di dongeng setelah menempati posisi yang cukup tinggi,” kata Gavril yang telah mengulurkan tangan kanannya yang telah berselimut sarung tangan berwarna hitam.  “Nah, haruskah kita pergi sekarang … Marquis Tinuvel? Anda harus menyapa para tamu yang sudah hadir jauh-jauh kemari,” Imbuh sang duke jenaka.  “Dengan senang hati, Duke Vladmire … sebuah kehormatan menerima tawaran Anda.”  *** Ballroom Tinuvel yang luas tampak megah dan mewah. Ruangan yang sudah cukup lama tidak terpakai itu akhirnya kembali ramai dipenuhi tamu undangan. Para bangsawan berbondong-bondong menerima undangan dari marquis baru salah satu keluarga yang terkenal besar dan berpengaruh di Zoresham. Satu-satunya yang memiliki anggota keluarga seorang Veela itu memang cukup dikenal oleh seluruh penjuru kerajaan.  Kabar pengangkatan anggota keluarga terakhir yang berhasil lolos dari tragedi maut berhasil menjadi berita terpanas di telinga rakyat dan para manusia berdarah biru. Dan setelah sang raja melakukan pengangkatan secara resmi mereka semakin penasaran dengan sosok si bungsu Tinuvel yang tidak selalu sering muncul  di wajah umum, terlebih lagi para kepala keluarga lainnya.  “Duke Gavril Aderito D’Vladmire dan Marquis Idril Parthenia Tinuvel memasuki ruangan!” Suara pengawal yang menjaga pintu masuk ballroom terdengar menggema di seluruh ruangan. Seluruh mata langsung terjatuh pada pintu kayu yang menjulang tinggi. Iris-iris mata mereka membulat begitu melihat penampakan dua orang sosok yang berhasil membuat siapa saja terpana pada pesona keduanya.  Para adam memandang dengan tatapan memuja ketika melihat gadis bersurai pirang keemasan berdiri di samping sang duke. Idril tampak begitu menawan. Helaian surainya yang nyaris pirang dicepol bagian atasnya, sementara separuh sisa bagian bawahnya dibiarkan terurai begitu saja. Sebuah bandul permata ruby yang senada dengan warna manik matanya menggantung dan menghiasi dahinya.  Tubuhnya yang ramping dan memiliki lekukan sempurna dibalut gaun hitam berenda dengan kerah rendah yang memamerkan leher jenjang dan bahunya yang mulus. Lagi-lagi permata berwarna kemerahan menghias leher Idril. Siapapun akan setuju dengan gaun yang dikenakan sang marquis membuat kulitnya semakin putih seperti sebuah guci porselen.  Di samping sang marquis kaum hawa mengagumi ketampanan sosok yang selalu menjadi dambaan setiap wanita di Zoresham. Duke Vladmire mengenakan setelan jas hitam sama seperti hari biasa-biasa, dimana ia memang kerap mengenakan warna-warna gelap. Keduanya tampak begitu serasi dengan warna hitam-hitam. Padahal keduanya bukan seorang pasangan, tapi orang-orang merasa seperti sedang melihat Aphrodite dan Ares yang saling mengadu cinta.  Idril memandang seluruh penjuru ruangan ballroom sebelum akhirnya melirik ke arah sang duke yang hanya diam tidak berekspresi. Kemudian tidak lama ia melepaskan genggaman tangannya pada lengan sang duke dan berjalan maju untuk membuat dirinya terlihat semakin menonjol.  “Selamat malam, para hadirin sekalian. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada Anda semua yang telah menyempatkan diri untuk singgah di gubuk kecil Tinuvel untuk merayakan pesta kecil-kecilan saya.” Gavril menahan dirinya untuk tidak tersenyum saat mendengar gadis di hadapannya memberikan metafora angkuh guna menggambarkan keadaan dan posisinya. Bahkan ekspresi para tamu undangan menjadi reaksi menggelikan tersendiri. Marquis muda yang baru adalah sosok angkuh, mungkin itu kesan pertama. “Saya harap Anda sekalian berkenan untuk menikmati malam ini dengan saya. Mengangkat tinggi gelas-gelas wine dan membiarkan diri kita semua larut dalam kebahagiaan bersama-sama. Saya benar-benar berterima kasih atas kehadiran Anda semua …” Idril memandang ke arah seorang pelayan yang telah berdiri di sudut ruangan sembari membawa nampan berisi dua buah gelas kristal dan sebotol wine. Melihat isyarat sang marquis membuatnya menyodorkan gelas wine kepada gadis bersurai pirang, tidak lupa pria tampan di belakangnya juga menerima gelas yang sama.  “Demi kebahagiaan dan awal langkah yang baru untuk Tinuvel, sekali lagi saya ucapkan terima kasih. Salute!” “Salute! Atas kelahiran kepala keluarga yang baru, Marquis Tinuvel … salute!” Dan tidak lama ruangan berisi dengan riuhnya tepukan tangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN