“Sambutan yang cukup menarik … gubuk kecil Tinuvel, huh? Pesta kecil-kecilan …? Apakah Anda sedang bergurau, Marquis Tinuvel?” Gavril yang baru saja kembali berjalan berdampingan dengan Idril langsung memberikan sindiran halus atas sambutan menakjubkan sang marquis.
Gadis bersurai pirang di sampingnya mencengkram erat lengan sang duke. Ia berusaha mempertahankan ekspresi wajahnya agar tetap tampak dingin layaknya daerah di utara yang selalu dilingkupi salju. Tidak terjamah dan membuat seluruh bulu kuduk berdiri.
“Berkat seseorang saya jadi memiliki cara bagaimana tidak terlihat seperti seekor rusa yang mudah untuk ditangkap … alih-alih menjadi rusa, saya memilih menjadi rusa, saya lebih suka menjadi macan kumbang.”
“Walaupun Anda adalah rusa yang mudah diburu, Anda susah ditangkap … itu karena keberadaan singa yang memasang tubuhnya untuk tempat bersembunyi,” sahut Gavril yang membalas ucapan Idril dengan perumpamaan yang sama. Keduanya kali ini tidak menggunakan bahasa informal satu sama lain. Mereka tentu dapat mengetahui waktu dan tempat untuk menggunakan bahasa santai.
“Lucu sekali … Anda sangat percaya diri menggunakan singa sebagai penggambaran diri Anda sendiri. Ternyata Duke adalah seorang yang narsistik ya …,” sahut Idril yang terkekeh kecil.
“Marquis, sebaiknya Anda tidak mengganggu dan bermain-main dengan singa, atau Anda akan diterkam olehnya.”
“Saya tidak tahu para Asmodia adalah seorang karnivora yang menyukai daging Veela dan manusia … menakutkan sekali.” Idril masih enggan berhenti melemparkan gurauan kepada sang duke. Seandainya ia tahu hanya dirinya seorang lah yang berani mempermainkan nama Asmodia dan kepala keluarga Vladmire.
“Saya akan menerkam Marquis di ranjang, bagaimana? Meneruskan sesuatu yang lebih jauh … bukankah itu tertera dalam perjanjian yang Anda ajukan? Baik, raga maupun jiwa akan diberikan kepada saya.”
Sial. Idril baru saja termakan ucapannya sendiri. Baru juga ia berhasil menyudutkan sang duke kini dalam hitungan detik ia kembali yang disudutkan, belum lagi ia merasa wajahnya terasa panas. Kemungkinan rona kemerahan tercetak di wajahnya, ia berharap semoga tidak ada yang menyadari sang marquis sedang tersipu.
“Sebaiknya Anda mulai berbaur dengan yang lainnya … Anda harus mulai menyapa para tamu dan memulai koneksi dengan mereka,” ujar Gavril setelah mereka tiba di lantai ballroom.
Karena terlalu fokus mengejek sang duke membuat Idril tidak menyadari bahwa mereka kini telah melewati undakan tangga terakhir. Dan ia dapat melihat tamu undangannya tengah memandang ke arah mereka dengan tatapan penuh arti. Sadar bahwa ia masih menggamit lengan Gavril membuat Idril langsung melepaskan pegangannya begitu saja.
“Terima kasih karena telah mengantarkan saya, Duke Vladmire. Anda benar-benar murah hati,” ucap Idril kepada Gavril yang mati-matian menahan tawa karena gadis yang beberapa menit lalu berdebat dengannya, kini sedang membungkuk santun.
“Sudah sepatutnya … Vladmire dan Tinuvel selalu bersama, ternyata tidak hanya pertemanan mendiang kepala keluarga sebelumnya, sekarang Anda berdua pun menjalin persahabatan yang serupa.” Suara bas yang terdengar berat mengejutkan Idril. Ia bahkan tanpa sadar telah berbalik untuk melihat sosok di baliknya. Seorang pria bermanik keemasan rambut berwarna coklat mahoni dan tubuh yang cukup tinggi dan badan yang berbalut setelan putih. Selang beberapa detik Idril membungkuk dengan sebelah tangan di d**a.
“Hormat saya kepada Pangeran pertama Zoresham, semoga cahaya akan selalu menerangi jalan serta hidup Anda. Sebuah kehormatan untuk saya karena Anda berkenan hadir pada pesta malam ini,” ucap Idril.
“Terima kasih atas sambutan Anda, Marquis. Selamat dan … saya turut berduka cita atas apa yang terjadi pada keluarga Tinuvel. Sungguh, itu semua adalah kabar yang sangat menyedihkan dan Zoresham juga ikut terpukul,” sahut sang pangeran dengan seulas senyum masam.
Kedua sudut bibir Idril berkedut. Ia berusaha agar rasa sesak yang kembali menyergap hilang begitu saja, “Terima kasih untuk kedua kalinya.”
“Sepupu … lama tidak jumpa denganmu.” Tiba-tiba saja sang pangeran telah meninggalkan segala keformalitasannya dan merangkul bahu pria bermanik senada dengan miliknya. Gavril hanya mengulum senyuman tipis yang menunjukan bahwa ia terganggu pada putra negara yang dilayaninya itu.
“Yang mulia, bukankah kita sedang berada di hadapan khalayak publik. Apakah tidak apa-apa untuk Anda yang seorang putra raja memanggil saya seperti itu? Saya tidak ingin Vladmire harus menerima tuduhan melakukan hal tidak senonoh,” kata Gavril tanpa basa-basi, ia benar-benar ingin menjauhkan adik sepupunya itu dari sampingnya.
“Jangan terlalu kaku dan kolot … jika kau berkata seperti itu akan membuat Marquis Tinuvel salah paham.”
“Tapi apa yang Anda lakukan saat ini sudah membuat Marquis salah paham. Dua orang pria saling merangkul satu sama lain … bagaimana kata dunia?”
“Gavril, kau yang membuat Marquis berpikir demikian … oh, ayolah … semua orang tahu kita adalah sepupu,” keluh sang pangeran yang telah menepuk bahu Gavril cukup keras.
Ucapan pangeran memang tidak salah. Salah satu fakta yang menjadi rahasia umum kerajaan Zoresham adalah adanya hubungan darah antara anggota kerajaan dan keluarga Vladmire. Padahal para anggota kerajaan adalah seorang manusia biasa, sementara Gavril merupakan seorang Asmodia seutuhnya.
Hal ini dikarenakan istri mendiang duke terdahulu merupakan kakak perempuan raja yang sekarang. Ketika seorang manusia dan Asmodia menikah ada dua kemungkinan yang terjadi normalnya, mereka akan memiliki anak setengah Asmodia atau sering disebut dengan Veela. Manusia seutuhnyan atau bisa jadi Asmodia seutuhnya.
Dan apa yang terjadi pada Gavril adalah ia mewarisi darah milik sang ayah⸺mendiang duke sebelumnya yang mana seorang Asmodia murni. Ia hanya mewarisi rambut hitam sang ayah dan manik keemasan sang ibu. Meski ciri utama seorang Asmodia adalah iris mata berwarna merah darah atau krimson seperti Idril, bukan berarti mereka yang tidak memiliki iris serupa bukanlah Asmodia.
Dalam hal ini Idril yang justru memiliki warna mata krimson bak permata siam justru hanya seorang Veela. Karena keturunan Tinuvel memang sejak lama memiliki darah tersebut, tanpa diketahui dengan pasti penyebabnya. Tapi dirinya justru bukan seorang Asmodia murni, seperti Gavril yang memiliki manik keemasan.
Dan itulah mengapa pangeran pertama⸻Luke Evans La Gustave⸻cukup dekat dengan sang duke. Meskipun sebenarnya hubungan mereka lebih mirip seperti kucing dan anjing yang terkadang saling berteriak satu sama lain.
“Coba saja tanya pada Marquis, dia pasti berpendapat aneh karena sikapmu yang terlihat jijik padaku, Gavril. Padahal kau bilang tidak ingin menyatakan perang karena perilaku tidak senonoh padaku yang merupakan putra raja.”
“Saya tidak melakukan apapun … apakah saya menggoda Anda? Tidak, saya hanya berkata Anda akan membuat orang-orang dan Marquis Tinuvel berpikir yang tidak-tidak,” keluh Gavril yang masih berusaha melepaskan rangkulan bahu sang pangeran.
“Kalau begitu … Marquis, bagaimana pendapat Anda tentang hubungan kami berdua? Apa yang Anda pikirkan?” tanya sang pangeran kepada gadis bersurai pirang yang sejak tadi memilih diam.
“E-eh …? Mengapa Anda bertanya pada saya?”
“Karena Anda yang berdiri tepat di hadapan kami.” Untuk beberapa saat Idril mengeluh di dalam hati. Ia dibuat jengkel dengan pertanyaan mendadak yang konyol karena dua orang di hadapannya. Ternyata meski hanya sepupu keduanya tampak mirip, mereka sama-sama menyebalkan, tetapi ia tidak bisa memberikan jawaban seperti itu bukan?
“Saya rasa … kalian tampak dekat, dan … peduli satu sama lain,” jawab Idril akhirnya. Ia terdengar sangat ragu-ragu. Ia bahkan dapat melihat ekspresi Gavril yang terlihat seperti sedang berkata, ‘Apa kau sedang bercanda? Kami tampak dekat?’
“Sudahlah … aku tidak ingin tampak konyol di hadapan kekasihmu yang cantik,” ujar sang pangeran yang telah melepas rangkulannya.
Kali ini jantung Idril seakan tercecer entah dimana. Otaknya memproses cukup lama untuk mencerna kalimat yang baru saja diucapkan putra sang raja.
Siapa yang dimaksud pangeran kekasih? Dirinya? Dengan pria bermulut pedas, c***l dan tampan … apakah ia baru saja menyebutkan duke tampan?
“Siapa yang Anda maksud dengan kekasih? Saya …? Kekasih Duke?” Idril akhirnya menanyakan pertanyaan konyol tersebut kepada sang pangeran.