Pertanyaan-pertanyaan

1073 Kata
Idril sangat ingin menenggelamkan dirinya saat ini juga. Dua orang pria di hadapannya memandangnya dengan ekspresi yang hampir serupa. Baik, sang pangeran maupun duke. Keduanya menaikan sebelah alis karena pernyataannya barusan.  Dalam hati Idril merutuki mulutnya yang melontarkan pertanyaan konyol. Gadis cantik dan kekasih duke? Percaya diri sekali ia menyebut dirinya sendiri begitu. Siapapun pasti justru akan menganggapnya narsistik.  “A-atau … tidak? Ha-habisnya …  Anda memandang ke arah saya. Jadi, saya merasa ucapan Anda itu untuk … saya.” Suara Idril semakin mengecil setelah mengucap kata saya. Ia memilin jari-jari lentiknya. Ia kembali memaki dirinya sendiri karena telah membuat keadaan semakin memburuk.  “Tidak … tentu saja, Anda benar. Marchioness benar.  Pernyataan saya memang ditujukan untuk Anda,” ujar sang pangeran setelah berhasil memproses kejadian yang baru saja terjadi. Melihat gadis di hadapannya memerah adalah sebuah hal yang sama menawannya dengan rembulan.  “Yang mulia, tidak perlu mencoba … menyelamatkan harga diri saya. Saya tahu pertanyaan konyol saya tadi terdengar narsistik dan … menggelikan?” Idril sedikit mengedikkan bahu, ia tidak terlalu yakin dengan kata terakhir untuk menggambarkan perasaan yang mungkin mereka rasakan.  “Saya tidak merasa seperti itu, Marchioness. Lagipula siapa lagi yang cantik di antara kita bertiga?” tanya sang pangeran sembari melirik ke arah Gavril dan Idril yang berdiri di hadapannya.  “Ada banyak wanita bangsawan di sini, Yang mulia. Jadi … mungkin itu bisa terjadi,” ujar Idril yang mengedarkan pandangannya ke sekitar. Banyak tatapan kagum dan memuja yang mengarah ke tempat mereka berdiri, mengingat pria yang paling diidamkan para wanita sedang berdiri di sini.                                                                                “Tidak … saya sendiri yakin yang dimaksud pangeran adalah Marchioness bukan wanita bangsawan lainnya. Lagipula tidak ada wanita lain yang dekat dengan saya, kecuali Anda,:” timpal Gavril yang tiba-tiba ikut menyahut dan memberikan tatapan penuh arti pada Idril selama beberapa detik. Bahkan sang pangeran yang melihat adegan sekilas pria bersurai legam itu berhasil membuatnya terkejut.  “Wah … jadi, apakah kalian sedang berkencan? Atau kalian berencana bertindak lebih jauh? Kalian tahu … menikah?”  Demi apapun, Gavril sangat ingin mencabut seluruh rambut sepupunya itu.Tidak peduli pengawal kerajaan akan membunuhnya atau raja mengeksekusinya, tapi mulut sang pangeran terlalu vulgar. “Pangeran, Anda membuat Marchioness terkejut setengah mati. Sebaiknya Anda tidak mengatakan sesuatu yang dapat menjadi rumor,” kata Gavril yang telah menyodorkan segelas air pada Idril yang tersedak salivanya sendiri.  “Apa salahku ? Aku hanya berandai-andai … lagipula pertanyaan aku pasti sama dengan pertanyaan semua orang yang ada di sini,” jawab sang pangeran enteng. Ia bahkan mengulum senyuman miring.  “Apa maksud Anda …? Semua orang …? Pangeran Anda harus menghentikan pembicaraan yang mulai melantur ini,” kata Gavril yang telah menghela nafasnya lelah.  “Gavril, bagaimana bisa mereka tidak berpikir demikian … lihat saja, kau memperlakukan Marchioness secara berbeda dari gadis bangsawan yang lain. Kalian dekat … seorang Duke Vladmire yang terkenal dingin pada para gadis tiba-tiba saja mengulurkan tangannya.” Fakta yang terlupakan oleh Idril. Selama ini pria bersurai legam di sampingnya adalah sosok yang tidak pernah mudah dicapai oleh siapapun. Dan kini kedatangannya pada dunia sosial bersama sang duke pasti membawa bermacam-macam perspektif. Termasuk, sesuatu yang miring dan negatif.  “Bukankah sudah menjadi rahasia publik bahwa Tinuvel dan Vladmire memiliki hubungan dekat? Hanya karena saya memperlakukan Marchioness berbeda, kami mempunyai sesuatu yang disebut romansa … ini hanya sebuah ikatan persahabatan saja, tidak lebih.”  “Tapi tetap saja … caramu memperlakukannya membuat kalian seperti seorang pasangan. Aku sendiri tidak pernah melihatmu sepe⸻” “Pangeran, saya mohon maaf. Apa yang baru saja dijelaskan oleh duke benar. Kami tidak memiliki hubungan yang Anda sebutkan tadi. Keluarga kami dekat sejak dahulu kala … jika saya bersahabat dengan duke bukan sesuatu yang aneh,” timpal Idril yang ternyata telah memotong ucapan sang pangeran. Ia tiba-tiba saja memilih membantah pernyataan pria bersurai mahoni tersebut. Kemudian Idril menguatkan pendapat Gavril sembari menunjukan dugaan sang pangeran tidak lebih dari sebuah hipotesa.  “Tidak hanya itu kami sudah cukup lama mengenal. Duke Vladmire juga telah menyelamatkan saya dahulu … jika tanpa beliau saya mungkin, tidak akan dapat berdiri di sini … hubungan kami hanya sebatas itu.” Penjelasan rinci dan cepat Idril berhasil membungkam sang pangeran. Ia terpaku karena mendengar ucapan gadis bersurai pirang yang terdengar dingin dan tegas. Selama beberapa saat ia merasa berhenti bergerak. Sebuah hal yang tidak pernah ia temukan pada setiap wanita yang bertemu dengannya, yaitu keberaniannya untuk menyatakan dengan tegas dan lugas, seolah-olah ia melupakan fakta bahwa ia adalah putra penguasa kerajaan.  Tidak ingin melanjutkan perasaannya yang campur aduk akhirnya Idril mengulum senyum sebelum pergi meninggalkan mereka setelah memberikan salam perpisahan, “Terima kasih atas waktu yang Anda berikan pada saya. Sebuah kehormatan dapat berbincang bersama Yang mulia, Pangeran. Maafkan saya, tapi saya harus menyapa tamu yang lain.” “Kau membuatnya marah dan kesal …,” kata sang pangeran yang langsung menerima death glare dari sang duke. Meski begitu tatapan tajam pria bersurai legam itu tidak lebih dari desisan seekor kucing.  “Lihat siapa yang berbicara … padahal Anda sendiri yang memulai membahas topik ini. Padahal Anda dapat melihat dengan jelas bahwa marchioness tidak menyukai pembahasan ini bukan?” Gavril berdecak kesal dan masih melirik tajam ke arah sepupunya berada.  “Habisnya … gadis itu terlalu menggemaskan dan aku hanya penasaran dengan ucapan para bangsawan yang berkata demikian, jadi, aku hanya mengucapkan apa yang mereka ucapkan saja … tidak lebih.” *** Di sisi lain, Idril telah melangkah jauh dari sepasang kakak-adik sepupu yang menyebalkan. Karena ia tidak lagi dapat menahan debaran jantungnya ia memilih untuk menjauh. Terlebih lagi ketika mendengar ucapan pangeran. Entah mengapa mendengar Gavril yang membantah semua pernyataan dan dugaan putra raja tersebut. Padahal seharusnya ia melakukan hal yang sama dan saat ia berhasil membungkam pangeran ia merasa senang juga lega. “What’s wrong with you, Idril? Are you mad or something? (Ada apa denganmu, Idril? Apakah kau gila atau semacamnya?)” Idril bergumam tidak jelas dengan manik krimsonnya yang masih mengedarkan pandangan ke seluruh seluk-beluk ruangan ballroom yang ramai. Kakinya melangkah tanpa tujuan sampai tiba-tiba ia bertemu dengan beberapa wanita bangsawan yang telah berdiri di hadapannya, mengulum senyuman khas para rubah betina.  “Selamat malam, Marchioness Tinuvel. Selamat atas pengangkatan Anda, semoga cahaya selalu menerangi jalan Anda. Sebelumnya perkenalkan saya adalah putra sulung earl James, Irianna Cleo James.” “Senang bertemu dengan Anda … saya Parthenia Idril Tinuvel. Sebuah kehormatan tersendiri untuk menerima Nona James dan nona-nona lainnya di kediaman kami …”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN