Jika para pria menjadikan adu tinju sebagai ajang membuktikan seberapa jantan dan kuat mereka, karena nantinya yang bertahan di antara mereka adalah pemenangnya⸺yang terkuat.
Namun para wanita tidak akan mengadu tinju atau menodongkan pistol satu sama lain. Alasan mengapa para ksatria Zoresham kerap diisi oleh pria bukan karena para wanita yang tidak piawai dalam mengayunkan pedang, nyatanya Idril dan saudari perempuannya berhasil menguasai setiap senjata.
Alasannya tidak lain adalah mereka lebih pandai dalam bersilat lidah. Mata-mata raja dari kerajaan Zoresham bukan seorang jenderal ataupun mayor, mereka merupakan para wanita yang pandai menggunakan lidah dan mulut mereka untuk mendapatkan informasi. Tidak perlu terlalu lihai menggunakan pedang, cukup bisa menembak saja untuk melindungi diri.
Karena itulah saat ini Idril tengah bersiap untuk menghadapi perseteruannya sendiri sebagai seorang wanita. Para rubah betina di hadapannya tengah menyiapkan amunisi untuk menunjukan siapa yang lebih baik di antara mereka. Dan Idril tentu tidak ingin kehilangan harga dirinya.
“Selamat malam, Marchioness Tinuvel. Selamat atas pengangkatan Anda, semoga cahaya selalu menerangi jalan Anda. Sebelumnya perkenalkan saya adalah putra sulung earl James, Irianna Cleo James.”
“Senang bertemu dengan Anda … saya Parthenia Idril Tinuvel. Sebuah kehormatan tersendiri untuk menerima Nona James dan nona-nona lainnya di kediaman kami …”
“Seharusnya itu adalah ucapan saya karena telah menerima undangan dari Marchioness yang berkenan mengundang saya … sebuah kehormatan tersendiri untuk saya. Pasti sulit memimpin keluarga Tinuvel secara tiba-tiba,” ujar wanita yang sempat memperkenalkan dirinya sebagai Irianna.
“Tidak sama sekali … saya sudah melakukan persiapan, sekalipun semua ini terjadi begitu cepat. Ini adalah tanggung jawab saya juga sebagai bagian dari anggota keluarga Tinuvel, jadi tidak ada yang sulit,” kata Idril dengan percaya diri. Ia bahkan memandang lurus tepat ke manik zamrud Iriannya.
“Baguslah … saya senang mendengarnya. Jika ada sesuatu yang perlu Anda ketahui silahkan menghubungi saya. Atau mungkin saat Anda luang datanglah berkunjung ke pesta teh bersama kami,” sahut Irianna sembari dibarengi anggukan anak-anak buahnya. Mereka tampak seperti para pemandu sorak bagi Idril, selain menyamakan gerakan hanya putri sang earl seorang sajalah yang berbicara dan menyapanya.
“Anda tidak ingin bergabung bersama mereka untuk berdansa, Marchioness? Bukankah ini akan menjadi dansa pertama Anda sebagai kepala keluarga?” tanya Irianna yang memandang ke arah lantai dansa.
Kondektur telah mengayunkan ujung tongkatnya. Alunan musik menjadi pengiring setiap langkah para pasangan yang mengalungkan tangan mereka satu sama lain. Beberapa di antara mereka hanya bertukar pandang dengan si wanita yang memerah. Ada pula yang tertawa sepanjang hentakan kaki mereka berpindah. Sayangnya Idril hanya memandangnya jauh dengan tatapan penuh arti.
“Saya sedang tidak dapat berdansa,” ujar Idril singkat. Irianna menaikan sebelah alisnya dan menatap sosok ayu di sampingnya. Sang marchioness masih memperhatikan sekumpulan orang di lantai dansa, bahkan siapapun tahu bahwa gadis itu ingin meliukkan tubuhnya.
“Apakah Anda khawatir tentang pasangan dansa Anda? Saya bisa saja memperkenalkan Anda pada sepupu saya … dia juga datang kemari, jadi Anda bisa berdansa,” kata Irianna sembari mengedarkan pandangannya ke sana-kemari untuk mencari keberadaan sosok yang dibicarakannya.
Kedua alis Idril mengernyit mendengar ucapan gadis di sampingnya. Tunggu, apakah Irianna sedang meremehkannya? Tiba-tiba saja Idril dapat merasakan sesuatu yang membara. Berani-beraninya ia direndahkan seolah ia adalah gadis yang tidak pernah menerima tawaran berdansa para tuan muda.
“Terima kasih, Nona. Tapi saya memilih untuk tidak berdansa karena suatu alasan. Bukan karena tidak ada pasangan atau semacamnya,” sahut Idril yang mencoba menolak Irianna yang baru saja mengulum senyum kepada seseorang.
“Benarkah? Anda tidak perlu merasa sungkan atau malu, Marchioness. Sepupu saya adalah pria tampan. Salah satu ksatria yang melayani pangeran pertama … dan sebentar lagi dia akan tiba.”
“Nona James, saya bersungguh-sungguh … mana mungkin tidak ada pria yang mengulurkan tangannya untuk mengajak saya berdansa. Karena itu tolong beritahukan kepada sepupu Anda agar kembali.” Idril mencoba menolak Irianna dengan santun. Ia tidak mungkin mengatakannya secara kasar bisa-bisa ia justru merusak citranya sebagai seorang marchioness Tinuvel.
“Kalau begitu mengapa Anda tidak bisa berdansa? Pasti ada alasannya … tidak mungkin bukan karena Anda tidak dapat berdansa? Seorang lady pasti bisa berdansa, lalu apalagi yang dapat menjadi alasannya?”
“Itu … karena …”
Skakmat! Idril tidak dapat berkata-kata. Ia tidak dapat menjawab bahwa ia baru saja ditikam seorang penyusup bukan? Jika ia mengatakan kejadian yang sebenarnya mungkin selanjutnya sebuah pisau akan meluncur ke arahnya. Karena kemungkinan bagian dari anggota mereka berada di sini. Mengingat komplotan yang dimaksud count Wilford juga seorang bangsawan.
“Saya tidak pernah berpikir Anda tidak terkenal di antara para pria … saya tahu Marchioness sibuk menyiapkan segalanya. Jadi, sudah sepantasnya Anda baru menyadari belum memiliki pasangan untuk berdansa.” Sungguh demi wig rambut dokter Schulze, Idril ingin sekali menjambak rambut Irianna dan mencoret lipstik merah meronanya itu sebagai perona pipi. Ia tahu gadis itu hanya sedang mempermainkannya. Sayangnya belum sempat Idril membalas ucapan putri earl Jame tersebut, seorang pria berambut cepak tiba dengan wajah bingung.
“Irianna, ada apa? Apakah ada sesuatu yang terjadi?” tanya pria bermanik zamrud dan berambut mahoni yang tampak cukup terkejut setelah menyadari keberadaan gadis bersurai pirang.
“Bagaimana Marchioness? Bukankah sepupu saya cukup tampan? Dia adalah Johannes Oswald, salah satu ksatria Zoresham,” kata Irianna yang telah menyodorkan sosok pria bersurai mahoni yang memerah dan terkejut. Untungnya Idril tidak merasa demikian, ia hanya memandang dengan sirat kekesalan dan kedua alis yang menukik.
“Begini … sebelumnya Nona Jame, saya sudah menjelaskan dengan sangat jelas bahwa bukannya saya tidak berdansa karena tidak memiliki pasangan atau tidak ada pria yang menawarkan ajakan … saya hanya sedang tidak bisa, karena alasan pribadi.” Idril mencengkram tangannya yang saling menumpuk satu sama lain. Sekalipun senyuman manis ia sunggingkan, tapi tidak dengan hatinya yang telah memaki gadis keluarga James itu.
“Irianna, Anda tidak seharusnya membuat Marchioness merasa tidak nyaman. Anda tidak boleh memaksa seseorang atas kehendak Anda sendiri.” Kali ini pria bermanik zamrud memilih menyingkir dan berdiri di samping sepupu wanitanya. Ia tampak mencoba menenangkan diri karena masih terlalu terkejut dengan tingkah putri pamannya itu.
“Oh … tapi saya melihat Anda memperhatikan mereka yang berdansa. Anda terlihat sangat ingin menyusul mereka di atas lantai dansa … bahkan Anda berulang kali memperhatikan kondektur yang mengayunkan tongkatnya,” ucap Irianna yang melirik ke arah sekumpulan orang yang masih memegang biola, sexophone, dan teman-temannya.
Tidak pernah terbayangkan oleh Idril bahwa seseorang akan memperhatikannya sedetail itu. Meski sebetulnya ucapan Irianna sama sekali tidak benar. Alasan Idril memperhatikan mereka adalah untuk melihat seperti apa persiapan yang dilakukan oleh sang duke. Itu semua tidak lain sebagai bentuk pengamatan agar di hari yang akan datang Idril akan melakukan hal yang jauh lebih baik dari pria bermanik keemasan tersebut, sehingga ia melihat satu persatu dimulai dari penataan ruang sampai pemilihan lagu yang dimainkan oleh kondektur, semuanya berdasarkan izin yang diberikan sang duke.
“Sebenarnya itu karena Marchioness akan berdansa dengan saya.” Sebuah suara berhasil membuat mereka terkejut. Idril sendiri masih tidak habis pikir bagaimana pria itu selalu datang dalam timing yang tepat. Tapi kedatangan sang duke justru membuatnya semakin menerima tatapan curiga.
“Duke Vladmire …! Se-senang bertemu dengan Anda. Sebuah kehormatan bertemu dengan Anda, Duke.” Irianna tersipu ketika melihat pria berwajah dingin kepala keluarga Vladmire tersebut. Tidak hanya pemimpin perkumpulan para rubah betina saja, bahkan anak-anak buahnya memasang ekspresi yang sama.
“Putra count Oswald, benar? Mohon maaf, karena bersikap tidak sopan. tapi saya rasa Anda tidak dapat mengajak Marchinosess berdansa …”
‘Tunggu, skenario apalagi ini? Apakah duke gila ini sedang berusaha membantuku untuk terlepas dari jeratan si rubah? Bagus tidak masalah lakukan saja … tidak masalah! Gavril, kau memang yang terbaik …’ Idril bersorak gembira karena mendengar ucapan sang duke yang sedang mencegah agar sepupu ksatria Irianna menyeretnya ke lantai dansa. Akan menjadi masalah sampai lukanya yang mulai membaik tiba-tiba kembali terbuka, sebenarnya ia hanya takut keadaan tubuhnya memburuk saja.
“Oh, tentu saja … saya sama sekali tidak masalah, Duke. Justru saya yang merasa sungkan karena hampir memaksa Marchinosess, meski sebenarnya saya masih tidak mengerti apa yang terjadi karena tiba-tiba saja dipanggil kemari …” Iris zamrud Johannes memandang ke arah sosok gadis di sampingnya yang langsung kelabakan karena menerima tatapan tajam sang duke yang menyeramkan.
“I-itu karena … saya hanya berusaha mencarikan pasangan berdansa Marchinosess saja, beliau terlihat ingin berdansa, tapi beliau berkata sedang tidak dapat berdansa,” sergah Irianna yang mencoba menyelamatkan dirinya.
“Lalu apakah Anda penasaran dengan alasan Marchinosess tidak dapat berdansa? Bukankah itu yang tadi Anda ucapkan …?” Gavril berhasil menyudutkan si wanita rubah.
“Bukankah Marchinosess sudah berkata beliau sedang tidak dapat berdansa … bukan karena beliau tidak memiliki kemampuan ataupun pasangan untuk berdansa. Hanya saja pasangannya sedang tidak bersamanya …”
“Apa …?!”