Entah apa yang sedang merasuki pria bersurai legam itu. Tapi yang jelas Gavril baru saja menggali kubur mereka berdua. Idril berharap apa yang baru saja didengarnya hanya imajinasinya saja. Tapi melihat ekspresi para rubah betina dan si ksatria membuat Idril tahu bahwa itu semua benar terjadi.
“Apa … yang baru saja Anda ucapkan, Duke?” Ternyata bukan hanya sang marchinosess seorang saja yang ingin memastikan pendengarannya masih berguna dengan baik atau tidak. Irianna kembali mengajukan pertanyaan yang sama untuk memastikan kinerja gendang telinganya.
Wajah tampan sang duke yang semula tampak dingin dan acuh tiba-tiba saja ia mengukir senyuman tipis yang membuat para rubah menjerit takjub akan pesona kepala keluarga Vladimire tersebut.
“Seperti yang sudah saya ucapkan barusan, Marchinosess berkata sedang tidak bisa berdansa, bukan karena beliau tidak memiliki kemampuan ataupun pasangan untuk berdansa. Hanya saja pasangannya sedang tidak bersamanya …”
Baiklah, pernyataan yang benar-benar mengejutkan baru saja diucapkan sang duke berhasil membuat Idril memandang ke arahnya dengan ekspresi kebingungan. Alasannya karena pasangan yang disebutkan Gavril tidak pernah ada keberadaannya. Itulah mengapa Idril menjadi sedikit dilanda kepanikan.
“Kalau begitu … dimana? Maksud saya pria yang akan menjadi pasangan Marchinosess, karena sejak tadi hanya ada kita saja …” Irianna tampak tidak menyerah dan mencoba menyudutkan Idril lagi dan lagi. Sayangnya tidak ada yang dapat dilakukan sang marchinosess, kecuali memasang raut dingin seakan tidak peduli dengan kehadiran para rubah.
“Apa maksud Anda dimana? Pasangan Marchinosess sudah berada di sini … di hadapan Anda. Apakah Anda mengidap rabun atau buta, Nona James?” Pertanyaan yang sarkas dan kasar baru saja dilontarkan sang duke. Setiap orang yang ada di sana hanya dapat ternganga dengan alis menukik, termasuk Idril.
Dan detik selanjutnya setelah melihat seringaian di kedua sudut bibir sang duke mereka berucap secara bersamaan dengan mata yang hampir melompat keluar, lagi-lagi sang marchioness turut di dalamnya.
“Bukankah kalian sudah melihatnya? Pasangan Marchioness ada di hadapan kalian … tepat di hadapan mata kalian.” Siapapun yang ada di sana sebenarnya ingin mencubit tubuh atau mungkin jantung mereka masing-masing ketika mendengar betapa percaya dirinya sang duke saat mengucapkan tentang sosok tersebut.
Gavril yang menerima sinyal dari sirat mata beberapa orang di hadapannya mengangguk dan mengulum seringainya semakin lebar, “Apa!?”
“Jadi … bagaimana? Haruskah kita mulai berdansa sekarang, Marchioness?” Gavril membungkuk dengan tangan kanan yang mengulur di depan Idril dan tangan kirinya yang bersembunyi di balik punggung.
Idril sendiri hanya terdiam. Bukan hanya dirinya saja bahkan hampir setiap orang yang ada di ballroom memandang ke arah mereka dengan tatapan penuh tanya. Terlebih para tamu undangan yang lain pasti juga mendengar suara mereka yang memekik keras.
“Marchioness Tinuvel …?” tanya Gavril kembali Ia memberikan isyarat kepada Idril untuk segera meletakan tangannya di atas tangan sang duke. Setelah sempat menangkap lirikan maut para rubah betina Idril kemudian menuruti perintah sang duke.
“Mohon maafkan saya … bukannya saya tidak ingin menjawab Anda, Nona James. Tapi saya sendiri merasa sungkan, jika menjawab saya tidak bisa berdansa karena saya akan berdansa dengan duke Vladmire,” kata Idril dengan wajah yang diangkat tinggi. Seulas senyum miring terukir di kedua sudut bibirnya.
Irianna menggigit bibir tebal dan sintalnya sebelum akhirnya mendecih kesal. Setelah melangkah cukup jauh dari gerombolan para rubah, Idril langsung melirik ke arah sang duke yang masih tampak tenang. Padahal mereka masih sedang berjalan ke arah lantai dansa.
“Apa maksudmu …? Bukankah dokter sudah mengatakan aku tidak boleh berdansa dulu … lalu mengapa kau harus membuat skenario seperti itu?” tanya Idril dengan suara serendah mungkin. Ia tahu, pria itu masih tetap dapat mendengar seluruh ucapannya mengingat ia bukanlah seorang manusia.
“Bukankah aku menyelamatkanmu dari para penyihir itu …? Seharusnya kau mengucapkan terima kasih, bukannya mengomel. Lalu … masa bodoh dengan ucapan Schulze. Lukamu sudah hampir sembuh, Idril.” Gavril menjawab dengan sangat tenang dan santai. Sekalipun ia dapat merasakan gadis di sampingnya menghela nafasnya pelan.
“Apakah kau gila? Bagaimana jika lukanya benar-benar terbuka? Para tamu akan panik dan mengira sesuatu terjadi padaku … ini adalah acara pertamaku sebagai Marchioness, Gavril. Jangan melakukan tindakan yang aneh,” kata Idril yang mencoba mengingatkan sang duke agar tidak berbuat lebih jauh.
“Lebih baik kita berhenti dan berputar balik. Benar, mengapa tidak meminum wine saja? Bukankah kau menyukai wine …? Atau mungkin kau ingin cocktail? Oh, ayolah …”
“Aku sedang tidak boleh minum disaat seperti ini, Idril. Aku memiliki tugas yang harus aku lakukan, kau tahu.” Kedua alis Idril menukik. Ia menjadi bertanya-tanya tugas apa yang dimaksud pria bermanik keemasan itu. Namun sayangnya rasa penasaran Idril lenyap begitu saja, setelah sadar mereka mulai melangkah ke lantai dansa untuk bergabung dengan pasangan lainnya.
“Tidak, tidak, tidak … astaga, Gavril! Dengarkan aku … aku tidak bisa berdansa, lukaku. Kau tidak ingat aku terluka?” Idril semakin panik ketika ia menangkap seluruh pasang mata jatuh pada mereka.
Meski begitu sang duke tidak merasa terusik sebaliknya ia justru telah meletakan tangannya, dan bersiap untuk mulai berayun bersama gadis bersurai pirang di hadapannya yang tampak panik, “Kau tidak harus berdansa … aku yang akan berdansa untukmu. Jadi, luka mu tidak akan terbuka.”
Belum sempat menanyakan dengan maksud ucapan sang duke tiba-tiba saja Idril berjengit kaget ketika Gavril telah merapatkan tubuhnya. Kemudian ia merasakan kaki sang duke yang mencoba menaikan kaki gadis bersurai pirang tersebut.
“Gavril, aku akan menginjakmu … aku mengenakan sepatu berhak cukup tinggi. Bagaimana jika kakimu terluka?” Idril memandang paras menawan sang duke yang masih belum kehilangan ketenangannya.
“Tenanglah, Idril. Ini tidak seperti aku adalah seorang kakek-kakek tua atau bayi kecil yang rapuh. Diinjak olehmu tidak akan membuat jari-jari kakiku patah atau semacamnya,” jawab Gavril kelewat santai.
Kekerasan kepala sang duke membuat Idril akhirnya hanya dapat menyerah dan menghela nafas saja. Ia tidak dapat menghentikan kepala keluarga Vladmire itu. Sehingga mau tidak mau ia meletakkan tangannya di atas pundak sang duke. Sembari menunggu beberapa orang yang bergabung dengan mereka dan konduktor memberikan aba-aba Idril memperhatikan bagaimana orang-orang menjatuhkan pandangan kepada mereka.
“Apakah mereka semua memandang ke arah kita?” tanya sang duke dan langsung mendapat jawaban dari Idril dengan anggukan pelan.
“Apakah kau senang?”
“Kau gila …? Aku hampir mati karena rasa malu. Kau harus tahu rasanya para betina yang melihatku seperti ingin melahap dan menguliti ku hidup-hidup,” bisik Idril yang menekankan ucapannya pada kata melahap dan menguliti hidup-hidup. Gavril mencoba untuk tidak tertawa, sayangnya ia gagal. Sehingga kekehan pelan terdengar dan itu membuat Idril menerima semakin banyak tatapan maut.
“Sial! Berhenti tertawa … apakah kau sedang menyiksaku atau semacamnya? Ini akan membuat citraku memburuk di mata mereka,” keluh Idril yang tetap berusaha memasang wajah dinginnya.
“Tidak … aku hanya sedang berusaha memberikan sesuatu untukmu. Anggap saja hadiah atas pengangkatanmu, tidak ada wanita bangsawan manapun yang pernah berdansa dengan duke Vladmire. Dan Marchioness Tinuvel menjadi gadis pertama untuknya.”
Idril memerah ketika mendengar kata gadis pertama. Ia mencoba menghindari manik keemasan sang duke yang seakan sedang berusaha menelanjanginya, “Itu bukanlah sebuah hadiah. Kau tidak mendengar rumor yang baru saja dibicarakan pangeran pertama tentang kita? Bagaimana jika itu akan memperburuk citra dari nama kita masing-masing?”
Gavril mengulum senyuman manis tipis yang membuat Idril terpesona selama beberapa detik. Sebelum sempat mendengar jawaban sang duke tiba-tiba saja musik telah mengalun. Idril dapat merasakan tubuhnya yang mulai bergerak mengikuti gerakan tubuh sang duke.
Pegangan lembut di pinggangnya membuat pipi porselen Idril merona. Paras tampan Gavril yang memandangnya lurus tepat di kedua manik krimsonnya membuat debaran jantung Idril semakin keras.
Di bawah terangnya lampu ballroom mereka menyelaraskan dengan melodi piano yang kemudian diikuti dengan suara melengking gesekan biola. Mereka mengayun dan sesekali tubuh Idril di putar pelan. Ia berdansa dengan iringan melodi dan bantuan kaki serta tangan Gavril.
Ia dapat merasakan suara ramai dan riuhnya suasana ballroom menghilang. Segalanya tergantikan dengan alunan musik yang perlahan semakin terdengar riang untuk sesaat ia merasa saat ini dirinya dan sang duke sedang tidak berada di dalam ballroom. Sebaliknya benak Idril memberikan bayangan bahwa mereka tengah bergerak di atas hamparan bunga camelia yang mekar dan berwarna-warni.
Gavril mengulum senyum tanpa sadar ketika melihat gadis di hadapannya yang mulai menikmati setiap langkah mereka, bahkan sampai ujung lagu selesai dimainkan senyuman di kedua sudut bibir Idril masih tersunggingkan. Meski Idril memekik tertahan ketika Gavril mengangkat ringan tubuhnya.
“Gavril …” Panggil Idril pelan. Tetapi pria itu justru tertawa renyah dan mereka terus berdansa. Waktu adalah milik mereka yang saling melepaskan beban mereka satu sama lain, dan kali ini seluruh waktu menjadi milik Idril serta Gavril seorang. Seakan waktu sengaja berhenti agar mereka dapat merekam setiap momen di bawah binar lampu dan diiringi melodi riang piano beserta kawan-kawannya.
Mereka tertawa dan berayun bersama. Sejenak keduanya menikmati kehidupan meski hanya dengan gerakan-gerakan sederhana sebuah dansa. Tidak ada yang merasa ketakutan, cemas, maupun tidak merasakan apapun. Mereka hanya menikmati waktu dan momen. Membiarkan ujung gaun yang dikenakannya menyapu lantai atau membiarkan sepatu hitam mengkilapnya dipenuhi debu, bekas hak sepatu. Tidak ada yang dapat mengganggu keduanya. Bahkan tatapan penuh iri dan benci. Baik, Idril maupun Gavril tidak ada yang memperhatikannya. Hanya satu yang mereka perhatikan, raut dan ekspresi yang tergurat di wajah mereka masing-masing.