Wine dan Kekhawatiran Idril

1430 Kata
Hentakan sepatu pada ketukan lagu yang terakhir menjadi penanda berakhirnya waktu di lantai dansa. Suasana ballroom tiba-tiba menjadi senyap, tidak ada yang bersuara. Alasannya karena semua mata memandang ke arah satu-satunya pasangan yang berhasil membuat seluruh tamu undangan memperhatikan setiap gerakan mereka. Dan pasangan tersebut tidak lain adalah duke Vladmire⸺kepala keluarga Asmodia⸺lalu ada pula satu-satunya pemilik manik krimson yang tersisa, keturunan Veela terakhir⸺marchioness Tinuvel.  Keduanya berdansa dengan anggun. Tidak hanya itu kedua mata mereka menyiratkan kebahagiaan dan kesenangan selama melakukan langkah demi langkah. Bahkan sang kondektur tersenyum bahagia ketika melihat keduanya yang dapat menikmati permainan musik yang dilantunkan orkestra miliknya.  “Bravo ( Menakjubkan)! Selamat atas pengangkatan Anda, Marchinosess. Semoga cahaya selalu mengiringi langkah Anda dan Tinuvel.” Sang konduktor membungkuk dan tidak lama para pemain orkestra yang lain mengikuti pria botak tersebut. Mereka mengulum senyum bahagia.  Dan tidak lama suara tepukan tangan terdengar bersamaan dengan ucapan selamat serta pujian. Idril yang masih dalam keadaan tubuh terpaut beberapa senti dari sang duke masih terpaku dan memandang tepat ke arah manik keemasan Gavril. Nafas Idril masih memburu, siapa sangka berdansa akan membuat keringat membanjiri dahinya.  Sang duke pun tidak jauh berbeda. Ia memandang wajah jelita gadis bersurai pirang di hadapannya untuk sesaat hati kecilnya berkata tidak ingin momen ini berakhir. Sayangnya Idril yang sadar dengan tepukan tangan riuh dan sorak sorai membuat mereka memilih menyudahi momen tersebut. “Terima kasih telah menerima ajakan dansa saya,” kata Gavril separuh membungkuk. Sikap lembut sang duke membuat Idril berusaha mati-matian agar tidak tersenyum mengingat mereka saat ini sedang disaksikan oleh banyak orang.  “Saya juga berterima kasih karena menerima kehormatan menjadi pasangan Anda untuk berdansa, Duke Vladmire,” jawab Idril yang berusaha menormalkan nada bicaranya. Ia juga membalas salam hormat sang duke sembari tetap mempertahankan ekspresi di wajahnya.  “Tidak … seharusnya itu adalah kalimat saya. Marchinosess Tinuvel, terima kasih karena telah memberikan saya kesempatan menjadi pasangan berdansa Anda. Ini adalah sebuah kehormatan yang besar … untuk menjadi yang pertama,” sahut Gavril sembari mengulum senyum manis yang memabukan. Dan tindakan sang duke selanjutnya tidak pernah diperkirakan siapapun, bahkan Idril sekalipun terkejut setengah mati.  Suasana ballroom semakin ramai. Beberapa di antara para pria bangsawan bersorak menyoraki sang duke atas sikapnya yang berhasil meruntuhkan dinding milik Idril. Tapi gadis manapun pasti akan memberikan ekspresi yang sama ketika seorang pria mengecup punggung tangannya. Sekujur tubuhnya seakan mati rasa selama beberapa saat. Bahkan Idril dapat merasakan aliran darahnya yang semakin cepat seperti aliran sungai. Jangan lupakan tatapan manik keemasan sang duke yang menghipnotis. Senyuman maut yang terasa jauh lebih memabukan dari segelas besar whisky. Gadis mana yang tidak tersipu dan merona? Setelahnya Gavril membimbing Idril untuk melangkah menjauh dan berdiri cukup pinggir guna menghindari keramaian. Kemudian ia mengambil dua gelas kristal berisi wine, sebelum sempat menyerahkannya pada gadis di sampingnya ia dikejutkan dengan cubitan maut yang hampir membuat lengannya putus.  “Aw … aw … aw! Idril, kau membuat lengan ku bengkak. Apa yang kau lakukan? Apakah kau sedang menyiksaku? Kau seorang psikopat atau bagaimana?” Gavril mengaduh kesakitan karena tangan gadis bersurai pirang tersebut yang masih belum melepaskan cubitannya.  “Kau yang gila! Bukankah aku sudah bilang agar tidak membuat rumor semakin melebar? Mengapa kau mempersulit semuanya! Dasar gila … bagaimana dengan nama Tinuvel dan Vladmire? Apakah kau tidak takut jika ada skandal yang tidak benar?” Idril telah berada di batas kesabarannya. Setelah puas mencubit lengan sang duke. gadis bermanik krimson tersebut menyambar salah satu gelas kristal dan meneguk cairan kemerahan hingga tandas, tidak tersisa.  “Idril, kau tidak boleh meminumnya langsung dalam satu tegukan …” Gavril yang berniat untuk menghentikan gadis bersurai pirang itu agar tidak menghabiskan seluruh cairan kemerahan tersebut. “Jangan macam-macam! Kau tidak berhak mengaturku … kau bahkan memaksaku untuk berdansa. Apakah kau tidak dengar ucapan pangeran tadi? Ada rumor tentang kita … apakah kau tidak khawatir dengan Vladmire? Meski kau adalah orang kedua yang paling berkuasa, bukan berarti kau bisa bebas begitu saja …” Idril kembali menyambar gelas kristal lain dan berusaha meneguknya hingga tandas. Sayangnya kali ini Gavril jauh lebih cepat, ia berhasil merebut gelas kristal tersebut. “Berhenti minum. Kau sudah mabuk … kau sekarang adalah seorang Marchioness, banyak hal yang harus kau perhatikan, termasuk sikapmu ketika mabuk dan tidak sadarkan diri,” kata Gavril yang berusaha menyingkirkan jauh-jauh wine dari hadapan gadis bersurai pirang yang masih mencoba menggapainya. “Itulah yang sedang coba kulakukan … tapi kau sudah terlebih dahulu bersikap seenaknya. Apakah kau tidak memikirkanku yang baru saja menjabat sebagai Marchioness? Bagaimana citraku di mata orang-orang.” Idril tertunduk dalam. Ia dapat merasakan desakan cairan bening yang berusaha menerobos masuk.  “Bagaimana dengan Vladmire? Apakah kau tidak mengkhawatirka⸺argh⸺” Tiba-tiba saja Idril telah merasakan nyeri di perutnya. Dan saat tangannya menyentuh gaunnya ternyata telah dibasahi cairan kemerahan. Kemudian barulah ia sadar bahwa lukanya kembali terbuka, tidak lama kemudian tubuhnya merasa lemas. “Idril! Lukamu kembali terbuka, ini pasti karena kau berusaha merebut gelas ini. Kau berdarah,” kata Gavril yang langsung mendekat guna melihat lebih seksama bagian gaun yang terdapat noda kemerahan. Idril sebenarnya berusaha menepis tangan sang duke yang mencoba menyentuhnya, namun ia tidak memiliki tenaga yang cukup.  “Jangan … menyentuh … ku,” ujar Idril dengan nafas terengah. Wajahnya tiba-tiba telah memucat. Sebelum sempat meluruh dan menyentuh lantai, tangan Gavril lebih dulu menahan tubuh gadis bersurai pirang tersebut. Setelah sempat memastikan tidak ada yang melihat Gavril segera melepas jas miliknya, sehingga kini ia hanya mengenakan kemeja yang dihiasi sebuah cravat.  “Pertama, kita harus menyingkir dari sini. Sebaiknya kita ke sayap kiri saja … di sana ada selasar.” Gavril mencoba menuntun Idril perlahan. Sembari kedua tangannya menahan tubuh gadis bersurai pirang tersebut, manik keemasannya juga tampak awas memperhatikan keadaan untuk memastikan tidak ada yang melihat mereka.  Kini mereka berhasil melepaskan diri dari keramaian, keduanya dapat melihat sebuah pintu kaca yang terbuka dan itu adalah selasar yang dimaksud oleh sang duke. Sayangnya sebelum sempat memasukinya tiba-tiba Gavril kembali menarik tubuh Idril.  “Sialan! Mengapa mereka harus melakukannya di sini sih,” gerutu sang duke diiringi dengan umpatan-umpatan kecil. Mendengar pria bersurai legam tersebut membuat Idril mendongak, namun pria itu telah membopongnya pergi.  “Jangan … kau tidak perlu melihat mereka. Matamu hanya akan ternodai.” Belum sempat menanyakan apa yang baru saja terjadi, tia-tiba saja Idril memilih untuk menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang duke begitu mendengar suara-suara erotis dari sana. Ia jadi ikut mengumpat di dalam hati, sekarang ia mengerti alasan dibalik gerutuan tidak jelas sang duke yang terdengar seperti seekor lebah.  “Sepertinya di sini aman. Sebentar, aku akan menutup pintu.” Gavril bergerak cepat setelah menutup pintu kaca, ia langsung meletakan Idril di atas beton pagar dari selasar. Dengan cahaya yang hanya berasal dari rembulan, sang duke berusaha memperhatikan lebih seksama dan jelas luka Idril.  Jari-jemarinya yang sedang menyusuri luka sang marchinosess tiba-tiba terhenti setelah melihat wajah gadis di hadapannya meringis kesakitan. Ia terdiam beberapa saat untuk berpikir, ia tidak tahu cara untuk menghentikan pendarahannya mengingat ia tidak bisa merobek gaun Idril begitu saja. Karena bagaimanapun pesta masih berlangsung.  Gavril memperhatikan raut pucat Idril yang memutih. Ia berusaha mati-matian untuk menahan matanya terjaga, sepertinya rasa kantuk menyerang. Dan gadis itu tahu bahwa ia harus melawannya. Gavril akhirnya menghela nafas kasar sebelum menyentuh wajah sang marchioness.  “Aku tahu kau tidak menyukai cara ini … dan apa yang baru saja aku lakukan murni hanya karena insting saja. Kalaupun kau takut rumor buruk menyerang Tinuvel, aku ada di sini … selalu … aku akan melindungimu,” tutur Gavril sembari memindahkan helaian pirang Idril yang tampak berwarna platina akibat sinar rembulan.  “Tapi … tetap saja … semuanya akan semakin su⸺” Ucapan Idril terpotong tiba-tiba. Ia merasakan rasa sakit dan nyeri pada bagian perutnya. Ia mulai bernafas putus-putus. Bahkan kini ia tanpa sadar berpegangan sepenuhnya pada tubuh sang duke, sehingga Idirl dapat memperhatikan wajah pria bermanik keemasan itu jauh lebih dekat.  “Aku tahu … kau mungkin tidak menyukai caraku ini. Tapi melihat lukamu yang tidak terlalu dalam sepertinya aku bisa menyembuhkannya … karena itu … bertahanlah.” Sesaat setelah berbisik dengan suara rendah, Gavril telah menyatukan bibir keduanya. Mereka kini sedang berpagutan satu sama lain. Di bawah rembulan keduanya mengecap rasa satu sama lain. Idril berpegangan lebih erat, tubuhnya tidak lagi merasakan sakit yang teramat sangat. Dan cengkramannya semakin mengerat ketika tiba-tiba sang duke mengikis jarak di antara mereka. “Gavril …” Idril memanggil dengan suara serak, dan tatapan sayu. Jejak saliva bahkan masih tertinggal di sudut bibir tipisnya. Sebelum akhirnya Gavril menjawab deheman yang teredam dengan bibir gadis bersurai pirang tersebut. "Kau ... terasa seperti wine."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN