Apa yang Kau inginkan

1095 Kata
"Kau ... terasa seperti wine." Suara berbisik Gavril terdengar begitu seksi di telinga Idril. Bahkan gadis itu dapat merasakan bulu kuduk sekujur tubuhnya meremang. Belum lagi tatapan sang duke yang terlihat menginginkan sesuatu darinya.  “Gavril … lukaku sudah sembuh,” ujar Idril sembari mendorong tubuh pria bersurai legam di hadapannya. Ia mencoba mengalihkan pandangannya dari sosok sang duke yang begitu dekat dengan wajahnya. Sayangnya tenaga Idril tidak cukup kuat hanya untuk menggeser posisi Gavril.  “Lalu …?” tanya Gavril pelan. Ia masih menatap lekat sosok ayu dan jelita di hadapannya. Ia memperhatikan dengan seksama, sekalipun gadis bersurai pirang tersebut mengalihkan pandangan darinya.”  “Kau tidak perlu melanjutkannya. Orang lain akan salah paham dengan tindakan kita. Itu akan memperburuk …” “Rumor … aku tahu apa yang sedang dipikirkan otak kecilmu itu. Idril, kau tidak bisa membiarkan orang lain mengatur bagaimana caramu untuk hidup. Ini semua adalah hidupmu, kau yang menjalaninya bukan mereka.” Idril terdiam mendengar ucapan sang duke. Ia menunduk dan memperhatikan lantai marmer hitam yang tampak kontras dengan sepatu pria di hadapannya. Padahal Gavril tidak sedang memarahinya, tapi Idril dapat merasakan sesuatu yang menusuk perasaannya.  “Idril … jika aku bertanya sekarang, apa yang kau inginkan. Apa jawabanmu?” Gavril menarik dagu runcing gadis bersurai pirang tersebut. Kedua manik krimson menatap lurus tepat pada iris tajam duke.  Otak Idril berputar, mencoba mencerna pertanyaan Gavril dan menanyakan pada dirinya sendiri. Kemudian tiba-tiba pipinya merona, ketika melihat sinar rembulan yang menyoroti wajah tampan sang duke. Ia masih membungkam bibirnya, enggan memberikan jawaban. Padahal Gavril tampak sedang menanti jawabannya. “Ka-kau sendiri … apa yang kau inginkan?” tanya Idril. Alih-alih menjawab gadis itu justru mengajukan pertanyaan. Ia juga menuntut sang duke untuk mendengar jawabannya, meski sebenarnya ia tidak terlalu berharap. “Kau … aku mengharapkan untuk mengecap mu sekali lagi. Berdansa sekali lagi. Tidak, sekali saja sama sekali tidak cukup.” Satu kalimat jelas dan singkat yang diberikan Gavril membuat Idril memerah, wajahnya seperti sebuah tomat yang sudah masak. Ia dapat merasakan debaran jantungnya yang terdengar layaknya genderang.  “Lalu bagaimana denganmu? Idril, apa yang kau inginkan?” Sang duke kembali menarik dagu Idril dan membuat pandangan mereka bertemu. Idril terdiam dan sesaat sesuatu yang membuncah muncul.  Entah karena ia sedang berada dalam pengaruh alkohol atau bagaimana. Tapi tiba-tiba saja tangannya menyentuh surai hitam yang tampak serupa dengan langit Zoresham. Helaiannya terasa geli di tangan, namun juga halus memberikan sensasi aneh dan lucu untuk sang marchioness.  Dan selanjutnya ia tidak akan mengira melakukan tindakan berani seperti menempelkan bibirnya pada bibir sang duke. Idril hanya menempelkannya dan tidak bergerak. Daripada disebut ciuman, mungkin apa yang sedang dilakukannya lebih mirip dengan kecupan saja. Gavril yang terkejut hanya dapat mengerjap sampai akhirnya Idril menjauhkan bibir ranumnya. “Apakah itu jawabanmu …? Idril, jawab aku. Apakah ini yang kau inginkan?” Tidak lagi merasa sabar, akhirnya Gavril yang gemas memegang pipi Idril dan menyatukan pagutan mereka yang sempat terlepas.  “Kalau begitu … diammu itu akan kuanggap sebagai jawaban iya atas pertanyaanku.” Dan detik selanjutnya mereka saling mengecap serta memberikan kelembutan satu sama lain. Gavril meletakan kedua tangannya pada pinggang ramping sang marchioness. Ia memejamkan mata, mencoba merasakan setiap rasa yang seakan menjadi candu untuknya.  Idril pun tidak jauh berbeda. Ia sendiri mencoba mengimbangi permainan sang duke, meski ini adalah ciuman pertamanya. Gadis itu larut, ia bahkan tidak sadar bahwa kini tangannya telah melingkar di leher jenjang sang duke. Jari jemarinya memilin dan mencengkram helaian rambut Gavril.  “Idril … kau membuatku gila,” lirih Gavril yang terdengar begitu jelas di telinga Idril. Pria itu menyusuri garis wajah sang marchinosess dengan bibirnya. Mencoba merasakan setiap jejak manis yang dimiliki pemilik manik krimson tersebut.  Idril sendiri hanya dapat menggigit bibir dan menahan agar tidak mengeluarkan suara-suara aneh. Ia hanya mengeratkan pejaman matanya, bahkan sampai saat sang duke mengecup lehernya singkat. “Apakah pesta masih belum selesai?”tanya Idril tanpa berniat untuk memandang ke arah wajah tampan di hadapannya. Gavril yang meletakan kepalanya di bahu sang marchinosess berdehem sesaat, mencoba menjawab pertanyaan gadis itu sembari menikmati aroma vanilla dan mawar yang menguar.  “Entahlah … memangnya kenapa? Apakah kau masih berbicara tentang rumor yang Luke maksud …?|” Idril menggeleng pelan. Ia melirik ke arah sang duke yang masih bersandar padanya. Pria itu tampak nyaman dan sama sekali tidak terganggu. “Entahlah … memangnya kenapa? Apakah kau masih berbicara tentang rumor yang Luke maksud …?|” Idril menggeleng pelan. Ia melirik ke arah sang duke yang masih bersandar padanya. Pria itu tampak nyaman dan sama sekali tidak terganggu. Bukannya menjawab Idril hanya terdiam dan memperhatikan setiap pahatan sosok menawan di hadapannya. Sepertinya ia mulai paham mengapa para wanita mendambakannya.  Hidung tinggi nan mancung, sepasang mata yang dihiasi bulu mata yang lentik, rahang tegas, dan jangan lupakan bibir merah muda menjadikan pria bersurai sekelam malam itu tampak seperti seorang pangeran dari negeri dongeng.  “Apakah kau menikmatinya? Memperhatikan wajahku yang tampan … ternyata membuatmu mengabaikan pertanyaanku,” kata sang duke yang tiba-tiba menyentuh hidung mungil Idril dan menyebabkan mereka hampir terjatuh dari pegangan.  “Gavril … kau hampir membunuh kita berdua! Bagaimana jika kita jatuh dari atas sini … bisa-bisa kita mati. Oh, aku yang mati … Asmodia tidak dapat terluka semudah itu hanya karena jatuh dari atas ketinggian,” ucap Idril yang sempat hampir memakinya. “Habisnya kau terlalu fokus sampai-sampai tidak menjawabku saat aku memanggilmu … apakah kau baru menyadari betapa tampannya aku?” Idril mengangguk dengan polosnya. Ia membuat sang duke gagal menahan senyumannya. Ia langsung bangkit dan mengacak rambut Idril asal.  Jika saja gadis itu dalam keadaan sadar sepenuhnya mungkin saat ini ia telah mengumpat dan memaki Gavril, karena merusak tatanan rambut yang dilakukan para pelayan dengan susah payah hanya untuk acara tersebut. “Apakah kau masih merasa sakit? Aku rasa … itu sudah cukup.” Gavril memperhatikan kembali pada bagian perut Idril yang tampak kotor akibat noda kemerahan anyir. Idril meraba lukanya dan tidak lagi merasa sakit, sehingga ia hanya mengangguk saja.  Mereka terdiam dalam waktu yang lama sampai akhirnya tiba-tiba Gavril dikejutkan dengan gadis bersurai pirang yang melempar tubuhnya ke dalam dekapannya.  “Kau benar-benar mabuk … sudah kubilang untuk tidak meminumnya dalam sekali teguk.” “Hei … Idril, kau sempat bertanya bukan apa yang sebenarnya kuinginkan. Aku telah memikirkannya sejak tadi … dan aku rasa aku memang setuju dan yakin dengan jawabanku,” Idril mencoba berpikir dan membuka kembali rekam jejak yang ditinggalkan pria pemilik emas itu.  “Kau tahu … bagaimana jika menjadikan rumor itu menjadi nyata?” “Apa maksudmu dengan menjadikan rumor menjadi nyata?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN