Terbayang-bayang

1613 Kata
“Uh … kepalaku rasanya seperti ingin pecah,” keluh Idril dengan suara parau. Tubuhnya terasa seperti akan remuk. Manik krimsonnya tampak mengintip dari balik bulu matanya yang lentik. Cahaya matahari yang menelisik masuk melalui tirai jendela mengharuskan sang marchinosess untuk membuka mata. Dengan tubuh yang masih berbaring dan mata separuh terpejam. Idril memandangi langit-langit kamar. Ia menikmati suasana yang sunyi di mansion Tinuvel setelah sekian lama. Tapi sesaat sebelum kembali memejamkan mata Idril sebuah ingatan muncul begitu saja.  “Astaga … apa yang terjadi semalam?! Siapa yang sebenarnya gila! Aku atau dia …?” Idril tiba-tiba memekik panik. Ia meraih sebuah bantal dan menutupi wajahnya yang terasa memerah.  Ingatan kejadian semalam saat pesta terulang. Gadis itu mengingatnya, ia masih dapat terbayang bagaimana sosok sang duke Vladmire yang tampak begitu berbeda. Tidak ada sorot jenaka di kedua manik keemasannya, ia juga tidak terlihat menakutkan dengan tatapan dingin yang selalu ditakuti bangsawan lainnya. Gavril tidak seperti sosok duke Vadmire yang akan membuat orang-orang gemetar ketakutan.  Tanpa sadar Idril menyentuh bibir plum miliknya.  Ia kembali teringat dengan benda kenyal yang berhasil membuatnya kehilangan akal sehat untuk beberapa saat. Ciuman semalam terlalu membekas. Ini tidak seperti saat pertama kali sang duke melakukannya tanpa sepengetahuan Idril. Semalam sesuatu sedang menyihir mereka berdua. Jika saat di kediaman Vladmire Gavril masih dapat menahan dirinya, semalam justru Idril lah yang memprovokasinya.   “Apa maksudmu dengan menjadikan rumor menjadi nyata?” Setelah mengajukan pertanyaan tidak masuk akal, Gavril memalingkan wajahnya. Entah karena Idril yang sedang di bawah pengaruh wine atau cahaya rembulan, tapi seingat gadis itu sang duke tampak memerah. Dan melihat pria bermanik keemasan tersebut tersipu membuat Idril pun bereaksi sama.  Dan suasana pun kembali sunyi. Idril belum membuka mulut untuk memberikan jawabannya. Ia masih tidak tahu apa yang ada di benak pria itu karena pertanyaan yang baru saja diajukannya terasa seperti sebuah ajakan untuk berkencan.  Akal sehat Idril berkata tidak. Ia mencoba memberikan penjelasan logis apabila ia mengiyakan sang duke. Tapi jantungnya seolah sedang memberontak karena berdebar cepat. Dan kinerja organ Idril menjadi kacau balau. Sehingga ia mencoba mengacuhkan sang duke, tapi lagi-lagi tubuhnya berkhianat. Tiba-tiba saja ia melempar tubuhnya ke arah Gavril dan menangkup kedua pipi sang duke. Tidak sampai disana, Idril menyatukan bibir mereka berdua. Adegan memalukan itu terus berputar berulang-ulang di benaknya. Idril bahkan sampai tidak tahan dengan dirinya, karena tindakan bodohnya yang tampak konyol dan menggelikan di hadapan sang duke. Ia jadi menyesali pilihannya meneguk wine. Dan setelah melakukan hal memalukan tersebut Idril kehilangan kesadarannya. Satu-satunya hal yang ia ingat adalah kehangatan dari tubuh seseorang dan siluet pria bermanik keemasan yang meletakkannya di atas ranjang.  “Astaga … aku dan dia hanya terikat karena perjanjian. Mengapa kami justru bertindak sampai sejauh ini,” lirih Idril dengan suara yang teredam bantal. Ia menghela nafasnya pelan sebelum melempar bantalnya kembali ke tempat tidur.  “Aku tahu itu semua untuk menyelamatkanku … tapi seharusnya dia tidak perlu menciumku sesering itu bukan? Maksudku … dia yang mulai membawa hubungan kami menjadi sesuatu yang diluar perjanjian.” “Tapi … bahkan jika duke memang menginginkannya aku harus melakukannya.” Benar, sekalipun Gavril melakukan hal diluar kepentingan perjanjian, ia memiliki hak tersebut. Itu semua karena Idril sendirilah yang menjadikan jiwa, harta, serta tubuhnya untuk kepala keluarga Vladmire tersebut.  “Tapi apa yang dimaksud dengan menjadikan rumor menjadi kenyataan? Apakah aku salah jika mengartikannya sebagai tanda bahwa dia ingin menjalin hubungan … romansa?” Idril tiba-tiba termenung dan kembali memerah. Bayangan kata romansa dan segala sesuatu yang dilakukan pria dan wanita melintas di benaknya. Dan itu membuatnya kembali merasa malu. Ia terlonjak kecil ketika mendengar suara ketukan pintu.   “Marchioness, Anda sudah bangun? Saya Kepala Pelayan yang baru datang ingin membawakan sarapan dan jadwal Anda pagi ini.” Setelah merapikan bantal-bantal yang berserakan di atas tempat tidur, dan berdehem beberapa kali akhirnya Idril dapat meredakan rasa malu dan pemikiran liarnya di pagi hari, “Masuklah …” “Nona, Anda bagaimana perasaan Anda? Apakah Anda sudah merasa jauh lebih baik?” Seorang pria muncul sembari mendorong sebuah troli berisikan makanan yang diduga sebagai sarapan untuk Idril. “Jauh lebih baik … apakah semalam pesta selesai dengan baik? Tidak ada masalah apapun bukan?” tanya Idril pada sang kepala pelayan. Sebenarnya Idril cukup merasa kecewa, karena Irine tidak dapat sembuh dalam waktu cepat. Tapi pelayannya itu mengalami luka yang sangat parah. Perlu waktu lama untuk sembuh, sehingga akhirnya Gavril memerintahkan salah satu orang kepercayaannya menjabat tugas penting tersebut. “Segalanya berjalan dengan lancar. Duke telah membereskan segalanya. Bahkan termasuk membawa Anda yang mabuk kemari.” Jawaban pria berkacamata itu hampir membuat Idril tersedak.  “Zeref, apakah kau sedang menyindirku karena minum terlalu banyak?” Idril kembali meneguk s**u dari gelasnya dan mencoba memberikan jawaban kepada sang kepala pelayan yang mulai menata satu persatu hidangan.  “Semacam itu … bukankah akan sangat berbahaya jika sampai Anda mabuk dan seseorang menyerang atau mungkin mencoba membunuh Anda seperti terakhir kali?” Zeref berhasil membuat Idril mendelik kesal dan tersudutkan.  “Kau ternyata cukup berisik dan cerewet ya …? Kupikir dulu kau adalah ksatria duke yang pendiam dan kompeten. Apakah kau menikmati peranmu sebagai kepala pelayan?”  Zeref tertawa kecil. Ia tidak menghilangkan senyuman simpul dari wajah tampannya. Tangannya sibuk membereskan berbagai hal, seperti mengambil cangkir yang kosong dan menyodorkan lembaran kertas kepada gadis bersurai pirang itu.  “Saya hanyalah seseorang yang cukup mudah untuk menyesuaikan diri saja … jadi, saya menjadi banyak bicara karena saya seorang kepala pelayan sekarang,” jawab Zeref.  Tidak lama suasana kamar hanya berisi dengan suara dentingan peralatan makan, kertas yang dibalik, dan deritan tirai yang terbuka. Idril membaca deretan baris tulisan tangan Zeref. Ia membaca satu persatu jadwal yang harus ia lakukan. Tapi entah mengapa Idril tidak dapat memusatkan perhatiannya, ia justru terbayang-bayang dengan sang duke. Berbagai pertanyaan muncul di benaknya seperti, apakah pria itu tidak merasakan hal yang sama sepertinya? Bagaimana perasaannya setelah semua hal yang terjadi di malam itu? Tapi Idril tahu bahwa pertanyaan itu hanya akan menjadi pertanyaan kosong belaka mengingat pribadi sang duke yang sulit untuk diduga.  “Marchioness, apakah Anda baik-baik saja?” Suara Zeref membawa Idril kembali ke kenyataan. Ia memandang pria berkacamata itu selama beberapa saat, sebelum akhirnya mengangguk untuk menjawab pertanyaannya.  “Apakah ini semua jadwalku untuk hari ini? Astaga … bukankah ini sedikit berlebihan untuk hari pertama sebagai seorang Marchioness,” ujar Idril yang telah mengangkat tinggi lembaran tulisan tangan yang sempat disodorkan padanya.  “Justru karena hari ini adalah hari pertama Anda, Nona. Banyak hal yang harus Anda selesaikan. Selain mengurus dokumen yang sempat dipindah tangankan secara paksa, raja juga telah memberikan tugas kepada Anda.” Idril meletakan lembaran kertas di atas troli. Ia beranjak dari ranjangnya dan mulai melangkah ke hadapan jendela. Ia mencoba melakukan sedikit peregangan dengan malas. Bahkan kini benaknya tengah melalang buana kesana-kemari. Dan itu membuatnya kesulitan mendengarkan penjelasan singkat Zeref tentang tugas-tugasnya pagi ini.  “Nona, saya serius bertanya … apakah Anda baik-baik saja? Apakah saya perlu menyiapkan air madu untuk meredakan mabuk Anda?” tanya Zeref. Tidak mungkin ia tidak menyadari bahwa saat ini gadis bersurai pirang tersebut sedang tidak mendengarkan penjelasannya. Mungkin benar, raganya ada disini tapi ia yakin benaknya sedang mengarungi lamunan. “Aku baik-baik saja … sudah berapa kali kau bertanya padaku. Aku jadi khawatir, sebenarnya siapa yang sedang tidak baik-baik saja.” Idril meraih jubah tidur yang telah dibawa oleh sang kepala pelayan sebelum akhirnya melangkah keluar kamar. Ia berpikir untuk meredakan pening dan rasa mabuknya yang masih sedikit tertinggal dengan berjalan-jalan di taman.  “Saya bertanya memastikan keadaan Anda, karena Anda tampak tidak mendengarkan saya … Anda melamun dan tidak memperhatikan saya,” kata Zeref yang telah memberikan isyarat kepada para pelayan untuk membawakan cemilan dan teh air madu.  “Aku tidak melamun. Aku tahu dengan penjelasanmu. Tugas hari ini adalah memeriksa dokumen rencana untuk perdagangan dengan negara Lucerima bukan? Kemudian ada juga pertemuan dengan para bangsawan wilayah. Lihat, sudah kubilang aku mendengarkanmu,” Meski jawaban sang nona terdengar sangat meyakinkan Zeref masih merasa ragu. Entah ini adalah kebiasaan seorang ksatria yang selalu berhati-hati atau bagaimana.Tapi pada akhirnya ia memilih untuk mengikuti instingnya, “Apakah terjadi sesuatu semalam?” Idril menghentikan langkahnya. Ia melipat tangannya dan kembali berjalan untuk sesaat meski hanya memperhatikan dari belakang Zeref dapat mengetahui gerak-gerik sang nona yang cukup mencurigakan. “Tidak ada apa-apa … apakah kau mencoba kembali membawa masalah tentang aku yang mabuk semalam? Sesuatu apa yang kau maksud?” Idril mencoba bertingkah lugu. “Tapi mengapa duke memanggil dokter Schulze? Beliau langsung memerintahkan butler Isaac untuk segera datang,” kata Zeref yang tiba-tiba teringat dengan salah satu sikap sang duke yang cukup aneh. “Ah … itu karena lukaku kembali terbuka. Bukankah para pelayan yang menggantikan bajuku juga tahu? Ada bekas darah di sana …” “Zeref … apalagi yang terjadi setelah itu.” Zeref menaikan sebelah alisnya. Baiklah, ia merasa seperti sang nona sedikit penasaran dengan kejadian yang berhubungan dengan sang duke. Meski begitu Zeref memilih untuk pura-pura tidak mengetahuinya dan menjawab pertanyaan gadis bersurai pirang tersebut. “Tidak ada lagi, Nona. Duke kembali ke kediamannya setelah pesta selesai dan dokter memeriksa keadaan Anda. Beliau kembali pada dini hari sekitar pukul 1 pagi,” jelas Zeref serinci mungkin. Idril sendiri hanya diam, setelah cukup lama tiba-tiba ia berbalik dan melangkah meninggalkan pergi.  “Nona … jangan-jangan apakah sesuatu terjadi dengan du⸺” “Zeref, kau terlalu banyak bicara. Bukankah kau bilang jadwalku sangat padat hari ini? Lalu mengapa kau masih bertanya lagi dan lagi?” Idril meninggalkan sang kepala pelayan yang akhirnya membungkuk dan berjalan mengekor mengikutinya.  “Mohon maaf, Marchioness.” ... 'Astaga ... hampir saja. Sial! Pria itu benar-benar membuatku terbayang-bayang lagi dan lagi,' keluh Idril di dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN