Brukkk
“Jadi … ini adalah dokumen yang harus Anda selesaikan. Bagian ini, dokumen yang berisi rencana dagang dengan Luxcrime. Sementara bagian ini adalah dokumen-dokumen yang harus dibaca untuk pertemuan bersama para bangsawan.”
Manik krimson Idril berulang kali melihat satu persatu dokumen yang telah ditata rapi oleh sang kepala pelayan. Zeref benar-benar menjalankan tugasnya dengan sangat baik, bahkan ia mengelompokan setiap dokumen dan memberikan catatan kecil di atasnya. Idril pikir saat Gavril berkata tugas kepala pelayan cocok untuknya karena ia merupakan seseorang yang kompeten. Ternyata sang duke tidak berbohong dengan ucapannya.
“Aku … harus menyelesaikan ini semua? Di hari ini juga …? Apakah ini pekerjaan yang telah menumpuk selama Tinuvel tidak ada yang mengambil alih?” tanya Idril yang mengambil salah satu lembaran kertas.
“Begitulah, Nona. Meski yang mulia raja sebenarnya telah memerintahkan count Wilford, tapi ya … Anda tahu.” Zeref tidak dapat meneruskan ucapannya. Bukannya ia tidak bisa, sang kepala pelayan hanya merasa sungkan karena mengkritik paman nona mudanya itu.
“Dia tidak bekerja dengan semestinya bukan? Count membuat dokumen-dokumen itu berdebu … itulah mengapa sekarang pekerjaanku sangat banyak dan bertumpuk,” sahut Idril tanpa ekspresi. Bukannya ia marah pada kepala pelayannya itu, ia hanya sedang mencoba berkonsentrasi kepada lembaran-lembaran kertas saja.
“Saya meminta maaf … saya hanya menjelaskan saja sesuai yang sesuai dengan kenyataan. Saya sama sekali tidak berniat untuk mengkritik atau merendahkan count.” Zeref membungkuk setengah badan. Ia merasa bersalah karena gadis bersurai pirang itu harus meneruskan ucapannya.
“Tidak perlu meminta maaf. Hanya karena count adalah pamanku, bukan berarti kau tidak boleh mengatakan hal-hal semacam itu padaku. Ini tidak seperti kau sedang mencela atau mencaci maki dia.”
“Lagipula aku cukup tahu … bagaimana liciknya rubah tua itu. Meskipun pada akhirnya dia berusaha melakukan yang terbaik untuk menyelamatku. Mungkin saja dia baru menemukan rasa bersalah itu ketika menemui ajalnya,” imbuh Idril setengah terkekeh.
Zeref memilih untuk tidak menanggapi ucapan sang marchinosess. Ia hanya diam dan mendengarkan saja dengan seksama. Bukannya ia tidak menghormati sang nona, justru karena ia menghormati Idril Zeref mencoba untuk tidak berbicara secara asal. Lagipula seburuk apapun count ia tetaplah bagian dari keluarga Tinuvel. Meski sebenarnya duke pernah hampir mencabut pedangnya untuk mengancam pria tua itu.
“Astaga … apakah aku harus menyelesaikan ini semua dalam satu hari? Aku rasa aku tidak sejenius duke atau kakak laki-laki ku,” keluh Idril sebelum menyelesaikan lembaran di tangannya. Ia bahkan belum membacanya sampai habis, tapi ia juga perlu mempertimbangkan banyak hal.
“Tenang saja, Nona. Raja tidak meminta Anda untuk menyelesaikannya secara cepat, karena ini masih rencana yang diajukan oleh kerajaan tetangga, jadi kita harus menunggu sampai mereka benar-benar memberikan dokumen yang lebih matang.”
“Jadi … kali ini pihak kerajaan lain yang meminta untuk bekerja sama dengan kita. Wilayah Tinuvel memang berada dekat dengan daerah pertambangan. Hasil tambang kita menjadi pemasok utama di Zoresham.”
“Benar, Nona. Dan Luxcrime sedang mengembangkan sebuah bahan bakar baru. Mungkin mereka ingin memiliki bahan bakar selain minyak,” kata Zeref.
Dan selanjutnya percakapan mereka tidak jauh dari tumpukan dokumen-dokumen yang menunggu gilirannya untuk menjadi topik pembicaraan keduanya. Kemudian terkadang tidak ada percakapan di antara mereka karena Idril yang memilih diam dan menjatuhkan fokus kepada dokumen-dokumen tersebut.
“Apakah Anda ingin camilan? Anda tidak dapat melewatkan makan siang begitu saja, Nona,” ujar Zeref yang membuat Idril menghentikan kegiatannya membaca deretan huruf. Ia memandang ke arah jam kuning kecil yang menghiasi sudut meja.
“Kau benar … aku juga lapar. Bawakan saja makan siang ku, aku tidak akan memakan camilan,” kata Idril.
Setelah menerima perintah dari sang marchinosess Zeref segera beranjak dari tempatnya untuk menyiapkan makan siang, sehingga selepas kepergian sang kepala pelayan ruangan kerja Idril menjadi sampai. Namun hal tersebut tidak bertahan lama, karena gadis bersurai pirang tersebut menguap beberapa saat dan memilih untuk meletakkan lembaran kertasnya di atas meja.
Idril menyandarkan punggungnya yang terasa kaku pada kepala kursi dan mulai memperhatikan tiap sudut ruangan. Meski sempat didatangi para penyusup gila, sehingga beberapa bagian ruangan mansion kembali kacau balau ruangan yang dikelilingi rak-rak kayu berisikan buku-buku dan lembaran kertas tetap sama. Tidak ada yang berubah, ruangan yang selama ini selalu digunakan mendiang ayahnya tidak tersentuh sama sekali.
Seulas senyuman menawan terukir di kedua sudut bibir sang marchinosess yang sedang memandangi meja kayu di hadapannya, “Siapa sangka yang akan duduk di sini bukanlah Aldrich. Ayah … akhirnya justru aku yang menempati ruangan ini. Apakah aku bisa membawa tugas ini di kedua pundakku?”
Idril mengusap permukaan meja. Ia memandang jauh entah kemana. Tanpa sadar ia kembali larut ke dalam memori-memori masa lalu. Menapaki jejak-jejak bersama mereka yang tidak lagi bersamanya. Idril baru kembali ke daratan setelah tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar. Tidak lama kemudian sosok pria berkacamata muncul dari baliknya. Zeref memandang dengan tatapan bingung untuk beberapa saat, sebelum akhirnya mendorong masuk troli ke dalam ruangan.
“Apakah terjadi sesuatu, Nona?” tanya Zeref sembari meletakan satu persatu piring yang berisi hidangan makan siang sang marchinosess.
“Tidak ada … makan siang kali ini terlihat sangat lezat. Atau ini karena aku yang terlalu lapar dan lelah?”
“Saya rasa begitu … karena setelah ini Anda akan menghadiri pertemuan bersama para bangsawan, saya rasa Anda harus melahap semuanya sampai habis. Tidak akan ada makan pencuci mulut atau camilan juga.”
“Kau akan membuatku menggemuk … aku harus menjaga berat badan, Butler. Apakah kau ingin Nona mudamu yang jelita ini berubah?”
Zeref terkekeh pelan dan menggeleng, “ Tidak, bukan begitu, Nona … tapi Anda akan bertemu dengan para bangsawan.Menghadapi kumpulan orang-orang tua yang kolot dan juga keras kepala akan sangat menguras tenaga.”
Idril yang hendak memasukan daging steak tiba-tiba tangannya terhenti di udara, sebelah alisnya naik begitu mendengar ucapan sang kepala pelayan, “Bagaimana bisa kau mengatakan hal semacam itu? Memangnya seburuk itu …? Hanya karena mereka orang-orang yang berusia senja kau bisa menyebut mereka kolot.”
“Saya tidak sedang mengada-ada, Nona. Bahkan duke yang sering menghadapi mereka sering dibuat kesal setengah mati. Padahal butler Isaac sampai harus berjuang mati-matian agar beliau tidak menumpahkan darah mereka di kediaman Vladmire.”
Zeref menghela nafasnya saat sang duke menerima pertemuan rutin bersama para bangsawan. Ketika ia mendapat tugas mengawal pria bermanik keemasan itu biasanya ruangan akan dipenuhi suasana sesak dan senyap. Bahkan hanya untuk bernafas terasa sangat sulit. Meski begitu bangsawan-bangsawan lain tetap berusaha menentang pendapat pemimpin tertinggi kedua setelah raja tersebut. Itulah mengapa Zeref menyebut mereka kolot dan keras kepala.
“Begitukah …? Kalau begitu haruskah kita menemu para orang tua yang kolot itu …?” Dan setelah acara makan siangnya selesai Idril segera beranjak dari ruangan kerjanya. Ia menuju ruangan selanjutnya karena waktu yang telah menunjukan bahwa ini adalah saatnya mereka mendatangi pertemuan pertamanya bersama para bangsawan yang berada di bawah pengawasannya.
Satu hal yang ia ketahui dari pertemuan itu, semua ucapan Zeref semuanya benar. Bahkan termasuk kepribadian mereka yang keras kepala dan memandangnya seperti seorang bocah berusia 10 tahun.
Mereka mengadakan acara pertemuan yang tidak lebih mirip dengan adu mulut karena satu bangsawan dengan yang lain mencela. Belum lagi Idril seakan menerima perintah dari mereka untuk melakukan ini dan itu, sehingga kesabaran sang marchinosess pun habis.Ia memberikan tatapan tajam yang siap membunuh siapa saja yang berani berbicara.
“Bukankah pertemuan ini dilakukan agar saya dapat mendengarkan laporan kalian. Saa tidak membutuhkan perintah dari kalian. Saya adalah orang yang menjadi pengawas dan harus dipatuhi … jadi, jangan memberikan perintah pada saya … atau jika kalian berani melakukannya saya akan pastikan kalian semua menyesal.”
Melihat gadis bersurai pirang tersebut berucap dengan nada yang dingin dan pandangan mengintimidasi membuat para bangasawan meneguk saliva. Entah mengapa bayangan sosok pria bermanik keemasan juga memiliki pandangan dan nada berbicara yang sama. Mungkin selama bercengkrama dengan sang duke membuat Idril tanpa sadar meniru bagaimana pria itu menghadapi situasi semacam ini.
Setelahnya pertemuan pun berlangsung hingga matahari terbenam. Idril yang diikuti sang kepala pelayan menyusuri lorong dengan wajah kusut. Ia tampak begitu lelah, bahkan begitu sampai di kamarnya Idril langsung menuju ke atas ranjang dan berbaring.
“Kerja yang bagus, Marchinosess. Saya akan meminta para pelayan menyiapkan air mandi untuk Anda,” kata Zeref yang telah meninggalkan Idril sendirian.
“Aku lelah …,” keluh Idril dengan suara lirih. Dan begitulah hari sang marchinosess yang sibuk berakhir.