Dihindari Sang Duke

1586 Kata
Derap langkah terdengar di sepanjang lorong. Seorang gadis bersurai pirang mengenakan setelan jas berwarna putih, celana, dan sepatu boots tinggi melangkah memasuki banguna megah yang menjulang tinggi. Di belakangnya pria berkacamata setia mengikutinya. Beberapa pelayan dan pengawal yang melihat sosok kontroversial baru-baru ini hanya bisa terpesona. “Marchinosess Tinuvel terlihat sangat keren. Sepertinya tatapan mereka berkata demikian,” kata sang butler yang masih melangkah mengikuti nona mudanya dengan tenang. “Jangan mengada-ada … tapi mungkin itu benar, aku lelah mendapat tatapan seperti itu sejak kita memasuki istana. Apakah ini karena aku kepala keluarga wanita pertama?” Idril menyibak helaian surai pirang keemasannya. Beberapa pengawal dan pria bangsawan lain yang berjalan melewati mereka sempat berhenti untuk mengagumi sang marchinosess dan kecantikannya. “Anda dapat membuat seluruh pria bertekuk lutut, jika terus menebar pesona begitu, Marchinosess.”Zeref mengangkat sebelah alisnya ketika melihat salah seorang pria yang menghantam pilar karena terlalu memperhatikan mereka. Ia jadi sedikit merasa kasihan mengingat sang marchinosess yang bahkan tidak bergeming sama sekali ketika bertemu dengan mereka. “Menebar pesona …? Ini bukan salahku karena terlahir menjadi cantik dan idaman mereka. Sudahlah, lagipula kedatanganku kemari bukan untuk menunjukan kecantikanku. Ini hanya karena pertemuan bulanan saja.” Hari ini Idril mengunjungi istana. Sebuah surat dari istana tiba seminggu yang lalu, ia menerima perintah untuk datang dan mengikuti pertemuan para kepala keluarga. Mengingat kini dirinya telah resmi menjabat sebagai kepala keluarga Tinuvel yang mana artinya ia harus melaksanakan perintah dalam surat tersebut. Bahkan udara dingin musim gugur tidak menghentikan dirinya, karena tidak hanya Idril seorang saja. Para kepala keluarga lainnya pun menerjang angin kencang dan mengenakan pakaian yang cukup hangat, mencegah agar mereka tidak terkena flu. Idril sendiri memilih tidak mengenakan gaun indah yang disiapkan para pelayan untuknya. Ia justru mengenakan setelan jas formal putih dan sebuah jubah berwarna senada untuk menghangatkan tubuh. Penampilan yang cukup aneh memang. Tapi kedatangannya ke istana adalah untuk memenuhi panggilan sang raja sebagai salah satu kepala keluarga dan pemimpin wilayah, begitulah jawaban yang diberikan sang marchioness saat ditanya. “Aku akan melakukan pertemuan dan melaporkan setiap hal yang terjadi di wilayah kita, Tidak hanya itu aku juga harus memberikan laporan tentang kerja sama dengan kerajaan tetangga … lalu untuk apa aku mengenakan gaun?” “Aku bukannya ingin menghadiri pesta dansa atau kencan, jadi aku akan mengenakan setelan jas saja … lalu jangan memberikan terlalu banyak perhiasan. Jam tangan saja … untuk gaya rambut, aku hanya ingin dibuat sederhana.” Tidak ada yang mampu menentang ucapan dan perintah gadis bersurai pirang tersebut. Para pelayan akhirnya memandang ke arah pria berkacamata yang mengangguk, menyetujui ucapan sang marchioness. Lagipula perintah yang diberikan kepada mereka masuk akal, jika ia berdandan terlalu berlebihan pasti bangsawan lainnya akan mencibir. Sayangnya meski hanya mengenakan setelan jas formal Idril justru menerima berbagai tatapan dan decak kagum. Ia bahkan mulai terbiasa dengan suara-suara berbisik yang membicarakan pesona dan kharismanya. “Aku sudah merasa lelah lebih dulu … padahal memasuki ruangan saja belum,” kata Idril tepat sebelum pintu kayu tinggi dibuka. Zeref tersenyum simpul. Entah mengapa ia sedikit merasa bahwa gadis bersurai pirang tersebut memiliki kemiripan dengan sang duke. Selain tatapan dingin, ucapan pedas dan sarkas. Sang marchioness juga seseorang yang selalu menginginkan hasil sempurna. Atau bisa dibilang ia perfeksionis. Tidak hanya itu kepercayaan diri gadis tersebut cukup tinggi. “Bertahanlah, Nona. Kemudian saya mohon untuk tidak terlalu bersikap kasar dan sarkas. Hari ini Anda akan bertemu dengan yang mulia raja dan pangeran pertama.” Zeref mencoba memberikan peringatan agar sang nona dapat bersikap lembut. Mendengar sang butler yang terdengar khawatir membuat Idril mendelik kesal. Ia memilih untuk mengacuhkan pria berkacamata tersebut dan melenggang masuk setelah pintu terbuka. Sayangnya langkah sang marchioness terhenti. Alasannya adalah keberadaan salah satu sosok yang sudah cukup tidak terlihat di matanya. Pria bermanik keemasan dan bersurai legam yang juga mengenakan setelan jas formal duduk dengan tangan yang menjadi tumpuan wajahnya. “Ada apa, Marchioness?” tanya Zeref yang hampir membuat Idril terlonjak karena terkejut. Ingin rasanya Idril mencekik leher sang butler hanya memandangnya dengan tatapan polos dan tidak berdosa. Tapi Idril memilih menelan rasa kesalnya bulat-bulat dan melanjutkan langkahnya. Kemudian ia mendudukan dirinya di samping sosok yang sempat membuatnya terpaku. Karena posisi Tinuvel ia setingkat tepat berada di bawahnya, sehingga mau tidak mau ia menempatkan dirinya di sana. “Selamat pagi, Duke Vladmire. Bagaimana kabar Anda?” Idril akhirnya bertanya setelah berhasil menenangkan degup jantungnya yang hampir saja lepas. Ia mengulum senyum yang begitu tipis. Bahkan ia yakin tidak ada yang menyadari senyuman kecilnya itu kecuali sang duke. Iris keemasan Gavril hanya memandang sekilas, ia kembali memandang ke arah depan dan memperhatikan pemandangan para bangsawan yang berlalu-lalang. Mereka mulai menempati kursi mereka yang kosong satu persatu. kursi mereka yang kosong satu persatu. “Oh … Marchioness Tinuvel, ternyata. Saya baik-baik saja. Terima kasih karena sudah bertanya.” Jawaban singkat dan seadanya. Idril hanya dapat termenung mendengar sang duke yang tidak terlalu banyak bicara. Padahal mereka sudah cukup lama tidak bertemu sejak pesta perayaan, tapi pria itu bertingkah seolah tidak ada apa=apa yang terjadi di antara mereka. Dan sikapnya berhasil membuat Idril merasa kesal sendiri. Setelahnya tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Sang raja dan pangeran pertama telah tiba dan memasuki ruangan. Sehingga Idril sendiri memilih untuk fokus pada pertemuan pertamanya bersama sang raja. Ia tidak dapat membuat kesalahan di hadapan mereka, karena ini adalah debut pertamanya sebagai marchioness. Mungkin itu sebabnya jantungnya berdegup dengan cepat. Sesekali manik krimsonnya mencuri pandang ke arah sang duke yang tampak tenang dan mendengarkan laporan satu persatu bangsawan. Sesekali ia akan ikut menimpali. Sebenarnya Gavril bukan seseorang yang senang berkomentar. Sehingga saat raja menanyakan pendapatnya, ia baru mulai berbicara. Tapi Idril hanya bisa memperhatikan mereka dan mengeratkan genggamannya yang terasa begitu dingin. Ia dapat merasakan keringat dingin yang membasahi telapak tangannya. Sebentar lagi gilirannya tiba. Idril berulang kali membaca lembaran kertas yang telah berada di atas meja. ‘Ayah … Aldrich pinjamkan kekuatan kalian. Semoga aku bisa berbicara dengan jelas dan tidak terlihat bodoh.’ Idril berdoa dalam hati. Berharap ia mendapatkan ketenangan dan kekuatan. Dan setelah bangsawan terakhir menyelesaikan laporannya Idril memandang ke arah dua orang yang duduk di ujung meja. Sang raja dan pangeran pertama mengulum senyum seolah sedang memberikan semangat dan menantikan laporannya. Namun tiba-tiba Idril merasakan nafasnya mulai memberat. Ia memandangi kertas di tangannya satu persatu. Kalimat-kalimat yang telah disusunnya mendadak menghilang begitu saja. Idril terjebak di dalam kebingungan sampai sebuah tangan menggenggam tangannya, menyalurkan kehangatan dan ketenangan. Tanpa harus melihat sosok dibalik pemilik tangan tersebut Idril telah mengetahui lebih dulu. seseorang yang dengan berani melakukan hal semacam ini, tidak lain tidak bukan adalah pria bersurai kelam di sampingnya. Usapan menenangkan pada tangannya membuat Idril merasa jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. Meski Gavril tidak memandang ke arah gadis bersurai pirang itu ia dapat mengetahui bila sang marchioness tengah dilanda kegugupan. Namun ia cukup terkejut ketika merasakan genggaman tangannya dibalas oleh Idril. Dan setelahnya Idril mulai menjelaskan laporannya. Ia bahkan tidak terlihat gugup sama sekali. Termasuk saat beberapa bangsawan menimpali dan menanggapi laporannya Idril dapat membalas ucapan mereka dengan sangat lancar. Melihat bagaimana seorang gadis muda kompeten dalam menjalankan setiap tugasnya membuat Killian tersenyum senang. Entah mengapa melihat generasi selanjutnya memiliki kemampuan memimpin membuatnya merasa bangga. Demikian acara pertemuan tersebut berlangsung. Beberapa kali mereka beradu argumen, mengeluarkan pendapat, termasuk dari sang raja maupun pangeran pertama. Selama hampir setengah hari juga Gavril tidak melepaskan genggamannya. Walaupun ia harus melepaskannya sang duke akan kembali menggenggam tangan Idril. Beruntung tidak ada yang mengetahui tindakannya. “Kalau begitu, saya rasa itu saja … terima kasih karena telah berjuang keras untuk Zoresham. Semoga cahaya selalu menuntun kita pada jalan yang dipenuhi kebahagiaan dan kedamaian.” Ucapan penutup Killian menjadi tanda bahwa pertemuan mereka hari ini telah berakhir. Dan disaat itu juga Gavril melepaskan genggaman tangannya. Tanpa mengeluarkan satu patah kata pun sang duke bangkit dari kursinya lebih dulu dan meninggalkan Idril yang masih termenung. Tapi tidak lama ia segera melangkah tergesa untuk mengikuti pria bermanik keemasan itu. Mereka berjalan cepat, Idril melangkah lebar agar dapat menyamakan langkahnya dengan sang duke. Gavril yang sadar dengan keberadaan sosok gadis pirang itu akhirnya menghentikan langkahnya dan berbalik secara tiba-tiba, sehingga membuat Idril mengerem mendadak langkahnya, ia hampir saja terpeleset jika saja sang duke tidak segera menarik pergelangan tangannya. “A-aku … saya … berterima kasih atas bantuan Anda di dalam ruang pertemuan. Saya juga berterima kasih karena sudah menahan tubuh saya agar tidak limbung,” kata Idril ketika melihat sorot manik keemasan sang duke. Tidak ada yang berbicara setelahnya, sehingga Idril kembali memandang ke arah sosok Gavril yang ternyata juga melakukan hal yang sama, “Sudah itu saja?” “Eh …? A-ah … iya. Tidak, saya hanya ingin bertanya apakah saya berbuat sesuatu yang salah?” Idril akhirnya melontarkan pertanyaan yang selama ini telah ditahannya. Ia berhasil menanyakannya pada sang duke. Sayangnya Idril justru menyesali pilihannya untuk bertanya. “Tidak ada … jika tidak ada lagi yang Anda ucapkan, maka saya permisi untuk kembali ke kediaman saya.” Singkat dan padat Gavril sama sekali tidak berniat untuk mengucapkan apapun lagi. Dan setelahnya ia benar-benar meninggalkan Idril yang hanya bisa terdiam. Selama beberapa saat Idril hanya berdiri dan memandangi punggung sang duke yang perlahan mulai menghilang dari pandangannya. Meski pria itu sudah tidak lagi ada di sana, entah mengapa rasa kesal masih bergelayut manja pada Idril. “Sial, apakah aku baru saja dihindari? Apakah duke sedang menghindariku? Ada apa dengan sikap anehnya itu ...” Idril berbisik dengan kepala tertunduk, tidak lama kemudian ia memilih untuk melanjutkan langkahnya setelah sang butler berhasil menyusulnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN