Curahan Hati Idril

1819 Kata
Kediaman Tinuvel sedang dalam dilingkupi suasana yang tidak cukup baik. Para pelayan dan pengawal hanya dapat membungkam rapat bibir mereka. Tidak seperti hari-hari biasa ketenangan milik Tinuvel terasa sedikit berbeda. Dan hal ini tidak lain karena keadaan mood sang marchioness yang tampak tidak baik. Meski pada hari-hari biasa gadis bersurai pirang tersebut memang tidak banyak bicara, tapi kali ini diamnya kepala keluarga Tinuvel terasa aneh dan mengerikan.  Bahkan sang butler tidak memiliki keberanian hanya untuk bertanya. Meski sikap Idril memang tampak aneh. Ada beberapa hal yang membuat Zeref menyimpulkan sesuatu mungkin telah terjadi pada sang marchioness, salah satunya adalah Idril yang jadi jarang menanggapi ucapannya.  Meski gadis bersurai pirang tersebut seseorang yang tidak terlalu bicara, tetapi ia sendiri tidak seperti duke yang lebih sering mengacuhkan sang butler. Selain itu Idril juga jarang mengucapkan kalimat-kalimat sarkas. Dan ini semakin membuat Zeref gusar. Dan kebiasaan ini telah berlangsung selama hampir satu minggu.  “Apakah marchioness menghabiskan makanannya?” tanya seorang pelayan yang baru saja tiba. Ia bertugas untuk mengambil troli berisi makan siang Idril. Zeref melirik ke arah troli yang telah ia buka. Di sana terdapat dua buah piring yang bahkan masih tersisa hampir separuhnya lebih.  “Padahal kepala koki sudah memasak hidangan kesukaan beliau. Apakah Butler sudah bertanya kepada marchioness?” Zeref yang ditanya hanya dapat memalingkan wajah. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan salah satu pelayan. Alasan mengapa ia masih tidak dapat menanyakan bagaimana keadaan sang marchioness, karena perasaan sungkan dan takut.  “Maaf, saya mungkin hanya seorang pelayan biasa. Tapi jika boleh saya ingin memberikan pendapat saya. Butler, sekarang tidak lagi di mansion Vladmire.” “Mungkin benar … dahulu duke tidak pernah menyukai seseorang menanyakan keadaannya. Tapi meski demikian butler Isaac tetap melewati perintah tersebut. Karena beliau perlu melaksanakan tugasnya sebagai butler.” Zeref termenung. Ia mengingat sosok paruh baya yang selalu tampak sibuk di kediaman Vladmire. Ia juga satu-satunya orang yang terbilang cukup dekat dengan sang duke. Dan alasannya karena perannya yang menjabat sebagai butler.  ‘Seorang butler tidak hanya mengurus kediaman tuan mereka. Tugas kita adalah untuk mengurus dan memperhatikan tuan kita sendiri.’ Sederet pesan yang sempat terlupakan terbesit di benak Zeref. Seulas senyum simpul terukir di kedua sudut bibir pria berkacamata tersebut.  “Terima kasih … karena telah memberitahukan pendapat Anda. Saya akan melakukannya sesuai dengan yang Anda sampaikan. Saya sepertinya masih belum melepaskan kebiasaan sewaktu di Vladmire. Anda bisa kembali melanjutkan pekerjaan Anda.” Setelahnya Zeref kembali melangkah ke dalam ruangan. Ia melihat sosok gadis bersurai pirang yang masih berada di tempat yang sama. Sang marchioness duduk di balik meja kerja dengan lembaran kertas di tangannya. Kali ini tidak sebanyak awal dahulu, karena Idril yang hampir tidak pernah meninggalkan mejanya membuat setiap dokumen itu mengurang sepanjang waktu. Tapi karena tidak banyak yang dilakukan membuat sang marchioness memilih untuk memangku dagu dan memandang hamparan pekarangan mansion yang mulai dipenuhi dedaunan pohon maple. “Ternyata … kita sebentar lagi memasuki musim dingin ya ..,” ujar Idril yang terdengar di telinga Zeref. Sang kepala pelayan hanya mengangguk sebelum akhirnya mengikuti pandangan sang nona. Keheningan melingkupi ruangan hanya deru angin musim gugur yang beberapa kali terdengar menghantam kusen jendela. Tidak ada percakapan diantara mereka, meski sebenarnya Zeref telah menjatuhkan pandangannya pada sosok sang marchioness yang masih sibuk larut dalam benaknya. Ia menghembuskan nafas perlahan sebelum akhirnya berjalan mendekat di hadapan sang nona. “Marchioness, apakah … terjadi sesuatu?” Zeref mencoba bertanya sehati-hati mungkin, ia berusaha agar gadis bersurai pirang tersebut tidak merasa kesal dan mengusirnya. Tapi Idril bahkan tidak menoleh ke arahnya dan terus memandang ke arah jendela.  “Apa yang kau maksud dengan terjadi sesuatu? Apakah sesuatu terjadi?” Idril menjawab dengan suara datar. Tidak ada ekspresi sama sekali yang tergurat di paras ayunya. Dan ini semakin membuat sang butler resah.  “Saya … merasa Anda tampak aneh. Karena itu … saya bertanya apakah sesuatu telah terjadi? Apakah saya melakukan sebuah kesalahan sampai membuat Anda kesal?”  “Nona Idril … apakah Anda baik-baik saja?” Satu pertanyaan yang dilemparkan kepadanya berhasil membuat cairan bening lolos dari pelupuk matanya. Zeref sendiri tidak pernah menyangka bahwa ia akan melihat sang nona meneteskan air matanya. Karena dari yang ia tahu sang marchioness adalah sosok yang kuat.  “Apa maksudmu dengan menanyakan apakah aku baik-baik saja … tentu saja, aku baik baik saja. Apakah aku tidak terlihat baik-baik saja?” Idril kembali menjawab. Kali ini suaranya bergetar karena tangis, dan ini membuat Zeref menjadi panik. Tapi ia mencoba tenang dan tetap memandang ke arah Idril.  “Ya … menurut saya. Anda tidak baik-baik saja. Jika … jika ada yang bisa saya bantu, akan saya lakukan. Bahkan saya akan bersumpah untuk menutup mulut saya sampai mati, jika Anda memberitahukan saya tentang berbagai banyak hal.” “... selama Nona baik-baik saja dan tidak menjadi seperti ini,” imbuh Zeref setelah mencoba membujuk gadis bersurai pirang di hadapannya untuk berbagi luka. Setidaknya mungkin dirinya akan berguna.  Idril memandang ke arah sang butler akhirnya. Ia tampak menimbang-nimbang, apakah ia harus memberitahukan hal ini kepada Zeref atau tidak. Karena sejujurnya ia sendiri merasa malu dengan alasan di balik sikap yang disebut sang kepala pelayan itu aneh.  Namun melihat bagaimana Zeref memandang ke arahnya dengan tatapan tulus dan lurus tepat di kedua manik krimsonnya membuat Idril akhirnya memilih untuk mencoba berbagi pikiran dengan si pria berkacamata tersebut.  “Tapi bersumpah lah untuk tidak memberitahukannya pada siapapun. Tidak kepada sahabatmu, orang tuamu, bahkan duke sekalipun,” kata Idril yang telah memberikan peringatan kepada sang butler. Zeref sendiri hanya bisa mengernyitkan alisnya ketika mendengar ucapan aneh nona nya, meski begitu ia tetap mengangguk⸺mengiyakan. Tapi ada satu orang yang termasuk dilarang untuk memberitahukannya. Dan orang tersebut adalah sang duke.  “Saya bersumpah … saya tidak akan membuka mulut saya kepada siapapun, bahkan pada duke Vladmire sekalipun.” Idril menghela nafasnya pelan. Tidak lama ia bangkit dari duduknya dan mulai berjalan untuk berdiri di depan jendela. Iris krimsonnya tampak mengkilap karena sinar senja yang mulai turun.  “Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Tapi aku bingung dengan sikapnya. Maksudku … tiba-tiba saja dia menjadi dingin dan tidak menanggapi ku lagi. Apakah dia pikir aku sebuah patung atau semacamnya?” “Aku menanyakan kabarnya dan dia bahkan tidak bertanya apakah aku juga baik-baik saja? Bukan apa-apa, tapi bukankah dia sudah berjanji akan melindungiku dari apapun dan dia akan selalu bersamaku …”  “Eh … anu? Nona, dia … dia … siapa?” Zeref dipenuhi tanda tanya ketika tiba-tiba saja sang nona berbicara tanpa henti. Dan membicarakan dirinya yang diacuhkan oleh orang yang dipanggilnya dia ini.  Tentu saja, Zeref tidak mengetahuinya dengan pasti sosok yang ia maksud. Meski begitu melihat bagaimana emosinya sang nona ketika membicarakan ‘dia’ membuat Zeref tahu bahwa alasan diamnya sang marchioness adalah perasaan kesalnya ini.  “Jadi … Anda merasa marah karena dia mengacuhkan Anda?” tanya sang butler hati-hati.  “Siapa …?! Aku marah karena dia mengabaikanku? Menurutmu aku seperti itu …? Tidak aku hanya merasa sedang tidak dihargai sebagai wanita, itu saja. Padahal dia sendiri yang mulai mendekat dan semacamnya.” Idril terus menerus berbicara tanpa ada tanda titik, dan koma, sehingga Zeref pun kembali menemukan fakta bahwa sang marchioness mungkin berhari-hari menahan emosi ini. Dan karena rasa penasaran akhirnya otak sang butler bekerja keras untuk menemukan satu-satunya kemungkinan sosok dia. Tapi entah mengapa yang dapat dipikirkan dalam benaknya adalah si tuan muda berhati dingin, kepala keluarga para Asmodia.  “Apakah … jangan-jangan yang Anda maksud adalah duke Vladmire, Nona?” Zeref mengerjap beberapa kali setelah menanyakan hal yang sepertinya berhasil membuat Idril terdiam. Gadis itu memandangnya dengan tatapan kosong bahkan untuk sesaat ia terlihat seperti orang dungu karena tidak dapat mengerti maksud ucapan sang butler.  “Benar … jadi, orang yang mengacuhkan Anda mengabaikan Anda adalah duke … apakah terjadi sesuatu yang membuat beliau bersikap demikian?” Melihat ekspresi Idril yang gugup dan kebingungan memberikan Zeref sinyal bahwa ia harus mulai bersikap seperti ia tidak mengetahui apapun, termasuk bagaimana sang marchioness yang mungkin telah menaruh hati pada sang duke.  “Zeref … jika aku tahu alasannya aku tidak akan diam dan berpikir. Jika aku sudah tahu … aku tidak akan berdiri disini denganmu dan membicarakan hal yang seharusnya tidak perlu kuberitahukan.” Entah sadar atau tidak tapi saat ini sang marchioness tampak memerah. Entah karena gadis itu yang sedang menahan emosi. Di lain sisi ia terlihat menggemaskan, mungkin seperti inilah para gadis ketika jatuh cinta dan dibuat gelisah oleh pujaan hati mereka. “Apakah kau tahu sesuatu …?” Kali ini Idril yang bertanya. Ia sedikit berbisik dengan wajah yang semakin memerah akibat cahaya senja. Kini ia tahu mengapa bahkan sang duke tidak dapat mengalihkan pandangan dari sang marchioness. Memang kharisma dari seorang Veela tidak akan pernah gagal.  Selama beberapa saat ruangan menjadi sunyi. Tidak ada yang berbicara, kecuali deheman sang butler yang sibuk berpikir. Tiba-tiba ia memandang ke arah Idril yang sedang menunggu jawaban atas pertanyaannya. Tapi melihat raut gadis bersurai pirang itu yang hampir menangis membuat Zeref tidak kuasa untuk menjawab.  “Zeref … aku tidak apa-apa. Karena itu beritahu semua yang kau tahu. Apapun itu.” Idril seakan mengetahui isi kepala sang butler. Ia menatap lurus tanpa ada keraguan dan akhirnya sang butler pun kalah.  “Sepertinya ini karena rumor yang beredar. Ada sebuah rumor yang mengatakan bahwa Anda menggoda duke dan mencoba menjadi duchess Vladmire. Mungkin duke memikirkan rumor ini akan berdampak pada reputasi Anda.” “Bagaimanapun Anda baru saja memulai karir Anda sebagai kepala keluarga. Jika ada kabar buruk yang dapat merusak citra Anda, nantinya akan membuat Anda kesusahan,” imbuh Zeref yang kini memilih memalingkan wajah. Ia juga tahu mengenai rumor ini dari para pelayan yang bergosip. Ia sendiri menghukum mereka karena berkata buruk tentang sang marchioness. Mungkin sama dengannya duke pun ingin agar gadis itu dapat menapaki jalannya dengan baik dan lancar.  Idril terdiam. Ia termenung dan tiba-tiba sebuah kalimat terngiang begitu keras di kepalanya. Sebuah ucapan yang ia ucapkan di malam yang sama ketika ia mabuk. “Kau yang gila! Bukankah aku sudah bilang agar tidak membuat rumor semakin melebar? Mengapa kau mempersulit semuanya! Dasar gila … bagaimana dengan nama Tinuvel dan Vladmire? Apakah kau tidak takut jika ada skandal yang tidak benar?”  …  “Apakah kau tidak memikirkanku yang baru saja menjabat sebagai Marchioness? Bagaimana citraku di mata orang-orang.” Ucapan-ucapannya malam itu terngiang kembali. Rasa penyesalan bergelayut dan membuat Idril merasa sesak yang teramat sangat. Ia bahkan tidak dapat menangis atau berteriak marah, hanya saja ia sangat ingin memukul dirinya sendiri.  “Sial! Dasar bodoh … duke dungu itu, aish!” Idril mengacak rambutnya yang telah berantakan terkena hembusan angin semakin kacau. Meski begitu sama sekali tidak mengurangi kecantikan sang marchioness.  Zeref tiba-tiba berdiri tegak saat Idril berdiri di hadapannya. Ia dapat merasakan tatapan tajam dan intimidasi yang begitu kentara di kedua manik krimson sang nona. Dan itu berhasil membuat seluruh bulu kuduknya meremang.  “Siapa … yang berani membuat rumor demikian? Aku bertanya padamu, siapa!?” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN