“Anda terdengar seperti mendiang duchess di masa lalu. Beliau juga selalu mengatakan hal serupa untuk mendiang duke yang dingin juga dipandang sebelah mata."
Idril terdiam dan langsung memperhatikan sosok pria berusia kepala enam tersebut. Killian tengah memandangnya juga sembari mengulas seutas senyum. Idril tidak akan menyangka pria itu akan menyamakan dirinya dengan mendiang duchess Vladmire yang tidak lain adalah ibu dari Gavril. Karena tidak pernah bertemu dengan anggota keluarga Vladmire, selain Gavril dan Schulze di masa lalu tidak banyak yang dapat Idril lakukan untuk merespon pemimpin kerajaan Zoresham tersebut.Sehingga Idril hanya bisa tersenyum simpul.
“Gavril, sebenarnya anak yang baik dan menggemaskan.”
Kata menggemaskan yang baru saja disebutkan oleh Killian hampir membuat Idril terbahak, untung saja gadis itu dapat menahan diri agar tidak tertawa keras. Meski senyuman lebar tidak dapat luput dari wajah jelitanya.
“Anda meragukan ucapan saya? Itu benar … duke Vladmire adalah anak yang menggemaskan juga baik. Dahulu saya pernah mendapatkan seloyang kue yang sengaja dibuatnya ketika saya berulang tahun,” ucap Killian lagi.
Idril mengangguk, terkagum-kagum. Jarang sekali ada seorang anak bangsawan yang dengan senang hati turun di dapur dan mengerjakan sesuatu sendirian, kebanyakan dari mereka memilih untuk berteriak memberikan perintah kepada para pelayan, “Benarkah, Yang Mulia? Seorang duke melakukan hal semacam itu?”
Killian mengangguk, kemudian senyum canggung tergurat di bibir keriputnya, “Benar … meskipun kue itu hampir membunuh saya, karena rasanya yang jauh lebih buruk dari ramuan manapun. Tapi … tetap saja bukankah itu menggemaskan untuk anak berusia 10 tahun?”
“Anda dan duke terdengar dekat, tetapi mengapa duke bersikap dingin pada Anda?” Ada sedikit rasa keingintahuan yang muncul dalam diri Idril. Ia telah mendengar beberapa cerita masa lalu dari sang raja tentang Gavril, jika begitu pria itu memiliki hubungan yang bisa dikatakan dekat dengan duke Vladmire. Tetapi keduanya tampak seperti orang asing ketika bersama.
Sang raja tidak segera menjawab. Ia memilih untuk memperhatikan cangkir keramiknya yang mulai memperlihatkan dasar. Seakan sikapnya yang tiba-tiba menjadi diam menunjukkan bahwa pria itu merasa enggan untuk menjawab.
“Mungkin Anda belum pernah mendengar ini … atau mungkin Marchioness pernah mendengar tentang ini, tapi apakah Anda tahu penyebab kematian mendiang duke dan duchess sebelumnya?”
Kedua orang tua Gavril tewas dalam usia yang masih terbilang cukup muda, meski lebih muda dari usia kedua orang tuanya saat mereka dibunuh. Idril tidak pernah mengetahui tentang Vladmire sebelumnya, karena memang ia tidak pernah disinggung perihal sahabat keluarganya itu. Tapi karena pada dasarnya seorang Idril adalah anak penuh rasa ingin tahu, ia pernah menanyakan hal ini pada Lucius.
Alasan dibalik kematian kedua orang tua duke yang menyebabkan Gavril mengambil alih posisi kepala keluarga dalam usia belia, yaitu mereka tewas setelah mendiang duke sebelumnya tewas ketika mereka tengah berperang.
“Saya tidak pernah berharap ataupun menduga mereka akan meninggalkan Gavril secepat itu. Saya tidak menyangka demi tahta ini nyawa saudara saya yang saya kasihi akan menjadi harga yang harus saya tempuh. Itulah mengapa mungkin Gavril jadi membenci saya.”
Sekarang Idril paham alasan mengapa sang raja berekspresi muram. Pria itu sampai memanggilnya ke istana secara pribadi dan mengadakan afternoon-tea, karena ia merasa bersalah pada Gavril. Kemungkinan Killian berpikir, jika saja ia tidak melangsungkan perang itu dan meminta duke bersama duchess turun ke medan pertempuran mungkin Gavril tidak akan bersikap dingin.
“Yang mulia, saya … mohon maaf sebelumnya, saya rasa duke bukanlah orang yang akan membenci. Beliau yang sekarang sudah dewasa, duke mungkin pernah merasa kehilangan dan akibatnya beliau menjadi seseorang yang dingin.”
“Tapi menurut saya perasaan itu bukanlah kesalahan Anda. Kalaupun memang pernah duke menyimpan perasaan seperti yang Anda ucapkan, maka beliau tidak akan mungkin datang ke istana dan menyampaikan … bahwa duke ingin melamar dan menikahi saya.” Idril mengulum senyum manis. Gadis bermanik krimson itu seakan sedang menghibur pria paruh baya yang sedang bersedih. Killian dibuat takjub akan sikap gadis yang dipinang keponakannya, tidak hanya cerdas dalam menjalankan perannya sebagai marchioness pewaris tunggal Tinuvel yang tersisa itu juga memiliki kebijaksanaan dan kelembutan.
“Terima kasih, karena sudah menghibur pria tua ini,” kata Killian yang kembali menyesap teh. Ia benar-benar merasa lega karena mengatakan semua ini kepada gadis bersurai platina di hadapannya. Sebenarnya, Killian hanya berniat menceritakan sisi lain dari Gavril yang mungkin masih tidak Idril ketahui, karena kepribadian sang duke yang dingin. Tapi ia justru bercerita juga tentang perasaan dan hubungannya dengan sang keponakan.
“Saya senang bisa mendengar banyak cerita tentang duke. Saya jadi bisa lebih mengetahui lebih banyak tentang beliau … selama ini mungkin keluarga kami dekat, dan ini bukan pertama kalinya saya melihat duke. Tapi untuk dekat dan memahaminya lebih jauh … ini adalah yang pertama.”
Kejujuran hati Idril tiba-tiba mengalir begitu saja. Ia tersenyum lembut dengan pandangan yang mengarah pada sepotong kue lemon di piringnya. Ia dapat mengingat pertama kalinya ia melihat Gavril bersama keluarganya, pria tampan yang dingin juga membosankan. Itu adalah kesan pertama kepada pria bermanik keemasan tersebut.
“Anda tahu, saya sempat berpikir alasan mengapa Anda mau menerima Gavril karena dia tampan … kita semua tahu pria itu tampan dan selalu membuat wanita jatuh hati padanya, saya mengira Anda pun begitu.” Killian meletakan cangkir keramiknya dan memangku wajahnya sembari memperhatikan gadis muda yang tampak menggemaskan karena tersipu di hadapannya.
“Ternyata saya salah. Marchioness tidak hanya jatuh hati pada wajah keponakan saya, tapi sepertinya Anda juga jatuh pada sikapnya … saya sudah sangat cemas, jika saja pilihan Gavril menikah hanya akan membuat calon istrinya menderita karena sikapnya,” imbuh Killian lagi.
“Tapi melihat Marchioness yang berbicara banyak tentang Gavril, kecemasan saya langsung menghilang seperti sebuah debu. Anda pasti benar-benar mencintai keponakan saya.”
Mencintai, Idril tidak akan pernah mengira bahwa di kehidupannya yang kali ini ia akan mencintai sosok selain keluarganya. Pria yang mengikat perjanjian bersamanya hingga mati menjadi seseorang yang menerima tidak hanya raga, jiwa serta hartanya saja, bahkan kini ia juga mendapat hatinya. Idril merasa benar-benar seperti habis dirampok.
Gadis bersurai platina tersebut tersenyum kecil dengan semburat kemerahan di pipi. Iris rubynya memandang ke arah langit yang mulai berwarna jingga, ia tidak akan mendengar banyak hal tentang pria bermanik keemasan itu. Meski otaknya berteriak untuk menjaga kewarasannya, hati Idril tidak dapat berdusta. Ia menginginkan hubungan ini juga pria itu,
“Terima kasih, Yang mulia. Karena sudah memberitahu saya tentang duke lebih banyak.”
Killian tersenyum, “ Saya juga berterima kasih, dan saya titipkan keponakan saya yang menyebalkan juga memuakkan itu pada Anda, Marchioness.”