Brukk
Setumpuk kertas yang menggunung baru saja tiba. Kedatangannya yang mendadak berhasil membuat Idril hanya bisa termangu, ia sampai berulang kali harus menatap sosok butlernya untuk memastikan apakah ia memang harus melakukannya.
“Apakah kau sedang menjahiliku atau semacamnya? Mengapa kau memberikanku bergunung-gunung dokumen!?” Idril menahan rasa frustasi yang hampir menyebabkan kepalanya mengeluarkan asap. Zeref hanya tersenyum simpul sebelum akhirnya menyodorkan secarik surat dengan logo keemasan.
“Karena ini adalah perintah yang mulia. Anda dan duke akan segera melangsungkan pernikahan dan ada banyak persiapan. Mungkin raja hanya ingin Anda fokus mengurus pernikahan Anda, itulah mengapa beliau mengajukan semua tanggal dalam jadwal Anda.”
“Ah … benar, pernikahan. Astaga, aku bahkan baru saja berhasil lepas dari maut dan mendapat kursi kepala keluarga dalam hitungan bulan, tapi sekarang? Aku akan menikah.”
Idril memangku wajah ayunya. Benaknya tengah melalang buana menerka-nerka nasib apa yang menantinya. Banyak hal yang terjadi setelah ia menjadi kepala keluarga. Kini ia semakin terbiasa dengan jeritan atau suara tembakan di malam hari, karena hampir setiap malam butler beserta para ksatria menemukan beberapa tikus yang bersiap untuk mencabut nyawanya.
Hidup dalam pengejaran seperti seorang buronan membuat Idril sadar, ia tidak lagi berjalan di takdir saat ia menjadi bungsu Tinuvel, sebab segalanya berubah termasuk kehidupan percintaannya. Jika bukan karena ajakan Gavril yang sebenarnya lebih tepat disebut dengan perintah untuk menjalin hubungan romansa, yaitu pernikahan. Dan karena perjanjian diantara mereka Idril tidak dapat menolak.
“Ada apa, Nona? Apakah Anda tidak menyukai fakta bahwa Anda akan menikahi pria paling berkuasa kedua di Zoresham?” Zeref bertanya dan membuat Idril yang terdiam langsung mengalihkan pandangannya kepada sosok sang butler di seberang meja.
“Memangnya aku terlihat seperti itu?” Zeref menaikkan sebelah alisnya dan menggeleng ragu. Idril menghela nafasnya pelan kemudian merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
“Aku bukannya tidak menyukainya … sejujurnya banyak yang bisa aku dapatkan. Tinuvel memiliki posisi yang lebih kuat. Tinuvel otomatis akan dapat perlindungan langsung di bawah Vladmire, seharusnya tidak akan banyak orang yang bisa menjatuhkan kami,” jawab Idril panjang lebar. Kedua keningnya dihiasi kerutan samar karena otaknya yang berpikir keras.
“Lalu nama dan reputasiku akan semakin baik, karena menikahi pria yang diidamkan para gadis bangsawan. Ini tidak seperti duke orang yang buruk … yah, dia cukup baik?”
“Apa maksudmu dengan cukup baik? Aku adalah yang terbaik dari yang baik, Idril.”
Sebuah suara yang menyahut dan kemunculan pria bersurai legam yang tiba-tiba membuka pintu berhasil membuat Idril tersedak ludahnya sendiri. Ia tidak akan pernah menyangka pria itu akan berdiri di hadapan nya dengan senyuman miring yang menyebalkan.
“Apa yang ka-kau lakukan disini?!” Riak Idril yang semula datar, tanpa emosi telah berubah menjadi kemerahan. Tentu saja, alasannya karena Gavril yang datang mendadak dan menyahut ucapannya. Itu artinya selama ia berbicara kemungkinan pria itu telah berdiri di depan pintu dan mendengarkannya.
“Mengunjungi calon Istriku, tentu saja. Tidak boleh?” tanya Gavril yang kini telah melempar tubuhnya ke atas sofa. Senyuman miring dan menggoda membuat wajah Idril terasa semakin panas. Jika ia bisa, Idril ingin sebenarnya melempar sang duke dari jendela atau sekedar menjadikan pria itu sebagai samsak untuk melampiaskan kekesalannya.
“Apa-apaan dengan tumpukan dokumen menyedihkan itu?” Pandangan Gavril beralih pada gunungan kertas yang masih belum berpindah dari salah satu sudut meja Idril.
“Jangan bertanya, tolong. Aku sampai harus menguras otakku untuk mengusir mereka. Apakah kau tidak punya kepekaan atau bagaimana? Salah siapa sampai aku harus menyelesaikan semua ini dalam hitungan hari?”
Seolah merasa tidak bersalah Gavril hanya berdehem dan tertawa renyah membuat seperempat kotak di dahi Idril muncul, “Jadi … yang mulia juga memberikan tugas khusus? Beliau langsung memintamu menyelesaikan itu semua? Aku pikir hanya aku saja.”
“Kau juga mendapat surat itu? Kau harus menyelesaikan dokumen-dokumen benar? Tunggu, tapi jika begitu, seharusnya kau tidak akan memiliki waktu meski hanya untuk keluar rumah.” kata Idril dengan pandangan tidak percaya yang diberikannya kepada sang duke.
Gavril tersenyum bangga dan menepuk kedua bahunya angkuh, “Itu karena semua dokumen sudah dibawa lari oleh Isaac. Aku tidak menjadi duke secara asal, aku menyiapkan diri selama bertahun-tahun, jadi hanya menyelesaikan beberapa lembar kertas sama saja seperti menjentikan jari.”
Terkutuklah mulut Gavril yang menyebalkan, tetapi Idril tidak dapat mengucapkan sumpah serapah tersebut. Ia tidak bisa bersikap tidak sopan kepada salah satu bangsawan atas dan lagi pria itu adalah calon suaminya.
Malas menanggapi ucapan Gavril membuat Idril kembali sibuk dengan tumpukan kertas. Manik krimsonnya bergerak ke kanan dan kiri hanya untuk membaca deretan kalimat yang membuatnya mengantuk.
“Idril, bagaimana jika kita berkencan saja hari ini?”
Satu pertanyaan yang baru saja dilemparkan pada Idril hampir saja membuat gadis itu menghancurkan salah satu dokumen Iris krimsonnya terbelalak seakan hendak melompat keluar dari tempatnya.
Gavril yang dapat membaca arti dari pandangan sang marchioness segera melangkah mendekat dan menyodorkan selembar kertas dengan tulisan cetak di sana. Idril sibuk membaca paragraf yang ada di salah satu surat kabar terkenal Zoresham. tiba-tiba ia semakin terbelalak dengan isi dari berita disana.
“Apa maksudnya ini? Hubungan antara duke dan marchioness tidak lebih dari sekedar timbal balik saja, pernikahan yang dipaksakan untuk memperkuat posisi masing-masing. Sosok tamak lainnya dari dua bangsawan atas.” Idril membaca salah satu kalimat yang terdengar menyudutkan dirinya dan duke.
“Seseorang sepertinya sengaja memunculkan berita palsu yang berasal dari rumor. Jika dulu mereka menggunakan Ophelia, sekarang mereka menggunakan media massa. Dan mungkin alasan dibalik pekerjaan kita yang menggunung, karena raja ingin kita mengurus masalah ini.”
Gavril bersandar di dinding dengan pandangan yang mengarah ke jendela, pria itu mungkin tengah berpikir, “Mereka tidak bisa membunuh kita, tapi mereka bisa menjatuhkan citra kita. Karena mereka tidak bisa menciptakan rumor hanya dengan diri kita sendiri mereka mencoba menggunakan diri kita satu sama lain, dan salah satu agar berita ini tidak semakin memanas adalah ….”
“Memberikan bukti yang nyata bahwa apa yang ditulis di surat kabar hanya sebuah rumor tidak benar,” sahut Idril pelan. Ia kini mengerti alasan dibalik kedatangan pria itu tiba di mansionnya secara mendadak dan mengapa Gavril sampai mengajaknya berkencan. Itu semua untuk meredam rumor.
Idril merasa bodoh untuk sesaat gadis itu merasa senang dan berdebar, karena ajakan dan ucapan Gavril. Siapa sangka itu semua hanya salah satu taktik yang ia gunakan untuk menyelamatkan reputasi mereka dan Idril pun tidak ingin baim reputasi maupun nama Tinuvel ternodai.
Manik krimson Idril beradu dengan manik keemasan sang duke, sebelum akhirnya ia bangkit dari duduknya dan tersenyum simpul, “Cuacanya cukup cerah haruskah kita berkencan?”