Semakin Jatuh Padanya

1097 Kata
Ibu kota Zoresham selalu dipenuhi orang-orang yang berlalu lalang. Terlebih lagi ketika cuaca sedang bersahabat kedai-kedai akan ramai dikunjungi. Beberapa dari mereka pergi mencari pundi-pundi koin emas. Ada juga yang hanya sekedar ingin menikmati hangatnya udara. Dan hari ini seperti ucapan Idril sebelumnya merupakan saat yang tepat untuk berkencan. “Kota benar-benar ramai,” kata Idril yang memandang dari balik jendela kecil di kereta. Mereka kini telah meninggalkan kediaman Tinuvel untuk memberikan bantahan dari berita-berita yang ada di surat kabar. Gavril tersenyum simpul, “Benar. bukankah saat seperti ini cocok untuk menjalankan rencana kita. Kau tidak lupa bukan dengan apa yang sudah kita bicarakan?” Alih-alih menjawab Idril justru membenahi tatanan rambutnya dan mengulum senyum miring dengan pandangan yang mengarah pada pintu yang sudah terbuka. Gavril yang mengerti isyarat gadis bermanik krimson tersebut segera melangkah turun terlebih dahulu, baru kemudian mengulurkan tangannya. “Terima kasih, sayangku,” ucap Idril yang telah mengulas senyuman manis. Mendengar panggilan kasih yang diberikan gadis bersurai platina hampir membuat Gavril menyemburkan tawa. Tapi bukan berarti ia tidak menyukainya, justru sang duke sangat menyukainya⸺panggilan itu. Aalto merupakan sebuah gedung pertunjukan teater yang memiliki bangunan mewah dan paling megah di ibu kota. Berbagai pertunjukan digelar dan dimainkan oleh aktris juga aktor papan atas yang berbakat. Salah satu pilihan tempat berkencan sang duke Vladmire adalah tempat yang paling banyak dikunjungi bangsawan papan atas. Demi membantah berita tidak benar itu mereka akan memulainya dari mereka yang berada di tingkat atas dan itu adalah bangsawan. “Aku tidak akan mengira kau akan memilih pertunjukan teater. Apakah kau memang menyukai pertunjukan semacam ini?” Idril membaca secarik brosur yang baru saja diberikan penjaga loket kepada mereka. Seorang wanita dengan gaun sepanjang lutut menjadi poster paling depan. “Tidak juga … bisa dibilang aku lebih sering melihat aksi pertunjukan tempat-tempat terlarang, meski itu sebenarnya karena urusan pekerjaan. Tapi aku dengar dari Lloyd banyak pasangan yang melakukan semacam ini,” jawab Gavril yang telah mendudukan diri di atas sofa mahal empuk. Lloyd Heinrich⸺salah satu jurnalis terkenal yang bekerja di sebuah media koran harian besar di Zoresham. Gavril menggunakan pria berambut ikal ini untuk menjadi mata-mata yang akan memfoto semua kegiatan berkencan mereka dari jauh, kemudian esok hari ia akan merilis berita tentang mereka. Bahkan Gavril telah menyiapkan segalanya secara detail, termasuk jadwal berkencan mereka dan tempat yang akan mereka tuju. Tidak hanya itu Idril sendiri telah menerima arahan dari Lloyd agar mereka terlihat seperti benar-benar sedang jatuh cinta. Padahal tanpa sang jurnalis memberitahukannya Idril sudah pasti melakukannya, karena memang ia telah jatuh dalam pesona sang duke. “Melihat pertunjukan dari kursi penonton dengan keadaan remang-remang. Pertunjukan dengan cerita romantis … tidak buruk, pantas saja ada banyak pasangan yang melakukan hal ini. Mungkin karena suasana menjadi romantis,” kata Idril lagi. Ia memperhatikan setiap sudut teater membuat Gavril yang berada di sampingnya tertawa kecil. Ketika ia masih sibuk dengan kegiatan mengamati bangunan teater tiba-tiba saja sebuah tangan menyentuh pipinya. “G-Gavril … ada apa?” tanya Idril yang berusaha tenang. Sayangnya usahanya itu justru membuatnya semakin gugup. Tidak akan ada wanita yang tidak gugup saat seorang pria berwajah tampan tengah memperhatikannya dengan inten. “Aku hanya sedang membuat hasil foto yang bagus. Lloyd tidak akan bisa mendengar kita, jadi jika aku bersikap seperti ini bukankah akan terlihat seperti aku sangat mencintaimu,” ujar Gavril. Idril tiba-tiba merasa sedikit kecewa. Ia sebenarnya ingin pria itu melakukan sikap manisnya itu secara tulus bukan karena kehadiran Lloyd yang ada untuk menangkap gambar mereka yang sedang berkencan, “Kalau begitu aku juga akan melakukan hal yang sama.” Sang duke sedikit berjengit kaget ketika Idril meletakan kepala di bahunya. Gadis itu tampak nyaman dan tidak beranjak dari tempatnya selama pertunjukan berlangsung. Idril sudah sejak lama ingin melakukan hal semacam ini, persis seperti apa yang kedua orang tuanya sering lakukan. Bahkan ia merasa iri dengan Kiera yang senang bersandar di bahu tunangannya. Selama satu jam setengah mereka hanya diam dan menonton orang-orang di atas panggung saling beradu akting satu sama lain. Sebenarnya terdengar cukup lucu, karena mereka menonton orang yang sedang akting, padahal mereka sendiri juga melakukan hal yang sama. “Baiklah, setelah ini apa yang harus kita lakukan?” tanya Idril setelah perlahan lampu dinyalakan. Pertunjukan yang sudah mencapai akhir cerita menandakan teater sudah berakhir, dan artinya mereka akan beranjak ke tempat kencan mereka yang lain. “Kau pasti lapar, bagaimana dengan makan siang?” tawar Gavril yang kembali mengulurkan tangannya kepada Idril. Gadis bersurai platina tersebut tertawa kecil dengan semburat kemerahan di pipi, rasa berdebar itu muncul ketika sang duke berbicara rendah tepat di telinganya. Pasangan Vladmire dan Tinuvel tersebut berjalan melintasi lorong yang ramai akan kehadiran para bangsawan. Melihat dua orang bangsawan atas yang tampak mesra membuat mereka tidak dapat mengalihkan pandangannya, terlebih saat mendapati raut ceria di wajah sang duke. Pria yang terkenal tidak memiliki emosi itu tampak lembut dan penuh sayang ketika memandang sosok gadis bermanik krimson di sampingnya. Idril baru saja menduduki sebuah kursi yang terletak di samping jendela. Ia sedari tadi hanya diam dan memperhatikan Gavril yang sibuk memesan makanan, “Gavril … kau bagaimana bisa kau mengetahui tempat ini?” Selepas pelayan pergi dengan kertas berisi pesanan mereka, sang duke mengulum senyum dan ikut memandangi bangunan restoran yang dipilihnya untuk tempat makan siang mereka. Restoran yang dipilih Gavril bukanlah tempat terkenal yang akan dipilih oleh para bangsawan, sebaliknya lebih banyak orang-orang non bangsawan yang berkunjung dan datang sebagai pelanggan mereka. Restoran yang berkesan dan memiliki arti tersendiri bagi Idril. “Aku mengingatnya ketika Lucius pertama kali membawaku kemari. Dia bilang putra duke sepertiku pasti tidak pernah makan di tempat seperti ini, dia memilih tempat ini karena kalian sering makan kemari bukan?” Idril mengangguk pelan. Ia memandang satu-persatu sudut, bahkan ketika ia bertemu pandangan dengan salah satu pelayan yang sudah paruh baya ia mereka saling melempar senyum. “Lucius selalu bercerita, adiknya senang makan disini. Kedua orang tua kalian pun begitu, karena ini adalah tempat mereka berkencan pertama kali … dan aku juga ingin meninggalkan kesan di dalam ingatanmu. Mungkin karena setelah kau menikah denganku, tidak akan ada kesempatan untukmu berkencan.” Gavril mengalihkan pandangannya dari sosok gadis bersurai platina yang saat ini sedang memandangnya. Idril dapat melihat semburat kemerahan sang duke di kedua pipinya. “Jadi … aku berusaha agar kau tidak menyesalinya dan menikmati acara berkencan ini.” Idril tersenyum dengan kedua sudut mata yang berair. Ia tidak akan menyangka pria itu akan memperdulikan perasaannya, sampai harus memesan kursi di restoran yang penuh kenangan baginya. Jika begini bagaimana bisa Idril tidak semakin jatuh cinta pada sang duke? “Gavril, terima kasih banyak … aku menyukainya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN