Deru nafas yang saling bersahutan seakan menjadi satu-satunya hal yang terdengar di telinga gadis bersurai platina. Ia dapat merasakan hembusan nafas hangat dari pria bermanik keemasan yang saat ini tengah mendekapnya erat. Hampir tidak ada jarak diantara mereka, tubuh keduanya menempel. Entah, bagaimana tapi Idril bingung haruskah ia berterima kasih atau memaki kepada gang sempit yang gelap ini?
Padahal mereka seharusnya masih menikmati acara berkencan mereka hari ini, jika bukan karena beberapa penyihir yang hampir membuat Idril keracunan karena memberikan sihir di permen apel miliknya.
Beberapa saat yang lalu
Idril dan Gavril telah melahap habis hidangan yang telah tersedia di atas piring. Sesekali mereka bersenda gurau mendengar cerita masa lalu sang duke dan mendiang si sulung Tinuvel yang konyol, bahkan Idril sampai harus menutup mulutnya beberapa kali agar makanannya tidak berhamburan kemana-mana.
“Aku tidak pernah tahu Lucius adalah tipikal pria yang menjadi ketakutan saat dekat dengan para wanita,” kata Idril yang baru saja meletakan serbet kembali di pangkuannya. Ia baru saja selesai mendengarkan cerita Gavril dan Lucius yang menjadi jajaran pria populer di akademi. Ternyata banyak hal yang Idril masih belum ketahui salah satunya adalah fakta bahwa kakak sulungnya itu selalu mengambil jarak pada wanita manapun.
“Aku merasa kasihan dengan … aku lupa namanya, gadis yang sengaja jatuh di depan Lucius. Mungkin dia berpikir dia akan ditangkap atau setidaknya ditolong oleh Lucius, tapi ternyata kakakmu itu justru menghindar dan berbalik pergi.” Gavril mengibaskan tangannya menunjukan gimmick menolak.
Idril kembali terbahak tidak begitu keras, tapi cukup membuat matanya membentuk bulan sabit, “Lucius ternyata sangat jahat. Bagaimana bisa dia bersikap tidak sopan pada gadis itu? Tapi aku cukup senang dia tidak membantu gadis genit dan centil seperti itu … aku jadi teringat seseorang.”
Bayangan gadis menyebalkan yang menyodorkan sepupunya sendiri kepada Idril muncul. Tiba-tiba saja perasaan senang dan gembira karena reaksi Lucius membuat Idril tidak dapat menahan senyuman manisnya.
“Jadi … apakah kau tidak sepopuler Lucius?” tanya Idril kepada pria bermanik keemasan di depannya yang saat ini sedang meneguk secangkir wine. Bagaimana bisa ia memilih untuk menikmati minuman berwarna kemerahan itu di siang bolong, padahal mereka sedang berkencan. Tapi Idril tidak ingin ambil pusing, lagipula Gavril tidak mudah jatuh dalam reaksi wine.
“Tentu saja, aku juga populer. Bahkan aku memiliki kelompok penggemar yang selalu menyemangatiku ketika pertandingan pedang digelar,” sahut sang duke bangga. Alih-alih terpesona Idril justru tersenyum simpul dan mengangguk. Ekspresi gadis bersurai platina tersebut membuat Gavril merasa kesal.
“Kau baru saja meremehkanku bukan? Kau tidak percaya?” sergah Gavril cepat.
“Tidak, siapa bilang aku tidak percaya? Aku percaya … sangat percaya, hebat sekali!”
Bukannya senang mendengar pujian dari gadis bersurai platina di hadapannya, Gavril justru merasa seperti baru saja diremehkan habis-habisan. Ia mendelik dan membuat Idril yang terbahak terkejut, seorang duke Vladmire tengah merajuk? Mengagumkan!
“Maaf, aku hanya bercanda saja … jangan marah,” bujuk Idril yang telah mengerjapkan mata. Ia berusaha tampak imut dan memelas di mata sang duke. Sayangnya trik yang digunakan Idril tidak berhasil sama sekali, tidak seperti saat ia menggunakannya kepada kedua saudaranya.
“Gavril … setelah ini apa yang kita akan lakukan? Kemana kita akan pergi?” Idril kembali bertanya, tapi lagi-lagi sang duke hanya diam dan mengacuhkannya. Ia justru sibuk memainkan gelas kristal di tangannya. Sekarang, Idrillah yang dibuat kesal.
Melihat gadis bermanik krimson tengah mencebik dan menekuk wajah jelitanya, membuat Gavril akhirnya mendekat dan memberikan isyarat kepada Idril agar meminjamkan telinga. Pada awalnya gadis itu tampak ragu, ia enggan mendekat karena merasa cemas dengan rencana sang duke yang menunggunya.
“Ayolah … ada apa?” Setelah melihat ekspresi Gavril yang kembali datar, Idril akhirnya mau tidak mau mengiyakan dan mendekat ke arah sang duke. Tidak terlalu dekat sebenarnya, mengingat jarak mereka dipisahkan dengan meja.
Tiba-tiba Idril hampir kehilangan kedua bola matanya, karena terbelalak. Semburat kemerahan muncul di kedua pipi porselennya. Idril masih tidak percaya dengan isyarat Gavril yang saat ini sedang menoel pipinya sendiri.
“Kau tidak waras ya …? Bagaimana bisa kau memintaku … menciummu? Disini? Banyak orang, terlebih lagi para non bangsawan,” bisik Idril kesal.
Tapi bukan Gavril namanya, jika ia tidak membuat gadis itu merah padam dan dilanda begitu banyak perasaan yang bercampur aduk menjadi satu, “Memang kenapa? Semua orang sudah membaca koran itu. Mereka sudah melihat kita sedang berkencan … apakah kau lupa Lloyd sedang menunggu momen yang tepat untuk mendapatkan foto yang akan dipasang di atas berita?”
“Kau ingin menggunakan foto semacam itu? Kau pasti … ah! Kau benar-benar menyebalkan.” Idril yang melihat Gavril mulai menjauhkan tubuhnya dan ekspresinya kembali menekuk akhirnya memilih untuk mendekat. Dengan wajah merah padam Idril menarik lengan sang duke dan langsung mendaratkan kecupan cepat di pipi.
Gavril tidak dapat menahan senyuman di kedua sudut bibirnya, ia kini tengah memandang sosok Idril yang mengalihkan pandangannya dengan wajah kelewat merah. Gemas dengan ekspresi sang marchioness membuat Gavril meraih dagu gadis bermanik krimson tersebut. Dalam hitungan detik kemudian ia mengecup bibir plum Idril.
“Oh! Astaga!” Beberapa pengunjung restoran terpekik kaget. Bahkan Lloyd memotret dengan wajah merah padam. Puluhan pasang mata memandang pasangan bangsawan atas yang duduk di sudut ruangan dekat jendela. Adegan romantis yang baru saja terjadi berhasil menyihir semua orang, termasuk Idril.
“Aku berubah pikiran. Sepertinya dengan foto tadi akan membuat Zoresham dan mereka gempar,” kata Gavril yang telah tersenyum begitu lebar. Sementara Idril masih membeku. Bahkan ia menjadi linglung ketika sang duke telah mengulurkan tangannya. Masih dengan ekspresi penuh rona kemerahan Idril menerima uluran tangan tersebut dan tidak lama kemudian mereka telah meninggalkan restoran.
Selepas sesi kencan mendebarkan di restoran mereka melanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalanan kota. Idril masih menunduk dan memainkan tangannya. Gadis itu mungkin masih merasa malu dan enggan untuk menatap sepasang manik keemasan pria di sampingnya.
Gavril yang merasa diacuhkan akhirnya terpaksa memutar otak. Ia tidak ingin didiamkan oleh gadis bermanik krimson tersebut. Seulas senyuman manis muncul di sudut bibirnya ketika mendapati sebuah festival berada di dekat balai kota.
“Sudah berapa lama kau tidak bermain di festival? Mau mampir dan melanjutkan acara kencan ini di sana?” tawar Gavril yang telah tersenyum. Idril memandang ke arah keramaian di seberang jalan, hingga tanpa sadar ia mengangguk cepat dan langsung menarik tangan Gavril.
“Cepat … cepat … cepat! Festival, astaga! Aku sudah lama sekali tidak kemari. Oh, lihat ada kedai permainan.”
Gavril tidak dapat berhenti tertawa ketika tangannya ditarik kesana-kemari oleh gadis bersurai platina. Idril terlihat begitu antusias. Gavril semakin gemas dan ingin menyimpan ekspresi gadisnya itu agar hanya dirinya seorang yang dapat menikmatinya.
“Apakah kau suka permen apel?” tanya Idril membuyarkan lamunan Gavril. Ia memandang ke arah sebuah kedai yang sedang ramai dengan antrian. Melihat iris ruby Idril membuat sang duke tidak dapat berkata tidak kepada gadisnya, sehingga ia tersenyum dan mengusap pipi porselen Idril sembari mengangguk.