Tidak ada yang pernah tahu ternyata pilihan yang diambil Gavril untuk menyetujui ajakan gadis bersurai platina tersebut akan membawa mereka kepada sebuah situasi yang tidak terduga. Mendapati sebuah keramaian yang terletak di depan mata, memang terkadang tidak dapat menahan rasa ingin tahu keduanya untuk tidak datang menghampiri.
Alhasil berakhirlah mereka berjalan menyusuri jalanan yang cukup padat dengan orang-orang. Mereka berbondong-bondong menikmati festival musim semi. Bunga-bunga yang bermekaran dan hangatnya hembusan angin adalah sesuatu yang harus dirayakan. Musim dingin yang berakhir digantikan dengannya kehangatan juga kebahagiaan, itulah arti sebenarnya dari festival yang sedang digelar ini.
“Apakah kau suka permen apel?”Sebuah pertanyaan yang diajukan oleh gadis bersurai platina dengan manik berbinar berhasil meluluhlantakkan pertahanan seorang duke Vladmire yang dikenal tidak memiliki emosi. Dengan mudahnya ia mengiyakan Idril dan mengikuti langkahnya menuju salah satu kedai penjual yang ramai akan pengunjung.
“Biasanya Ayah akan membelikan kami dua buah permen, karena terkadang aku tidak memakan semuanya sampai habis, jadi … mungkin kita harus membeli satu saja?”
Gavril yang masih memandang lekat sosok jelita di sampingnya hanya tertawa kecil dan mengangguk lagi, “Lakukan saja sesukamu. Bahkan jika kau ingin membeli satu kedai aku akan membelikannya … ini tidak akan membuat Vladmire miskin dalam satu hari.”
Jawaban yang cukup angkuh dari Gavril membuatnya dihadiahi lirikan tajam dari Idril, tetapi pria itu justru mengangkat kedua bahunya seolah sedang berkata, aku benar bukan? Memang seperti itu kenyataannya.
“Baiklah, mari kita beli satu saja,” ucap Gavril pada akhirnya setelah melihat riak wajah Idril yang dilipat. Karena ia adalah pria yang baik hati, sang duke memilih mengikuti permainan gadis di sampingnya.
“Oh, sudah giliran kita.” Idril tampak bersemangat, terlebih lagi ketika ia memperhatikan pria tua penjual kedai mencelupkan apel ke dalam semangkok coklat cair, Gavril hanya bisa menggeleng melihat keantusiasan dan kebahagian gadis itu.
Sembari menanti permen apel yang diinginkan Idril, sang duke memilih memperhatikan keadaan sekitar. Ia mengamati setiap orang yang baru saja meninggalkan kedai, sampai akhirnya pesanan mereka selesai dan keduanya melangkah menjauh dari kedai.
“Apakah kau ingin mencicipinya lebih dulu?” tawar Idril yang telah memberikan permen apel kepada Gavril.
“Tidak … kau saja dulu, setelah kau merasa kenyang berikan padaku,” kata Gavril sembari mengacak surai platina Idril. Gadis itu mengulum senyum dengan semburat kemerahan yang tercetak samar di kedua sudut pipinya. Diperlakukan begitu lembut oleh sang duke seperti itu, bohong jika Idril tidak merasa bahagia.
“Baiklah, kalau begitu … terima kasih.” Idril yang hendak menggigit permen apel di tangannya tiba-tiba dikejutkan dengan tindakan Gavril. Pria itu mendadak membuang permen tersebut ke tanah dan membuat Idril memekik.
Namun gadis itu terpekik tertahan bukan karena permennya yang dibuang begitu saja, ia terlalu terkejut ketika melihat permen itu meleleh seperti sebuah lava dan berubah warna menjadi kehitaman.
“Para pengganggu, sialan,” gumam Gavril yang telah membawa tubuh Idril ke dalam dekapannya sedetik setelah sebuah kedai meledak begitu saja. Mereka berlari di dalam keramaian, Idril langsung mengalungkan tangannya di leher sang duke.
“Ada apa? Sebenarnya apa itu tadi?” tanya Idril dengan setengah berteriak.
“Mereka ada disini … sepertinya mereka berusaha meracunimu, jika saja aku tidak menyadari warna permen coklat itu yang sedikit menghitam … mungkin kau sudah tewas sekarang,” jawab Gavril dengan suara terengah. Ia masih tidak berhenti berlari. Ia dapat mendengar beberapa suara derap langkah yang mengikuti mereka.
“Apa? Jadi … aku hampir mati? Wah, tidak bisa kusangka. Padahal aku sedang bersungguh-sungguh menikmati festival,” pekik Idril kesal dan membuat Gavril terkekeh pelan. Ia menemukan sebuah celah kecil diantara jalanan, sebuah gang kumuh, gelap dan lembab. Di sana mereka menahan nafas ketika melihat sekumpulan orang berjubah hitam lewat. Idril yang hendak bersuara tiba-tiba dihentikan oleh sang duke yang telah meletakan jari telunjuknya di depan bibirnya.
Sekitar hampir beberapa menit jantung mereka dipacu setelah tidak lagi terdengar derap langkah sepatu yang mencurigakan di telinga Gavril, ia memberikan isyarat kepada Idril untuk berbicara.
“Astaga … mengapa … kita harus … lari?” tanya Idril dengan nafas terengah. Karena ikut gugup dan kebingungan ia jadi bernafas tidak beraturan, sekalipun Gavril lah yang membawa tubuhnya berlari.
“Bukan kita … tapi aku. Kau tidak melihat? Mereka tanpa ada keraguan meledakan kedai tempat menjual permen coklat itu, padahal ada banyak orang di sekitarnya. Artinya mungkin mereka tanpa ragu akan menyerang kita juga.”
“Dan itu akan berdampak pada orang-orang yang mengunjungi festival, benar? Tapi kalau begitu mengapa kau tidak menggunakan rantai mu saja kepada mereka?” Idril memandang ke arah Gavril yang kelihatannya masih mengawasi jalanan untuk memastikan bahwa mereka sudah aman.
“Aku tidak bisa menggunakannya di hadapan orang-orang, akan sangat tidak menyenangkan bila menjadi bahan perbincangan mereka. Tidak semua orang pernah melihat rantaiku … kau pengecualiannya.”
Mendengar kata pengecualian membuat Idril tidak dapat menahan dirinya untuk tidak tersenyum. Dan barulah ia sadar saat ini mereka tengah berada dalam jarak yang sangat dekat, tangan Gavril pun masih melingkar di pinggangnya yang ramping. Bahkan hampir tidak ada jarak diantara mereka melihat Idril yang dapat merasakan hembusan nafas sang duke.
Sadar tidak ada lagi pertanyaan yang diberikan gadis di depannya membuat Gavril mengalihkan pandangannya dan bertemulah sepasang manik krimson yang saat ini sedang menatapnya.
Degupan jantung Idril menjadi satu-satunya hal yang terdengar di telinganya. Terlebih ketika tiba-tiba jarak diantara mereka dipangkas oleh Gavril. Tubuhnya menegang begitu saja, tangan Gavril semakin mengeratkan pegangannya di pinggang ramping gadis bersurai platina tersebut. Kemudian Idril dapat merasakan hembusan nafas hangat di ceruk lehernya, tidak lama kecupan-kecupan kecil mendarat di bahunya yang entah sejak kapan telah terekspos.
“Idril … kau tahu, saat sedang berkencan aku mendengar dari para ksatria mereka biasanya mengakhiri hari mereka dengan sesuatu yang mendebarkan dan aku rasa … ini saat yang tepat bukan?” Gavril bertanya dengan suara rendah tepat di telinga Idril.
“Gavril, k-kau lupa … hari ini jurnalis Lloyd sedang memperhatikan kita,” cicit gadis bersurai platina tersebut sembari mengalihkan pandangannya.
“Lloyd tidak akan mengikuti kita, dia pasti langsung menjauh setelah ada keributan itu dan jika kau mengkhawatirkan Zeref dan Isaac … mereka berdua pasti sedang sibuk mencari keberadaan para penyihir,” jelas Gavril cukup panjang.
“Kalau begitu … haruskah kita mulai? Acara terakhir berkencan kita kali ini? Haruskah aku memberikan judul? Mungkin debaran di festival akan terdengar menarik.”
Setelahnya Gavril langsung mendaratkan bibirnya di bibir plum Idril. Semula ia hanya memberikan kecupan-kecupan kecil, sampai akhirnya berubah menjadi acara saling mencecap rasa. Kedua tangannya bermain-main di pinggang ramping Idril yang sudah memerah.
Kemudian Gavril menelusuri sepanjang garis wajah sang marchioness dan beranjak menuju leher jenjang putihnya. Ia sengaja bermain-main disana dan mendaratkan tidak hanya satu dua kecupan saja yang membuat Idril hanya bisa menggigit dalam bibirnya.
“Sudah kubilang … jangan menyakiti salah satu benda milikku, Idril. Jangan menyakiti dirimu sendiri … cintailah dirimu sendiri, karena dia lebih pantas mendapatkan cintamu,” ujar Gavril yang kembali meninggalkan bekas kemerahan disana.
Manik keemasan sang duke seperti dipenuhi kabut ketika memandang iris ruby di hadapannya. Tidak lama kemudian ia kembali mencicipi rasa manis sang marchioness.
Tangannya bergerak di antara celah gaun Idril. Ia memberikan sapuan lembut yang membuat Idril memekik tertahan. Ia merasa dirinya telah meleleh bersama sensasi aneh yang melingkupi dirinya. Debaran jantungnya semakin dipacu cepat saat sapuan Gavril mulai merambat naik. Sampai akhirnya tiba-tiba saja Idril ditarik ke dalam dekapan tubuhnya dan ia dapat melihat riak wajah kesal tergurat di paras tampan sang duke.
“Duke, mohon maaf tapi kita harus segera kembali. Situasinya menjadi kacau dan Anda … harus mengurus beberapa hal.” Isaac sudah berdiri disana dengan tubuh yang membungkuk dan mengalihkan pandangan dari dua sosok yang disembunyikan kegelapan gang.
“Isaac, aku tahu kau sudah sangat tua … tapi bukan berarti kau bisa mengganggu privasi tuanmu sendiri. Aku mengerti sekarang pergi dari sini.”
Tidak melihat sang butler yang beranjak dari tempatnya Gavril menggeram tertahan, “Jika sampai kau melihat tubuh calon Istriku akan kujadikan tubuhmu menjadi serpihan debu.”
Kemudian barulah Isaac berbalik meninggalkan sang duke bersama gadis bersurai platina yang saat ini masih bersembunyi di balik dekapan Gavril.
“Sayang sekali, akhir cerita kita hari ini seperti ini … mungkin kita akan melanjutkan bagian ini setelah pemberkatan atau pesta?”
Idril merah padam dan ia memukul bahu Gavril keras, “A-apa maksudmu!? Dasar sialan ….”