Rumor yang Padam dan Sikap Aneh Idril

1091 Kata
Aroma menenangkan dari secangkir chamomile tidak membuat gadis bersurai platina yang tengah duduk di atas ranjang tertarik, meski hanya sekedar untuk mencicipinya. Sejak surya menapaki singgasananya sang marchioness tidak beranjak dari kamar. Hari-harinya yang biasa dimulai dengan aktivitas membaca beberapa laporan para bangsawan diacuhkan begitu saja. Sikap aneh Idril berhasil membuat sang butler bertanya-tanya, ada apa dengan gadis yang selalu berapi-api untuk menemukan pembunuh di balik kematian anggota keluarganya. Idril adalah seorang kepala keluarga yang kompeten, bahkan duke Vladmire sendiri mengakui kemampuan gadis itu tidak kalah dengan mendiang putra sulung Tinuvel. Gadis yang cukup keras pada dirinya sendiri itu meninggalkan semua aktivitasnya dan memilih bergelung di atas ranjang. “Zeref … aku hari ini tidak ingin menyentuh dokumen atau apapun, jadi tinggalkan aku sendirian,” kata Idril ketika Zeref melangkah masuk dengan beberapa lembar kertas di tangan. Sang butler mengernyit begitu mendengar perintah yang diberikan padanya. “Sebenarnya apa yang terjadi, Nona? Apakah Anda sakit atau semacamnya?” Terlalu penasaran pada sikap gadis bersurai platina tersebut membuat Zeref akhirnya memilih untuk menanyakan rasa ingin tahunya. Idril tidak segera menjawab, gadis itu tiba-tiba merah padam dan hanya menggeleng saja, kemudian kembali menarik selimutnya tinggi menutupi tubuhnya yang masih mengenakan gaun tidurnya, “Tidak ada … aku hanya lelah, jadi tolong pergi dan tinggalkan aku sendiri.” Zeref menghela nafasnya pelan. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tangannya meletakan kembali dokumen-dokumen ke meja dan beranjak mengambil cangkir teh yang tidak tersentuh sama sekali. Ia kembali memandang ke arah sang nona yang meringkuk di dalam selimut, Zeref berusaha meraih dahi Idril untuk memeriksa apakah gadis itu tengah demam atau semacamnya. Namun Idril bergerak cepat dan menepis tangan sang butler. “Maafkan saya, Nona. Saya hanya memastikan apakah Anda demam atau semacamnya,” jelas Zeref cepat berusaha agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara mereka. “Tidak perlu, sudah kukatakan aku baik-baik saja. Pergi saja … jika makan siang tiba bawakan makananku kemari,” ucap Idril tegas. Kemudian sekali lagi ia menarik selimut dan membalikan tubuhnya dari sang butler. Zeref yang akhirnya tidak memiliki pilihan lain akhirnya hanya bisa menganggukkan kepala dan mengiyakan permintaan Idril. Ia beranjak dari kamar sang marchioness dengan pandangan yang masih mengarah pada gundukan di balik selimut. “Kalau begitu, saya permisi, Nona. Selamat beristirahat,” pamit Zeref sebelum akhirnya menutup pintu kamar. *** “Kau terlihat bahagia, apakah kencan bersama marchioness berjalan dengan lancar?” Sosok pria bersurai mahoni yang berpadu dengan warna putih memangku tangan sembari memandang pria bermanik keemasan di hadapannya. Gavril baru saja tiba di ruangannya untuk melakukan laporan mingguan dan setelah menyelesaikan tugasnya masih dengan pandangan di lembaran kertas di kedua tangan nya, ia dihadapkan tatapan lekat pamannya. “Apa maksud Anda dengan bahagia, Yang mulia? Saya selalu seperti biasa.” Killian semakin tidak dapat menahan senyumannya, ia mengambil sesuatu dari dalam nakas meja kerja dan meletakkannya agar dapat dilihat sang keponakan dengan lebih jelas, “Setelah ada berita yang hampir membuatku jantungan, kau mencoba menumbuhkan musim semi? Apakah kalian artis? Mengapa kisah percintaan seorang bangsawan sampai menjadi bahan perbincangan hangat dimana saja?” Iris keemasan Gavril melirik ke arah lembaran kertas yang bertuliskan berita terkini. Di sana, tepatnya di atas sebuah foto dimana dua orang tengah duduk berhadapan dan menyatukan bibir mereka. Pantas saja satu kerajaan membicarakn berita hangat ini. “Bukankah alasan Anda memberikan tenggat waktu kepada marchioness lebih cepat dari waktu seharusnya agar kami bisa membantah berita palsu itu?” Killian menaikan sebelah alisnya dan tertawa renyah, “Kau sangat peka seperti biasa … bagaimana bisa beberapa hari setelah aku menyetujui kalian untuk menikah berita-berita itu muncul? Kau tahu bagaimana terkejutnya jantungku?” Gavril memandang ke arah paman sekaligus pemimpinnya yang sedang memasang raut lelah. Ia tahu pria itu akan bereaksi terkejut dan langsung bergerak cepat untuk meredakan gejolak yang mungkin terjadi karena para bangsawan, “Saya sendiri tidak akan menyangka berita yang tidak pernah ada muncul seperti itu. Saya memohon maaf untuk keributan yang kami berdua sebabkan, terima kasih sudah tetap meredakan isu diantara para bangsawan.” Bohong, jika Killian marah kepada pria bersurai legam yang sedang membungkuk kepadanya. Bahkan bila bangsawan lain meributkan rumor buruk yang menggelayuti duke dan marchioness ia tetap mengizinkan keduanya untuk melangsungkan pernikahan. Sedikit banyak Killian tahu itu semua hanya permainan salah satu diantara fraksi yang tidak ingin dua keluarga bangsawan paling kuat di Zoresham bergabung. “Tidak apa, tidak masalah. Menenangkan para bangsawan sama halnya dengan membungkam para serigala. Memberikan sepotong daging mereka akan tenang, tapi … mengapa kau tiba-tiba memilih marchioness?” “Ini bukan karena dia adalah kepala keluarga muda dan cantik?” Killian tidak dapat menahan rasa penasarannya. Mungkin diantara banyak orang hanya dirinyalah yang bisa mengajukan pertanyaan ini, meski semua orang pun bertanya-tanya. Seorang duke Vladmire yang tidak memiliki emosi dan ketertarikan kepada wanita tiba-tiba akan menikah. “Itu … hanyalah bonus. Jika marchioness mendengar pertanyaan Anda, dia akan patah hati,” kata Gavril yang membuat Killian tersedak. Mereka saling melempar pandangan sampai akhirnya Killian sendiri yang memilih menghindar. “A-aku tidak bermaksud begitu! Aku justru khawatir gadis sebai marchioness bersamamu yang suka membuat puluhan gadis bangsawan patah hati,” sergah Killian cepat. “Bahkan jika marchioness tidak menjadi kepala keluarga saya tetap menikahinya, mendiang marquis dan saya memang berencana untuk melangsungkan pertunangan dengannya.” “Apa? Benarkah …? Tunggu, apakah itu karena rumor yang beredar tentangmu? Marquis benar-benar mengagumkan, bagaimana bisa dia menyodorkan putri bungsunya sendiri untuk meredam rumor tentangmu?” Killian menggeleng tidak habis pikir dengan keputusan salah satu kenalannya itu. “Lalu, apakah saya harus menikah dengan Lucius? Rumor yang beredar justru akan menjadi benar, lagipula putri keduanya kala itu sudah bertunangan lebih dulu … jadi, Idril satu-satunya pilihan,” ucap Gavril dengan nada setengah kesal. Rumor yang beredar dan cukup menyulitkan duke Vladmire adalah desas-desus yang mengatakan bahwa dirinya tidak tertarik dengan wanita. Ia justru lebih senang berada di sekitar para pria, akibat rumor ini marquis dan dirinya dibuat kerepotan karena banyak bangsawan yang menanyakan kepastiannya. “Yah … tidak masalah, sekarang yang jelas semua rumor sudah dipadamkan. Kau pasti sangat senang dengan acara kencan itu … marchioness pasti kerepotan menghadapimu.” Alih-alih menanggapi ucapan Killian, Gavril justru memilih untuk berbalik dan mulai hendak meninggalkan ruangan sampai tiba-tiba ia memandang pria paruh baya di balik meja yang tampak kebingungan, “Tentu saja, tapi gadis itu sebenarnya jauh lebih merepotkan. Tetapi memang kuakui kencan kemarin … sangat menyenangkan.” Dan setelahnya pintu tertutup hanya ada Killian yang tidak dapat menahan senyumnya. Ia sampai harus menyeka kristal bening di sudut matanya, “Sepertinya pria es itu sudah mulai mencair. Menakjubkan ....”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN