Sudah hampir beberapa jam Zeref berdiri di depan lorong menuju kamar utama. Ia terus berjalan kesana-kemari seperti seekor ubur-ubur. Riak wajahnya dipenuhi kecemasan dan penyebabnya adalah gadis bersurai platina yang masih tidak juga menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan keluar dari kamar. Makan siangnya sama sekali tidak disentuh dan tidak ada dering bel yang berbunyi menandakan sang marchioness membutuhkan kehadirannya. Gadis yang seharusnya gila kerja dan selalu berdiam diri di dalam ruang kerja dengan setumpuk kertas kali ini tampak begitu tenang. Dan sikap aneh sang marchioness yang menolak siapapun untuk mendekat berhasil membuat Zeref cemas setengah mati.
“Butler, duke Vladmire sudah tiba!” Seorang ksatria berwajah berbintik tiba dengan peluh di dahinya. Mendengar sosok yang dinantinya sudah memasuki mansion membuat Zeref bergegas berlari menuju pintu utama.
“Apa yang terjadi?” tanya pria bersurai legam yang langsung melangkah masuk dengan cepat. Zeref menerima lirikan tajam dari sang duke membuatnya kesulitan bernafas.
“Nona … sejak pagi beliau mengurung diri di kamar. Tidak menyentuh makanannya sama sekali dan tidak ada yang diperbolehkan masuk, beliau bahkan memasang pelindung di kamarnya,” jelas Zeref cepat dan singkat. Ia berusaha menuturkan kepada sang duke situasi yang sedang terjadi saat ini.
Kedua alis Gavril mengernyit, ia tidak pernah mengetahui gadis itu dapat menggunakan sihir pelindung sepengetahuannya Idril hanya bisa menggunakan beberapa sihir elemen saja. Setelah mendengar situasi dari Zeref membuat sang duke semakin mempercepat langkahnya.
“Idril ….” Gavril mencoba memanggil gadis di balik pintu tersebut. Tapi tidak ada sahutan yang terdengar. Tangan Gavril yang terulur dan mencoba untuk meraih gagang pintu tiba-tiba tersengat aliran listrik.
“Ini bukan sihir yang seharusnya dapat digunakan Idril, sekalipun dia adalah seorang Veela berbakat,” gumam Gavril. Resah dengan keadaan kamar yang dilingkupi sihir tingkat tinggi membuatnya langsung menembus pertahanan tersebut begitu saja, bahkan para pelayan dan Zeref terpekik ketika sebuah ledakan terjadi.
BRAKK
“Idril, apakah kau baik-baik saja?” Gavril langsung menerobos masuk, bahkan sebelum asap hitam menghilang. Kecemasan sudah terlalu menggelayuti hatinya. Terlebih ketika ia menemukan sosok asing yang baru saja melompat keluar dari jendela kamar Idril.
“Sialan!” Rantai-rantai besi Gavril bergemerisik dan menerjang jendela beserta kusennya, ia baru saja menghancurkan kamar Idril yang baru saja ditempati gadis bermanik keemasan tersebut selama beberapa bulan.
Gavril terpaku selama beberapa saat ketika menemukan Idril masih terbaring di atas ranjang masih dengan mengenakan gaun tidurnya dan mata setengah terbuka, “Astaga, Idril!”
Tanpa membuang waktu lebih lama Gavril langsung memeriksa sekujur tubuh gadis bersurai platina tersebut. Ia menyadari tubuh Idril yang kelewat panas dan nafasnya yang memburu. Tidak ada luka hanya saja gadis itu sedang demam tinggi.
“Nona! A-apakah beliau baik-baik saja?” tanya Zeref saat ia berjengit kaget dengan sosok duke yang tiba-tiba telah melangkah keluar dengan tubuh mungil Idril dalam gendongannya. Gadis itu telah diselimuti jas milik Gavril, wajahnya tampak begitu pucat dan beberapa kali ia mengigau.
“Aku akan membawanya ke mansion, kau siapkan pakaian hangat untuk Idril dan segera menyusul dengan kuda.” Dan begitulah perintah terakhir Gavril sebelum meninggalkan kediaman Tinuvel yang masih dirundung ketegangan.
***
Isaac berlari terburu-buru begitu mendengar kabar bahwa sang duke telah tiba. Ia yang menerima perintah untuk membawakan Schulze langsung melanjutkan perintah tuan mudanya itu kepada dokter keluarga mereka.
“Apa yang terjadi pada Marchioness, Tuan muda?” tanya Isaac yang telah menyamakan langkah pria bermanik keemasan tersebut.
“Seseorang mendobrak masuk kamarnya. Dia juga memasang sihir pelindung tingkat tinggi di kamar Idril.” Malang, satu kata yang terlintas di benak butler keluarga Vladmire itu. Isaac tidak habis pikir mengapa gadis muda seperti Idril berulang kali hampir meregang nyawa. Ia dijadikan target pembunuhan berulang kali. Meski ia adalah seorang kepala keluarga tapi Isaac menganggap Idril sendiri tidak pantas mendapatkan itu semua, mengingat sejak awal gadis itu memang tidak memiliki niatan untuk mewarisi Tinuvel.
“Bagaimana dengan Schulze?” Gavril telah meletakan Idril di atas ranjang miliknya. Ia juga kembali menyentuh dahi gadis bersurai platina tersebut untuk memperhatikan suhu tubuhnya.
“Sebentar lagi, dokter Schulze akan tiba. Saya sudah menyiapkan air dan handuk untuk mengompres marchioness,” kata Isaac cepat dan telah memberikan sebuah kain kecil berwarna putih.
Gavril segera mengambil kain tersebut, kemudian meletakkannya di dahi Idril yang terasa seperti sebuah teko teh. Ia memandang raut Idril yang tampak gelisah dalam tidurnya, tidak kuasa rasanya melihat gadis itu menderita.
“Lu … ci … us?” Samar-samar Gavril dapat mendengar suara lemah memanggil nama seseorang. Idril tengah memandangnya dengan mata setengah terbuka, ia dapat melihat butiran bening berada di sudut matanya. Ibu jari Gavril bergerak menghapus butiran bening tersebut dan memperhatikan wajah ayu yang pucat di hadapannya.
“Lucius, kau seharusnya melihat semenderitanya adik yang selama ini kau sayangi itu. Dasar, mengapa kau harus pergi lebih cepat,” gumam Gavril dengan suara rendah.
“Apa yang sedang terjadi?” Pintu terbuka lebar menampilkan Schulze yang tampak berantakan. Ia masih mengenakan piyamanya sepertinya Isaac benar-benar membuat pria itu beranjak dari tidur panjangnya dengan paksa.
“Tubuh Idril panas … aku tidak tahu apakah dia memang sedang demam atau ini akibat dari sihir,” jelas Gavril cepat. Schulze yang baru saja datang langsung mengambil alih situasi, ia memeriksa denyut nadi dan beberapa tanda vital lain pada gadis bersurai platina tersebut.
“Tunggu, mengapa kau bilang itu akibat dari sihir?”
“Jadi, aku menerima kabar dari butler Idril … dia berkata gadis ini bersikap aneh sejak pagi, dia menolak untuk makan dan mengirim semua orang untuk menjauh.”
Gavril menghela nafasnya pelan, “Sampai sihir pelindung terpasang di kamarnya, padahal itu pelindung tingkat tinggi tidak semestinya Idril bisa melakukan sihir itu.”
“Aku juga melihat seseorang yang melompat dari kamarnya, seorang penyusup mungkin yang melakukan semua itu,” imbuh Gavril untuk menyelesaikan penjelasannya.
Setelah menuturkan situasi sejauh yang ia ketahui suasana kamar sang duke menjadi sunyi, sampai Schulze akhirnya selesai melakukan pemeriksaan.
“Tenang saja, ini hanya demam biasa. Kemungkinan karena nona bekerja terlalu keras membuat imun tubuhnya melemah … aku tidak menemukan jejak sihir atau semacamnya,” tutur Schulze.
Mendengar hasil pemeriksaan sang dokter membuat alis Gavril menukik cukup tajam, “Syukurlah, aku jadi lebih lega … tapi kalau begitu mengapa ada penyusup yang masuk dan memasang pelindung?”
Dan selanjutnya kedua orang tersebut hanya bisa terdiam dengan beribu pertanyaan muncul dibenak mereka.
Untuk apa penyusup itu datang? Apa motifnya? Dan mengapa ia sampai harus memasang pelindung sihir tingkat tinggi yang hanya bisa dibuka oleh Gavril sendiri?
Pada akhirnya Gavril kembali dibuat berpikir keras, kejadian tidak terduga dan misteri kembali muncul. Ia harus mulai mencari jawabannya agar dapat mengetahui apakah fraksi lain juga berada dibalik kejadian ini.