Kenyataan atau Ilusi?

1071 Kata
“Isi perutmu dan pulihkan tenagamu. Kau tidak sedang di medan perang atau semacamnya, aku sudah menjelaskan dia akan baik-baik saja. Ini hanya demam biasa, tenanglah.” Schulze yang baru saja memasuki ruangan kembali dengan secangkir s**u hangat dan sepotong roti. Ia menyodorkannya kepada pria bermanik keemasan yang tidak juga beranjak dari kursi di seberang ranjang. “Aku tidak akan mati hanya karena tidak makan satu hari. Kau saja yang makan, Paman,” kata Gavril tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok bersurai platina yang masih terbaring di atas ranjangnya dengan kedua mata terpejam. Melihat keponakannya yang keras kepala membuat Schulze menghela nafasnya kasar. Ia tahu hal semacam ini akhirnya akan terjadi juga. Ketika sang duke benar-benar telah menjatuhkan dirinya ke dalam pesona gadis bermanik krimson tersebut. “Aku sudah tahu kau akan seperti ini,” kata Schulze dan membuat kedua alias Gavril mengernyit. Ia memandang ke arah sosok pria dengan guratan keriput di wajah. “Aku sudah memperkirakan kau pasti akan bersikap seperti ini nantinya, setelah tergila-gila dengan gadis Tinuvel.” Satu penjelasan lugas Schulze berhasil membuat Gavril berdecak kesal dengan wajah merah padam. Pria itu sudah hidup cukup lama, setidaknya ia tahu tentang romansa meski dirinya sendiri tidak hidup berdampingan bersamanya. Gavril yang semula hanya diam tiba-tiba menatap sosok di belakangnya. Iris keemasannya mendelik tajam, tapi tidak dapat membuat seorang Schulze gemetar ketakutan. Ia hanya memandang balik keponakannya dengan tatapan santai. “Aku tidak tergila-gila dengannya,” kata sang duke akhirnya. Ia meraih sepotong roti dan mengunyahnya malas. Schulze tentu tidak langsung mempercayai sanggahan pria beriris keemasan tersebut. “Lalu, kau sebut apa sikapmu yang mencemaskannya seperti ini? Kau bahkan tidak menyentuh makanan yang sudah Isaac siapkan,” ucap Schulze yang memilih bersandar di salah satu pilar. Ia melipat kedua tangannya dan memperhatikan Gavril yang mulai sibuk mengunyah. “Bukankah aku sudah menjelaskannya padamu? Kami terikat dengan perjanjian itu … dan kau tahu, salah satu perjanjian yang harus kulakukan adalah menjaga dan melindunginya dari apapun,” jelas Gavril yang masih mencoba mengelak dari tuduhan sang paman. Schulze terkekeh dan membuatnya dihadiahi delikan tajam dari keponakannya, “Kau akan melindunginya dari apapun? Apakah demam juga salah satunya? Meski itu bukan ancaman yang besar?” “Gavril, dia hanya terkena demam biasa. Ini tidak seperti dia ditusuk atau semacamnya,” imbuh Schulze lagi. Gavril menghela nafasnya kasar dan menghabiskan satu gigitan besar pada roti yang kini hanya tinggal remahan saja. “Bukan begitu, aku melihat sosok asing di kamarnya. Orang itu juga memasang sihir pelindung tingkat tinggi agar tidak ada yang dapat membuka atau mendekati kamar Idril. Bukankah itu sudah menjadi hal yang wajar, jika aku menjaganya?” Sebenarnya tidak ada yang aneh dari penjelasan Gavril. Kehadiran sosok bertudung yang langsung melompat keluar dari jendela cukup menimbulkan tanda tanya besar tentang motif kedatangannya di kamar Idril. “Tapi, aku sama sekali tidak menemukan jejak sihir atau racun di dalamnya. Marchioness hanya sakit karena tubuhnya melemah saja … meskipun seorang Veela, dia masih tetap memiliki darah seorang manusia yang lebih dominan.” Bukannya Gavril ingin meragukan hasil pemeriksaan Schulze, pamannya itu sudah menjadi dokter selama puluhan tahun. Tidak hanya menjadi dokter pribadi keluarga mereka, Schulze di masa lalu pernah menjabat kepala rumah sakit terbesar di Zoresham. Hanya saja karena sudah cukup berumur ia memilih untuk beristirahat dan merawat Gavril dan orang-orang di keluarga Vladmire. “Sudahlah, percuma juga aku memintamu menyudahi perjanjian yang sudah mengikat kalian. Kau juga berniat menikahi marchioness benar?” “Itu hanya salah satu harga yang diberikannya padaku. Vladmire membutuhkan dukungan dan pilar yang lebih kuat dari sebelumnya, bukankah kau sendiri yang memintaku cepat menikah dan melenyapkan rumor tidak benar tentangku?” Dua orang itu saling mendelik dan melempar tatapan tajam satu sama lain, tidak ada percakapan lebih lanjut karena Schulze memilih meninggalkan sang duke dengan piring kosong, “Jika marchioness sudah siuman berikan air minum, kemudian periksa suhu tubuhnya.” Setelah memberikan pesan singkat Schulze meninggalkan kamar Gavril yang kini hanya diisi oleh dirinya dan gadis bersurai platina. Ia menghela nafasnya pelan dan memijat pangkal hidungnya. Ia lelah, baru saja mereka membereskan dua rumor dan membungkam publik, sekarang Idril justru terbaring sakit. “Sialan, seharusnya aku tadi memakinya karena sudah memberikan tenggang waktu singkat dan membuat Idril jatuh sakit,” gumam Gavril sembari mengacak surai kelamnya frustasi. Ia memaki seseorang yang sempat ia temui beberapa saat lalu, siapa lagi jika bukan pemimpin negeri mereka yang merangkap sebagai pamannya. Di tengah rasa kesalnya tiba-tiba Gavril dikejutkan dengan pergerakan kecil dari jari jemari yang berada dalam genggamannya. Ia langsung mendongak dan dapat melihat gadis bersurai platina yang mulai membuka matanya perlahan. “Idril, apakah kau baik-baik saja?” tanya Gavril yang telah mendekat dan menatap lekat paras jelita pucat Idril. “Lucius …?” Sebuah nama yang baru saja keluar dari bibir pucat Idril berhasil membuat kedua alis Gavril menukik. Ia menahan nafasnya selama beberapa saat, bagaimana bisa gadis itu salah mengenalinya dengan Lucius, Sementara paras dan rupa mereka sangat berbeda. Gavril mencoba mengesampingkan pertanyaan dalam benaknya. Ia memilih untuk memberikan segelas air dan membantu Idril untuk meneguknya, baru setelah gadis itu berhasil menghabiskan setengah isi gelasnya Gavril mulai membuka suara, “Idril, aku bukan Lucius … ini aku Gavril.” Mendengar suara husky Gavril yang rendah membuat Idril langsung menarik wajah sang duke untuk mendekat. Ia memperhatikan paras tampan di hadapannya lekat-lekat, memastikan apakah ucapan pria itu benar. “Ma-maafkan aku, Gavril. Aku kira … kau Lucius untuk sesaat,” lirih Idril lesu. Seulas senyuman masam terukir di kedua sudut bibirnya. “Tidak apa-apa, mungkin karena kau sedang demam jadi kau berhalusinasi,” kata Gavril. Setelah menerima penjelasan yang masuk akal dari sang duke Idril melepaskan wajah pria bersurai legam tersebut. Ia kembali berbaring dan menghela nafasnya pelan. Idril bertanya-tanya, selama beberapa saat ia mengira Lucius sedang bersamanya. Kakak sulungnya itu sepertinya duduk di ranjang kamar dan mengusap surainya. Bahkan pria itu tersenyum samar dalam ingatannya, Idril merasa apa yang ada dalam benaknya seperti sebuah kenyataan. “Tapi aku merasa aku sedang tidak berhalusinasi, Lucius ada disini … di kamarku, dia duduk dan mengusap rambutku, Gavril.” “Idril, jangan bercanda … kau sendiri tahu apa yang sudah terjadi padanya bukan?” Idril mengangguk lemah sebelum akhirnya menggigit bibir pucatnya. Tentu saja, ia mengingat apa yang telah terjadi pada Lucius. “Dia … sudah mati. Lucius … tidak seharusnya masih berada disini bersama kita,” jawab Idril pilu. “Tapi … aku bersungguh-sungguh! Aku melihatnya, Lucius ada di sampingku.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN