Musim semi baru saja tiba, dan hujan telah menyapa. Bahkan belum terlalu lama mereka menikmati hangatnya mentari, tapi sang surya memilih untuk menyembunyikan diri diantara gumpalan kapas cumulonimbus.
Idril memandang jauh ke jendela yang tengah menampilkan suasana pekarangan mansion Vladmire. Ia memejamkan mata dan mencoba menempatkan tubuhnya yang saat ini sedang berbaring dalam posisi lebih nyaman. Gemericik tetesan air hujan dan aroma rerumputan yang basah menjadikan suasana terasa lebih damai.
“Bagaimana keadaanmu?” Suara husky yang berhasil membuat darah Idril mendesir tiba-tiba terdengar lembut. Sosok pria bersurai legam baru saja tiba dengan sebuah kereta makanan, Idril tidak dapat menahan senyumnya melihat pria sepenting duke mengantarkan makan siang untuknya secara khusus.
“Lebih baik dari kemarin … maaf, karena sudah merepotkan kalian,” kata Idril serak. Gavril yang semula hendak membuka tudung besi penutup makanan berhenti bergerak dan menatap ke arah Idril dengan raut terkejut.
“Idril, kau yakin sudah jauh lebih baik? Kau terdengar masih sakit karena meminta maaf.”
Bibir pucat gadis bersurai platina itu mengerucut begitu mendengar ucapan sarkas sang duke, “Kau memang menyebalkan. Apakah kau tidak dapat melihat aku mengatakannya secara tulus? Kau menghancurkan perbuatan baik seseorang.”
Alih-alih takut karena melihat Idril merajuk, Gavril justru tertawa kecil dan mulai mengambil tempat di ranjang⸺tepatnya bagian yang masih kosong. Pria itu mengangkat semangkuk sup jamur buatan kepala koki yang masih mengepul, “Sepertinya kau benar … kau sudah jauh lebih baik. Kau tahu seberapa frustasinya Zeref karena tidak mendengar ucapan sarkasmu itu?”
Idril tersenyum tipis. Ia pasti sudah membuat seluruh pelayan, termasuk sang butler cemas. Sebenarnya ia berniat untuk beristirahat dan menjauh dari mereka karena ia sedang ingin merenung, terima kasih kepada Gavril yang telah mengajak mereka berkencan dan meninggalkan memori yang membuatnya tidak dapat tidur semalaman.
Bagaimana tidak? Adegan dimana pria itu melahap bibirnya dan memberikan sapuan lembut berhasil membuat Idril menjadi tidak waras. Ia bahkan cukup kesulitan hanya untuk memejamkan mata, karena selalu terbayang dengan setiap rasa yang tertinggal. Dan kini pria itu dengan mudahnya berkata seakan menyalahkannya, ingin rasanya Idril merobek bibir sensual yang seksi milik sang duke.
“Lihat siapa yang berbicara, padahal aku sakit karena perbuatannya yang membuatku terjaga semalaman,” gumam Idril tidak jelas setelah ia menelan sesuap sup.
“Kau mengatakan sesuatu?” tanya Gavril yang telah menekuk kedua alisnya. Ia tidak dapat mendengar ucapan gadis bersurai platina tersebut dengan jelas. Idril terdengar seekor lebah yang terbang karena bergumam dan makan di saat yang bersamaan.
“Tidak ada … aku hanya berkata, aku merasa bersalah dengan Zeref karena dia harus menerima omelanku beberapa saat sebelumnya, padahal ia pasti kebingungan,” elak Idril.
“Tentu saja, kau tidak membiarkan siapapun masuk dan menolak untuk makan, belum lagi pelindung sihir tingkat tinggi terpasang di kamarmu. Bagaimana Zeref tidak frustasi? Dia langsung menghubungiku secepat mungkin, beruntung saat itu aku sedang di istana.”
Idril tertawa kecil sebelum akhirnya ia menyadari ada sesuatu yang janggal di kalimat pria bermanik keemasan tersebut, “Tunggu, apa maksudmu dengan sihir pelindung tingkat tinggi?”
Gavril yang semula hendak menyuapkan sesendok sup tiba-tiba berhenti.Ia baru saja menyadari kebodohannya, ia menggali kuburnya sendiri dengan mengatakan bahwa seseorang menerobos masuk kamarnya. Manik krimson Idril sudah menatapnya, menuntut
penjelasan. Ia merutuki mulutnya yang selalu berucap seenak hati.
“Gavril, kau menyembunyikan sesuatu? Terjadi sesuatu bukan saat aku tidak sadarkan diri?”
Diberondong beberapa pertanyaan sang duke hanya bisa menghela nafasnya pelan. Ia meletakan mangkuk dan sendok ke atas meja. Riak wajah kesal terukir di paras ayu Idril membuatnya tahu gadis itu tengah dirundung rasa kesal, “Dengarkan aku dulu … aku tidak berniat menyembunyikannya. Aku hanya menunda untuk memberitahukannya padamu, itu saja. Lagipula kau memang harus tahu soal ini.”
“Sebenarnya ketika aku menerima surat dari dari pembawa pesan, aku langsung bergegas datang kemari. Dan ketika aku tiba Zeref menjelaskan bahwa tidak ada jawaban saat dirinya atau pelayan lain memanggilmu.”
“Dan satu hal lagi … kamarmu terpasang sihir pelindung tingkat tinggi yang bahkan tidak sembarang orang dapat mematahkannya, kecuali aku. Pantas saja Zeref kebingungan dan menghubungiku. Dia tidak memiliki pilihan lain.”
Idril mengernyit, ia menatap ke arah sang duke dengan sirat kebingungan, “Aku tidak dapat menggunakan sihir pelindung di tingkat seperti itu. Aku hanya bisa … melakukannya seperti ini.”
Setelahnya sebuah kubah kecil berwarna kemerahan menyelimuti mereka. Itu adalah sihir pelindung dasar yang dibuat Idril. Gavril memperhatikan dengan seksama, tidak ingin ada yang ia lewatkan.
“Kau benar-benar tidak bisa menggunakan tingkatan yang lebih dari ini?” Gavril kembali memastikan kemampuan Idril yang barangkali ia sendiri masih belum tahu. Tapi melihat Idril yang mengangguk dan mencoba membenahi struktur sihirnya untuk naik ke tingkat lebih tinggi justru membuat gadis itu tersentak kecil, akibat hancurnya pelindung secara tiba-tiba.
“Aku masih belum menguasainya. Aku hanya bisa menggunakan dasarnya saja, itupun Lucius yang mengajariku dan kami masih belum mencapai tahap yang lebih tinggi.”
“Tunggu … kau bilang Lucius yang mengajarkannya bukan? Karena kami berada di satu akademi yang sama, itu masuk akal bila dia mengajarimu. Idril, saat kau bilang kau melihat Lucius disini … apakah itu benar?”
Idril terdiam. Ia memilin jubah tidurnya dan hanya menunduk sembari mengulang kembali ingatan-ingatan yang tersisa padanya. Tapi ia tidak dapat mengingatnya, semakin ia mencoba mencari ingatan tersebut rasa pening tiba-tiba menyergapnya.
“Kau baik-baik saja? Tidak perlu memaksakannya, jika memang tidak bisa. Ini hanya akan membuatmu merasa sakit … tapi kau yakin Lucius ada disana?”
“Aku yakin, aku tidak tahu mengapa aku bisa seyakin itu. Aku bahkan tidak memiliki ingatan tentang hal ini, hanya saja perasaanku berkata dia pernah bersamaku. Dia ada disana … Lucius duduk di samping ranjangku,” kata Idril mencoba meyakinkan sang duke.
Gavril kali ini yang terdiam. Ia berpikir untuk menemukan jawaban dari teka-teki ini. Mengapa Idril tidak mengingat dengan jelas ingatan tentang ia yang bertemu Lucius? Gadis itu hanya dapat mengandalkan insting saja, meski Gavril sendiri tidak meragukan insting Idril mengingat memang ia memiliki intuisi yang tajam.
“Ini … terdengar tidak mungkin. Kau mungkin akan menganggapku tidak waras,” kata Gavril sembari mengacak surai kelamnya frustasi.
“Ada apa? Mengapa begitu?” Idril menatap sang duke dengan raut cemas. Gavril yang ditatap tidak segera menjawab pertanyaan gadis bermanik krimson tersebut, cukup lama sampai akhirnya tiba-tiba pria itu menyerahkan mangkuk dan sendok ke tangan Idril. Ia tersenyum manis sembari mengusap surai keemasan Idril.
“Tidak … aku akan mencoba mencari petunjuk dan menyelidiki ini lebih jauh. Jangan cemaskan apapun dan cepatlah sembuh, jangan sampai bangsawan lain tahu dan menjadikan saat ini sebagai kesempatan,” ucap Gavril sebelum meninggalkan kamar beserta Idril yang hanya bisa diam dan memandangi sup dingin di tangannya.