Rencana Perjalanan Bisnis Pertama

1111 Kata
Beberapa hari telah berlalu, Idril telah menjalani aktivitasnya seperti biasa. Tidak ada hal-hal aneh atau lainnya. Sang marchioness hanya memiliki hari-hari biasa yang padat dan cukup membosankan. Meski begitu ia merasa keadaan menjadi cukup damai, karena tidak ada lagi rumor ataupun ancaman dari para pembunuh. Namun Idril tetap tidak dapat menghilangkan sosok penyelinap yang menerobos masuk ke dalam kamarnya. Rasa ingin tahunya terlalu besar, padahal Gavril telah memperingatkannya untuk tidak terlalu menaruh rasa penasaran karena itu hanya akan membawa Idril ke dalam situasi tidak terduga lainnya. Tidak ada yang salah dengan pemikiran sang duke, sayangnya gadis bersurai platina itu yang memiliki keganjilan di benaknya. “Nona, apakah Anda mendengarkan saya?” Suara serak Zeref berhasil memecah lamunan Idril yang sejak tadi tidak memperhatikan sang butler. Malang memang nasib Zeref. Ia tidak sedang dalam keadaan prima, tapi nona mudanya justru melamun ketika ia memberi penjelasan. “A-ah … maaf, aku sedang memikirkan hal lain,” kata Idril sembari membolak-balikan kertas di tangannya yang sempat diacuhkannya. “Tadi kau bilang apa?” Zeref menghembuskan nafasnya perlahan. Ia mencoba untuk menjadi lebih sabar lagi. Mengingat nona mudanya yang sedang tidak dapat menerima segala penjelasannya dengan mudah seperti biasa. Ini juga salah satu tugasnya sebagai seorang butler. “Saya berkata, Anda memiliki jadwal untuk bertemu dengan delegasi dari kerajaan Velduria.” “Tempatnya ada di …?” Idril menaikkan sebelah alisnya sesaat setelah Zeref menyerahkan selembar kertas. Ia tidak akan menyangka sang butler membuat lembar informasi kota yang akan ditujunya. “Bagian selatan Zoresham. Karena kemungkinan Anda tidak begitu mengetahui dan mengenal tentang kota kecil ini, saya sudah membuatkan lembar informasi yang akan membantu Anda,” jelas Zeref yang langsung menerima maksud dari pandangan gadis bersurai platina tersebut. “Kota yang akan kita tuju bernama Maria Daerah dengan jumlah penduduk yang kurang dari penduduk di ibu kota, terletak di dekat daerah pesisir sehingga kebanyakan mata pencaharian mereka nelayan.” “Ada banyak yang bisa dinikmati di kota kecil ini. Mungkin tidak akan semegah dan mewah ibu kota, tetapi suasana ketenangan dan tradisional lebih terasa disini,” imbuh Zeref. “Apakah ada alasan mengapa delegasi Velduria memilih Maria sebagai tempat kami akan bertemu dan berdiskusi?” tanya Idril yang masih sibuk membolak-balikan lembaran informasi kota Maria. “Saya sudah menanyakannya kepada ajudan beliau, delegasi Velduria kali ini bernama William Bruyer. Beliau adalah bangsawan tinggi tingkat Earl dan alasan mereka memilih kota Maria karena ingin mengingat kembali kenangan di masa lalu,” jawab Zeref sembari kembali menyerahkan lembaran kertas yang berisi profil pria bernama William ini. Idril pun langsung membaca setiap biodata salah satu bangsawan tinggi yang akan ditemuinya itu, “Dia memiliki usia yang tidak jauh berbeda dengan Gavril dan Lucius. Aku pikir earl adalah pria paruh baya melankolis yang merindukan masa lalu.” “Bukan, Nona. Kemudian karena kita akan melakukan perjalanan yang cukup jauh, saya sarankan untuk berangkat sehari lebih cepat agar Anda tidak terlalu lelah. Kondisi kesehatan Anda baru saja membaik, saya tidak ingin sesuatu seperti lusa terjadi.” “Itu artinya kita akan menginap semalam, benar? Apakah semuanya sudah disiapkan?” Zeref mengangguk. Idril tersenyum samar, ia tahu Gavril tidak akan sekedar memilih saat ia berkata akan memberikan butler handal, meskipun terkadang Zeref menyebalkan tapi Idril mengakui pria itu memiliki kinerja yang cekatan dan ulet. “Zeref, siapkan juga buah tangan untuk earl. Kita tetap harus memberikan sambutan atas kedatangan beliau … lalu earl juga menyerahkan kita untuk mencari tempat penginapan benar?” “Saya sudah memilihnya salah satu villa milik putra seorang baron. Banyak bangsawan yang menggunakan villanya ini sebagai tempat menginap. Letaknya strategis, dekat dengan pusat kota tapi masih berada di pesisir pantai.” Setelah memastikan semua hal sudah dilakukan oleh sang butler selebihnya Idril hanya mengangguk dan menerima saran dari Zeref. Ia sedang tidak dapat berpikir terlalu banyak, lagi pula pilihan yang dilakukan sang butler tidaklah buruk. “Aku serahkan saja semua padamu,” putus Idril akhirnya. Zeref mengerjap beberapa kali dan memandang ke arah nonanya dengan tatapan seolah sedang memastikan keputusan sang marchioness. Takutnya, ia sedang berhalusinasi atau semacamnya. “Aku serius … kau sudah melakukan banyak hal dengan baik selama ini, jadi aku akan menyerahkan sisanya kepadamu. Aku tahu kau tidak akan pernah mengecewakanku, bukan?” Zeref menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, “I-itu memang benar … tapi bukankah lebih baik, jika Anda memastikannya kembali? Bagaimana jika saya melakukan kesalahan?” Idril berdehem beberapa saat sebelum akhirnya melempar senyuman samar, “Maka, kita akan memperbaikinya. Kesalahan itu hal yang wajar, bahkan aku sendiri bisa salah karena itu lakukan saja yang terbaik. Entah, situasi akan bagaimana yang penting sudah berusaha.” Salah satu hal yang disukai Zeref dari sang marchioness adalah bagaimana ia menjadi bijak kepada semua orang. Bahkan beberapa bangsawan di bawah pimpinannya yang semula menaruh rasa tidak suka menjadi kagum kepada cara kepemimpinan juga kebijaksanaan gadis tersebut. Dan mungkin karena Idril berada di bawah bimbingan duke Vladmire membuatnya memiliki kemiripan di beberapa hal, bukan hal yang buruk hanya saja terasa sedikit dejavu. “Nona, tapi … apakah Anda sebelumnya pernah berkunjung ke luar ibu kota? Saya cukup penasaran karena Anda tidak bereaksi apapun seperti biasanya.” Lagi-lagi pertanyaan lugas Zeref membuat Idril menyesali pilihannya untuk memuji sang butler, meski memiliki kinerja yang sangat baik tapi Zeref dan mulutnya selalu melakukan hal yang mereka mau, “Lalu aku harus berekspresi seperti apa? Bertepuk tangan senang seperti seekor pinguin? Aku hanya tidak pernah pergi ke kota Maria itu saja dan tentu saja aku pernah keluar dari ibu kota.” “Benar, Zeref … apakah lusa sewaktu duke menerobos sihir pelindung di kamarku kau melihat pria yang menyusup masuk?” Alis Zeref menukik cukup tajam. Ia mencoba mengingat kejadian beberapa saat lalu, ketika ia hampir mati lemas karena sang duke yang cemas membuatnya menerima beberapa omelan kecil, “Saya hanya melihat rantai milik duke saja keluar ke jendela yang rusak. Beliau berusaha mengejar penyusup tersebut, tapi gagal. Apakah Anda masih penasaran dengan si penyusup ini?” Melihat diamnya Idril membuat Zeref yang hendak keluar dari ruangan kerja sang marchioness hanya bisa mengangguk saja, “Menurut saya sebaiknya Anda menuruti ucapan duke untuk tidak terlalu ingin tahu, duke sudah berkata akan mencari jejaknya bukan? Kalau begitu yang Anda lakukan adalah fokus pada perjalanan bisnis pertama Anda.” “Kau benar … aku baru saja ingat ini perjalanan bisnis pertamaku. Aku tiba-tiba merasa gugup.” Idril mengusap tengkuknya yang tiba-tiba berkeringat. “Tenang saja, Nona. Semua akan baik-baik saja selama kita tetap tenang,” kata Zeref santai sebelum akhirnya meninggalkan ruangan. "Semoga tidak akan ada hal aneh yang terjadi pada tugas perdanaku kali ini ...." Idril menghembuskan nafas sebelum bersandar di kepala sofa sembari mengucap doa-doa kecil untuk meredakan kecemasannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN