Ketukan pintu beberapa kali menghentikan pria bersurai legam yang tengah sibuk dengan pena di tangannya. Gavril melirik ke arah jam kayu di atas meja, padahal waktu masih belum menunjukan siang kalau begitu alasan pria paruh baya bertuxedo datang untuk memberikan laporan atau kabar kepadanya.
“Duke, maaf karena telah mengganggu … saya hanya ingin memberitahukan hasil penyelidikan komandan pasukan kita tentang penyusup di kediaman marchioness masih belum menemukan titik terang,” tutur Isaac yang kini telah berdiri di hadapan meja kerja Gavril. Pria bermanik keemasan itu mengangguk dan menghela nafasnya pelan.
Sudah sejak hampir satu minggu kejadian kamar Idril diterobos masuk. Dan selama itu Gavril masih belum menarik perintah kepada komandan pasukan Vladmire beserta ksatrianya untuk mencari petunjuk tentang si penyusup misterius tersebut. Dan ini membuatnya semakin kesal juga frustasi.
“Sialan, bagaimana mungkin kelompok terbaik pun tidak dapat menemukan satu jejak yang ditinggalkan penyusup itu,” gerutu Gavril dan membuat Isaac berjengit kecil karena suara tuan mudanya tiba-tiba meninggi.
“Kemungkinan penyusup ini adalah penyihir tingkat tinggi, Tuan. Jadi, mereka kesulitan untuk menemukan jejaknya.” Isaac mencoba menanggapi amarah Gavril dengan tenang. Bertahun-tahun melayani pemuda itu beserta sang ayahnya ternyata masih saja membuat Isaac hampir mengalami serangan jantung berkali-kali.
“Tapi … Tuan, bagaimana jika kita hentikan saja dahulu penyelidikan ini? Lagi pula marchioness tidak dilukai atau menerima apapun dari penyusup tersebut.” Langkah yang salah untuk sang butler. Ia baru saja membuat Gavril harus melempar tatapan setajam belati kepadanya.
“Bagaimana jika dia datang lagi? Penyusup itu bisa menerobos masuk ke kamar Idril kapanpun itu … lalu bagaimana kalau saat itu dia sedang be-berganti pakaian atau tidur?”
Isaac kehilangan kata-kata selama beberapa saat setelah mendengar ucapan sang duke. Ia tidak akan menyangka mendengar kata-kata semacam itu darinya mengingat Gavril bukanlah seseorang yang mudah berpikir tidak logis.
“M-mohon maaf, Duke. Tapi dia bukan penguntit … tapi penyusup,” ralat Isaac dengan suara gugup. Ia terbatuk beberapa kali karena rasa canggung ketika memperbaiki kosa kata tuan mudanya itu, tapi sepertinya Gavril tidak ingin menggantinya melihat lirikan tajam kembali diterima sang butler.
“Sama saja! Dia menerobos masuk dan memasuki kamar Idril … untuk apa dia harus masuk dan memasang sihir pelindung tingkat tinggi? Lalu apa yang dia lakukan jika tidak melukai atau memberikan sihir apapun pada Idril?”
“Tunggu! Ini tidak seperti aku ingin dia melukai Idril atau semacamnya hanya saja … bukankah yang dilakukannya itu aneh!” Gavril terengah. Pria itu sampai setengah bangkit dari kursinya, sampai ia sadar apa yang baru saja dilakukannya adalah hal konyol. Gavril kembali duduk dan bersikap seakan tidak terjadi apapun.
Isaac sendiri yang hanya bisa mengerjap dan terpaku untuk beberapa saat ia berpikir kecemburuan dan kekhawatiran tuannya itu sangat mirip dengan mendiang duke, benar-benar ayah-anak yang overprotektif. Kemudian setelah berhasil mengendalikan ekspresinya Isaac baru mulai menyampaikan pendapatnya, “Anda benar itu semua aneh. Memang sangat tidak wajar, jika seorang penyusup menerobos masuk dan tidak melakukan apapun. Karena itu … bisa saja dia ingin memperhatikan marchioness saja. Anda benar orang itu adalah penguntit.”
“Isaac, kau membuatku semakin cemas dengan semua kesimpulanmu itu.”
“Tapi, jika Anda sedang mengkhawatirkan marchioness Anda terlihat seperti mendiang duke. Anda berdua memang ayah dan anak … menggemaskan sekali.” Gavril hanya bisa menaikan sebelah alisnya melihat ekspresi sang butler yang datar. Sama sekali tidak cocok dengan ucapannya.
“Duke, saya rasa Anda tidak seharusnya memikirkan tentang penyusup ini.”
Kedua alis Gavril menjadi menukik, “Apa maksudmu dengan tidak seharusnya? Apakah ada sesuatu yang terjadi hari ini?”
Isaac menghela nafas sebelum akhirnya menggeleng. Ia tahu tuan mudanya adalah pria semacam ini. Dan jika sudah begini kemungkinan ia yang akan disalahkan, tapi ia tidak memiliki pilihan selain memakluminya, “Bukankah saya sudah memberitahukannya kepada Anda? Lusa marchioness akan melakukan pertemuan dengan delegasi dari Velduria di kota Maria. Itu artinya untuk pertama kalinya beliau akan keluar dari ibu kota.”
“Kenapa kau tidak mengingatkanku tentang hal ini? Aku heran mengapa delegasi Velduria ingin melakukan diskusi di pinggiran kota.” Gavril langsung bangkit dari duduknya dan segera merapikan lembaran dokumen yang sejak tadi mengisi meja.
“Mungkin karena kabar bahwa marchioness Tinuvel merupakan gadis muda yang jelita membuat beliau memilih untuk menjadikan Maria sebagai tempat pertemuan mereka,” sahut Isaac begitu saja. Ia membuat Gavril semakin bergerak cepat dan tergesa-gesa, melihat tingkah sang tuan tidak dapat membuat pria paruh baya itu dapat menahan senyumnya.
“Ternyata Anda sudah dewasa ya … saya tidak akan menyangka melihat Tuan muda akan bertemu dengan cinta dan lagi Anda benar-benar menjaga gadis Anda dengan sangat berhati-hati, persis seperti mendiang duke.”
Manik keemasan Gavril memandang ke arah pria yang telah puluhan tahun mengabdikan diri untuk Vladmire. Isaac selalu mengurus segala kepentingan mansion dan keluarga, bahkan setelah kematian mendiang orang tuanya sang butler menjadi salah satu orang yang berperan besar sampai ia bisa berdiri dengan kedua kakinya sendiri. Wajar bila Isaac merasa seperti ia sedang membesarkannya sebagai seorang putra.
“Apa yang kau bicarakan dengan jatuh cinta? Aku tidak jatuh cinta pada marchioness … aku hanya mencemaskannya sebagai pelindung, benar! Bagaimana jika delegasi Velduria ternyata seseorang yang aneh?”
Isaac tertawa kecil. Ia berharap marchioness ada bersamanya disini dan dapat melihat semerah apa wajah sang duke ketika seseorang mengatakan sedang jatuh cinta, “Apakah Anda yakin? Bagaimana jika ternyata delegasi itu pemuda tampan yang tertarik dengan marchioness?”
“Ah! Sudahlah … lagipula Idril adalah calon istriku, sudah sewajarnya dia berada dalam lindunganku. Jika saja delegasi itu tampan dan menginginkan Idril pun dia tidak bisa melakukan apapun karena ikatan yang sudah terjalin mutlak.”
“Sebaiknya kau segera siapkan kereta, aku akan pergi ke Tinuvel sekarang,” putus Gavril akhirnya. Isaac hanya mengangguk dan masih memperhatikan gesture sang duke yang tampak kaku juga gugup disaat bersamaan.
“Tenanglah, Tuan. Sekalipun delegasi itu tampan saya yakin dan dapat menjamin marchioness tidak akan berpaling dari Anda. Beliau bukan gadis yang mudah merubah keputusan dan perasaannya bukan?”
Gavril semakin memerah dan menjatuhkan lembaran kertas di tangannya begitu saja, “A-apa maksudmu?! Kau senang sekali menjahiliku … keretanya saja cepat.”
“Baiklah, saya mengerti, Tuan muda … tapi saya senang dengan melihat Anda jauh lebih ekspresif seperti ini. Saya senang dapat melihat Tuan muda kembali menjadi diri Anda yang dulu … Anda tampak jauh lebih hidup dan berwarna.” Kemudian sang butler melangkah keluar seiring dengan pintu yang tertutup.
“Dasar orang tua itu … bisa-bisanya dia menjahiliku seperti itu.” Gavril yang semula sibuk meraih satu persatu lembaran kertas tiba-tiba diam tidak bergeming. Benaknya kembali pada ucapan Isaac yang masih terngiang di telinganya.
“Menjadi diriku yang dulu? Terlihat jauh lebih hidup dan berwarna? Benarkah begitu? Yang benar saja ….”
***
Suara roda-roda pedati terdengar memenuhi mansion Tinuvel. Beberapa orang dan pelayan tampak sibuk menaik-turunkan barang-barang yang akan dibawa sang nona menuju perjalanan bisnis perdananya kali ini.
Idril bahkan sampai turun sendiri dan melihat kinerja para pekerja, tidak hanya itu ia juga melakukan pengecekan akhir untuk melihat barang-barang yang harus dibawa sebagai buah tangan dan contoh produk milik Zoresham sudah dibawa masuk.
“Tapi … memangnya aku sampai perlu pakaian sebanyak itu? Aku hanya pergi selama tiga hari saja,” kata Idril kepada Zeref yang berdiri tidak jauh dari tempatnya. Ia memandang pada salah satu kotak berisi pakaiannya.
“Tentu saja, Anda akan memerlukan berbagai pakaian. Anda akan bertemu dan mengadakan janji temu dengan delegasi kerajaan seberang, sudah sepantasnya Nona harus tampil dalam busana terbaik,” jawab sang butler tanpa melepaskan pandangan pada salah satu pekerja yang sedang membuka kotak.
“Oh, tapi saya terkejut benda yang Anda pilih sebagai buah tangan earl Bruyer … lilin aroma yang diukir tangan? Bukankah ini cukup mahal?” tanya Zeref sembari menunjuk pada benda yang ada di tangan Idri.
“Aku tahu… tapi ini bisa jadi lahan yang bagus untuk membuka pasar dan kerja sama dengan Velduria. Lilin ini adalah benda yang kusiapkan sendiri, ini akan menguntungkan Tinuvel dan Zoresham, ia⸺”
Belum sempat menyelesaikan penjelasannya Idril tiba-tiba terhuyung ketika seseorang datang dan memeluk tubuhnya dengan erat. Ia sampai hampir jatuh bila saja orang itu tidak menahan tubuhnya.
“Astaga! Ya Tuhan …,” pekik Idril. Ia mencoba melihat sosok yang saat ini sedang meletakan kepalanya di pundaknya. Ia semakin penasaran karena Zeref dan para pelayan sampai dibuat memerah.
“Mengapa kau tidak bilang padaku jika ada urusan bisnis lusa? Kau berencana untuk melarikan diri atau semacamnya?” Sebuah suara husky yang sangat familiar di telinganya berhasil membuat wajah sang marchioness merah padam. Tidak ada yang akan berani melakukan hal semacam ini padanya, terlebih lagi jika orang itu adalah seorang pria⸺setidaknya ada satu dan ia adalah duke Vladmire, tentu saja.
“Ga-Gavril! Apa yang kau lakukan!?” tanya Idril setengah berbisik.