Tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Idril untuk menjadi bahan tontonan pelayan juga pekerja di mansionnya. Mereka bahkan sampai ternganga dengan adegan yang tengah mereka saksikan, pasalnya pria bersurai legam dan manik keemasan⸺duke Vladmire yang dikenal sebagai sosok dingin juga keji tidak memiliki emosi saat ini sedang mendekap erat kepala keluarga Tinuvel. Dan lagi sang duke sendiri yang pertama kali berlari kemudian mengejutkan gadis bersurai platina tersebut.
Idril sendiri hanya bisa dilanda kegugupan yang luar biasa,“Ga-Gavril! Apa yang kau lakukan!?”
Dua kali sudah Idril menanyakan pertanyaan yang sama. tapi alih-alih menjawab Gavril justru mencebik dan membuat orang-orang yang melihat seakan hampir melempar bola mata mereka keluar. Bahkan Idril sekalipun tidak dapat berkata-kata.
“Duke! Anda seharusnya … tahu … saya … sudah sangat tua, jadi setidaknya … jangan berlari seperti itu.” Isaac yang baru saja datang terengah dan kehabisan nafas. Pria paruh baya itu seakan bisa meledakan paru-parunya, karena berlari dari pekarangan menuju halaman belakang di usianya yang sudah setengah abad.
Butler keluarga Vladmire itu tersedak ludahnya sendiri ketika menemukan sang tuan sedang mendekap erat gadis bersurai platina yang tampak kelabakan dan memerah. Ia beralih memandang ke arah Zeref yang terpaku, namun segera ia berdehem untuk mencoba menenangkan diri.
“Zeref! Apa yang kau lakukan sebagai butler keluarga Tinuvel? Mengapa kau membiarkan nonamu menjadi bahan tontonan? Kalian juga … para pelayan tidak seharusnya menatap nona mereka secara langsung tanpa sopan santun,” tegur Isaac yang langsung menyadarkan mereka yang telah disebutkan segera kebingungan dan memalingkan wajah. Termasuk Zeref yang segera membungkuk dan memberikan perintah kepada para pekerja untuk kembali fokus dengan pekerjaan mereka.
“Ma-maaf kan saya, Butler Isaac. Saya bersalah karena sudah berani lancang.”
“Sudah seharusnya … jangan mengulanginya lagi. Kemudian ….” Pandangan Isaac jatuh pada sang tuan yang masih tidak bergerak dari tempatnya, meskipun gadis di dalam dekapannya telah memerah, ia pikir mungkin marchioness akan pingsan di tempat jika dibiarkan jauh lebih lama.
“Isaac, tolong aku …,” lirih Idril tanpa suara. Gadis itu mungkin bisa-bisa pingsan karena sikap sang duke. Meskipun sebenarnya ia sendiri cukup senang melihat cara mengekspresikan kekesalan pria bermanik keemasan tersebut.
“Duke, saya pikir Anda lebih baik melepaskan Marchioness,” ucap Isaac setelah berdehem. Gavril mendelik tajam ke arah pria paruh baya yang tengah tersenyum sopan.
“Memang kenapa? Aku hanya sedang memeluk calon Istriku bukan? Tidak ada salahnya.” Idril tersedak dan diikuti dengan Zeref yang tiba-tiba hampir terpeleset, bahkan Isaac hanya bisa mengerjap seperti orang dungu.
“Tuan Gavril, Berhenti dan saya harap Anda mengikuti saran saya, jika Anda masih ingin bisa melihat Marchioness,” imbuh Isaac lagi. Gavril yang merasa aneh dengan ucapan sang butler akhirnya merenggangkan pelukannya. Kini ia dapat melihat wajah jelita gadis bersurai platina yang mendelik tajam dan memerah.
“Duke Vladmire … mari kita bicarakan semuanya di dalam,” kata Idril dengan senyuman mengerikan yang membuat Gavril hanya bisa mengangguk dan segera berdiri tegak. Isaac menahan tawa melihat sosok yang biasanya ditakuti itu menuruti perintah sang marchioness, cinta memang membutakan segalanya. Bahkan serigala bisa menjadi luluh.
Setelahnya Idril menjatuhkan pandangan pada para pekerja dan pelayan di belakangnya dan membuat mereka segera bergerak cepat. Bahkan Zeref berteriak lebih keras, mereka tidak ingin menerima ucapan dingin dan tatapan tajam sang marchioness seperti pria bermanik keemasan tersebut. Barulah akhirnya Idril melangkah masuk dengan Gavril yang mengekor di belakangnya.
***
Gadis bersurai platina baru saja memasuki ruang tengah dan melempar dirinya ke sofa. Ia menepuk wajahnya beberapa kali karena ia masih dapat merasakan sensasi panas di seluruh wajah. Dan Idril tentu tahu dirinya pasti sudah seperti udang rebus, manik krimsonnya langsung menatap ke arah sosok pria berambut legam yang duduk di sofa lain yang terletak di samping kanannya. Gavril tanpa rasa bersalah mengulum senyum manis.
“Kau … apakah tidak bisa melihat situasi? Mengapa tiba-tiba melakukan hal semacam tadi?”
“Memangnya kenapa? Apakah aku salah? Aku kan hanya memelukmu?” Gavril dengan santainya bertanya balik kepada Idril yang bahkan langsung dibuat salah tingkah, ketika mendengar kata pelukan.
Adegan tangan yang melingkar di pinggang ramping Idril dan mendekap tubuhnya erat kembali terbesit di benak sang marchioness. Ia tidak dapat menahan semburat di wajahnya dan membuat Gavril semakin gemas dengan tingkah gadis bermanik krimson tersebut.
“Salah … mengapa kau memelukku di depan para pelayan? Kau pikir bagaimana pendapat mereka nanti tentang kita?” Idril mengibaskan tangannya, berharap akan mengurangi rasa panas.
Gavril tidak segera menjawab, ia justru berdehem selama beberapa saat dengan pandangan yang tidak beranjak dari Idril, “Sepertinya Duke benar-benar telah jatuh cinta kepada Marchioness … mereka tampak serasi sekali … astaga! Duke Vladmire yang dingin dapat bersikap manis. Kurasa mereka akan berpikir seperti itu.”
Idril tidak dapat berkata-kata, terlebih setelah melihat cara duke memberikan jawaban. Tidak ada rasa bersalah, terlebih lagi senyuman manis itu membuat sang marchioness berdegup semakin kencang. Sehingga akhirnya Idril hanya bisa menghela nafasnya dan mendiamkan pria bermanik keemasan.
“Tapi kau belum menjawab pertanyaanku, mengapa kau tidak memberitahuku kau akan melakukan perjalanan bisnis? Dan lagi bertemu dengan delegasi kerajaan tetangga … apakah kau berencana melarikan diri atau bagaimana?” Idril ternganga dengan pertanyaan juga tuduhan yang diberikan Gavril kepadanya. Ia tidak akan menyangka pria itu akan bertandang kemari setelah mendengar kabar tentang kepergiannya ke Maria. Idril langsung memandang pria paruh baya yang hanya bisa tersenyum canggung.
“Bukannya aku melarikan diri … untuk apa aku melakukannya? Lagipula kita sudah terikat dengan perjanjian bukan? Jika aku memang sedungu itu dan melarikan diri, kau pasti akan langsung bisa menemukanku benar?”
Gavril berdecak kesal begitu mendengar jawaban Idril yang masuk akal. Idril sendiri sangat ingin memukul kepala pria bermanik keemasan itu karena kesal, ia seperti baru saja diremehkan, “Lalu mengapa tidak memberikan kabar kalau kau akan melakukan pertemuan dengan delegasi?”
“Untuk apa? Maksudku bukankah ini tugas wajar yang diemban oleh kepala keluarga Tinuvela? Kami adalah jalan untuk menghubungkan dua kerajaan agar saling menerima keuntungan … kau sendiri yang menjelaskannya, jadi perjalanan bisnis seperti ini wajar,” jelas Idril panjang lebar.
“Tapi tetap saja, jika kau akan berangkat ke luar ibu kota, setidaknya agar aku tahu dan bila terjadi sesuatu aku bisa langsung kesana.” Gavril menjawab cepat seakan ia tidak ingin menerima balasan lagi.
“Tapikan aku sudah menerima pasukan terbaik dari Vladmire, apakah mereka tidak dapat diandalkan atau semacamnya.”
“Tidak.” Satu jawaban singkat dan padat membuat Idril hanya mampu menggeleng saja dengan sikap pria keras kepala itu. Ia jadi merasa simpati dengan Isaac yang telah mengurus Gavril puluhan tahun.
“Dasar posesif,” gumam Idril yang masih dapat didengar sang duke cukup jelas.
"Benar! Aku memang posesif. Aku tidak suka jika milikku disentuh oleh orang lain asal Anda tahu, Marchioness."
"Tunggu ... apa?"