Idril tiba-tiba saja membeku begitu mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari mulut sang duke. Ia sampai tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya, tapi melihat ekspresi wajah Isaac merah padam menahan malu membuat Idril kembali yakin. Tidak ada yang salah dengan fungsi pendengarannya.
"Benar! Aku memang posesif. Aku tidak suka jika milikku disentuh oleh orang lain asal Anda tahu, Marchioness." Gavril mengucapkannya tanpa menatap sepasang manik krimson. Sang duke sepertinya juga tengah dirundung rasa malu. Namun, ia tidak menyesali karena telah mengatakannya, sebab itulah kebenarannya.
Gavril adalah pria yang tidak senang seseorang mengusiknya. Mengusik dalam pengertian Gavril sendiri artinya menyentuh, mengganggu dirinya juga benda, maupun orang-orang disekitarnya. Atau ia lebih senang menyebutnya dengan embel-embel miliknya.
"Tunggu ... apa?" tanya Idril sekali lagi. Ia memutuskan untuk memastikan kembali, apakah ia sedang berhalusinasi atau bagaimana?
“Bukankah aku sudah bilang … aku adalah orang yang tidak suka milikku disentuh. Termasuk … calon istriku,” jawab Gavril yang entah mengapa merasa jantung berdegup kencang tanpa alasan.
“Tapi … tidak ada yang berusaha mengusik atau menyentuhku, kalau dipikir-pikir.” Mereka berdua terdiam. Tidak ada yang salah sebenarnya dari ucapan Idril, karena pada dasarnya memang gadis itu tidak sedang diusik atau semacamnya. Ia juga tidak berada dekat dan sampai disentuh oleh orang lain, jadi Gavril sendiri hanya bisa termangu dengan kenyataan yang ada.
“Itu posesif … saya tidak tahu, Duke Vladmire adalah pria yang mudah cemburu.” Sebuah suara yang tiba-tiba ikut bergabung membuat Gavril hampir melempar nakas di sampingnya. Zeref baru saja masuk dengan kereta dorong berisi cangkir dan teko teh.
“Kau benar, aku sendiri sangat terkejut dengan kedatangan Duke dan langsung membahas delegasi dari Velduria,” sahut Idril yang ikut menambah bara dari api.
“Anda berdua tidak tahu … itu semua bukanlah posesif. Ini hanyalah bentuk seorang Vladmire menunjukkan kasih sayangnya saja kepada orang yang mereka cintai. Mendiang duke juga melakukannya kepada mendiang duchess terdahulu,” timpal Isaac yang entah mengapa ikut menanggapi keduanya.
“Benarkah? Beliau berdua pasti memiliki hubungan romantis. Nona, Anda sangat beruntung karena mendapatkan perasaan Duke sampai membuat beliau cemburu,” imbuh Zeref yang mulai menuang air panas ke dalam teko, lalu memasukan lembaran teh ke dalamnya.
“Cemburu? Siapa yang kau sebut cemburu?” tanya Gavril dingin dan membuat Zeref juga Isaac membeku. Gavril yang sejak tadi bungkam akhirnya mengomentari percakapan ketiganya. Tidak hanya itu ia telah melempar tatapan tajam kepada dua pria di hadapannya secara bergantian.
“Isaac, sebaiknya kau memeriksa kembali apakah dokumen penandatanganan sudah ada di dalam kereta atau belum.”
Pria paruh baya bertuxedo tampak kebingungan. Ia masih tidak mengerti dengan perintah yang baru saja diterima dari sang duke. Pasalnya dokumen yang dimaksud oleh Gavril tidak pernah ada keberadaannya. Tidak ada dokumen yang baru saja mereka terima dan harus ditandatangani. Baru saja Isaac akan bertanya ia segera mengurungkan niatnya begitu melihat ekspresi sang duke. Kemudian ia menyadari bahwa pria itu berusaha untuk mengirimnya keluar dari ruangan.
Sorot tajam seakan bisa melubangi kepalanya kapan saja membuat Isaac bergegas mengangguk dan membungkuk, tidak lama ia telah melangkah keluar. Sementara Zeref masih membeku dengan kereta dorong di tangannya. Ia melirik ke arah gadis bersurai platina yang juga terlihat gugup.
“Zeref … aku ingin kau memeriksa sekali lagi, apakah semuanya sudah dinaikkan ke dalam kereta?” Idril bersusah payah untuk memberikan perintah kepada sang butler. Ia terlihat sama sekali tidak ingin ditinggalkan, tetapi keberanian beberapa menit lalu hilang begitu saja setelah melihat ekspresi dingin pria bermanik keemasan.
“B-baik, Marchioness … kalau begitu s-saya permisi,” jawab Zeref yang mencoba bertingkah biasa saja. Ia mengikuti langkah Isaac yang telah melangkah keluar dan meninggalkan tuan juga nona mereka.
Dan tersisalah Idril bersama Gavril yang masih terduduk di atas sofa masing-masing. Gadis bersurai platina tersebut tidak dapat menahan debaran jantungnya, kali ini bukan debaran penuh dengan kupu-kupu di perutnya. Sedikit berbeda karena ia sampai dibuat berkeringat dingin.
Bukannya Idril takut atau semacamnya, ia sebenarnya hanya cemas bila saja sang duke menyimpan rasa kesal dengan ucapan mereka bertiga melihat Isaac yang tiba-tiba menerima perintah tidak masuk akal.
“Idril ….” Panggilan yang ditujukan padanya membuat gadis bersurai platina tersebut bergegas memandang ke arah Gavril. Pria itu tengah memandangnya dengan tatapan yang tidak bisa ia artikan, sehingga membuat Idril semakin dilanda kegugupan.
“Apakah kau juga menganggap apa yang diucapkan Zeref benar? Aku sedang cemburu?”
“Eh …? Cemburu …?” Idril mengulang pertanyaan yang diajukan kepadanya. Gavril tidak pernah tahu sebelumnya tentang apa yang sedang ia rasakan. Karena memang ia tidak pernah berada dalam hubungan atau dekat dengan wanita.
Bohong, jika ia tidak merasa penasaran pada dirinya sendiri dan keanehan sikapnya. Ia sadar dengan semua itu hanya saja ia masih tidak dapat menemukan, alasan dibalik rasa kesal juga kecewa yang ditujukan kepada gadis bermanik krimson tersebut.
“Itu … saya sendiri tidak tahu, karena bukankah apa yang kau rasakan adalah perasaanmu sendiri?” Idril berucap jujur. Ia memang tidak mengetahuinya sama sekali, bagaimanapun mereka bukanlah kembar siam yang berbagi perasaan dan organ.
Gavril tidak segera menjawab. Ia lebih dahulu memperhatikan paras jelita gadis bersurai platina tersebut, ia bangkit dari sofa dan setengah membungkuk, mengikis jarak di antara mereka akibatnya jantung Idril dibuat menggila.
“Aku tidak tahu. Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya,” jawab Gavril jujur.
“Jangan berdusta, setidaknya kau pernah merasakan debaran jantung saat bersama gadis bangsawan lain,” timpal Idril dengan nada lirih. Ia terdengar sedikit merajuk entah mengapa.
Kedua alis Gavril menyatu, “Gadis bangsawan lain? Kau bercanda? Aku saja menerima gelar kutub utara berjalan … si keji dan bahkan rumor tidak mengenakan tersebar.”
“Ah … kau benar. Duke Vladmire tidak menyukai wanita,” jawab Idril yang mencoba menahan tawa. Gavril ikut terkekeh bersama gadis bersurai platina tersebut. Rumor buruk dan membuat paman juga mendiang marquiss Tinuvel cemas adalah huru-hara yang mengatakan bahwa dirinya tidak tertarik pada seorang gadis. Bahkan ada yang berkata bahwa ia mengencani teman akademinya sendiri, atau ksatrianya sendiri, menggelikan.
Padahal alasan sang duke tidak dekat bersama siapapun bukan karena hal itu. Pada dasarnya memang tidak ada gadis bangsawan yang menarik di matanya, tidak sampai ia bertemu dengan sosok terakhir pemilik iris krimson.
“Jadi, apakah rumor itu benar?” tanya Idril memecah lamunan Gavril yang langsung mendelik kesal.
“Tentu saja, tidak. Jika memang benar untuk apa aku menjadikanmu istriku?”
“Bukankah itu karena kau ingin memperkuat Vladmire dengan menggunakan Tinuvel?”
Gemas dengan jawaban Idril membuat pria bermanik keemasan itu semakin menunduk dengan tangan yang ditumpukan pada kepala sofa. Idril membeku ketika ia dapat melihat jelas paras rupawan sang duke di hadapannya⸺begitu dekat dan tampan.
Ini adalah kali pertamanya ia melihat wajah Gavril dengan dekat dan jelas. Karena memang beberapa kali sebelumnya mereka tidak dalam penerangan yang cukup untuk memperhatikan guratan wajah mereka satu sama lain.
“Jahat sekali … setelah kau melihat sendiri sikapku di pekarangan tadi, kau masih akan menganggapku sebagai pria yang memanfaatkan harga dari perjanjian juga?” tanya Gavril dengan seringai menawan.
“T-tentu saja, jika bukan untuk mencegah rumor kembali muncul dan membuat kita kerepotan lagi. Kau mencoba memperlihatkan bahwa hubungan kita baik … juga romantis.”
“Yang benar saja. Idril, apakah kau setidak peka itu?” Gavril menarik dagu runcing sang marchioness dan menatap lurus manik krimson tersebut.
“Aku tidak akan pernah melakukan hal semacam ini kepada gadis bangsawan lain. Bahkan jika hanya untuk mencegah rumor kembali muncul, aku tidak perlu repot-repot melakukan hal semacam ini dan lagi tidak ada yang melihat kita,” tutur Gavril masih tanpa menghilangkan seringai di wajahnya. Idril dibuat tidak dapat berkata-kata karena memang penjelasan sang duke masuk akal.
“Dan mungkin soal cemburu tadi … aku tidak terlalu mengerti apakah aku sedang cemburu atau tidak, tapi yang jelas aku marah dan kesal ketika tahu delegasi itu adalah seorang pria.”
“Aku sangat ingin menghancurkan lehernya, tapi ini hanya akan membuat kita berada dalam masalah, sialan!” imbuh Gavril geram.
“Kemudian … aku tidak akan melakukan ini, bahkan di luar perjanjian kita yang seharusnya hanya dilakukan ketika kau terluka.”