Sebuah rombongan kereta berjalan meninggalkan gerbang tinggi ibu kota. Roda-roda kayu berputar seiring dengan langkah sepatu kuda yang mulai menapaki tanah berumput Zoresham.
Di salah satu kereta yang memiliki ukiran paling mewah juga megah terdapat seorang gadis bersurai platina. Tidak lain tidak bukan ia adalah kepala keluarga Tinuvel yang sekarang. Ia beserta rombongan sedang menempuh perjalanan untuk menuju sisi lain wilayah kerajaan mereka untuk melakukan rencana bisnis mereka.
“Nona, kemungkinan kita akan sampai di malam hari. Apakah kita perlu berhenti untuk beristirahat? Apakah Anda sudah merasa lelah?”
Zeref mengernyit ketika tidak menerima jawaban dari sang nona. Gadis berambut platina tersebut tidak bergeming. Ia tetap memangku tangan dengan pandangan yang masih mengarah pada buku di pangkuannya.
“Nona … Marchioness Tinuvel.” Setelah beberapa kali memanggil dengan suara cukup keras akhirnya Idril mendengar suara butlernya yang sudah cukup frustasi memanggilnya. Ia menaikkan sebelah alis sebagai tanda ada apa?
“Saya bertanya, kemungkinan kita akan sampai di malam hari. Apakah kita perlu berhenti untuk beristirahat?” tanya Zeref sembari mengulum senyuman menawan yang manis. Sang butler mencoba bersabar setelah diacuhkan beberapa kali.
“Apakah masih cukup jauh? Tidak perlu beristirahat saja, aku dapat makan di dalam kereta dan aku rasa tidak terlalu lelah,” jawab Idril setelah berpikir selama beberapa saat. Zeref tidak langsung mengangguk, ia terlebih dahulu memperhatikan raut sang nona baru kemudian menyampaikan perintah gadis bersurai platina tersebut.
“Apakah terjadi sesuatu, Nona? Saya melihat Anda tidak terlalu fokus hari ini.”
Idril yang hendak melanjutkan kegiatannya membaca buku, “Apa? Memangnya aku kenapa? Tidak ada yang terjadi … hanya saja aku cukup lelah, kau tahu sendiri kita harus menyiapkan banyak hal untuk keberangkatan bukan?”
“Anda benar. Saya bahkan merasa tidur beberapa jam tidak akan cukup, kalau begitu sebaiknya Anda beristirahat karena perjalanan kita masih jauh,” kata Zeref.
Idril menghela nafasnya lega. Ia tidak akan menyangka dapat membodohi sang butler, pria itu tidak curiga sama sekali dengan jawaban Idril. Sebenarnya Idril bukan seseorang yang gemar berdusta, tetapi keadaan yang memintanya. Meski penyebab utamanya karena ia sedang sibuk melamun. Dan lagi ia tidak sekedar melamun saja, gadis itu membayangkan kejadian lusa ketika sang duke berkunjung ke kediamannya secara tiba-tiba.
***
“Kemudian … aku tidak akan melakukan ini, bahkan di luar perjanjian kita yang seharusnya hanya dilakukan ketika kau terluka.” Idril yang telah disudutkan dengan posisi Gavril yang berada tepat di depan wajah tidak dapat berkutik. Debaran jantungnya semakin menggebu terlebih sesaat kemudian sang duke mendaratkan bibirnya di bibir plum Idril,
Kejadian memanas di gang saat festival kembali terputar di benak Idril. Ia merah padam ketika jarak diantara mereka telah sepenuhnya menghilang. Gavril benar-benar melahapnya tanpa segan-segan.
“Idril … apakah menurutmu aku akan melakukan hal semacam ini kepada gadis lain?” Gavril berbisik rendah di telinga sang marchioness membuat seluruh bulu kuduk Idril berdiri begitu saja. Ia tidak menjawab pertanyaan pria bersurai legam tersebut.
“Idrilm bahkan kau sedang tidak terluka atau semacamnya. Menurutmu mengapa aku melakukan ini semua? Mengecap plum itu … lagi dan lagi sama seperti saat kita berkencan.” Idril semakin merah padam. Ia mulai dapat merasakan ribuan kupu-kupu mengisi perutnya, semakin tidak terkendali ketika sang duke beralih pada leher jenjangnya.
Helaian surai platinanya sengaja dipindahkan ke samping agar ia jauh leluasa untuk menikmati aroma memabukan sang marchioness. Idril lemas, jantungnya mungkin sudah setara dengan seekor kuda pacuan.
“Ga-Gavril …,” panggil Idril lirih. Ia mencoba menghentikan sang duke ketika pria itu mendaratkan kecupan di bahu juga leher mulusnya. Bahkan tanpa disadarinya gaun mahalnya telah berantakan akibat ulah sang duke.
Sayangnya, otak dan tubuh Idril saling berseteru satu sama lain. Ia tahu seharusnya ini dihentikan, tapi di lain sisi dirinya tidak ingin Gavril berhenti. Alhasil ia hanya bisa bungkam dan sesekali membalas permainan sang duke.
“Delegasi itu … pria benar?” tanya Gavril dengan nafas terengah. Idril memandang manik keemasan sang duke. Entah mengapa, ia baru saja sadar pria itu memiliki mata yang mengingatkannya dengan permata, terlihat bersinar juga mengkilap.
Idril mengangguk pelan, ia juga sama terengahnya, bahkan tangannya sudah gemetar, “Be-benar … William Bruyer namanya.” Gavril mencebik dan berdecak kesal. Idril mengerjap beberapa kali karena melihat ekspresi menggemaskan dari wajah sang duke. Ia tidak menyangka pria itu akan menunjukan bagaimana ia merajuk secara gamblang.
“Sialan, mengapa harus seorang pria?” Gavril menjatuhkan kepalanya di bahu Idril dan beberapa kali menelusup masuk membuat gadis itu kegelian sendiri. Idril tidak dapat menahan senyumannya melihat bagaimana Gavril merajuk.
“Bagaimana lagi? Aku tidak dapat mengatur delegasi kerajaan lain bukan? Bahkan seorang yang mulia Killian tidak akan dapat melakukannya,” kata Idril yang mencoba menenangkan kecemburuan Gavril.
“Oh, benar … pemilik villa yang akan kutempati juga seorang pria. Dia putra seorang baron.” Idril tiba-tiba saja memekik tertahan. Ia terlalu terkejut dengan tindakan Gavril yang mendadak mengubah posisi duduk mereka, sehingga kini Idril berada di atas pangkuannya.
“Mengapa kau harus berada dikelilingi para pria?” tanya Gavril dan membuat tawa Idril meledak. Ia menatap manik keemasan sang duke dan beralih pada surai kelamnya, masih tidak disangka-sangka pria itu menaruh rasa cemburu kepada rekan kerja Idril.
“Aku tidak bisa hidup hanya dengan bersamamu saja … aku masih seorang kepala keluarga Tinuvel. Karena itu aku tidak bisa melakukan apapun, apakah kau mengira aku akan tergoda pada mereka?” Gavril tidak menjawab. Ia memilih memalingkan wajahnya dan tidak menatap sepasang iris krimson yang tengah menanti jawabannya.
“Yang benar saja, bahkan kita berdua sudah terikat dengan perjanjian terkutuk itu ….”
Tangan Idril ragu-ragu menyentuh helaian surai legam sang duke. Terasa begitu lembut, ia tidak menyangka rambut seorang pria akan sehalus itu, mungkin hampir selembut rambutnya sendiri. Gavril sendiri hanya memperhatikan tingkah laku Idril dan lagi-lagi secara mendadak mendekap erat tubuh mungil di atas pangkuannya.
“Aku … cemas. Aku masih tidak dapat menemukan penyusup itu. Dia membuat hatiku risau, pasalnya dia dapat membuat pelindung tingkat tinggi yang mana artinya dia adalah seorang penyihir tingkat tinggi.”
Tidak semua orang dapat menggunakan sihir tingkat tinggi. Gavril pengecualian mengingat ia adalah pewaris tunggal darah Asmodia sudah sepantasnya ia menerima anugerah ketahanan fisik dan kemampuan untuk menggunakan sihir. Berbeda dengan Idril yang hanya seorang Veela, tapi bukan berarti manusia biasa tidak dapat menguasai sihir. Ada juga para penyihir yang terlahir dari bangsa manusia.
Namun sihir tingkat tinggi hanya bisa digunakan sebagian orang. Selain karena memerlukan kemampuan dan mana yang lebih dari biasanya, seseorang harus sangat terampil. Dan jika mereka berasal dari manusia, maka peluangnya semakin kecil.
“Tidak apa-apa … bukankah kau sudah menugaskan komandan sendiri untuk mengawalku? Padahal aku seorang Tinuvl, tapi dia harus mengawalku yang bukan Vladmire.”
“Siapa bilang? Bukankah hanya dalam waktu yang singkat saja kau akan mengemban nama Vladmire dan menjadi duchesse?”
Wajah Idril memerah. Membayangkan dirinya akan tinggal di mansion Vladmire dan menerima duchess membuatnya merasa malu, meskipun sebenarnya pernikahan mereka hanya demi keuntungan satu sama lain. Tapi perasaan Idril kepada Gavril bukan sebuah ilusi atau dusta.
Kalau begitu bagaimana dengan perasaan Gavril? Idril bertanya-tanya dalam hati seperti itu setelah menerima sikap sang duke.
“Tidak bisa begitu, komandan saja masih tidak cukup rasanya. Karena itu ….” Gavril mengambil salah satu dari cincinnya yang semula terpasang di jari telunjuknya. Sebuah cincin bertahtakan batu onxy.
“Ini akan melindungimu dari mereka yang mengincar nyawamu,” katanya. Idril tidak dapat menahan senyumnya, terlebih saat Gavril mendaratkan kecupan penuh sayang di dahinya begitu lama. Ia benar-benar merasa dilindungi oleh pria bermanik keemasan tersebut.
“Terima kasih,” cicit Idril dengan semburat merah yang membuat Gavril sendiri merasa kikuk entah mengapa.
“Lalu … ini akan melindungimu dari para hidung belang.” Detik selanjutnya Idril merasakan sensasi aneh. Jantungnya kembali dipacu lebih cepat. Tangannya mencengkram kerah sang duke.
Pria bersurai legam tersebut tidak hanya memberikan kecupan di bahu putih Idril. Ia benar-benar seperti sedang melahap gadis itu, karena gigitan yang diberikannya. Idril sampai menggigit bibirnya agar tidak mengeluarkan suara apapun. Ia dibuat meleleh dan tidak berdaya.
“Dengan begini aku sedikit merasa tenang,” lirih Gavril sebelum akhirnya menaikkan lengan gaun Idril dan mendaratkan kecupan di bahu serta bibir plum sang marchioness.