Idril menghela nafasnya panjang dan membuat Zeref yang baru saja berbincang dengan komandan pengawal mereka melalui jendela menatap ke arah sang nona, “Apakah Anda lelah, Nona?”
“A-ah … tidak, aku hanya bertanya-tanya kapan kita akan sampai,” dusta Idril. Ia tidak mungkin bukan akan menjawab, ia baru saja memikirkan ciuman panas dengan Gavril. Zeref akan berpikir dirinya gadis yang aneh atau semacamnya.
“Tenang saja, Nona. Kita sudah sampai … Anda bisa melihat gerbang kota Maria dari sini.”
Idril sedikit terkejut karena perjalanan mereka yang sudah ditempuh hampir seharian itu akhirnya usai. Ia melihat dari jendela kereta dan dapat menemukan sebuah gerbang berdiri. Tidak sebesar milik ibu kota dan terlihat cukup tua.
Matahari memang sudah meninggalkan peraduannya cukup lama. Semula Idril mengira mereka mungkin akan tiba dini hari atau mungkin saat fajar, ternyata perkiraannya salah, “Ini semua karena Nona tidak sering berhenti dan beristirahat. Jika saja gadis bangsawan lainnya, mereka biasanya akan mengeluh lelah dan rasa tidak nyaman di kereta,”
“Sebenarnya tidak terlalu buruk bepergian seperti ini. Aku mungkin lelah, tapi kalian pasti lebih lelah,” kata Idril menanggapi penjelasan sang butler.
“Terima kasih atas pengertiannya, Nona. Dan inilah dia kota Maria,” uap Zeref begitu kereta mereka berhasil lewat pos pemeriksaan.
Maria adalah kota di pesisir pantai yang memiliki suasana berbeda dari ibu kota. Tidak terlalu banyak bangunan tinggi. Kebanyakan bangunan terbuat dari kayu dan tampak cukup sederhana. Kota Maria mengingatkan Idril pada latar film tua seperti tentang sekumpulan koboi di daerang padang pasir atau semacamnya.
“Benar-benar terlihat sangat berbeda,” lirih Idril ketika mereka akhirnya tiba di salah satu mansion ala mediterania yang terletak cukup jauh. Villa milik putra seorang baron yang akan ditempatinya selama beberapa hari.
“Tempat ini cukup dingin ternyata,” komentar Idril begitu ia melangkah keluar dari kereta. Pandangannya terjatuh pada hamparan putih pasir yang menjadi batas permadani biru di depan mansion.
Hembusan angin pantai menerbangkan anak-anak rambut platina Idril membuat sang marchioness tidak dapat menahan senyumannya. Disuguhi pemandangan indah dan suasana yang damai tanpa ada keramaian membuatnya merasa tenang dan rileks.
“Selamat malam, selamat datang di kota Maria … bagaimana perjalanan Anda, Marchioness Tinuvel?”
Mendengar seseorang menyapanya Idril segera melihat ke arah sosok yang berdiri di belakangnya. Seorang pria dengan rambut berwarna hitam sekelam langit malam itu dan iris berwarna safi. Pria tampan pemilik senyuman manis yang berhasil membuat Idril tanpa sadar termangu dan mengagumi parasnya.
“Saya Regis Froger, putra dari Baron Froger. Ayah saya telah memberitahukan untuk menjamu Marchioness dengan baik, terima kasih sebelumnya karena telah memberikan kehormatan ini untuk menjamu Anda,” ucap pria bersurai legam itu dengan tubuh sedikit membungkuk.
“Selamat malam, saya Parthenia Idril Tinuvel. Saya sudah mendengar dari baron bahwa Anda yang akan menjamu karena Anda kebetulan sedang menetap disini.” Idril tersenyum ramah, ia berjalan mengikuti pria bernama Regis tersebut dan mulai memasuki mansion.
“Maaf, karena mungkin keadaannya sangat berbeda dengan mansion di ibu kota,” kata Regis begitu mereka menginjakkan kaki pada sebuah ruangan yang memiliki begitu banyak jendela. Temboknya dicat berwarna gading dan memberikan kesan terang juga hangat.
“Tidak, tidak … ini adalah rumah yang sangat nyaman dan menyenangkan. Saya terkesan dengan gaya arsitekturnya saja, karena ini pertama kalinya untuk saya melihatnya.” Regis tertawa mendengar pujian yang diberikan oleh Idril. Gadis itu sebenarnya tidak sedang mengada-ada, villa yang mungkin tidak memiliki bangunan lebih besar dari mansion-mansion di ibu kota memiliki daya tarik yang berbeda, sedikit aneh tapi bukan hal yang buruk.
“:Senang mendengarnya, kalau begitu karena hari sudah larut saya akan langsung pergi. Selamat beristirahat, Marchioness.”
Dan begitulah percakapan singkat yang dilakukan Idril dengan sang pemilik rumah. Setelahnya ia telah melempar tubuhnya di atas ranjang berukuran queen. Ia dapat melihat pemandangan pantai dengan pantulan sinar rembulan. Idril menyadari villa yang nyaman dan tidak terlalu besar ini menunjukan keindahan kota Maria, terutama pantai mereka yang memiliki pasir putih.
“Tempat yang tenang dan damai, benar begitu, Nona?” Zeref baru saja melangkah masuk dengan sebuah kereta dorong. Idril hanya mengangguk dan tetap menikmati pemandangan dari balik jendela yang besar.
Tiba-tiba perhatiannya terjatuh pada cincin yang melingkar di ibu jarinya. Ia teringat pada sosok bermanik keemasan yang kemarin berhasil membuatnya susah memejamkan mata. Ingatan kejadian mendebarkan itu terlintas dan membuat Idril hanya mampu menggigit bagian dalam pipinya.
“Oh … saya tidak pernah melihat Anda pernah mengenakan cincin itu, Nona.” Zeref yang baru saja meletakan secangkir air madu hangat tertarik dengan kilau onyx yang menghiasinya. Idril hanya tersenyum simpul dengan semburat merah.
“Ini baru saja kudapatkan kemarin dari duke. Dia memberikannya,” kata Idril.
Zeref kemudian kembali memperhatikan cincin berbatu onyx tampak mengkilap, “Pantas saja saya merasa tidak asing dengan cincin di tangan Nona, ternyata itu milik duke. Setelah saya ingat-ingat cincin itu selalu dikenakan beliau dan tidak pernah dilepas.”
Idril memperhatikan lagi ibu jarinya dan tanpa sadar ia mengulum senyum manis. Zeref yang melihat sang nona tiba-tiba tersenyum memilih untuk mengabaikannya seolah ia tidak melihat apapun. Benar-benar menggemaskan, padahal gadis itu sosok yang tegas dan cukup garang. Tapi tidak disangka-sangka ia memiliki sisi yang lembut juga hangat.
”Sebaiknya, saya sarankan agar Anda berhenti memandangi cincin duke dan pergi tidur karena besok Anda harus bersiap untuk menemui delegasi Velduria,” kata Zeref.
Menerima teguran dari sang butler membuat Idril kelabakan dan langsung meraih cangkir keramik di nakas. Ia mendelik tajam ke arah Zeref yang tampak acuh, “Aku tahu … memangnya delegasi Velduria sudah tiba?”
“Sudah, Nona. Saya mendengar beliau sudah tiba sore tadi … jauh lebih cepat dibandingkan kita,” jawab Zeref sembari membereskan cangkir yang digunakan Idril. Sementara gadis bersurai platina tersebut telah membaringkan tubuh di atas ranjang, bersiap untuk memejamkan mata.
“Cepat sekali … orang itu benar-benar ingin mengenang masa lalu sepertinya,” komentar Idril sebelum akhirnya mencoba membawa dirinya sendiri terbang ke alam bawah sadarnya.
“Mungkin saja, kalau begitu saya permisi selamat malam, Nona. Semoga Anda memimpikan duke,” kata Zeref sebelum meninggalkan kamar. Idril tiba-tiba saja memerah dan langsung terduduk dengan raut kesal. Ia hendak memaki sang butler, sayangnya pria itu terlebih dahulu menutup pintu dan meninggalkan sang nona dalam keadaan seperti seekor kepiting rebus.
“Dasar butler, sialan. Bisa-bisanya menjahili nonanya sendiri … mengapa aku harus memimpikan Gavril? Seharusnya dia berucap semoga bermimpi indah,” gumam Idril.
Kini ia kembali berbaring dan menatap langit-langit. Idril terdiam cukup lama dengan tangan yang sesekali hendak meraih sesuatu di atas sana. Meski tubuhnya sedang disana, sebenarnya benak Idril telah melalang buana entah kemana, “Apakah dia sudah tidur? Bagaimana akhirnya ya … apa dia masih cemas dan cemburu.”
“Kenapa aku tiba-tiba memikirkannya! Idril, sudahlah … ayo cepat tidur.” Idril berbalik dan memejamkan matanya erat, berusaha agar segera tertidur dan melupakan rasa panas di wajahnya.
Meski pada akhirnya bayangan wajah tampan pria bermanik keemasan tiba-tiba muncul. Ia jadi teringat dengan tugas pertamanya esok hari, ia mulai merasa cemas akankah perbincangan mereka berjalan lancar dan semacamnya. Tepat sebelum rasa kantuk menyeretnya ke dalam dunia mimpi sang marchioness melambungkan sebuah doa, “Semoga esok hari semuanya berjalan lancar.”