Sudah tiga hari setelah pertemuan Sekar, Arya dan Panji, sudah tiga hari pula Arya belum menghubungi Sekar, sedangkan Panji setiap hari menghubungi Sekar entah lewat pesan singkat yang juga dibalas singkat oleh Sekar atau lewat sambungan telepon. Panji sama sekali tidak pernah menanyakan lagi jawaban Sekar perihal rencana mereka untuk membuat Arya cemburu, begitupun juga dengan Sekar.
Sama sekali tidak pernah menanyakan soal Arya pada Panji. Hanya pernah sekali dalam sambungan telepon dua hari lalu, saat Sekar sedang stres akibat bahan Lacak untuk episode bulan depan yang belum terkumpul sempurna. Mereka masih harus mencari beberapa nara sumber, serta kronologi lengkap mengenai kasus pembakaran pasar yang telah merenggut para aktivis lingkungan hutan yang bersengketa dengan beberapa perusahaan asing.
Yang terjadi satu tahun lalu di pusat kota kecil yang berada di ujung timur Indonesia.
Saat itu, Sekar butuh mengalihkan pikirannya sejenak, tiba-tiba nama Panji muncul berkedip-kedip pada layar ponsel Sekar. Tanpa ragu, Sekar mengambil ponselnya yang bersanding dengan laptopnya yang sedang terletak di meja panjang ruang meeting. Ia sengaja berpindah dari meja kerjanya ke ruangan meeting karena ia butuh suasana lain untuk melancarkan aliran darah ke otaknya.
“Hey, ganggu nggak?”
“Enggak, kebetulan butuh distraksi nih dari kerjaan…” ingin hati Panji bertanya tentang kasus apa yang sedang di kerjakan Sekar, namun ia mengurungkan niatnya, karena ia tahu betul apa makna dari mengalihkan sesuatu dari pikiran.
“Gimana hari ini makanan yang aku kirim?”
“Gila ya kamu… jangan keseringan ah! Emang kamu punya banyak waktu buat masak dua menu yang berbeda dalam satu hari?” tanya Sekar takjub, setelah siang tadi mendapatkan bebek bakar lengkap dengan nasi uduk dan juga lalapan serta sambal yang pas sesuai selera Sekar, malamnya kembali ia dikirimi Panji makanan kesukaannya yang lain, yaitu mie goreng seafood yang tentu Panji juga kirimkan untuk teman-teman Sekar.
“Eh, yakin itu semuanya kamu buat sendiri?” tanyanya lagi tak percaya, masih terasa di lidahnya mie goreng seafood yang baru saja ia makan satu jam yang lalu.
“Seriusan, itu semuanya aku yang bikin dengan penuh cinta, makanya rasanya beda dari semua masakan yang pernah kamu makan, karena bumbu utamanya ya benih cinta Panji…” kelakarnya.
“Ngaco… tapi emang enak banget sumpah! Jangan-jangan kamu jampi-jampi lagi…”
“Wah gawat ketahuan dong, karena aku nggak tau kamu bakalan makan yang mana jadi ramuan sihir cinta aku masukin ke semua makanannya, jadi besok kalo tiba-tiba temen-temen kamu pada nyariin aku, trus kejar-kejar aku, bisa-bisa aku babak belur nih!” terdengar nada ketakukan yang dibuat-buat berhasil membuat Sekar tertawa kecil.
“Jangan salahin aku ya kalo besok temen-temen aku pada nyamperin kamu ke kantor kamu ato rumah kamu, kebanyakan yang makan cowok lho…” serang Sekar balik.
“Waah… takuuut… tapi gapapa deh, aku belum pernah dikejar-kejar cowok soalnya!”
“Beneran mau? Tampangmu laku banget lho…”
“Eh jangaaan… kamu lupa aku nggak terlalu suka kenal banyak orang?”
“Iya-iya… becanda…! Emang sekarang berapa orang yang ada di hidupmu?”
“Kalo yang deket banget cuman Arya, beberapa sahabat yang sekarang jadi direktur dan manajer di kantorku, sama Anindya dan keluarganya!” sempat terbesit bayangan Anindya, dan seketika ia pun terkejut, tak ada lagi sesak di d**a, biasanya begitu bayangan Anindya muncul dikepalanya walaupun hanya seperkian detik, dadanya mendadak sakit, jantungnya bekerja lima kali lipat mengalirkan desiran darah ke seluruh tubuh Panji hingga membuatnya sulit bernapas. Ia menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya yang pula tipis.
“Kamu kerja dikantornya Arya ya?” suara Sekar kembali menyadarkan Panji atas pikirannya yang berkelana akan Anindya.
“Bisa dibilang iya, soalnya Panji itu partner dan juga investor kantorku!”
“Oh ya? Bukannya dia punya usaha sendiri ya?” Sekar kembali mengingat-ingat informasi yang ia dapatkan saat berjumpa dengan Arya di tempat pencucian pakaikan pagi dini hari waku itu.
“Kalo itu anggak nggak tau sih… cuman di kantorku dia sebagai investor terbesar, jadi bisa dibilang perusahaan itu punya dia juga karena ya dia kan investor, ada sahamnya dia di sana. Setahuku dia invest di beberapa perusahaan startup lain dan beberapa perusahaan besar nasional dan internasional.”
“Oh ya? baru tau aku, di nggak pernah cerita, dia cuman bilang punya usaha sendiri, dan dia bilang nggak gede… Jadi aku kira kamu kerja sama dia. Emang kantormu bergerak di bidang apa? startup juga?” Sekar masih berusaha mengingat percakapannya dahulu dengan Arya.
Saat itu pula ia menyadari, bahwa tak banyak yang ia ketahui mengenai Arya, lagipula lelaki yang kini mengisi ruang di hati Sekar seperti tidak pernah ingin membahas mengenai dirinya, yang selalu ia bahas adalah mengenai kehidupan Sekar, pekerjaan Sekar, hobi Sekar, apapun yang berhubungan dengan Sekar. Adapun diluar Sekar yang dibahas Arya adalah masalah kehidupan yang mempangaruhi prinsip dan cara pandang mereka mengenai kehidupan.
“Iya startup juga, kemarin kantorku baru aja meluncurkan sistem keamanan untuk bank dan perusahaan keuangan, dan sukurnya banyak yang minat, bahkan yang dari luar negeri juga ada yang mau pake produk kantorku, trus selain di perbankan dan keuangan kantorku juga mengembangkan sistem keamanan buat data perusahaan, instansi, komunitas, maupun data pribadi. Untuk pribadi rencana minggu depan bakalan di launching di Play Shop maupun Apps Shop.”
“Semacam aplikasi anti hack, phishing gitu-gitu ya?”
“Iya betul… Sebenarnya bukan itu aja si yang kita kerjain, dari awal kita udah fokus ke aplikasi-aplikasi kecil, mulai dari belanja online, sampe ke game. Ke sini-sini kita mo lebarin sayap ke sistem keamanan, rencana bulan depan mau mulai project baru, masih bersifat keamanan tapi lebih ke kamera keamanan, kayak CCTV gitu sih. Nah, ini kita kerjasama degan pemerintah, nanti setiap CCTV yang ada di lampu merah, atau yang dipasang pemerintah bakalan terdapat informasi setiap wajah yang tertangkap, karena terafiliasi dengan data kependudukan. Jadi segala macam tindak kejahatan bisa ketahuan data-data si pelaku.”
“Wooow…. Keren bangeet… bisa bantu pekerjaanku lho itu… Trus kamu di bagian apa?”
“Kebetulan aku CTO sekaligus owner dari kantorku, dan Arya aku pilih sebagai CEO karena menurutku, perusahaanku lebih terarah setelah aku kenal Arya, kamu inget kan aku bener-bener down banget gara-gara Anindya? Nah perusahaanku juga hampir hancur karena aku nggak becus ngurusnya, trus Arya masuk dan berinvestasi, sekalian aja aku minta dia jadi CEO-nya!”
“Oh ya? CTO itu apa trus kerjaannya ngapaen?”
“CTO kepanjangan dari Chief Technology Officer, orang dibalik pengembangan teknologi dari perusahaan teknologi tersebut…”
“Dengan kata lain CTO itu orang yang ciptain teknologi?”
“Bisa dibilang gitu, tapi bukan sekedar ciptain atau ngembangin teknologi, CTO juga harus tau tujuan dan sasaran dari teknologi yang dikembangin!”
“Paham-paham, kamu yang ciptain, Arya yang masarin gitu ya?”
“Bisa dibilang gitu…”
“Nama perusahaan mu apa?”
“Benang Teknologi…”
“Kayanya pernah denger…” Sekar berpikir sejenak sambil meregangkan badannya, tubuhnya sudah mulai letih akibat duduk berjam-jam. Sekar lalu berdiri lalu melanjutkan “Itu bukannya perusahaan dari aplikasi GudApp ya?” ingat Sekar kemudian, aplikasi andalannya karena memenuhi semua kebutuhan hiburan Sekar, mulai dari game, film, musik, hingga bermacam buku.
“Iya… itu salah satunya…”
“Aku suka lho aplikasi itu, satu untuk semua, kayak seluruh macam entertainment jadi satu, jadi nggak usah download banyak-banyak aplikasi lagi!” Sekar kembali mendaratkan tubuhnya ke atas kursi ergonomis berwarna hitam yang tadi sempat ia tinggalkan.
“Iya itu idenya gara-gara aku suka kesal karena setiap download aplikasi harus hapus yang lain, tau sendiri kan dulu hampir semua hape ruang penyimpanannya dikit. Jadi kepikiran bisa nggak ya gabungin semua aplikasi dalam satu aplikasi biar nggak buang-buang memori, gitu…” jelasnya sedikit antusias.
“Oooh... paham-paham… Waah…” Sekar takjub dapat berkenalan dengan salah satu orang yang mengharumkan nama bangsa, pasalnya perusahaan Panji sering diberitakan akan bergabung dengan perusahaan-perusahaan besar dari luar negeri, tidak sedikit juga yang ingin mengambil alih perusahannya.
“Trus kalo gak salah bukannya perusahaanmu mau bikin robot ya?” pertanyaan Sekar sedikit membuat Panji bergeming.
“Iya, tapi kan gagal gara-gara aku patah hati sama Anindya, trus tim pengembangannya di ambil sama orang luar yang dulunya mau invest di perusahaanku, jadinya ya gitu deh…”
“Ya ampun… sayang bangeeet… kamu dihianati gitu doong…” Sekar merasa senasib, tidak jarang ia mendapatkan penghianatan dari orang-orang terdekatnya, terutama manusia yang menganggapnya sahabat, hal itulah menjadi salah satu alasan lainnya yang membuat Sekar skeptis akan hubungan antar manusia.
“Untung ada Arya yang nyelamatin kamu ya? kamu semacam hutang budi gitu dong sama dia?” tanya Sekar beranjak dari kursinya kembali lalu melangkah kecil menuju miny pantry yang terletak di pojok kanan ruangan meeting tersebut. Ia berniat membuat kopi karena menurutnya percakapan yang menyenangkan harus ditemani dengan minuman kesukaannya, entah itu kopi, mocktail, ataupun wine.
“Hutang budi banget, bahkan hutangku nambah satu karena dia aku berhasil menyingkirkan semua tentang Anindya dari pikiran dan juga perasaanku, yaitu sejak aku kenal kamu. Jadi bukan hanya sama Arya aja aku berhutang, sama kamu juga! Makanya aku tadi kirimin makanan dari hasil jerih payahku sendiri…”
“Waah aku jadi tersanjung, jangan harap hutangmu bakalan lunas lho, aku nggak akan membiarkan siapa saja yang berhutang budi sama aku untuk melunasi hutangnya. Sayangkan kalo nggak di manfaatin abis-abisan…” ucap Sekar yang berhasil membuat Panji tertawa kecil.
“Tapi aku udah nyangka sih kalo kamu itu bos besar…”
“Oh ya? Kok bisa?”
“Seperti yang aku bilang, dandanan kamu necis metro, orang yang sekali lihat pasti tau kamu bos atau paling nggak pangkatmu tinggi, beda sama Arya, walaupun kemarin kalian sama-sama pake setelan jas, tapi bisa dibilang kamu lebih terlihat ‘wah’ dibanding Arya. Aku sempat kaget lho Arya pake seletan gitu…” ungkap Sekar seraya kembali menuju mejanya sambil mengaduk-aduk cangkir kecil, ponselnya ia jepit di kepalanya yang dimiringkan ke bahunya. Setelah kembali ke posisinya semula, ia letakkan cangkir kecil yang ia pegang ke atas meja samping laptopnya dengan tangan kirinya, setelah itu mengambil ponsel yang sedari tadi masih mengapit di bahu kanannya.
“Kenapa? Kegantengan Arya meningkat ya?”
“Bukan itu aja, baru kali ini aku lihat dia serapih itu…”
“Iya sih, di kantor aja dia cuman kaosan… aku yang pemilik kantornya aja pake kemeja malah kadang-kadang pake setelan. Makanya banyak yang nggak nyangka kalo Arya itu berduit.”
“Aku juga baru tahu lho kalo dia sekaya itu, dia terlalu humble, makanya…”
“Makanya kamu suka dia kan? Banyak kok yang suka dia gara-gara alasan itu.” Sekar hanya tersenyum menahan merah yang menyerang area di bawah pelipis wajahnya. Namun seketika tersadar saat suara Panji mulai terdengar kembali.
“Anyway, kamu masih di kantor?”
“Masih, aku masih sejam lagi pulangnya, kan tadi siang aku udah bilang kalo aku pulang jam 10…”
“Iya cuman mastiin aja, kamu pulang naik apa?”
“Bawa motor kok!”
“Oooh…” nampak ada nada kecewa yang membuat Sekar bertanya-tanya.
“Kenapa?”
“Aku lagi di luar, mau nawarin kamu pulang bareng, nanti aku jemput!” kata Panji penuh harap, mobil yang ia kemudikan baru saja memasuki area parkir tempat kerja Sekar. Ia berniat untuk menjemput Sekar, dan mungkin dapat melanjutkan obrolan mereka dengan bertatap muka saat diperjalanan menuju tempat kos Sekar.
“Lain kali aja ya, aku bawa motor soalnya…”
“Besok? Aku jemput kamu pulang pergi kantor mau?”
“Nggak usah, santai aku mandiri kok!” tolak Sekar halus. Ia masih belum mau merepotkan Panji, bukan karena ia enggan, namun ia takut Panji menganggap bahwa ia menerima tawaran Panji untuk menjalin kasih, walau tujuannya hanya untuk membuat Arya cemburu.
“Oh yaudah, sori yaaa…”
“Lho kamu malah yang minta maaf?”
“Maaf karena buat kamu nggak nyaman…”
“Nggak, santai aja…” Sekar sempat cemas bahwa Panji dapat mengetahui alasan sebenarnya mengapa ia menolak tawaran Panji untuk mengantarkannya pulang.
“Emang kamu lagi di luar dimana?”
“Tadi abis ketemu Arya, dia sempet tanyain gimana pertemuan kita…” Panji tak ingin berbohong, ia tak mungkin mengatakan bahwa dirinya sudah berada di area parkir kantor Sekar. Ia sedikit menertawakan rasa kepercayaan dirinya yang tinggi, pikirnya Sekar akan senang bila mengetahui ia sudah berada di area tempanya bekerja bahkan satu jam sebelum jadwalnya pulang.
“Kamu bilang apa??” serang Sekar seketika, jantungnya tiba-tiba berdetak kencang, ia ragu kafein penyebab utama membuat jantungnya berdebar.
“Aku bilang kita banyak kesamaan, aku juga bilang kalau kamu orang yang menarik…”
“Kamu nggak bilang kan…”
“Kalau aku jatuh cinta sama kamu atau tentang perasaan kamu ke Arya?”
“Dua-duanya!”
“Enggak lah Sekar, aku masih mau ketemu kamu, nggak mungkin kan aku berbuat sesuatu yang bikin aku ilfeel sama aku…” jelas Panji menenangkan Sekar yang diikuti oleh terdengarnya hempasan napas leganya.
“Ok, aku pegang kata-kata kamu…” ingin rasanya bertanya apakah Arya menyingungg tentang dirinya atau tidak, namun ia urungkan, ia tak ingin harapan lain menancapkan benihnya ke hati Sekar, ia pun masih bimbang apakah ia akan mudah melupakan Arya, atau justru menerima tawaran Panji untuk membuat Arya cemburu. Beberapa kali ia sempat tergiur untuk memberikan jawaban iya pada Panji namun ia masih butuh waktu untuk berpikir, ia masih butuh waktu apakah perasaannya pada Arya hanya sesaat atau memang murni. Kalaupun ternyata perasaan itu murni, ia ingin mendapatkan Arya dengan cara yang murni juga, bukan dengan cara licik seperti membuat Arya cemburu.
“Eh, aku harus lanjut riset lagi nih, kamu hati-hati di jalan yaa… tengkyu dah berhasil membuat otakku sedikit dingin, dari tadi panas banget…”
“Ok, semangat yaa… jangan lupa diminum vitamin yang aku kirim” ingat Panji mengenai vitamin yang ia kirim bersamaan dengan mie goreng menu makan malam Sekar malam itu.
“Siap bos!” begitulah hal mengenai Arya yang Sekar bicarakan dengan Panji.
Setelah itu hingga saat ini, tak ada satupun kata Arya yang terucap dari bibir Sekar maupun Panji. Tidak setiap hari pula Panji menghubungi Sekar lewat panggilan udara. Contohnya saja kemarin, dari mata Sekar terbuka setelah ia bangun hingga tertutup lagi hendak terlelap tak ada satupun ponsel Sekar berdering karena panggilan Panji.
Hanya lewat pesan singkat yang ditulis singkat dan dijwab singkat pula oleh Sekar. Pesan yang isinya hanya memastikan Sekar sudah makan makanan yang dikirimi Panji, hingga mengingatkan Sekar untuk beristirahat sejenak.
Tak lebih dari itu.
Sekar pun enggan menghubungi Pani dahulu, walaupun niat hati menghubungi Panji karena ingin mencuri informasi mengenai Arya. Karena, ini adalah masa terlamanya tidak berhubungan dengan pemuda itu. Setelah Arya berhasil, mengganggu Sekar dan mencuri perhatian Sekar.