Beberapa menit kemudian, Sekar muncul kembali di hadapan Roni sembari kerepotan membawa 3 buah kantong plastik besar yang terisi penuh dengan kotak-kotak berukuran yang juga besar. Roni yang melihat Sekar kesusahan membawanya, dengan cekatan langsung menolong Sekar.
“Eh buset… siapa yang mau hajatan?” sindir Roni berhasil memindahkan dua buah kantong plastik besar itu ke kedua tangnnya.
“Banyak amat? Kenapa nggak sekalian aja bikin perayaan jadian kalian di restoran mewah mana gitu…” tambahnya sengit.
“Ini bukan dari Arya!” jawab Sekar ketus sambil mengikuti Roni yang sudah membawa bungkusan plastik itu ke meja yang ada di sudut ruangan kerja mereka.
“Lah trus ini dari siapa?” tanya Roni langsung menoleh, tanpa meletakkan terlebih dahulu dua kantong plastik yang ia tenteng. Padahal, meja tempat ia harus meletakkan kantong-kantong plastik besar itu sudah berada tepat di hadapannya.
“Iiih… Bawel banget si… Nanti aku bakalan cerita. Tunggu aja!” omel Sekar tak tahan dengan rasa ingin tahu Roni yang berlebihan.
Padahal, ia baru saja sudah memberikan sedikit petunjuk mengenai rencana makan malam romantis bersama Arya semalam. Tanpa meminta Roni untuk menepi, Sekar langsung menyerobot Roni untuk meletakkan satu kantong plastik yang ia jinjing. Roni hanya terdiam lesu sedikit pasrah bercampur emosi tak karuan.
Ia akhirnya memillih diam, sembari mengikuti Sekar unttuk meletakkan seluruh plastik berisi makanan tersebut ke atas meja besar yang ada di ujung ruangan kerja mereka. Meja itu memang sengaja disediakan sebagai mini pantry. Setelah semua sudah berada di atas meja, Roni lalu membuka plastik tersebut dan mengintip beberapa kotak yang terbungkus kantong plastik besar tersebut.
“Buset, bebek bakar utuh dooong… Di setiap kotak lagi! Nasinya nasih uduk pula! Mantaaap!” pamer Roni ke Sekar yang kembali berjalan lesu ke meja kerjanya.
“Kamu mau makan sekarang apa nanti Dan?” tanya Roni sempat beralih pandang ke Sekar yang sudah duduk di atas meja kerjanya.
“Aku makan sekarang ya? Laper nih! Udah waktunya makan siang juga!” lanjut sahabat Sekar itu, sambil mengeluarkan satu kotak untuk dirinya santap.
“Yaudah deh makan bareng…” jawab Sekar yang langsung direspon cepat oleh Roni.
Tak lama, ia melesat membawa dua kotak makanan besar tersebut. Satu diletakkan di meja Sekar, sedangkan satu lagi ia letakkan di meja salah satu rekannya yang berhadapan langsung tanpa sekat dengan meja kerja Sekar. Yang kebetulan, sedang kosong karena Nanda masih berada di Cirebon untuk mengusut kasus seorang nenek yang dipenjara karena dituduh membunuh tetanggannya.
“Jadi, ini makanan dari siapa kalau bukan dari Arya? Terus….” tanya Roni begitu mendaratkan tubuhnya di meja kerja Nanda. Saat ia ingin bertanya mengenai perkataan Sekar mengenai hubungannya dengan Arya, Sekar langsung menyela Roni dengan satu kata yang cukup membuat Roni salah fokus.
“Panji!”
“Heh? Panji? Siapa lagi tuh?”
“Gini… Barusan, aku seriusan becanda mau ngerjain kamu.” ucap Sekar tulus. Tangannya yang semula siap membuka kotak makanan dari Panji itu terhenti. Ia memilih untuk meminta maaf kepada Roni.
“Aku tahu, kamu nggak bakalan ngerusak hubunganku dengan cowok mana pun.” Sekar menatap mata Roni lekat, menahan napasnya sebentar. Lalu melanjutkan.
“Jujur, pas kamu bilang kalau kamu peduli sama aku… Aku merasa bersyukur banget. Thanks dan sorry ya….” ucap Sekar memandang Roni penuh kejujuran. Membuat sahabat Sekar yang bertubuh tambun itu sedikit salah tingkah.
“Udah, santai aja. Trus, ini makanan dari Panji? Siapa tuh Panji? ” tanya Roni mengalihkan suasana.
“Terus, apa maksud dari kalimat… Apa yang mau dirusak, kalau hubungannya aja nggak?” lanjut Roni sambil menirukan gaya Sekar beberapa menit lalu saat suasana di antara mereka sempat menegang akan candaan Sekar. Membuat Sekar sedikit terkekeh, serta harus menceritakan tentang kejadian semalam. Ia pun membeberkannya semua ke Roni, sembari melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.
Membuka kota makanan yang di kirim Panji. Lalu melahap bebek bakar yang berada di dalam kotak itu.
“Semalam Arya ngajakin ketemu itu, ternyata buat ngenalin aku ke Panji. Dia mau jodohin aku sama Panji!” ucap Sekar datar sambil menghirup aroma bebek bakar yang dikirim Panji, setelah kotak itu berhasil ia buka. Tanpa menyadari bahwa satu kalimat tanpa emosi yang keluar dari bibirnya, berhasil membuat paha bebek yang baru saja dilepas Roni terjatuh dari genggamannya.
“Sori… Sori… Gimana?”
“Panji itu temennya Arya, yang mau dijodohin ke aku! Jadi, nggak mungkin kamu bakalan ngerusak hubunganku! Orang kita nggak pacaran kok!” kali ini Sekar menatap Roni, sambil mengulangi ucapannya dengan sedikit nada tinggi tersirat emosi di dalamnya.
“Oh My God!” Roni terpaku.
Pria berbadan sedikit besar itu, tak dapat berkata-kata.
“Sulit dipercaya…!” lanjutnya kemudian dengan gaya film laga.
“Tuh kaan… Kamu aja nganggapnya aneh… Apalagi aku! Padahal, semalam aku udah full make-up lho. Aku juga pake gaun… Kirain, dia mau nembak aku semalam… Kamu tahu. ‘kan? Jarang-jarang aku….” kalimat dengan balutan sedikit emosi, kekecewaan dan kesedihan yang terucap dari bibir Sekar seketika terhenti ketika Roni memotong pembicaraannya.
“Bukan! Bukan itu… Maksudnya, sulit dipercaya seorang Sekar kena karmanya juga!” ejek Roni tak dapat menahan tawanya.
“Sialan, tau gitu tadi kita beneran nggak usah kenal lagi!” geram Sekar, sambil melempari Roni bungkusan kecil yang terdapat sambal di dalamnya. Tentu ditangkap lansung oleh Roni.
“Sorri… sorri….! Becanda… Sekalian balas dendam tadi udah bikin aku emosi!” ucap Roni berusaha menahan tawanya.
“Jadi, Arya nggak suka kamu? Kok bisa? Bukannya selama ini dia udah over perhatian sama kamu?” Saat ia sudah dapat mengontrol diri, ia kembali bertanya pada Sekar dengan tatapan serius dan iba.
Terasa pula oleh Sekar, adanya emosi kecemasan di balik tatapannya. Akan tetapi, pertanyaan Roni membawa Sekar kembali ke kejadian semalam di The Royal Restaurant Hotel Mairjaguar.
“Jadi, selama ini aku salah sangka.” Ucapnya data sambil mengambil suapan pertama makan siangnya. Lalu melanjutkan.
“Arya perhatian dan baik ke aku, bukan karena suka sama aku. Tapi ternyata, memang sikapnya begitu ke semua orang. Banyak juga orang yang salah arti sama sikapnya dia. Malah, ada beberapa cowok yang nembak karena jatuh cinta sama Arya!”
“Buset? Cowok juga bisa? Tapi, dia bukan gay, ‘kan?” tanya Roni memastikan.
“Enggak… makanya ditolak. Kata Panji, Arya sukanya ama cewek… Tapi dia juga nggak tau apakah Arya masih single atau taken. Selama ini, nggak pernah ada cewek yang dikenalin ke Panji sebagai pacarnya…”
“Jangan-jangan dia udah nikah lagi sebenarnya?” simpul Roni ngasal.
“Ya enggak lah, mana ada istri yang tahan sama suami yang baik ke semua orang!” tampik Sekar sembari mengusir kemungkinan itu dalam pikirannya.
“Trus? Alasannya dia perhatian sama kamu selama ini apa?” serang Roni kembali menyudutkkan. Hanya dibalas gerakan pundak Sekar yang cepat, sembari memasukkan potongan bebek beserta nasi uduk yang sudah ternodai sambal ke dalam mulutnya.
“Terus… alasan dia jodohin kamu sama Panji apa?”
“Kebetulan, Panji lagi mengalami krisis hati…”
“Krisis hati? Buset bahasanya…” Roni sampai tersedak karena tak dapat menahan tawa. Ia langsung melesat ke tempat pengambilan air, yang bersanding dengan meja tempat kantong plastik pembungkus kotak-kotak makanan kiriman Panji berada. Sedangkan Sekar, hanya mengutuk Roni yang berusaha menyelematkan nyawa akibat tersedak.
“Sialan, orang lagi keselek juga!” protes Roni akan sikap Sekar yang hanya menertawakannya. Tanpa adanya niatan untuk membantunya.
“Lagian, udah tahu lagi makan. Malah ketawa-ketawa!”
“Emang, si Panji itu abis patah hati?” Roni kembali menginterogasi Sekar, sembari berjalan kembali ke tempatnya semula. Untuk menyelesaikan ritual makan siangnya.
“Dua tahun lalu dia diputusin sama tunangannya, tepat sehari setelah bertunangan. Padahal mereka udah pacaran sejak kelas dua SMA. Selama ini dia belum bisa move on dari mantannya…. Soalnya, itu juga pacar pertama Panji….” Roni hanya memandang Sekar dengan tatapan tak percaya akan kisah patah hati yang menimpa Panji. Calon pacar baru Sekar.
“Trus… Trus?”
“Ya gitu, Arya mau Panji kenalan sama aku. Siapa tahu kita cocok. Dia juga mau aku punya pacar biar hidupku lebih teratur.”
“Itu aku setuju, ya seperti kamu sama mantan-mantanmu itu. Walau kamu cuman manfaatin kehadiran mereka. Hidupmu jadi lebih teratur pas kamu punya pacar.”
“Iya, itu aku tahu! Makanya aku mau terima mereka. Cuman sekarang ‘kan beda. Aku suka sama Arya!”
“Kamu nggak bilang ke Arya, kalo kamu suka dia?” tanya Roni sambil kembali mengambil potongan paha lainnya.
“Gimana mau bilang, Panji udah keburu datang. Terus Arya pergi gitu aja!” ungkap Sekar sedikit memaksakan diri untuk tersenyum.
“Trus? Si Panji ini gimana?”
“Apanya?”
“Orangnya laah….”
“Hmmm… Ganteng sih, lebih ganteng dibanding Arya malah. Orangnya juga seru diajak ngobrol, trus kita punya beberapa kesamaan….” Sekar sempat terhenti ketika mengingat kesamaan yang mereka alami mengenai kecelakaan keluarga mereka.
“Tapi…” Roni berusaha memancing setelah Sekar terdiam beberapa saat.
“Tapi… aku sukanya sama Arya, dia juga tau aku suka sama Arya. Malah, dia mau bantu biar aku bisa jadian sama Arya!”
“Heeeh? Gimana tuh?” pertanyaan Roni berhasil membawa kembali Sekar pada kejadian semalam. Ia masih ingat reaksi yang ia berikan saat Panji mengusulkan ide konyol yang tak mungkin akan ia jalani. Ia juga masih ingat suara lengkingnya, mengagetkan beberapa tamu yang tengah duduk menikmati makan malam mereka di restoran hotel mewah bintang lima itu. Persis seperti reaksi Roni saat ini.
“Excuse me!!!” jerit Sekar sambil menatap Panji tajam. Tangan pemuda itu yang sedari tadi bergerak memainkan gelas wine terhenti, mengakibatkan pusaran kecil di dalamnya terhenti setelah beberapa kali terguncang.
“What did you just say?” lanjut Sekar masih menjerit. Tak mengacuhkan beberapa pasang kepala menoleh padanya, termasuk para pekerja restaurant tersebut.
“I said…. Kita jadian!” ucap Panji sambil menatap mata Sekar dalam, berusaha meyakinkan Sekar bahwa ini adalah jalan terbaik agar Arya dapat menjadi miliknya.
“Kamu lupa kalau aku suka sama Arya? Kamu lupa kalo kita baru kenal beberapa jam lalu? Kamu lupa kalo kita….”
“Aku nggak amnesia Sekar, dengarin dulu penjelasanku!” ucap Panji berusaha menenangkan Sekar yang tiba-tiba emosi. Ia sempat menyeruput Pinot Noir-nya, sebelum melanjutkan penjelasannya lebih lanjut kepada Sekar.
“Jadi, kita buat Arya cemburu. Ini trik lama buat nguji apakah seseorang suka sama kita atau enggak, dengan membuat orang itu cemburu!” penjelasan Panji berhasilan menjinakkan emosi Sekar.
“Oh… ok! Paham maksudnya, tapi entahlaah… aku nggak yakin! Kamu nggak ada ide lain?” Panji hanya menggeleng.
“Cuman ini satu-satunya, tapi terserah kamu. Kalau emang kamu mau tau jawabannya Arya…. Ya, kamu tinggal nembak aja dia!” kata Panji sekenanya.
“Sebenarnya… Rencanaku emang gitu. Aku bakalan ngungkapin perasaanku ke dia malam ini, kalau-kalau dia belum nembak aku juga… Tapi ternyata…” ucap Sekar tanpa beban. Cukup membuat Panji takjub. Sedikit mengingatkannya pada Anindya yang terlebih dahulu menyatakan perasaan. Namun, kasusnya dengan Anindya sedikit berbeda. Sekar jauh lebih menarik dibanding Anindya. Pikir Panji, seharusnya Aryalah yang harus mengejar wanita yang duduk di hadapannya ini. Bukan sebaliknya.
“Oh ya? Wah… Kalau emang itu mau kamu ya silakan…” sedikit tersirat kekecewaan dalam suara Panji.
“Tapi, nggak jadi. Aku udah terlanjur sakit hati gara-gara kejadian barusan. Dia ninggalin aku gitu aja, tanpa penjelasan apapun! Aku sempat marah banget sama dia tadi…”
“Naah makanya, kita jadian!” seru Panji kembali. Ia sedikit mendapatkan harapan.
“Sekalian kita buat dia menyesal.” tambahnya menggebu.
“Aku bakalan update perilaku Arya setelah kita jadian. Jadi, kalau dia mulai galau gitu… Langsung aku bocorin tentang rencana kita ke dia dan kalian bisa bersama… Iya kan?” ujar Panji yang hanya di balas Sekar kebisuan.
Panji pun sedikit berharap rencananya tak semulus ucapannya. Jauh dari lubuk hatinya, ia berharap Arya memang tidak menyukai Sekar. Ia berharap, Arya tidak menunjukkan sikap yang janggal ketika Sekar bersedia menjalankan rencananya. Dengan demikian, Sekar akan terus-menerus dalam dekapannya. Biarlah status mereka berdasarkan kepalsuan, namun perasaannya tidak. Ia tulus ingin memiliki Sekar, walau dengan jalan yang salah.
Pemuda itu memandang Sekar yang hanya terdiam bisu. Memikirkan perkataannya yang menurutnya adalah rencana sempurna. Gadis di depannya itu hanya memandang pada satu titik, bukan padanya. Sorotan matanya tak menampilkan emosi pasti. Ia tak tahu, apakah gadis itu sedang menimang tawarannya, atau pikirannya berkelana pada hal lain. Setelah sekian lama mereka terdian, Panji kembali angkat suara. Mendesak Sekar agar menyetujui rencananya.
“Lagian, bukannya kamu sudah terbiasa berpacaran tanpa perasaan? Jadi enggak ada bedanya kan kalo kita jadian?” pancing Panji halus, tak ingin terlalu bersikap memojokkan Sekar.
“Anggap aja, kayak dulu pas kamu pacaran sama mantan-mantan kamu… Aku bisa kok, nggak masalah!” serangnya lagi, tak ingin menyerah.
“Toh, aku emang niat bantu kamu. Menjadi teman hidupmu. Paling nggak, disaat kamu sedang kerepotan… Aku bisa urus londrimu. Saat kamu sakit, aku bisa ngerawat kamu…” tawarnya lagi layaknya sales yang putus asa akan tenggat.
“Seperti yang kamu bilang, kamu butuh orang untuk bantu kamu, ‘kan?” ungkap Panji menyudahi usahanya meyakinkan Sekar, bahwa tawarannya tak merugikan gadis tersebut.
“Tapi ini beda! Aku ada rasa sama Arya, dan untuk pertama kalinya, mungkin, aku merasakan jatuh cinta. Perasaan ini begitu kuat menginginkan Arya. Jujur, aku nggak mau menjalin hubungan dengan orang yang bukan diinginkan hatiku…” ucap Sekar akhirnya dapat menyimpulkan, kenapa ia terlalu lama memikirkan tawaran Panji. Padahal, seperti yang dikatakan Panji. Ia sudah sering menjalani hubungan seperti itu.
“Aku paham…. Tapi sekali lagi aku bilang, kita jadian untuk membuat Arya cemburu. Seperti yang aku bilang, menurutku Arya ada rasa juga ke kamu, jadi kita tinggal pancing dia.” Panji masih berusaha, tak ingin menyerah. Ia sempat menyeruput minumannya sekali lagi sebelum melanjutkan kembali apa yang ingin ia utarakan.
“Aku janji, bakalan selalu lapor ke kamu perkembangan emosi Arya. Terutama setiap kali aku ceritain tentang hubungan kita di depannya, gimana?” rayu Panji membuat Sekar semakin bergeming.
Gadis itu tak tahu apa yang harus ia putuskan, penjelasan Panji sangat masuk di akal. Ia berpikir, lagipula selama ini ia berpacaran tak pernah pakai hati. Sekar selalu dengan mudah mendapatkan pengganti mantan-mantannya yang sesuai dengan kriteria dan kebutuhannya saat itu. Jadi, dengan menjalin kasih dengan Panji, maka kehidupan Sekar akan menguntungkan. Selain bisa mendapatkan perkembangan perasaan Arya terhadap dirinya, ia juga mendapatkan sosok yang dapat ia manfaatkan setiap saat.
Sekar semakin gusar, sempat tergoda dengan tawaran Panji.
“Gimana? Kita jadian?” tekan Panji begitu melihat kegoyahan hati Sekar. Pemuda itu yakin, Sekar tergoda dengan tawarannya. Ia pun berpikir, jalannya memang harus begitu. Karena menurut Panji, satu-satunya alasan baginya agar tetap berada di sisi Sekar adalah lewat Arya.
“Trus, kamu jawab apa?” Roni sangat antusias menyimak rentetan kejadian yang semalam dialami oleh Sekar, hingga melupakan bebeknya yang sudah tak lagi hangat.
“Kasih aku waktu… Aku akan kabarin kamu jawabannya. Sekarang aku mau pulang, kepalaku udah pusing mikirin kejadian hari ini!” ucap Sekar tanpa melihat Panji sama sekali. Ia bergegas mengambil tas wristlet hitamnya yang sedari tadi terbaring manis di samping kiri gelas wine-nya sembari beranjak. Sekar ingin segera berada di kamar kosnya, untuk meluapkan emosi yang naik-turun bak roller coaster.
“Sekar tunggu… kamu pulang naik apa? Biar aku temani sampai parkiran!”
“Aku naik taksi. Nanti aku bisa minta dipesankan taksi dari pihak hotel!”
“Kalau begitu biar aku antar kamu pulang….” tawar Panji tulus namun langsung ditolak dengan keras oleh Sekar.
“Biar aku yang pesankan taksinya yaa… Sekalian aku bayar dulu makanan kita!” lanjutnya, masih berusaha memberikan perhatian singkat pada wanita yang terlihat sangat ingin angkat kaki dari tempat mereka berada.
“Yaudah…” hanya lirihan lembut yang keluar dari bibir tebal namun seksi milik Sekar.
“Jadi… Keputusanmu gimana?” tanya Roni setelah mendengar seluruh kisah lengkap kejadian semalam.
“Nggak tau deh! Aku juga bingung… Arya sampai sekarang belum hubungin aku!”
“Trus kamu tau dari mana kalo ini di kirim Panji?” tanya Roni memastikan sambil menngoyangkan sayap bebek yang ia genggam. Tangan kiri Sekar bergerak berusaha menarik secarik kertas dari saku kiri jaketnya, setelah itu ia melemparkannya kepada Roni lalu melanjutkan makan siangnya yang sudah hampir habis. Roni menerima kertas itu kemudian membaca tulisan tangan rapi Panji.
Arya bilang, dia biasanya kirimin makanan pas kamu lagi kerja. Dia minta aku buat ngelakuin hal yang sama. Sebenarnya, tanpa dia mintapu aku emang berniat kirimin kamu makanan kok. Aku denger kamu suka bebek bakar, semoga kamu juga suka sama bebek bakar buatanku ya…!
Selamat menikmati makan siang dan jangan lupa bagi-bagiin ke temen-temen kamu.
Oh iya, aku masih tunggu jawaban kamu!
Panji
“Waah… Ini dia yang buat sendiri? Enak banget lho ini…. Nggak kalah sama makanan di warung-warung atau resto-resto lhoooo….” ungkap Roni takjub
“Hooh! Makanya aku lahap makannya, nih udah mau abis!”
“Menurutku, apa yang Panji bilang benar. Jadi ambil aja tawarannya Panji. Siapa tau kamu bisa berpaling dari Arya, kalau-kalau ternyata rencana kalian nggak berhasil!” saran Roni tulus, kembali melanjutkan makan siangnya yang sepat tertunda, sedangkan Sekar telah menyelesaikan suapan terakhirnya.
“Maksud kamu?”
“Siapa tahu, kamu bisa jatuh cinta dengan Panji!” ucapnya berusaha memberikan harapan baru pada suatu ruang di hati Sekar yang sudah diisi penuh oleh Arya.