“Kenapa?” tanya Panji menyadari padangan Sekar yang menelisik sambil memotong potongan Wagyu terakhirnya kemudian mengunyahnya.
“Ada kisah dibalik pernyataan tersebut kayanya…” telisik sambil menaruh alat makan yang sudah selesai ia gunakan.
“Emang ya reporter, selalu berusaha mengulik…”
“Aku sih biasanya nggak terlalu tertarik untuk mengorek masalah pribadi orang lain. Tapi, pernyataanmu itu seperti curahan yang dalam…” jelas Sekar seraya mengambil Virgin Mary-nya. Berusaha tak ingin menyinggung perasaan Panji.
Ia memang tidak peduli dengan kehidupan pribadi seseorang. Akan tetapi, ia tetap terbuka bagi siapa pun yang ingin mencurahkan perasaannya padanya. Itu yang sering ia lakukan kepada parang korban dari kasus-kasus yang ia liputi. Menjadi pendengar akan permasalahan kriminal yang mereka alami. Serta, menjadi jembatan bagi keadilan untuk memihak mereka.
“Jujur, aku sebelumnya sudah bertunangan. Namanya Anindya. Dua tahun lalu kita tunangannya. Tapi sehari setelah tunangan, dia tiba-tiba minta putus. Tanpa alasan yang jelas. Padahal, kita nggak pernah ada masalah. Selama bersama, kita selalu adem-ayem.” Panji heran, mengapa begitu mudahnya baginya untuk menceritakan tentang Anindya. Selama ini ia selalu terserang trauma menyakitkan, ketika ia membicarakan mantan tunangannya itu. Tapi kali ini, dengan muda ia menyebutkan namanya. Bahkan, kepada orang yang baru pertama kali dikenalnya.
Terakhir kali ia menceritakan masalah hatinya adalah kepada Arya. Itu pun karena berhubugan dengan profesionalitas. Sehingga, dengan terpaksa ia menceritakannya, agar Arya dapat memutuskan apa yang harus ia lakukan ke depannya. Seingat Panji, saat menceritakan Anindya pada sahabat barunya itu, ia masih cukup tersiksa. Masih merasakan pedih yang tak tertahankan. Walaupun saatu itu, kejadian putusnya dengan Anindya sudah berselang satu tahun.
“Bukan aku doang yang bingung. Keluarganya, sahabat-sahabatnya, teman-temannya, semuanya dibuat bingung. Padahal, kita udah pacaran sejak kelas dua SMA lho, dia pacar pertamaku….” Panji berhenti sesaat setelah melihat reaksi Sekar yang seakan mengejeknya.
“Itu, kenapa gitu mukanya?” hanya dibalas tawa kecil oleh Sekar. Ia tak langsung menjawab malah meneguk kembali minumannya yang sudah hampir habis.
“Kamu mau nambah minumanmu?” tannya Panji, setelah Sekar berhasil meneguk tetes terakhir dari minumannya.
“Aku juga mau wine deh, Saugvinon Blanc!” ucapnya antusias, sesaat tangan Panji mengangkat tangan sambil menoleh ke arah pramusaji mengisyaratkannya untuk menghampiri mereka.
“Itu tadi ngejek kenapa tuh?” tanya Panji kembali setelah pramusaji mulai bergerak ke arah mereka. Ia tak mengerti bagian mana dari perkataannya yang membuat Sekar berubah ekspresi.
“Aku pikir kamu playboy lho… Tampangmu itu ngingetin aku sama playboy-playboy di luar sana…” ungkap Sekar santai.
“Eh jangan salah…”
“Permisi ada yang bisa saya bantu?” perkataan Panji terpotong saat pramusaji sudah hinggap di tempat mereka.
“Tolong Pinot Noir-nya satu gelas lagi, sama segelas Sauvignon Blanc ya Mbak… Terima kasih…” ungkapnya lalu langsung menghadap ke arah Sekar.
“Don’t judge a book by its cover dear….” ujarnya kemudian melanjutkan.
“Emang kelihatan playboy gimana?”
“Muka rada Indo, dandanan necis metro, udah mapan juga, nggak ada alasan buat pria seperti kamu untuk bertahan dengan satu wanita saja.” kata Sekar santai tanpa maksud menyindir. Karena dari pengamatan Sekar, Panji terlihat seperti aktor-aktor yang sering lalu lalang di kantornya. Fisik Panji memukau siapa saja, kaum Hawa ataupun Adam. Wajahnya yang merupakan perpaduan etnis Eropa, Arab, dan Asia Timur sungguh memanjakan mata siapa saja yang memandangnya. Tubuhnya yang tinggi, dengan ukuran badan yang proposional membuat dirinya bagaikan model majalah mode.
“Aku yakin fans-mu banyak! Cewek-cewek juga banyak yang ngejar-ngejar kamu, ‘kan? Dan kamu juga mungkin bernasib sama dengan aku, sering ditawarin jadi artis, ‘kan?” kali ini Panji yang terkekeh. Saat ingin menimpali, tiba-tiba pramusaji menghampiri mereka dengan dua buah gelas wine yang terisi sesuai pesanan mereka.
“Yah, bisa dibilang seperti itu. Tapi seperti yang udah aku bilang tadi, butuh energi lebih buatku untuk kenal banyak orang. Dari pada aku stress, lebih baik aku fokus sama orang-orang terdekatku. Termasuk Anindya. Itu juga dia duluan lho, yang nembak aku!” bela Panji tak ingin disalah artikan.
“Oh ya? Jadi kamu nggak suka sama dia?”
“Bukan gitu… Ya seperti yang kamu bilang, banyak cewek yang berusaha deketin aku. Tapi nggak pernah aku gubris. Kebetulan Anindya ini nggak pernah kapok, ada aja akalnya. Sampai akhirnya aku terbiasa dengan kehadirannya, dan entah gimana ceritanya aku mulai nanggepin dia. Terus tiba-tiba aja kita udah dekat. Sampai akhirya aku merasa bahwa aku tergantung sama dia.” Panji berhenti sejenak, mengenang jasa Anindya selama ini.
“Ya, aku tergantung sama dia..! Terutama, setelah kejadian keluargaku meninggal. Dia satu-satunya orang yang selalu ada buat aku. Dia yang mendukung karirku sampai aku bisa seperti ini. Tanpa aku sadari, aku bersandar sama dia, makanya aku ngelamar dia. Itu aja aku tunda lho ngelamar dia, karena dia mau fokus sama s2-nya dulu. Eh malah setelah aku lamar, dia putusin aku.”
“Aku yakin kamu pasti hancur banget waktu itu?” tanya Sekar sambil meletakkan kembali gelas yang berisi Sauvignon Blanc, setelah ia seruput sedikit.
“Banget… Hidupku kaya mayat hidup. Aku jadi nggak b*******h buat ngelakuin apapun itu. Pekerjaanku berantakan, hidupku apalagi!” ia sempat berhenti untuk mengambil napas. Panji merasa, tubuhnya seketika sesak.
“Padahal, aku udah sampai mohon-mohon sama dia buat tetap melaksanakan pernikahan. Tapi, dia seperti nggak peduli sama sekali. Malah aku pernah sampai mau bunuh diri di depan dia.” Sekar langsung terbelalak. Ia tak percaya, pemuda sempurna di hadapannya ini rela mati demi cinta.
Panji yang menyadari tatapan aneh Sekar, hanya dapat tersenyum lesu.
Menertawakan dirinya akan cintanya yang pahit.
“Seriusan, aku sampai rela mati di depannya. Tapi dia benar-benar nggak peduli sama sekali!” Sekar melihat ujung mata Panji sudah mulai berair. Ia bingung harus berbuat apa, hanya dapat mematung mendengarkan kisah yang tak dapat ia percaya. Sangat bertolak belakang dengannya. Mereka terdiam sejenak, berusaha menguasai emosi satu sama lain. Kemudian, Panji melanjutkan setelah berhasil menahan jatuhnya air dari ujung matanya.
“Untung ada orang tuanya yang berhasil sadarin aku. Mereka udah anggap aku seperti anak mereka sendiri. Soalnya, kakak sama adeknya Anindya cewek semua. Sahabat-sahabat Anindya juga berusaha bangkitin aku. Sahabat orang tuaku juga begitu, mereka semua pengen aku laluin ini semua.” Panji bersyukur, dikelilingi orang-orang yang sangat peduli dengannya.
“Setelah keluargaku semua meninggal, aku cuman punya temen-temenku dan Anindya. Untungnya, teman-temanku peduli sama aku. Tapi ya sebatas itu, mereka nggak mungkin urusin aku terus, ‘kan? Adakala, mereka akhirnya capek sama tingkahku yang seperti zombi. Sampai aku mengenal Arya. Aku berjasa banget sama dia, termasuk pertemuan kita ini. Aku utang budi banget sama Arya.”
“Lho? Apa hubungannya sama pertemuan kita?”
“Seperti yang aku bilang di awal. Aku menyesal, kenapa baru sekarang mau diajakin buat kenalan sama kamu. Asal kamu tahu… Saat pertama kali aku melihat kamu… Seluruh rasa kecewa, marah, perasaan sayang dan cintaku ke Anindya hilang begitu saja. Seakan-akan, seluruh beban yang aku pikul lepas. Lega dan entang banget rasanya!” Sekar memandang Panji ragu.
“Bullshit…” tambahnya, memalingkan wajahnya ke gelas wine yang ia mainkan dengan tangan kirinya.
“Seriusan… Seperti magic! Kamu telah menyihirku Sekar…” ucap Panji tulus. Entah mengapa, Sekar mempercayainya.
“Tunggu! Kenapa kamu manggil aku Sekar? ‘Kan, pas kenalan tadi aku bilang Dani. Panggil aku Dani!” protes Sekar, setelah menyadari bahwa sedari awal mereka memulai percakapan mereka.
“Arya yang memanggil kamu begitu. Maksudnya, setiap kali dia ngajak buat kenal kamu, dia selalu bilangnya Sekar. Jadi, udah kebiasaan. Gapapa ‘kan aku manggil kamu Sekar?”
“Hanya keluargaku yang manggil aku Sekar. Tapi, menurutku gapapa kamu manggil aku Sekar. Mengingat, kita berbagi sejarah kelam bersama mengenai keluarga.” kembali rasa pedih dan sesak menggerogoti kalbu Sekar.
“OK! Lupakan lanjut…” ucapnya menyingkirkan perasaan yang belum berhasil ia singkirkan. Begitu cintanya ia dengan keluarganya yang telah tiada.
“Iya itu! Kamu boleh ngatain aku bullshit, atau mustahil, atau kamu anggap aku apapun itu terserah! Aku cuman mau ngasih tau, kalo mungkin aku sudah jatuh cinta sama kamu sejak pandangan pertama….” ucapan serius Panji hanya dihadiahi tawa keras oleh Sekar.
“Aku udah menduga reaksimu akan seperti ini. Tapi, itu yang aku rasain…” katanya pasrah kembali menunggak Pinot Noir-nya.
“Hey, kamu tau kan aku suka sama Arya! Dan alasan awal kita akhirnya ngobrol sampai selama ini… Ya, karena kamu mau bantu aku biar bisa jadian sama Arya! Bukan buat menyatakan perasaanmu ke aku!” ucap Sekar menohok, tatapannya tajam menegaskan bahwa Panji harus menepati janjinya.
“Iya aku tahu! Aku bukan menyatakan perasaanku ke kamu. Aku cuman berterima kasih. Karena kamu, semua perasaan gelapku hilang! Aku seriusan mau bantu kamu. Seperti yang aku bilang, mungkin Arya ada rasa ama kamu…”
“Aneh, kenapa kamu bantu aku kalo kamu jatuh cinta sama aku. Bukannya manusia akan berusaha mempertahankan orang yang dia sukai ya?”
“Aku cuman jatuh cinta sama kamu! Bukan cinta sama kamu, itu dua hal yang berbeda!” ucap Panji tegas. Sekar pun akhirnya memahami.
“Menurutku nggak ada salahnya aku bantu kamu. Mungkin ini perasaan sesaat, atau mungkin cuman karena kamu hari ini cantik banget, atau entahlah kenapa. Yang pasti, aku tulus dan serius mau bantu kamu…” ucap Panji sedikit berbohong.
Alasan lain mengapa ia ingin membantu Sekar adalah magnet yang menarik dirinya pada Sekar. Ia sangsi, apakah Sekar masih ingin menjalin pertemanan dengannya bila tidak ada kepentingan lain. Seperti yang ia dan Sekar yakini, bahwa hubungan manusia terjalin atas dasar kepentingan. Saat ini kepentingan yang menjalin mereka adalah, Sekar butuh Panji agar dapat mendapatkan cinta Arya. Sedangkan Panji, butuh kehadiran Sekar. Karena sungguh, ia tak dapat melepas magnet yang menarik hatinya pada Sekar.
“Trus, bagaimana cara kamu mau bantu aku biar bisa sama Arya?”
“Kita jadian…!”