Hawa dingin yang diproduksi oleh pendingin ruangan di The Royal Restaurant Hotel Mairjaguar, mendadak menyerang tiga kali lipat. Sekar dan Panji bergidik. Indra pendengaran mereka seakan terutup. Tak dapat merespon seluruh rangsangan bunyi yang dihasilkan, dari masing-masing pergerakan yang dibuat oleh seluruh manusia yang ada di dalam restoran mewah tersebut.
Sekar dan Panji masih saling membisu, dalam kebingungan atas misteri alam semesta yang seolah mengejek mereka. Sekar sempat berpikir, bahwa ia datang ke restoran mewah ini bukan untuk bertemu Arya. Melainkan, datang untuk bergabung dengan komunitas bernasib sama. Tanpa mereka sadari, sudah lebih dari lima menit mereka mematung. Membuat beberapa pekerja di restoran yang sedari tadi memperhatikan mereka akan fisik mereka yang cantik dan rupawan, ikut kebingungan.
Para pekerja yang semula hanya membisikkan betapa tampan dan cantiknya pasangan yang duduk tak jauh dari mereka, berubah menjadi bahan gosip ala infotainment. Bahkan, beberapa ada yang berspekulasi liar, mengganggap mereka pasangan suami istri yang sedang bertengkar akibat perselingkuhan. Ada pula yang menyimpulkan, bahwa mereka adalah pasangan yang baru saja dijodohkan, dan tidak saling menyukai. Masing-masing pekerja hingga membuat cerita versi mereka sendiri. Hingga akhirnya gerakan mereka disadari oleh Sekar.
Ia yakin, seluruh pekerja itu sedang membicarakan mereka. Terlihat dari bagaimana mereka berbisik-bisik sambil sesekali melirik ke arah mereka. Akhirnya, Sekar memutuskan bahwa mereka harus berbuat sesuatu. Tak mungkin ia dan pemuda tampan di hadapannya ini hanya berdiam diri, tenggelam pada ingatan kelam masa lalu. Dengan tatapan kosong dan nada yang tak memiliki emosi, Sekar mulai angkat bicara.
“Eh…” kata yang dapat ia ucapkan setelah tersadar dari kengerian yang hinggap di sanubarinya. Namun, kata tersebut juga dikeluarkan oleh Panji, di saat yang bersamaan. Membuat kebekuan yang mengelilingi mereka seketika pecah.
Secara otomatis mereka hanya tertawa kecil.
Tanpa menyadari aksi mereka masih di perhatikan oleh seluruh pekerja. Terlihat, salah satu pekerja wanita nampak kesenangan, ia lalu menggerakkan telapak tangan kananya seperti seseorang yang sedang menagih hutang. Pekerja lain hanya lesu dan mengeluarkan beberapa lembar udang dari saku mereka. Nampaknya, mereka telah bertaruh. Taruhannya cukup sederhana, apakah pasangan tercantik dan tertampan malam ini di tempat mereka bekerja akan saling terdiam hingga masing-masing beranjak. Atau, mereka akan kembali seperti semula.
Dari sekian pekerja di situ, hanya wanita itulah yang memilih opsi bahwa mereka akan kembali seperti semula. Yang lain, bahkan menganggap Sekar akan menampar Panji lalu meninggalkan tempat mereka bekerja dengan cucuran air mata. Sekar yang sempat melirik para pekerja itu, memilih untuk tidak mempedulikannya. Ia hanya tersenyum kaku pada Panji, dan mempersilakan pemuda itu terlebih dahulu untuk menyampai apa yang ingin ia sampaikan.
“Kamu dulu aja…” jawab Panji sambil mengambil Pinot Noir-nya yang belum ia sentuh sama sekali.
Ia memerlukan sedikit asupan alkohol, untuk mengontrol tekanan darahnya yang seketika naik. Setelah mengetahui penyebab terguncangnya Sekar, yang juga membuatnya ikut terguncang. Ia tak ingin, terror yang menyerangnya beberapa tahun lalu kembali menggerogoti hatinya. Terlebih, kecelakaan itu tak menyisakan satu pun keluarganya.
“Kita bahas yang lain dulu yaa…” jawab Sekar seraya mulai melanjutkan kegiatan makan malamnya, yang masih menyisakan irisan daging Salmon tujuh puluh gram dari dua ratus gram. Ia juga menginginkan hal yang sama. Tak ingin terror akan hari yang seharusnya menjadi kebahagiaan, malah menjadi duka yang mendalam.
“Iya, kamu beneran nggak mau wine?” tawar Panji sekali lagi menyeruput cairan, yang berada di dalam gelas mewah itu.
“Nanti aja abis makan. Kalau kamu masih mau kita ngobrol-ngobrol.” Jelasnya.
Tak ingin membuat pria di hadapannya ini salam paham. Seolah-olah dia masih ingin berlama-lama di sana dengannya. Ia pun sempat lupa alasan mengapa ia masih enggan beranjak dari tempat itu. Padahal niatnya, tak ingin duduk berlama-lama dengan orang yang ingin dijodohkan oleh pujaan hatina ini lebih dari lima menit. Namun kini, sepertinya mereka sudah menghabiskan waktu lebih dari enam puluh menit.
“Jujur. Aku suka obrolan kita. Serasa main roller coaster!” ungkap Sekar menatap Panji, sambil mendorong garpu yang telah tertusuk irisan daging salmon ke dalam mulutnya.
“Aku boleh tanya sesuatu?” ucap Panji sedikit ragu, seraya melanjutkan kegiatan yang dilakukan Sekar.
“Kalo tentang masalah kecelakaan, enggak. ‘Kan, udah janji nggak usah dibahas lagi!” Sekar lansgung menahan tameng.
“Bukan kok!” sergah Panji
“Trus?”
“Kamu ‘kan cantik, reporter pula. Kok kamu nggak punya media sosial? Kamu penggemarnya banyak lho, bisa jadi selebriti lho kamu!” pernyataan Panji berhasil mengalihkan pikiran Sekar akan keluargnya. Seketika tawa Sekar pecah, diikuti senyuman Panji.
“Banyak banget yang nawarin sebenarnya! Jadi artis lah, pemain film lah, model lah, presenter lah, MC lah, penyiar lah… Malah, beberapa agensi sampe nerror aku buat gabung di agensi mereka. Aku juga ditawarin jadi anchor sama executive producer-ku.Tapi, semua itu aku tolak. Soalnya, aku nggak tertarik sama itu semua…” ucap Sekar jujur.
Membuat Panji semakin terpikat.
Ia sangsi, semua perempuan yang ia kenal akan melakukan yang sama. Setelah ia ingat-ingat, rata-rata perempuan yang ia kenal berusaha menjadi orang seperti Sekar. Yaitu, dihampiri oleh para produser untuk ditawarkan menjadi seorang selebriti. Terbukti dari, bagaimana para wanita yang ada di sekelilingnya berbondong-bondong aktif secara menyeluruh di media sosial.
“Kenapa kamu nggak mau jadi anchor? Bukannya puncak tertinggi seorang reporter itu anchor ya?” tanya Panji sekenanya, tanpa mengetahui bahwasanya puncak tertinggi seorang reporter adalah menjadi pimpinan redaksi.
Sedangkan anchor atau pembaca berita adalah, tingkatan kedua setelah menjadi wartawan, posisi karir Sekar kali ini diatasnya anchor yaitu sebagai asisten produser, bahkan posisi produser akan segera di dudukinya, setelah beberapa kali ia tolak.
“Sebenarnya cita-cita awalku itu, aku pengen jadi detekif….” Sekar mulai bercerita mengenai cita-citanya semasa kecil, hingga alasan mengapa cita-citanya berubah saat ia beranjak dewasa.
“Jadi gitu. Menurutku, yang dekat banget ama detektif ya reporter ini.” jelas Sekar antusias sembari mengambil gelas berisi minuman pesanannya, lalu kembali melanjutkan celotehannya.
“Seru banget lho, buat mecahin sebuah kasus. Apalagi kasus yang merugikan banyak orang” Sekar mengakhiri dongengannya, yang sesekali dijawab oleh Panji dengan kalimat pendek seperti ‘oh’ ‘wow’ ‘trus?’ ‘oooh ya ya..’.
“Iya sih. Kadang, reporter investigasi gitu lebih cepat kerjanya dibanding polisi. Aku suka nonton dokumenter tentang ivestigasi gitu-gitu.” Sesaat, Panji teringat akan program televisi dokumenter investigasi kesukaannya. Ia yakin, dengan membicarakan hal itu, pasti Sekar akan semakin betah untuk bercakap-cakap dengannya.
“Kamu tau Lacak? Menurutku itu salah satu dokumenter karya Indonesia paling keren yang pernah aku tonton! Aku ngikutin beberapa serinya.” ungkap Panji antusian, yang dibalas dengan senyuman lebar Sekar dengan maksud sombong.
“Jangan bilang kalo Lacak itu….” Panji mulai memahami maksud ekspresi yang tergaris di wajah Sekar.
“No way!” iya sempat melempar pisau yang digenggamnya sesaat sebelum memotong daging Wagyunya. Kemudian melanjutkan.
“Kamu dibagian apa?”
“Aku penulis skenario, dan sebenarnya aku sudah bukan wartawan lagi melainkan Asisten Produser!” ucap Sekar santai namun terdengar congkak.
“Oh My God!! Full of surprises today! Ya pantes lah kamu merasa nggak butuh pacar!”
“Hey! Yang bilang aku nggak butuh pacar siapa? Kamu lupa aku nggak ada keluarga?” Sekar sedikit mengamuk.
“Trus kerja di stasiun televisi yang jadwal kerjanya gak tertebak? Hidupku nggak teratur dan aku butuh orang yang bisa membantu hiduku. Terutama nih ya, kalo lagi males londri, lagi sakit, lagi ribet…!” bebernya berusaha meyakinkan Panji bahwa alasannya sangat rasional.
“Kan, lumayan ada orang yang bisa disuruh dengan senang hati melakukannya!” Panji hanya tersenyum melihat Sekar yang begitu berterus terang.
“Kan, kamu bisa hire orang buat bantu kamu! Jadi asistenmu mungkin?”
“Ya beda Panji… Yang mereka melakukan itu kan pamrih. Sedangkan seorrang pacar ‘kan, harusnya melakukan apapun demi pacarnya dengan tulus!” bela Sekar dengan argumen yang selalu ia pegang teguh.
“Dorongannya, karena tidak ingin melihat orang yang mereka sayang menderita. Jadi ya, itulah gunanya pacar bagiku…” Panji hanya tertawa kecil mendengar penjelasan Sekar yang masuk akal namun cukup heran. Karena itu semua dilakukan oleh orang yang sebagai pacar Sekar, tanpa mendapatkan hal yang sebaliknya.
“Trus, kenapa kamu akhirnya putus?”
“Karena mereka pengen lebih. Mereka mengharapkan feedback.” Sorot mata Sekar seakan mengancam Panji.
“Padahal mereka tau, aku nggak ada rasa ama mereka. Toh, yang ngejar-ngejar aku, ‘kan mereka. Yang bilang sayang juga mereka. Kalo sayang kenapa harus nuntut? Kalo sayang kenapa ga ikhlas? Kok sayang tapi bersyarat? Harusnya mereka bersukur aku mau nanggepin mereka!”
“Iya betul, aku setuju” ucap Panji sambil menaik-turunkan kepalanya, cukup membuat Sekar takjub karena tak ada bantahan sama sekali dari Panji seakan apa yang ia lakukan adalah benar.
Panji pun akhirnya memahami, bahwa Sekar tidak mencintai mereka, hanya memanfaatkan status dari orang yang memujunya. Cukup adil. Karena, para pria yang memuja Sekar, mendapatkan keinginan mereka. Sedangkan Sekar, hanya mengambil haknya sebagai status pacar yang tidak ada perasaan khusus ke mereka.
“Tapi, kamu nggak taku mereka balas dendam? Terus, kamu berani hidup di lingkungan penuh kriminal seperti itu? Kamu nggak takut membahayakan hidupmu?” lanjut Panji yang tiba-tiba terfikir mencemaskan keadaan Sekar. Ia khawatir, para mantan Sekar akan balas dendam padanya. Belum lagi, pekerjaan Sekar yang dekat dengan dunia kriminal.
Walaupun tugas Sekar sebagai bahan informasi publik, namun pekerjaannya tentu mengancam jiwa. Terutama, jika ia sudah menggebu-gebu untuk menginvestigasi, menelisik dan juga menguak kriminal kelas atas. Tak jarang Sekar harus diancam oleh pihak kepolisian, karena tindakan yang cukup ceroboh yang dapat mengancam jiwanya. Terkadang, ia juga mendapatkan ancaman dari beberapa pihak. Ketika ia sudah mendapatkan beberapa informasi penting, mengenai sebuah kasus yang ia telusuri.
“Untungnya sedari kecil aku udah dibiasakan buat belajar beberapa ilmu bela diri. Aku udah sampe sabuk tertinggi dari silat, taekwondo, karate, aku juga belajar seni pedang, panah, tembak, dan….”
“Wo wo wo…. Ok, ok! Orang udah keburu takut duluan kalo mau macem-macem ama kamu!” canda Panji dengan kekehan kecil.
“Trus, kenapa nggak punya sosial media?” lanjutnya kemudian.
“Well, soal media sosial… aku nggak butuh.” ia berpikir sejenak, kemudian melanjutkan.
“Semenjak mengetahui hubungan manusia yang semu, aku jadi skeptis dengan sosial. Menurutku, manusia itu mahluk sosial dalam arti yang sebenarnya. Yaitu, saling membutuhkan. Saat kebutuhan usai, sirna juga hubungan mereka…. Lagian, kalau memang ada yang butuh, tinggal menghubungiku lewat nomorku saja, ‘kan?” kini giliran Panji yang takjub atas penjelasan Sekar.
“Kenapa? Kok malah kaget gitu? Aneh ya?”
“Enggak. Bukan gitu. Sebenarnnya, itu yang juga aku pikirkan.” Kini Sekar yang menatap pemuda dihadapnnya dengan perasaan heran. Mengingatkannya pada Arya, ketika apa yang ia pikirkan juga dipikiran oleh pemuda itu. Seketika, rasa kecewa dan sakit hati yang baru beberapa menit lalu ia alami, kembali menyelimuti. Dengan cepat, ia menghilangkan pikirannya akan Arya.
“Kamu kenapa?” tanya Panji yang melihat Sekar tiba-tiba menggelengkan kepalanya.
“Nggak, nggak apa-apa. Terus?”
“Ya gitu… Tapi, aku nggak se-extreme kamu sih! Aku masih ada di sosial media. Tapi aku setuju, hubungan manusia itu semu. Bukan hubungan yang kekal abadi setelah hasrat telah usai.” ucap Panji kembali menikmati hidangannya.
“Tadi aku bilang. ‘kan? Kalau aku butuh kursus untuk merangkai kata?” hanya anggukan yang direspon oleh Sekar.
“Itu karena aku jarang bisa memulai percakapan duluan. Aku cenderung banyak menguras energi, saat ngobrol sama orang. Apalagi, kalau ke banyak orang. Aku lebih memilih mengerjakan soal-soal matematika satu buku dari pada ngobrol sama orang yang baru aku kenal walau semenit. Dan dari pengamatanku, mereka semua cuman mau menghampiri aku pas lagi butuh doang. Dari SD lho kaya gitu! Terutama musim ujian, pada ngantri minjem buku catatanku.”
“Kok sama ya? Aku juga gitu, mereka yang ngecap aku temen berbondong-bondong dateng pas lagi butuh doang, Tapi aku lebih banyak musuhnya sih, banyak yang nggak suka sama aku. Ya, aku cuek aja. Toh, aku nggak rugi. Lagian, dari kecil aku udah terbiasa untuk mandiri. Jadi nggak terlalu bergantung sama orang!” selak Sekar antusias.
“Lebih baik mempunyai sedikit orang yang kita kenal, tapi kekal. Dari pada kenal dengan banyak orang, tapi hanya sekedar mampir” ungkap Panji seakan bertuah.
“Setuju… Ditambah sejak lulus kuliah. Mereka yang dulunya temen, jadi orang asing sekarang. Karena ya itu, udah gak ada kepentingan. Mereka juga udah sibuk dengan urusan dan lingkungan masing-masing. Saat ini aja temanku cuman satu. Cowok pula, namanya Roni, dia teman kerjaku.” Sekar sedikit tersenyum mengejek saat menyebutkan Roni, teringat dulu bagaimana mereka bisa berteman.
“Kenapa? Kok senyum gitu?”
“Enggak, Roni dulu ngejar-ngejar aku. Aku tolak trus dia marah. Sempat bikin gosip miring tentang aku. Tapi, sekarang malah jadi deket sama aku. Hidup nggak ada yang bisa tau sih kemana arahnya, bisa saja orang yang dulu kita nggak suka atau kita benci jadi orang yang dekat sama kita.”
“Dan bisa juga orang yang dulu dekat sama kita bahkan kita sayangi, berubah menjadi orang asing…” sela Panji dengan nada datar, ia tiba-tiba mengingat Anindya. Sedangkan Sekar menatap Panji lekat setelah menelan potongan terakhir Norwegian Salmonnya.