10. Berbagi Nasib

2336 Kata
“Jadi… kamu ngerasa Arya ngejar-ngejar kamu?” tanya Panji ulang setelah pramusaji menyelesaikan tugasnya. Terdapat menu mereka masing-masing, di hadapan mereka dengan sajian yang sangat menggoda selera. Terutama menggoda Panji, yang memang belum sempat mendapatkan asupan karbohidrat apa pun sejak siang hari ini. Karena, terlalu sibuk akan acara penandatanganan MOU hari ini. “Sambil makan ya, aku laper!” jawab Sekar langsung mengambil garpu dan pisau tanpa meletakkan napkin di atas bajunya. |Membuat Panji berinisiatif, untuk meletakkan napkin di atas pangkuan Sekar. “Kamu mau kemana?” tanya Sekar saat Panji beranjak. “Aku mau makein napkin ke kamu, nggak sayang bajunya nanti kotor?” kata Panji sambil mengambil napkin berbahan renewable cotton berwarna abu-abu coin, yang ada dihadapan Sekar. “Biar aku aja!” sela Sekar sambil menyerobot napkin yang hampir berhasil diraih Panji. Kemudian, ia letakkan di atas pangkuannya. Panji hanya tersenyum melihat tingkah Sekar yang defensif. “So…” ucap Panji sambil bersiap makan, tak lupa meletakkan napkin di atas pangkuannya. “Bisa dibilang gitu. Dia tiba-tiba ngajak aku kenalan pas aku lagi santai di kafe.” Jawab Sekar sambil mengunyah suapan pertamanya. Kemudian, kembali menceritakan sejarahnya dengan Arya, sambil berusaha melahap irisan salmon yang menggoda. Sedangkan Panji, memilih menyimak kisah mereka. Ia masih belum bergerak untuk menikmati hidangannya. Sekar tak memedulikannya. “Sejak itu, kia selalu ketemu secara kebetulan sampe 6 kali. Ya mau nggak mau jadi kenal akhirnya! Terus, pas udah kenal…” Sekar berhenti berkicau, setelah beberapa kali berhasil memotong daging salom seberat 200-gram dengan lembut tanpa tergesa-gesa. Kemudian memasukkannya ke dalam mulutnya.   “Hmmmm… bener kata Arya, ini enak banget! Dagingnya nyatu, nggak pecah. Lembut. Terus bumbunya pas banget…” ocehnya mengagumi sajian yang direkomendasikan Arya. “Oh ya? Wah lain kali cobain itu deh…” timpal Panji sambil menusukkan garpu ke daging Wagyunya. Lalu memotong daging tersebut. Setelah terpotong, ia tunjukkan kepada Sekar seraya berkata “Kamu mau cicipin punyaku?” hanya dijawab gelengan oleh Sekar.   “Trus…?” tanyanya setelah mencoba suapan pertama wagyunya. Sambil, melirik Sekar yang sangat menikmati sajian makan malamnya. “Iya… Sikapnya setelah kenal aku tuh… Yang bikin aku nyaman. Dia nggak pernah nuntut, nggak pernah kepo, nggak pernah nanya ini-itu. Betah juga ama aku yang egois. Nih ya, setiap kali dia nanya tapi gak aku jawab, dia tuh gak masalah. Nggak maksa, dan sadar diri gitu. Terus juga, setiap dia disuruh ini-itu juga manut-manut aja, tannpa nyuruh balik. Trus yang paling aku suka dari dia adalah, dia nggak pernah maksain kehendaknya ke aku…” cuap Sekar sesekali berhenti karena harus memotong lebih banyak daging salmon. Setelah itu, memasukkannya ke dalam mulutnya. “Jadi karena itu kamu manfaatin dia?” “Aku nggak manfaatin! Kamu pikir aku cewek apaan?” Sekar sempat harus menghentikan kegiatan makannya, kemudian menatap Panji jengkel. Panji hanya menanggapinya cuek, masih sibuk dengan aktfitas makannya. “Ya, aku cuman menghargai tawaran orang! Nggak salah dong? Bodo amat deh kalo itu basa-basa. Aku nggak suka basa-basi. Jadi setiap dia tawarin ini-itu, kalau aku mau ya aku jawab mau, kalau nggak ya aku jawab enggak!” tukas Sekar meninggikan suaranya yang tegas. Sambil mengiris potongan Salmon dengan sedikit emosi dan langsung melahapnya cepat. Pemuda yang duduk di hadapannya itu, hanya menyaksikan tingkah Sekar dengan menahan ekspresi. Ia tak ingin membuat Sekar tidak nyaman atas semua respon yang ia berikan atas pesona Sekar. Padahal, ingin sekali ia menggoda Sekar, gadis itu begitu menggemaskan jika sedang emosi seperti itu. “Trus, gara-gara itu kamu luluh?” tanya Panji penasaran, sedikit banyak ia sudah mengetahui bagaimana cara mendapatkan hati Sekar. “Ya, seperti yang aku bilang. Cewek mana yang nggak luluh saat kita diberi kebebasan, tapi kita juga diberi perhatian. Gimana ya jelasinnya… Arya nge-treat aku tuh beda itu beda sama cowok-cowok yang deketin aku. Bahkan, cara mantan-mantanku dulu meperlakukan aku juga, beda jauh banget!” “Emang bedanya gimana? Perbandingannya sama mantan-mantan kamu dan cowok-cowok yang deketin kamu itu gimana?” “Kamu sendiri yang bilang kan kalo aku cantik?” Panji hanya mengangguk. “So, menurut kamu aku cantik?” sekali lagi ia menangguk. “Menurut kamu, berapa persen cowok di sini yang bakalan nolak aku kalo aku ajak kenalan?” “Selama cowok itu masih suka cewek. Nggak ada pasangannya, istri maupun pacar yang bakalan nyubit tuh cowok. Aku jamin, semua diluar kriteria itu bakalan seneng bange kalo kamu ajak kenalan. Mereka juga pasti nggak nyangka, kamu yang duluan ajak kenalan!” “See! Jadi harusnya, mereka sudah bersukur karena statusku sebagai pacar atau gebetan mereka. Biar mereka bisa pamer ke lingkungan sosial mereka. Tentunya, hal itu menaikkan status sosial mereka juga, ‘kan?” ucap Sekar membeberkan opininya. “Jadi, ya kalo aku menolak ini-itu wajar dong! Atau, menerima ini-itu tanpa memberikan feedback ya wajar juga, ‘kan!” beber Sekar semakin semangat, seakan-akan minta dukungan atas teorinya. “Aku bukannya sombong atau apa. Tapi, di mana lagi cowok-cowok itu bisa dapetin cewek cantik, cerdas dan pintar, berkarir, mandiri, dan berkelas coba?” celotehan Sekar lagi-lagi membuat Panji terkekeh. “Kok ketawa?” tanya Sekar sedikit tersinggung, ia terpaksa menghentikan gerakan tangan kanannya yang maju-mundur. “Enggak. Kamu menarik Sekar, dan semua poin yang kamu bilang itu benar.” ucap Panji tulus, cukup membuat Sekar lega. “Kamu sempurna untuk dijadikan ajang pamer. Nggak banyak cewek paket lengkap kaya kamu.” “Paket lengkap… emangnya aku penyetan?!” ejek Sekar menutupi rasa senangnya. “Beneran. Begini, banyak banget cewek yang cantik. Tapi canktik sekaligus cerdas, mandiri, berkarir dan berkelas… Mungkin jarang. Jadi, poinmu benar. Kamu sempurna untuk dijadikan ajang pamer.” Sekali lagi Sekar merasa senang, sedikit tersipu. Opininya didukung penuh oleh orang yang baru ia kenal. Namun, kesenangannya tak bertahan lama. “Tapi, hubungan cinta ‘kan nggak seperti itu! Harus ada timbal balik…” ucap pemuda di hadapan Sekar, menekankan. “Itu kalo hubungan cinta! ‘Kan, aku nggak cinta sama mereka. Suka aja enggak, apalagi cinta?” “Lalu, kenapa kamu pacarin mereka?” pertanyaan Panji sukses membuat Sekar menghentikan kegiatan secara sempurna. Dengan gaya anggun nan elok bak putri keraton, Sekar menaruh kembali alat makannya. “Begini Mister Panji. Saya akan memberitahukan Anda latar belakang saya. Saya tidak mempunyai keluarga. Bekerja di stasiun televisi yang jam kerjanya, Anda tahu sendiri… Lalu…” saat ingin melanjutkan Panji tiba-tiba menyela Sekar. “Bentar… Bentar! Kamu reporter kan?” tanya Panji sambil menahan tatapannya yang takjub. “Hmmm… Emang Arya nggak cerita?” “Enggak, dia nggak cerita apa-apa tentang kamu. Dia cuman cerita tentang bagaimana kalian ketemu. Dia cuman bilang aku harus mau dikenalin sama kamu. Dia juga bilang, kalo kita pasti cocok. Bahkan, fotomu aja nggak dia kasih lho!” “Trus, kenapa kamu mau dateng ke sini?” “Terpaksa! Seperti yang udah aku bilang, aku menyesal nggak terima tawaran Arya buat kenalan sama kamu. Kira-kira tiga bulan yang lalu gitu deh, dia minta aku buat kenalan sama kamu…” jelas Panji sedikit melupakan rasa takjubnya akan fakta Sekar yang baru ia sadari. “Eh, tapi benerankan kamu reporter? Kamu yang bawain kasusnya Sherly itu kan? Kamu juga reporter yang pernah tanyain pejabat yang kena kasus pembunuhan itu kan? Yang ampe bikin pejabatnya ngamuk-ngamuk di konferensi pers?” hanya dijawab anggukan oleh Sekar. “Oh My God!” kini giliran Panji yang meletakkan alat makannya. “Temen-temenku pada ngefans ama kamu lho! Mereka tuh pada kepoin kamu, tapi satu-satunya info yang bisa mereka dapetin ya cuman dari profilmu yang ada di website kantormu. Itu juga singkat padat dan gak terlalu jelas kata mereka. Mereka bilang, kamu misterius. sss nggak ada, i********: juga enggak, kamu nggak bisa ditemuin di media sosial manapun!” “That’s me!” ucap Sekar enteng. Lalu kembali mengambil alat makannya. “Pantes laaah… Ya, wajar kamu bersikap seperti itu. Harusnya, mereka berterima kasih sudah bisa kenal kamu. Jadi ya, jangan nuntut macem-macem!” satu ucapan yang membuat Sekar takjub sekaligus merinding. Tanpa sadar, tangan kirinya yang memegang garpu dengan irisan daging salmon yang sudah tertusuk, berhenti di hadapan mulutnya yang terbuka lebar. Siap mengunyah daging salmon tersebut. Gadi itu tak menyadari bahwa ia masih melongo setelah Panji menatapnya sambil tersenyum lembuat. Membuatnya salah tingkah, dengan tergesa-gesa ia menutup mulutnya sambil meletakkan kembali garpu tersebut ke atas piringnya tergesa-gesa. "Kamu kenapa? Kok kayak heran gitu?” “Baru kali ini ada yang paham situasiku…” ucapnya cepat.   “Maksudnya, baru kali ini ada yang ngerti. Kenapa aku bersikap seperti itu ke mereka.” Sekar berusaha mengendalikan diri. Lalu memperbaiki cara bicaranya, yang semula tidak dapat dipahami oleh siapapun dengen jelas. “Ya, aku bisa memahami. Seperti yang kamu bilang, kamu cantik, cantik banget malah! Mandiri, cerdas, sukses dalam karir. Di tambah, kamu terkenal!” Panji sampai harus sedikit menatap Sekar dengan tatapan terhianati. Sekar tidak menyebutkan poin yang harusnya menjadi sentaja atas opininya. “Jadi, nggak ada alasan buat kamu punya pasangan sih! Karena tanteku dulu juga begitu. Dia wanita cantik dan sukses. Banyak cowok yang ngejar-ngejar dia, tapi dianya nggak terlalu peduli. Sampai akhir hayatnya aja dia masih single.” rona wajah Panji sedikit berubah, saat mengenang tantenya. Mengguratkan ekspresi seakan menahan kepedihan yang sangat hebat.   “Tantemu sudah meninggal?” “Bersama keluarga besarku. Mereka meninggal empat tahun lalu, saat bis pariwisata keluargaku menabrak bis penumpang.” satu kalimat yang membuat Sekar kembali melongo. Kali ini, diiringi jantungnya yang memompa deras. Entah mengapa, firasatnya membawanya ke kejadian enam tahun lalu. Saat keluarganya meninggal di hari wisudanya. “Kamu kenapa? Kok suka melongo gitu?” Panji berusaha mencairkan suasana, namun kenyataannya suasana berikutnya membuat mereka merinding. “Kalo boleh tau kejadiannya dimana?” tanya Sekar sambil menatap Panji tajam. “Di daerah Purworejo arah ke Jogja, kenapa emang?” “Kapan?” kali ini mata Sekar semakin membulat, wajahnya seketika berubah menjadi ungu. Sedikit membuat Panji bingung dan cemas. “Are you okay?” “Kapan?” ia tak mengindahkan kekhawatiran Panji. “Pas aku wisuda. Tepatnya tanggal 25 Agustus enam tahun lalu.” Sekar merinding. Ia tak kuasa menahan herannya. Secara refleks ia menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan kedua tangannya. Kedua kelopak bawah matanya, tiba-tiba berkedut-kedut. Sedangkah kedua bola matanya bergetar. Napasnya tiba-tiba tidak beraturan, disusul dengan bahu serta tubuh bagian atasnya yang naik-turun. Air mata langsung keluar di ujung kedua mata Sekar. “Sekar… Kamu nggak pa-pa?” tanya Panji panik langsung menghampiri Sekar. Deritan bangku yang keras cukup mengundang seluruh mata manusia yang ada di restoran tersebut ke arah mereka. Termasuk sang pramusaji yang sejak awal kedatangan Panji selalu memperhatikan Panji. Dengan gesit, pramusaji tersebut langsung mengambil gelas kosong dan mengisinya dengan air mineral. Kini Panji sudah bersimpuh dengan kedua kakinya yang berjinjit di sebelah kanan Sekar, tangannya beberapa kali mencoba untuk menyentuh Sekar. Namun, Panji memutuskan untuk tak menyentuhnnya, hanya memastikan gaadis itu dalam keadaan baik-baik saja lewat suara dangan nada yang mengkawatirkan “Sori… Aku….” Sekar berusaha mengendalikan emosinya. Ingatan tentang keluarganya tiba-tiba menyerangnya seperkian detik. Namun, bukan itu saja yang membuat emosinya tidak karuan, ia baru saja berkenalan dengan orang yang bernasib sama dengannya. Setelah dapat menguasai emosinya, Sekar kemudian mengusap matanya yang basah. Lalu menoleh pada Panji yang menatapnya cemas. “Kamu nggak pa-pa?” tanya Panji sekali lagi meyakinkan Sekar. Hanya dijawab anggukan oleh Sekar. Panji kemudian menoleh pada pramusaji yang sudah berdiri di belakangnya sambil membawa segelas air mineral. Panji menerima air tersebut lalu memberikannya pada Sekar, namun lagi-lagi ditolak oleh Sekar. Panji yang paham, langsung beranjak. Kembali ke tempat duduknya, kemudian menaruh gelas berisi air mineral tersebut di samping Virgin Mary Sekar yang masih terisi penuh. “Kalo boleh tahu….” “Keluagaku juga mengalami kecelakaan yang sama, di tempat yang sama, di hari yang sama, di dalam bis yang ditabrak oleh bis pariwisata yang ditumpangi keluargamu.” satu kalimat dengan emosi yang bergetar dari mulut Sekar langsung mengubah keadaan. Kini giliran Panji yang terkejut, ia mengalami rangsangan yang sama seperti yang dilakukan Sekar. Dengan tangkas Sekar mengambil gelas berisi air mineral, saat Panji berusaha meraih gelas tersebut. Setelah tenang, mereka hanya mampu terdiam dan saling menatap sambil menggoreskan emosi tak menentu. “Sorry… Aku…” ucap Panji memecah keheningan yang menyelimuti mereka beberapa menit. “Nggak papa…” ucap Sekar datar, kemudian mereka kembali dalam keheningan. Namun beberapa detik kemudian Sekar bersuara, kali ini bukan kata-kata yang keluar dari bibirnya, melainkan suara tawa, tawa yang mengejek, mengejek takdir yang mempertemukan mereka. “Sekaar….?” Panggil Panji lirih karena mengkawatirkan keadaan Sekar. “Takdir macam apa ini…” ucapnya lalu kembali tertawa pelan. “Kamu mau membahasnya?” “Entahlaaah… sangat misterius. Tunggu, itu hari wisuda kamu? Kamu kuliah di UGM?” “Kok, kamu bisa tahu?” Sekar kembali tertawa kali ini cukup nyaring, lagi-lagi beberapa mata memandangi mereka. “Sori… sori… aku menertawakan takdir yang lucu ini. Terlalu lucu kalo disebut kebetulan.” “Maksud kamu?” Panji belum paham kemana arah ucapa Sekar. “Aku juga lagi wisuda saat kecelakaan itu. Aku juga dulu kuliahnya di Jogja, di UGM!” roma bulu Panji seketika berdiri, belum pernah ia merasakan hal yang sangat mengerikan seperti ini. Ia tak yakin, apakah pertemuannya dengan Sekar akan membawanya pada nasib yang baik atau justru sebaliknya. Begitupun dengan Sekar. Ia yang tidak percaya dengan istilah kebetulan. Lagi-lagi, harus dibuat merinding dengan mahluk berjenis laki-laki. Ia pikir, kebetulan hanya terjadi pada dirinya dan juga Arya. Namun, kebetulan yang ia alami bersama Panji, justru lebih dahsyat. Sehingga, mencetak tanda tanya besar dalam benaknya. Mereka hanya diselimuti bisu, menyelam pada pemikiran mereka masing-masing. Hidangan di depan mereka tak lagi menggugah selera. Bahkan, rasa lapar yang sedari tadi menyerang Sekar sirna seketika. Begitu pun dengan Panji. Pria yang sedari siang tidak sempat mengunyah makanan karena presentasi hari ini, membuatnya lapar sejak mereka berhasil menandatangani kontrak dengan beberapa perusahaan elit multi internasional. Niat hati hanya mampir sekejap menemui Sekar, setelah itu ia akan mampir di warteg langganannya. Justru gagal dan mengharuskannya menahan lapar lebih lama lagi. Mereka memilih untuk mengatasi emosi mereka terlebih dahulu. Dari pada memilih untuk mengatasi rasa lapar mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN